Selasa, 22 Juni 2010

Solo: Rumah Pedagang Kaki Lima

Dalam edisi khususnya menyambut HUT RI ke-64 Majalah Tempo mengupas sembilan daerah bintang. Yang menarik, salah satu daerah tersebut adalah kota Solo yang disebutkannya sebagai rumah paling nyaman bagi pedagang kecil. Di tengah banyak kota-kota yang kerap bersitegang dalam urusan penertiban kota antara pedagang kecil dan pemda, prestasi kota Solo ini menjadi catatan bening.

Sepeda motor tua Yamaha 1970-an hijau metalik itu diparkir di teras rumah. Dulu, sang pemilik, Lazarus Hardjono, memakainya mondar-mandir mengantar batik pesanan. Pada 1990-an, warga Kampung Harjodipuran, Kecamatan Serengan, Solo, ini punya delapan pembatik. Sayang, usahanya ambruk tertelan krisis ekonomi, sebelas tahun silam.

Hardjono, kini 59 tahun, banting setir menjadi pembuat perabotan. Ia membikin lemari dan meja kayu. Dua tahun lalu, ia memutuskan kembali ke habitat batik. Ia mengajukan pinjaman Rp 15 juta Dana Bergulir dari Pemerintah Kota Solo, dan dipenuhi Rp 4 juta. Dengan dana itu ia membeli kain mori, pewarna, malam, dan berbagai keperluan. Sepuluh tahun sejak remuk dihantam krisis, batik merek LH bangkit kembali. Ia mempekerjakan empat pembatik.

Ketika ditemui pada akhir Juli lalu, Hardjono sedang menghabiskan pagi dengan membatik. Ia meniup canting lalu menggores lengkung-lengkung pola di kain mori. Dalam dua pekan batiknya siap dipasarkan di Pasar Klewer. ”Naik bus kota saja,” ujarnya. ”Motornya sudah ndak ada tangki bensinnya.”

Program dana pinjaman lunak buat perajin pemula ini dimulai pada 2002. Plafonnya Rp 4 juta per orang, diberikan kepada wiraswasta kelas rumahan seperti pedagang kue, pembuat mi, peternak ikan lele, atau pemilik gerai pulsa telepon seluler. Para peminjam dikenai bunga 0,5 persen per bulan. Hingga paruh pertama 2009, angka pinjaman mencapai Rp 3,85 miliar. Dari jumlah itu, yang macet kurang dari 5 persen.

Wali Kota Solo Joko Widodo mengakui Dana Bergulir ini sebagai ”kredit gaya lama”. Namun penyediaan pinjaman ini juga hanya satu cara membantu pedagang kecil. Cara lainnya, mendekatkan produk mereka ke konsumen. Maka pemerintah Solo mendesain rencana renovasi 37 pasar tradisional yang tersebar di wilayah itu.

Pasar hasil renovasi ini sangat nyaman bagi pengunjung, dilengkapi lahan parkir. Pohon-pohon peneduh ditanam di area itu. Pedagang yang dipindahkan masuk kios baru tanpa biaya. Dengan gratis pula mereka mendapat surat hak penempatan dan kartu tanda pedagang.

Pada 2006, wali kota yang akrab dipanggil Jokowi ini membuat gebrakan monumental. Ia memindahkan hampir seribu pedagang dari kawasan Monumen Juang Banjarsari ke Pasar Klitikan tanpa gejolak. Di bawah komandonya, pemerintah Solo dengan sabar menjelaskan pentingnya pemindahan itu. Joko sampai harus 54 kali menjamu makan para pedagang selama tujuh bulan. Begitu oke, ribuan pedagang dipindahkan dengan kirab budaya.

Kini, sudah 12 pasar yang direnovasi. Yang terakhir adalah Pasar Antik Windu Djenar. Menurut Joko, tempat ini dibuat dengan meniru pasar barang antik Shilin di Taipei, Taiwan. Para pedagang disediakan shelter, gerobak, dan celemek. Semua gratis.

Sebenarnya, Jokowi juga memakai pendekatan bisnis. Dengan pungutan pedagang Rp 2.600 sehari, menurut pengusaha mebel ini, investasi pemerintah kota Rp 9,8 miliar untuk merenovasi pasar bisa kembali dalam delapan setengah tahun. Resepnya sederhana: mengubah pedagang informal menjadi formal. ”Kalau semuanya sudah jelas, saya tinggal tanya: uangnya mana?”

Pemerintah Solo juga berusaha melindungi para pedagang kecil. Peraturan Wali Kota membatasi berdirinya mal besar atau minimarket. Kini hanya ada satu mal di kota itu, yang didirikan pada 2004. Ada pula pusat grosir yang dipenuhi pedagang batik eceran lokal.

Daerah ini juga memberikan tempat bagi para pedagang kuliner. Dibuka pada April tahun lalu, pusat jajanan Solo ini diberi nama Gladag Langen Bogan atau Galabo. Lokasinya tepat di depan Pusat Grosir Solo. Dibuka petang hingga tengah malam dengan menutup separuh Jalan Mayor Sunaryo, semua yang mak nyus ada di situ: bebek goreng, tengkleng, hingga ayam bakar.

Tentu saja, ikon Solo tetap harus dijaga: Pasar Klewer. Di pusat perdagangan batik ini, kebanyakan pedagang telah menempati kios beberapa generasi. Pedagang di sini memiliki pilihan skema kredit lebih banyak. Di luar perbankan, mereka bisa mendapatkan dana dari Kementerian Koperasi serta program dana penjaminan kerja sama pemerintah kota dan Asuransi Kredit Indonesia.

Wali Kota Joko Widodo berambisi menjadikan Solo sebagai kota meeting, incentives, conference, and exhibitions, atau MICE, yakni kota yang layak menjadi tempat pertemuan berstandar internasional. Pekan lalu, digelar Solo International Performing Art. Tahun lalu, konferensi World Heritage Cities dan Solo Internatio-nal Ethnic Music sukses digelar.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Solo, Febria Roekmie, mengatakan bahwa karnaval batik hampir selalu menjadi program tetap. Di lokasi acara selalu disediakan kios-kios perajin yang bisa berjualan langsung. Dari sekitar 70 perajin, pendapatan mereka berkisar Rp 500 ribu-6 juta.

Jokowi mengatakan pembangunan infrastruktur jauh lebih mudah daripada mengubah budaya para pedagang. Untuk yang satu ini, ia masih jauh dari puas. Ia menunjuk para pedagang di pasar tradisional. ”Dikasih celemek enggak pernah dipakai. Atau, sekali dipakai, enggak pernah dicuci,” katanya.

Toh, pemerintah Solo telah membangkitkan gairah berusaha warganya. Di bagian barat kota itu, Suharni telaten memilah telur bebek. Perempuan 49 tahun warga Kelurahan Kerten ini mencuci butir demi butir telur pesanannya. Ia menggosok dengan sikat kawat lembut agar telur terlihat licin. Lalu ia gerus garam hingga halus. Telur kemudian disusun rapi dalam drum plastik dan direndam dengan air matang larutan garam halus.

Di teras belakang, Suharni memiliki lima drum plastik. Setiap drum berisi seratus telur. Setelah 12 hari, telur asin buatannya siap disalurkan ke berbagai kantin dan resto di Solo. Telur-telur itu dijual Rp 1.300-1.500 per butir. Ia mengatur jadwal agar telur asin bisa matang setiap 2-3 hari.

Dengan usaha telur asin berstempel ”RR”, Suharni bisa membangun rumah layak. Dapur rumah tipe 21 yang ditempatinya bersama suami dan dua anak mereka tampak mengkilat. Sebuah motor Yamaha baru diparkir di ruang tamu. Istri petugas pemadam kebakaran ini tersenyum, ”Alhamdulillah, anak saya bisa kuliah.”

KOTA SOLO
Luas wilayah: 44,03 kilometer persegi
Jumlah penduduk (2007): 565.415 jiwa
Jumlah penduduk miskin (2007): 103.725 jiwa
Penghuni panti asuhan: 1.041 jiwa

Pendapatan Asli Daerah:
2004: 59,78 miliar
2005: 66,08 miliar
2006: 78,63 miliar
2007: 88 miliar
2008: 100,08 miliar


Tulisan ini diambil dari facebook-nya Pak Jokowi (Walikota Solo 2005-2015)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar