Kamis, 31 Januari 2008

Berjuang tanpa Henti

Kompetisi makin tinggi


Mandiri meski makin langka


Adakah yang lebih kuat dari mereka?


Demi kasih sayang


Pantang menyerah


Sumber: Galeri foto FES (Festival Ekonomi Syariah) JCC

Senin, 28 Januari 2008

Selamat Jalan Pak Harto

Antara rasa kemanusiaan, ingin mengenang, ikut berduka cita, penasaran, keingin tahuan prosesi pemakaman sejak di Cendana, perjalanan melewati jalan protokol menuju bandara Halim Perdanakusuma, serta melihat melesatnya Hercules yang membawa jenazahnya....

Juga ketika tiba di Bandara Adi Sumarmo Solo, iring-iringan kendaraan, khalayak yang melihat sepanjang jalan....

Dan ketika tiba di Astana Giribangun, sebuah makam yang dibangun di atas tanah dengan ketinggian 660 m di atas laut. Juga upacara militer yang dipimpin oleh Presiden SBY.

Tidak ketinggalan bagaimana pak Harto dimakamkan, bagaimana jasadnya di dalam peti dimiringkan ke arah Kiblat, bagaimana makam yg sangat mewah, bersih, dan liang lahat yang dibeton itu diurug tanah. Dan bagaimana cara petugas menguruk dengan menggunakan berkarung-karung tanah yang dibawa dari luar makam....

Untuk itu semua hari ini dari jam 7.00 sampai 13.30 praktis saya menghabiskan waktu di depan televisi...

"Lho, nggak ngantor?"

"Ngapain Senin pagi-pagi mesti menjemput macet...?" :)



Astana Giribangun, makam Pak Harto

Rabu, 23 Januari 2008

TDA: Relasi, Akselerasi, dan 'Sepatu'


Minggu lalu ketika saya mengunjungi bibi di Tebet terjadi obrolan yang cukup menarik. Kebetulan saat itu anak bibi ikut menemani kami. Saya datang ke Tebet karena sudah lama sekali tidak mengunjungi beliau di sana. Silaturahmi memang membawa berkah. Silaturahmi membawa ilmu, dan silaturahmi membuka pengetahuan.

Ketika tiba pertanyaan bibi kepada saya, "Sekarang bisnisnya apa?"

Satu pertanyaan itu ternyata membawa kami kepada sebuah obrolan yang panjang, menarik, tidak membosankan, dan membuat kami hampir lupa dengan waktu. Tema yang dominan pada Sabtu siang itu adalah tentang jejaring, akselerasi bisnis, dan pilihan usaha.

Jawaban-jawaban yang saya berikan ternyata membuat bibi dan anaknya kagum. Kekaguman mereka justru membuat saya bingung. Saya bingung karena menurut saya jawaban yang saya berikan adalah standar-standar saja. Ternyata bagi mereka hal itu merupakan pengetahuan baru yang luar biasa.

"Saya bingung banget, pingin buka usaha tapi apa ya? Mau buka makanan tapi dari mana mulainya. Mau jualan baju belanjanya di mana... dsb," adalah sebagian pertanyaan yang keluar waktu di rumah bibi.

"Kalau ingin buka usaha bakso, saya punya kenalan yang bersedia membantu dari awal hingga ready to go. Anda hanya menyediakan tempat saja. Selanjutnya teman saya yang mengurus semuanya. Jadi tidak perlu tiap pagi subuh harus bersusah payah ke pasar belanja sendiri keperluan bakso," jawab saya.

"Kalau ingin buka toko busana, saya ada kenalan yang bisa menunjukkan di mana harus belanja. Atau kalau ingin lebih mudah, anda bilang saja ke teman saya ingin jualan baju model apa. Nanti sahabat saya bisa menyediakan dengan harga pabrik," kata saya kepada anak bibi.

"Kalau ingin buka warnet, bisnis komputer, grosir voucher, bahkan bisnis peralatan outdoor pun saya juga ada kenalan yang bisa membantu semuanya."

Jawaban-jawaban standar itu ternyata membuat dia antusias dan kagum. "Ternyata bisnis itu tidak sesulit yang saya bayangkan ya," komentar anak bibi.

"Bisnis tidak sulit kalau kita tahu jalurnya," jawab saya.

'Jalurnya'. Satu kata inilah sebetulnya salah satu kunci keberhasilan sebuah bisnis, di samping tentu saja ide. Berapa banyak orang yang punya banyak dana tapi tidak berani buka usaha karena tidak punya dua kunci itu: Ide dan jalur. Sebaliknya hampir semua pengusaha sukses ketika memulai usahanya modalnya 'hanya' ide dan jalur.

Nah TDA adalah sebuah fenomena ide dan jalur plus. Plus ini adalah action.

Adalah realitas bahwa member TDA bukanlah orang yang sangat awam dalam berbisnis. Saya sangat yakin hampir semua anggota TDA sudah punya pengetahuan tentang usaha. Tidak sedikit member TDA adalah alumni 'sekolah' bisnis. Tidak sedikit member TDA sudah mulai mencoba bisnis. Tidak sedikit member TDA sudah mempunyai bisnis yang mampu menopang kebutuhan hidupnya.

Apa yang menarik dari TDA sehingga mereka semua antusias menjadi anggota komunitas ini?

Take Double Action adalah positioning yang sangat pas dari komunitas ini. Sejak awal anggota yang masuk komunitas TDA selalu ditekankan untuk action dan action. Bertindak. Bahkan forum komunikasi yang sejatinya berbentuk milis di-positioning-kan bukan milis, melainkan hanya alat komunikasi. Meski seseorang berhasil jadi member milis tapi belum 'diakui' keberadaannya sebagai anggota TDA kalau belum bertindak, belum action.

TDA sendiri juga tidak sembarangan mendorong orang membuka usaha secara bonek alias nekad tanpa membekali dengan pengetahuan dan jalur yang bisa dilalui.

Banyaknya kegiatan off air seperti seminar, bedah buku, nonton bareng, dan sebagainya adalah contoh usaha yang dilakukan untuk mempertemukan dan menjalin relasi antar anggota. Begitu juga terjalinnya relasi antara TDA dengan pelatih bisnis ActionCOACH adalah upaya lain yang diperlukan untuk memberi bekal anggota komunitas ini supaya 'mudah' menemukan ide dan jalur yang paling cocok untuk mereka.

Dengan berjalannya waktu, ide dan jalur membentuk kristalisasi yang mampu menarik para member-nya untuk menentukan pilihan. Terbentuknya TDA Management, TDA IT, TDA Garmen, TDA Finance, TDA Mastermind wilayah, dan sub-sub komunitas yang lain adalah 'jalur-jalur' yang terbentuk secara otomatis tanpa rekaan, tanpa paksaan, tanpa sandiwara. 'Jalur-jalur' itu terbentuk secara alamiah, otomatis, mengalir. Anggota yang mempunyai minat yang sama akan berkumpul di sub komunitas yang sama.

Dan 'takdir' TDA pun sebenarnya sudah bisa dibaca sejak hari ini.

TDA adalah ibarat bola salju. Makin hari jalannya makin ngebut dan makin besar. Anggota yang masuk belakangan secara teori mempunyai peluang berhasil dalam bisnis lebih cepat. Mereka bisa mendapatkan akselerasi lebih optimal. Member baru, atau member lama tapi baru aktif sekarang, bisa dengan mudah menemukan sub komunitas yang sesuai dengan minat bisnisnya.

Dengan aktif di sub komunitas mereka banyak mendapat 'pencerahan' untuk berani bertindak. Mereka tidak sulit menemukan ide dan jalur. Ide dan jalur adalah modal utama dalam usaha. Dan kemungkinan gagal pun bisa diminimalisir.

Bukan berarti TDA tanpa kekurangan. Ada satu program yang menurut saya masih luput dari perhatian komunitas ini. Program menemukan jati diri (seperti 8 model-nya Roger Hamilton) belum pernah diadakan oleh TDA. Selama ini anggota TDA mencari sendiri seminar 'jati diri' yang biayanya relatif masih belum terjangkau oleh banyak member. Padahal salah satu kelebihan TDA yang tidak dimiliki oleh komunitas lain adalah berhasil mengadakan seminar 'mahal' dengan biaya yang sangat terjangkau.

Menemukan jati diri adalah salah satu hal yang juga sangat penting. Kalau kita tahu jati diri kita, maka dengan sangat cepat bisa menentukan usaha apa yang paling pas. Kita tidak perlu 'silau' dengan keberhasilan member yang sukses di properti, atau di pertambangan, atau di event organizer, atau di IT, dan sebagainya. Orang akan berhasil kalau pilihan jalurnya pas dengan jati dirinya.

Sebagai intermezo, ada cerita menarik. Sewaktu saya masih ngantor di sebuah gedung di Jakarta Selatan, saya dan teman-teman hampir tiap hari melihat seorang wanita yang menurut kami ada yang kurang pas.

Sebenarnya busana karyawati ini selalu serasi dan fashionable. Tetapi ada satu kekurangan yang membuat kurang enak dipandang. Karena kantor kami bersebelahan dan hampir tiap hari melihatnya, akhirnya kami 'berhasil' menemukan kekurangan penampilannya.

"Hak sepatunya terlalu tinggi dibanding tinggi badannya. Jadi kurang proporsional," komentar sahabat saya. "Coba lihat kalau sepatu setinggi itu dipakai oleh perempuan dengan tinggi 170-an cm, pasti serasi," tambahnya.

Ternyata sahabat saya benar. Perempuan jangkung memang serasi dengan hak yang jangkung pula. Jadi 'sepatu' yang pas dipakai orang lain memang belum tentu cocok buat diri kita. Jadi kuncinya adalah jati diri, ide, dan jalur.

Selasa, 15 Januari 2008

From Pak Harto With Peluang *

"Mau nanya nih, tetangga saya memakai ventilator seperti pak Harto. Berapa lama sih maksimal orang boleh pakai alat itu?" tanya saya kepada dua sahabat saya. Kebetulan dua-duanya dokter spesialis.

"Ya sampai dia bisa nafas spontan, tergantung sakitnya. Kalau sakitnya 'ringan' bisa segera kembali bernafas mandiri. Kalau sakitnya berat bisa lama dan... bertemu Malaikat Maut," jawab sahabat saya dokter A.

"Alat itu bisa dipakai selama keluarga mampu bayar ventilatornya, kan mahal," jawab dokter B.

Menurut saya, dua jawaban di atas secara tersirat memperlihatkan bahwa kalau orang sudah dipasangi ventilator, maka yang bisa dilakukan hanyalah perbanyak doa untuk yang 'terbaik' bagi pasien. Saya tidak tahu interpretasi saya atas dua jawaban tadi benar atau salah...

Lepas dari kondisi pak Harto saat ini, selama hampir setengah bulan ini ternyata saya dan orang-orang yang saya temui lebih aktif mencari acara berita di televisi, lebih banyak mencari breaking news, dan lebih peduli dengan jarum panjang arloji di angka 12. Karena jarum panjang di angka 12 berarti hampir semua stasiun televisi menyiarkan update terbaru tentang pak Harto. Jelas sekali hari-hari ini rating news pasti sangat tinggi.

"Wah sekarang bapaknya tiap hari pulang selalu jam 2 pagi," kata teman istri saya menceritakan ritme kerja suaminya semenjak pak Harto di RSPP. Maklum saja, suaminya adalah redaktur sebuah harian di Ibu Kota. Deadline korannya diperpanjang. Dan tiap hari selalu disediakan space kosong untuk jaga-jaga kalau ada berita 'super penting' yang terjadi lewat tengah malam.

"Mudah-mudahan cepat ada 'kepastian' untuk pak Harto ya," gumamnya sambil senyum supaya ritme kerja suaminya kembali normal.

Inilah salah satu ekses dirawatnya pak Harto. Pak Harto memang 'tangguh'. Berapa kali beliau dinyatakan kritis, mengalami kegawatan, nafas sempat berhenti, dan sebagainya. Tapi pak Harto selalu 'mampu' lolos.

Ketika pak Harto dinyatakan kritis untuk pertama kali, penyewaan kursi dan tenda di Kecamatan Matesih mendapatkan 'berkah'. Ratusan kursi dan tenda disiapkan di kompleks makam Astana Giribangun. Dan ketika pak Harto masih mampu 'bertahan', semua peralatan untuk para tamu itu belum ditarik, alias argo masih berjalan. Tentu saja para pengusaha penyewaan kursi dan tenda dengan mantap bisa membayar uang lembur para pegawainya.

Begitu pula dengan tempat penginapan. Semua hotel di Solo saat ini full booked. Semua hotel berbintang sudah tidak punya kamar kosong. Semua sudah dipesan. Kedutaan-kedutaan asing sudah memesan banyak kamar sejak beberapa hari lalu untuk mengantisipasi kedatangan kepala pemerintahannya di Solo. Dan ketika pak Harto masih mampu 'bertahan', para calon tamu belum ada yang berani mencabut pesanannya. Alias semua argo booking kamar tetap berjalan meski saat ini kamarnya tidak terpakai. Makin lama pak Harto 'bertahan' makin banyak income yang masuk.

"Situasi ini bukan berarti membuat kami senang. Kami hanya berharap yang 'terbaik' saja bagi pak Harto," kata salah satu manajer hotel dengan 'bijak'.

Sedangkan penginapan biasa juga sudah penuh. Semua sudah dipakai para juru warta dari berbagai media. Juga banyaknya turis yang datang ke Solo makin menambah 'semarak' kota ini sejak diterjang Bengawan Solo beberapa saat lalu.

Pengusaha mobil juga menerima ekses dengan sakitnya pak Harto. Pemkab Karanganyar saat ini sudah menyiapkan 50 mobil guna menyambut para tamu, baik untuk pejabat pusat maupun kepala pemerintahan asing. Tentu saja argo penyewaan juga sudah mulai berjalan beberapa hari ini.

Bagaimana dengan pengusaha bunga?

Inilah bidang usaha yang pertama kali menerima dampak 'kehadiran' pak Harto di RSPP. Para pengusaha bunga di jalan Barito Jakarta kebanjiran order. "Omset kami memang melonjak. Banyak pejabat dan mantan pejabat yang memesan bunga. Tapi bunga dukacita belum ada yang memesan," kata salah satu pengusaha sambil tersenyum.

Tapi pemesan bunga di Solo lebih berani. "Sudah ada beberapa pesanan bunga dukacita," kata salah satu penjual bunga di Jl Slamet Riyadi, Solo. "Tapi pemesan wanti-wanti bunga hanya boleh dikirim kalau pak Harto sudah 'positif'," tambahnya. :)

Tidak ketinggalan adalah grup-grup tahlil.

Puluhan komunitas tahlil di Solo dan sekitarnya hari-hari ini dibuat 'sibuk'. Mereka diminta untuk selalu stand-by baik di nDalem Kalitan maupun di makam Astana Giribangun. NDalem Kalitan adalah rumah yang dibeli Pak Harto tahun 1970-an dari Gusti Ratu Alit, putri Susuhunan Pakoeboewono XI. Saat ini yang jadi raja di Kraton Solo adalah Susuhunan Pakoeboewono XIII.

Siang-malam perkumpulan-perkumpulan tahlil ini selalu membacakan Surat Yasin, Al-Ikhlas, Tahlil, Tahmid, dan doa-doa lain untuk kesembuhan pak Harto. Tentu saja mereka semua tidak kenal lelah mengerjakan permintaan keluarga besar ini karena mereka juga mendapat 'penghargaan' yang memang pastas... tas.

Dan terakhir, ahli kebatinan yang jago utak-atik gathuk pun sigap memberi tafsir fenomena Solo di balik pak Harto.

Banjir bandang yang melanda Solo pertama kali terjadi tahun 1966. Saat itu pak Harto sedang 'terbit'. Nah banjir besar kembali melanda Solo akhir 2007 mengiringi pak Harto yang sedang menjemput 'ufuk barat'....

ah, ada-ada saja.

* maaf kepada Ian Fleming's From Russia With Love

Kamis, 10 Januari 2008

Kekuatan Besar


"Pada kekuatan besar datang tanggung jawab yang besar".

Inilah sebuah kalimat yang ternyata mampu melekat di benak saya. Kalimat yang cukup 'mengganggu' ini bukan diucapkan oleh guru spiritual atau pun motivator kondang, tetapi keluar dari mulut paman Peter Parker, paman sang Spiderman.

Saya mendapatkan kalimat itu secara tidak sengaja ketika anak saya menonton film yang dibintangi oleh Tobey Maguire di sebuah televisi swasta. Saya pun menontonnya juga hanya bagian akhir ketika filmnya sudah mendekati ending. Beberapa detik sebelum film berakhir terdengar ucapan mendiang paman Spiderman, "Pada kekuatan besar datang tanggung jawab yang besar".

Kalimat ini sebenarnya sederhana. Tetapi di balik kesederhanaannya terkandung makna yang sangat dalam. Sebuah makna yang merujuk pada amanah yang harus dipikul oleh tiap manusia. Semakin tinggi kedudukan manusia semakin besar pula tangung jawab yang harus diembannya. Semakin tinggi pangkat yang disandang seorang tentara semakin besar pula jumlah prajurit yang nasibnya bergantung di pundaknya.

Namun seringkali banyak di antara kita yang belum mampu 'membaca' amanah yang harus dipikulnya manakala dia berhasil menduduki jabatan yang makin tinggi. Berapa banyak pejabat yang semakin tinggi kedudukannya tetapi korupsinya juga makin besar. Berapa banyak pengusaha yang makin besar profitnya tetapi makin membuat sengsara lingkungannya.

Sebagai akibatnya Tuhan pun mencabut kembali kekuatan besar yang dipegang seseorang. Maka kalau sekarang makin sering kita lihat pejabat dan mantan pejabat yang jatuh reputasinya karena ditangkap KPK, kita tidak heran. Pejabat-pejabat itu adalah sosok yang tidak mampu memikul tangung jawab besar ketika di tangannya ada kekuatan besar.

Begitu pula dengan pengusaha yang dikejar-kejar polisi atau masyarakat. Ketika di tangannya ada kekuatan besar mereka tidak mampu memikul tanggung jawab yang besar pula. Ketika mempunyai kekuatan besar 'kerjaannya' hanyalah merusak lingkungan alam dan masyarakat. Tidak aneh kalau kekuatan besar mereka pun harus lenyap.

Saya yakin, semua TDAers bermimpi punya kekuatan besar. Dengan kekuatan yang besar lebih mudah menebar rahmat kepada sesama. Tetapi bagaimana cara mendapatkan kekuatan besar itu lebih cepat?

Ambillah tanggung jawab yang besar dari sekarang meski saat ini belum punya kekuatan besar. Kalau merujuk pada tips pak Mario Teguh, "Bersikaplah seperti pengusaha besar yang saat ini sedang menjalani peran sebagai office boy (semua pekerjaan dilakukan sendiri). Jangan pernah bersikap seperti office boy yang ingin jadi pengusaha besar."

Kalau kita berani mengambil tanggung jawab besar dari sekarang, maka mendapatkan kekuatan besar hanyalah soal waktu.

Tetapi kalau kekuatan besar sudah ada di tangan, jangan lupa pada tanggung jawab yang besar....

Senin, 07 Januari 2008

Speed


"Speed is more important than quality," kata pak Mario Teguh. Kecepatan lebih penting dari kualitas pekerjaan kita. Kalimat di atas penekanannya pada kecepatan aksi kalau di depan kita ada momentum penting.

Kualitas bisa ditingkatkan sambil berjalan, seiring dengan berjalannya waktu, seiring dengan 'flying watch'. Tapi momentum hanya datang sekali dan sesaat.

Perbedaan orang sukses dan yang kalah adalah pada kecepatan mengambil keputusan, keberanian mengambil momen yang lewat di depan matanya, dan kejelian melihat peluang. Apakah keputusan yang diambil itu salah atau benar, itu soal lain.

"Lebih baik berkata keras tapi salah dari pada berkata benar tapi tidak kedengaran," satu tips lagi dari pak Mario. Kalau yang kita ucapkan salah dan terdengar oleh semua orang, maka banyak yang akan mengingatkan, dan kita makin cepat menemukan yang tepat.

Semakin cepat kita action, dan ternyata salah, maka kita bisa semakin cepat memperbaiki. Dan tentu saja lebih cepat menemukan yang benar alias keberhasilan. Semakin lama kita berfikir tanpa mengadakan tindakan, maka juga semakin lama menemukan keberhasilan, itu pun kalau langkah yang diambil tepat. Tapi kalau aksi yang diambil tidak tepat, tentu saja waktu yang diperlukan lebih lama lagi.

Maka tidak heran kalau banyak orang yang berpendidikan 'terlalu' tinggi sangat lambat mengambil keputusan karena dia terlalu tahu resikonya. Terlalu tahu resiko membuat dia menjadi orang yang kurang berani, kurang cepat, kurang tanggp. Dan orang yang pendidikannya pas-pasan, dan tidak tahu banyak resiko biasanya lebih berani mengambil keputusan, lebih cepat menangkap momentum, dan realitasnya, jadi bos bagi orang-orang yang pendidikannya 'sangat' tinggi.

Dan realitas juga adalah hampir 100% pendiri perusahaan-perusahaan besar di dunia dan Indonesia adalah orang-orang yang tingkat pendidikannya pas-pasan. Mereka semua mempekerjakan orang-orang yang pendidikannya jauh lebih tinggi dibandingkan sang kreator.

Nah, mumpung kita sudah 'terlanjur' berpendidikan tinggi (asumsi saya terhadap member TDA), yang harus terus kita asah adalah speed kita dalam mengambil langkah. Semakin cepat melangkah semakin cepat menemukan. Semakin cepat tahu yang salah semakin cepat memperbaiki.

"Semakin cepat melamar seorang gadis dan ditolak, semakin cepat mencari 'alternatif' lain, maka semakin cepat menemukan jodohnya," kata teman saya...

"Huss... pengalaman pribadi ya..." :)

Kamis, 03 Januari 2008

Sang CS

Tulisan saya, Oh... EMS ! tanggal 28 Nov 2007 berisi curhat dan kekecewaan saya terhadap kinerja PT Pos Indonesia.

Betapa tidak, saya dapat peluang yang menurut saya mempunyai nilai prestise yang sangat tinggi (tentu saja nominalnya juga). Saya harus kirim sampel ke negara Paman Sam. Untuk keperluan tersebut saya siapkan produk terbaik yang kami punya. Kami bikin produk eksklusif, khusus untuk sampel itu.

Tetapi apa mau di kata, produk yang kami siapkan khusus untuk sebuah perusahaan minyak raksasa di Amerika itu, lenyap. Tidak ketahuan rimbanya. Jasa EMS yang merupakan produk terbaik dari BUMN ini ternyata menjadi aktor utama penghilangan paket yang seharusnya mereka antar ke tujuan.

Berbagai upaya saya untuk melacak tidak membuahkan hasil. Bahkan petugas yang khusus menangani EMS tidak lebih baik dari saya dalam melakukan pelacakan. Dan ketika saya terus mengejar petugas EMS, tanpa sengaja saya bertemu dengan Bu Lina, sang customer service PT Pos Bekasi.

Menghadapi problem yang saya hadapi, dia langsung mengambil alih persoalan. "Biarlah saya yang melacak paket bapak," katanya kepada saya. Saat itu juga, antara kagum dan tidak percaya, saya merasa bahwa beban berat yang ada di pundak saya tiba-tiba berkurang dengan amat signifikan.

Waktu itu saya merasakan bahwa beban saya cukup berat, terutama beban malu. Sebelum bertemu bu Lina saya harus melacak paket sendirian. Juga saya harus menerangkan dan meyakinkan kepada calon buyer bahwa paket sebenarnya sudah dikirim. Saat itu saya sangat malu karena langkah pertama sudah dihadang dengan problem yang menunjukkan ketidak profesionalan kurir.

Hari-hari berikutnya tampak bahwa sang CS PT Pos Indonesia ini sangat proaktif. Dia cukup rutin memberi laporan perkembangan paket kami. Dia rajin menelepon kami. Semangatnya membantu pelanggan sangat terasa. "Saya cukup galak kepada bagian lain di kantor ini kalau ada pelanggan yang mendapat masalah," katanya. Sikapnya memang membuahkan hasil. Tadi pagi bu Lina menunjukkan kepada saya data lengkap 'perjalanan' paket saya, di mana nyangkutnya, dan sebagainya.

Sampai sekarang paket kami memang belum ditemukan. Tapi yang membuat saya salut adalah proses dan keseriusan sang CS membantu konsumen. Saya merasa sangat terbantu dengan keberadaannya. Dia juga membantu bagaimana membuat klaim dan sebagainya. Dan baru kali ini saya menemukan CS yang begitu proaktif seperti bu Lina. PT Pos Indonesia seharusnya bersukur mempunyai pegawai sebaik dia. Lewat dia lah citra BUMN ini bisa dikerek naik (minimal menurut kaca mata saya).

Yang menggembirakan lagi, sahabat saya ternyata rela menunggu 'kekusutan' ini. Dia tidak keberatan saya kirim lagi sampel baru. Maka dengan langkah mantap kami songsong Matahari esok pagi dengan penuh senyum dan rasa sukur....