Kamis, 10 April 2008

Ekonomi Kreatif 2025

Saya merasa mendapat kehormatan ketika kemarin datang pada acara FGD (Focus Group Discussion) di Kantor Pusat Departemen Perdagangan RI.

Kurang lebih hanya 14 orang yang mengikuti FGD ini. Yang membuat saya merasa sangat surprise adalah yang mengikuti FGD ini merupakan sosok-sosok yang tidak sembarangan.

Ada pejabat eselon I dari Depdag dan Departemen Perindustrian. Sebenarnya Dept Perdagangan juga mengundang Diknas dan Kementrian Kebudayaan & Pariwisata tapi mereka tidak hadir.

Juga hadir dari Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional) Pusat. Dan tentu saja ada perwakilan dari pelaku usaha. Ternyata yang diundang adalah pelaku usaha yang juga tidak sembarangan. Mereka adalah pemain-pemain besar. Bisnisnya sudah merambah ke berbagai negara. Mereka sudah mampu melakukan marketing intelligent untuk mencari informasi produk apa saja yang disukai konsumen Amerika, Eropa, Timur Tengah, Jepang, dll.

Mengapa Anin Rumah Batik juga diundang di acara itu? Entah. Saya sendiri tidak tahu. Tapi mudah-mudahan saja keunikan kami lah yang membuat panitia mensejajarkan dengan pemain-pemain industri kreatif besar lainnya (ehm, pede aja lage...) . :)

Acara ini diadakan adalah dalam rangka mencari masukan yang komprehensif dari berbagai pihak. Departemen Perdagangan sendiri sebenarnya sudah menyusun Visi Ekonomi Kreatif 2025, tapi mereka masih perlu menyempurnakannya. Banyak sekali yang dibahas dari jam 9.00 sampai jam 15.00.

Ada satu info (kecil) menarik dari acara ini. Saya baru tahu bahwa ternyata 90% (sembilan puluh persen) pelaku usaha industri kreatif di Bali adalah orang bule. Mereka lah yang selama ini menjadi pemilik toko-toko barang kerajinan, furnitur, produk budaya yang bertebaran di seantero Bali. Modusnya bermacam-macam, salah satunya adalah menikah dengan perempuan lokal. Atau kalau pemiliknya perempuan, mereka menikah dengan laki-laki lokal. Pasangan lokal ini lah yang tercantum di akte perusahaan.

Dari fenomena ini saya jadi makin bangga dengan mbak Eka dan pak Stenly. Mereka adalah pasangan, member TDA, yang menjadi pemain di industri kreatif di Bali. Mereka asli Indonesia. Pasangan ini termasuk langka. Mereka adalah salah satu dari hanya 10% pelaku industri kreatif di Bali yang non-bule.

Fenomena bule nikah dengan orang lokal juga sudah merambah ke Jepara. Di kota yang terkenal dengan kreasi ukirnya ini banyak sekali usaha yang pemilik sebenarnya adalah orang-orang asing. Terungkapnya kasus penyelundupan narkoba yang dimasukkan di laci lemari hanyalah puncak dari fenomena 'gunung es'.

Yang paling menarik tentu saja adalah saya bisa berkenalan dengan pemain-pemain besar di industri kreatif. Mereka tidak keberatan ketika saya mengutarakan niat untuk belajar dari mereka. Belajar mengenai produk-produk apa saja yang disukai konsumen manca negara. Juga produk apa saja yang dicari konsumen lokal.

"Anda punya potensi besar mas. Yang anda lakukan sudah cukup baik. Anda berhasil mem-batik-kan furnitur dan barang-barang kerajinan lain. Yang masih harus diasah adalah kemampuan membaca selera konsumen," kata salah satu pemain besar kepada saya.

Pak Tung bilang, "Kalau kita mau pindah 'gelombang', maka carilah orang-orang yang sudah mencapai 'gelombang' seperti yang Anda impikan. Bergaullah dengan. Belajarlah dari mereka."

2 komentar:

  1. Hello. This post is likeable, and your blog is very interesting, congratulations :-). I will add in my blogroll =). If possible gives a last there on my blog, it is about the TĂȘnis e Sapato, I hope you enjoy. The address is http://tenis-e-sapato.blogspot.com. A hug.

    BalasHapus
  2. Ada yang menarik begitu saya buka artikel ini, yakni apa yang disampaikan pak Tung. "Kalau kita mau pindah 'gelombang', maka carilah orang-orang yang sudah mencapai 'gelombang' seperti yang Anda impikan. Bergaullah dengan. Belajarlah dari mereka." Saya juga pengen belajar terus dan terus...

    BalasHapus