Thursday, January 14, 2010

Pesona Anin Rumah Batik

Majalah Pesona edisi Januari 2010 pada rubrik Stylish menampilkan koleksi Anin Rumah Batik. Untuk 'Rilex with Batik' ditampilkan kaos oblong batik yang eksklusif. Pewarnaan maupun pembatikan semua dilakukan manual, hand-made.


Pada 'Selalu Gaya dalam Segala Suasana' ditampilkan hem batik tulis corak baru dipadu dengan blus batik cap yang cantik.

Sedangkan pada 'Simpel dan Kasual' menampilkan hem batik inovatif aneka warna namun gaya dan trendi. Dengan blus yang simpel namun anggun.


Adapun pada gambar di atas blus dengan corak batik tradisional berdampingan dengan hem unik. Hem batik tulis dengan desain yang eksklusif.


Selain busana juga ditampilkan sebagian produk kerajinan yang unik, menawan, inovatif.

Terima kasih kepada Majalah Pesona.

Silahkan 'klik' fotonya untuk mendapatkan gambar yang lebih jelas.

Tuesday, December 29, 2009

Bekasi, Bisa!


Ternyata Kota Bekasi merupakan kota besar kelima di Negeri ini setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Sebagai kota besar dengan 1.940.308 jiwa yang tinggal di 12 kecamatan dan 56 kelurahan tentu memerlukan pengelolaan yang tidak sederhana.

Bekasi merupakan salah satu kota penyangga di wilayah megapolitan Jabotabek selain Tangerang, Tangerang Selatan, Bogor, Depok, dan Cikarang. Serta menjadi tempat tinggal para komuter yang bekerja di Jakarta. Oleh karena itu, ekonomi Kota Bekasi sangat berhubungan erat dengan kota-kota di wilayah Jabotabek.

Kegiatan perekonomian di Kota Bekasi cukup menggeliat, hal ini terlihat dari banyaknya mal, pertokoan, bank, serta restoran yang berdiri di sini. Kota Bekasi juga menjadi salah satu pilihan bagi warga Jabotabek yang hendak berwisata belanja, karena di sini terdapat Mal Metropolitan, Mega Bekasi Hypermal, Bekasi Square, Plaza Pondok Gede, Grand Mal, Bekasi Cyber Park, dan Bekasi Trade Center. Pusat belanja hypermarket seperti Carrefour, Giant, Makro, dan Hypermart juga hadir di kota ini.

Adapun kompleks perumahan juga tidak sedikit. Setidaknya ada 60 perumahan (selain Perumnas) banyak berkembang di sini. Kabarnya pengembang Summarecon Agung juga berencana membangun kota mandiri Summarecon Bekasi seluas 300 ha di Bekasi Utara.

Melihat perkembangan Kota Bekasi yang demikian pesat tentu saja Pemda meresponnya dengan melakukan banyak hal. Salah satunya adalah menyiapkan dan memperbaiki infra strukturnya. Saat ini hampir semua jalan di Bekasi sudah lebar dan nyaman dilalui.

Sebagaimana kota-kota besar lainnya pesatnya pembangunan fisik akan menimbulkan masalah lain yang cukup pelik, seperti adanya ketimpangan ekonomi. Sehingga makin banyak dijumpai gelandangan, pengemis, dan pengamen di sepanjang jalan, terutama di lampu-lampu merah. Masalah sosial ini bisa menimbulkan keresahan kalau tidak dikelola dengan cukup baik.

Inti dari ketimpangan ekonomi adalah adanya sebagian kelompok masyarakat yang tidak terikut sertakan dalam proses pembangunan yang demikian pesat. Maka salah satu solusinya adalah menyediakan sarana bagi mereka untuk bisa ikut menikmati perkembangan ekonomi ini.

Aset Pariwisata

Di samping berkembangnya pusat-pusat ekonomi, Bekasi sebenarnya mempunyai aset besar namun belum dikelola dengan baik. Aset itu berupa cagar budaya yang sarat dengan sejarah perkembangan kota ini. Padahal kalau dikelola dengan baik peninggalan budaya ini bisa menggerakkan kegiatan ekonomi dengan cukup signifikan. Ada banyak contoh bagaimana kota-kota di dunia bisa mengandalkan pendapatan penduduknya dengan mengandalkan budaya khasnya.

Adapun aset cagar budaya yang dimiliki kota Bekasi adalah Monumen Sejarah Perjuangan Kali Bekasi di stasiun bus, Tugu Pahlawan Bekasi di Jalan Veteran, Gedong Papak di Jalan Juanda, Tugu di kawasan proyek, dan Gongkaman di Mustika Jaya.

Cagar-cagar budaya tersebut kalau dikelola dengan konsep yang jelas, membidik segmen yang pas, dan eksekusi yang profesional tentu akan menjadi magnet yang mampu menarik wisatawan dan biro-biro wisata. Bekasi bisa berubah tidak hanya menjadi kota transit namun bisa menjadi kota tujuan wisata dengan ciri khasnya yang jelas dan tegas.

Salah satu usulan konsep yang saya ajukan adalah, pada salah satu cagar budaya didirikan pusat jajanan atau kuliner tradisional. Karena penduduk Bekasi berasal dari beragam suku dan etnis maka yang disajikan pada pusat kuliner adalah makanan-makanan tradisional yang berasal dari berbagai daerah. Para pelaku usaha kuliner bebas membuka usahanya asalkan yang disajikan bersifat asli Indonesia.

Pada sentra kuliner ini tidak hanya menyajikan makanan semata. Kuliner akan jauh lebih berkesan kalau di dalamnya ada kegiatan seni. Di tengah sentra didirikan semacam panggung tempat live music beraksi. Yang diutamakan bisa beraksi pada live music adalah para pengamen atau grup pengamen yg terseleksi. Tidak sulit menemukan grup pengamen berkualitas. Mereka sangat apik memainkan seni musik. Saat ini panggung mereka adalah KRL-KRL ekonomi. Dengan promosi yang profesional rasanya tidak sulit mengubah cagar budaya menjadi pusat budaya plus (ekonomi).

Untuk cagar-cagar budaya yang lain dibuat konsep yang berbeda tapi positioningnya harus tegas dan jelas.

Kalau cagar-cagar budaya bisa diubah menjadi magnet wisata, Bekasi akan makin mantap sebagai kota yang perkembangan fisiknya selaras dengan pembangunan non fisik. Keselarasan fisik dan non fisik masih sangat langka kita jumpai. Saya yakin Bekasi mampu melakukan itu.

Bekasi memang istimewa. Keistimewaan ini banyak dikisahkan dalam karya-karya sastra Indonesia. Antara lain dalam puisi Krawang-Bekasi karya Chairil Anwar dan dalam dua novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Kranji-Bekasi Jatuh (1947) serta Di Tepi Kali Bekasi (1951). Karya-karya tersebut lahir pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, di mana kedua penulis tersebut menjadi saksi perjuangan rakyat Bekasi dalam membela kemerdekaan.

Bekasi, bisa!

Monday, November 23, 2009

Batik Cicak


Ada sebuah cerita menarik mengenai kreativitas. Sebuah kreativitas bisa muncul dari beragam kondisi. Apapun kondisinya bagi sebagian orang merupakan sebuah peluang yang sayang untuk dilewatkan.

Di bawah ini adalah liputan yang berasal dari Koran Wawasan :
-------------

LEMPONGSARI - Cinta Indonesia Cinta KPK (Cicak) Jawa Tengah, Jumat (20/11) melaunching Batik Cicak, bertemakan ’’Bumikan Batik Cicak, gerakan People Power’’.

Presidium Cicak Jateng, Eko Haryanto menjelaskan, batik cicak diproduksi atas ide pengukuhan batik Indonesia oleh Unesco, sebagai warisan budaya dunia.

Dia menandaskan, jika dalam lembaga pemerintahan, korupsi telah menjadi budaya negatif, dan harus dilawan dengan budaya antikorupsi yang positif.

’’Kami membuat batik ini agar gerakan cicak mengalir dalam masyarakat, dan orang bangga mengenakan baju perjuangan batik cicak berani lawan korupsi,’’ tegas Eko.

Launching yang digelar di Kantor KP2KKN Jateng itu dihadiri sejumlah aktivis LSM dan wartawan. Desain batik itu sendiri dibuat perajin batik printing asal Pekalongan yang sekaligus aktivis LSM Pattiro, Aminuddin.

Laiknya batik pada umumnya, batik cicak juga mengadopsi motif-motif seperti yang sudah ada di pasaran. Hanya bedanya, jika dilihat dengan kaca pembesar motif batik tersebut akan terlihat gambar cicak dan buaya.

Selain itu, agar identitas perjuangan melawan korupsi lebih terasa, di saku depan batik tersebut terpampang gambar cicak ukuran besar yang dilingkari tulisan ”Saya Cicak Lawan Korupsi”. Agar lebih menarik batik cicak tersebut juga diberi motif daun Kanabis dan bunga teratai serta dihiasi dengan gradasi sesuai warna dasar batik. Ada empat macam warna yang ditawarkan yakni dominan warna biru, coklat, hijau dan ungu.

Awal
Menurut Eko produksi awal batik cicak ini dibuat sebanyak 500 potong. Rencananya, batik tersebut selain akan disebar ke seluruh jaringan cicak yang ada di Jakarta, Solo, Yogyakarta, Padang dan kota-kota lainnya.

Batik tersebut juga akan dibagikan ke lembaga-lembaga yang concern dengan gerakan anti korupsi seperti ICW, YLBHI, dan Transparancy International Indonesia (TII). Batik Cicak tersebut juga akan diberikan kepada Gubernur Jateng, Bibit Waluyo, Kapolda Irjen Alex Bambang Riatmodjo, Kajati Jateng, Salman Maryadi dan perwakilan Muspida Provinsi Jateng lainnya. Eko berharap pemberian batik tersebut dapat lebih memacu jajaran Muspida Jateng dalam aksi pemberantasan korupsi.

Eko menambahkan, dalam waktu dekat batik cicak akan diproduksi secara massal. Ini seiring dengan tingginya minat dari sejumlah elemen masyarakat yang ingin memiliki batik cicak tersebut. Eko menilai produksi massal tersebut akan mengangkat roda perekonomian para pengrajin batik.

Meski berbau bisnis, namun Eko menegaskan kalau langkah ini murni proyek sosial. Adapun keuntungan dari penjualan batik tersebut akan digunakan untuk mendanai gerakan pemberantasan korupsi. rth—Ks

Thursday, November 12, 2009

Maleo

Pernah dengar nama Maleo? Maleo adalah sebuah nama yang diusulkan mantan Presiden BJ Habibie untuk produk mobil nasional yang betul-betul buatan dalam negeri, bukan mobil impor yang diberi kesan seolah-olah mobil nasional.

Pak Habibie memberi nama Maleo bukan tanpa alasan. Maleo adalah sejenis burung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55 cm. Populasi hewan ini hanya ditemukan di hutan tropis dataran rendah pulau Sulawesi khususnya daerah Sulawesi Tengah, yakni di daerah Kabupaten Donggala (Desa Pakuli dan sekitarnya) dan Kabupaten Luwuk Banggai.

Maleo bersarang di daerah pasir yang terbuka, daerah sekitar pantai gunung berapi dan daerah-daerah yang hangat dari panas bumi untuk menetaskan telurnya yang berukuran besar, mencapai lima kali lebih besar dari telur ayam.

Yang membuat burung ini istimewa adalah telur-telur tersebut tidak dierami oleh induknya hingga menetas. Setelah Maleo betina bertelur dia meletakkan telurnya di dalam lubang. Secara bergantian atau bersamaan kedua induk Maleo (jantan dan betina) menimbun telur tersebut dan kemudian membuat timbunan tipuan (untuk mengelabui pemangsa).

Pengeraman telur dibantu oleh panas bumi atau oleh panas sinar matahari. Waktu yang dibutuhkan untuk menetas pun cukup lama berkisar antara 62-85 hari. Karena tidak dierami, anak Maleo yang telah berhasil menetas harus berjuang sendiri keluar dari dalam tanah sedalam kurang lebih 50 cm (bahkan ada yang mencapai 1 m).

Anak Maleo yang baru menetas harus keluar sendiri ke permukaan tanah tanpa bantuan sang induk. Perjuangan untuk mencapai permukaan tanah akan membutuhkan waktu selama kurang lebih 48 jam. Inipun akan tergantung pada jenis tanahnya. Sehingga tak jarang beberapa anak Maleo dijumpai mati “ditengah jalan”. Tanah yang terlalu padat, akar-akar pohon yang terlalu rapat, lubang yang digali terlalu dalam diduga menjadi faktor penyebab si anak Maleo kehilangan banyak energi (kelelahan) hingga mengakibatkan kematian sebelum mencapai permukaan tanah.

Tantangan yang dihadapi anak maleo memang begitu berat. Tanpa kehadiran sang induk saat matanya pertama kali melihat dunia ini, tanpa bimbingan sang induk untuk mencari makan dan terbang, tanpa perlindungan sang induk di saat bahaya menghampiri, bahkan, untuk keluar dari cangkang dan muncul ke permukaan bumi ini pun mereka harus berjuang sendiri.

Lolos dari perjuangan panjang di dalam tanah, begitu kepala si anak maleo muncul ke permukaan, bahaya lain pun sudah menanti. Semut. Barangkali karena bulu-bulunya yang masih basah (dan bau amis telur) sehingga menarik perhatian semut mendatanginya. Dan tak ada ampun lagi bagi si anak Maleo yang kondisi sebagian badannya masih terhimpit tanah, akhirnya pasrah digerogoti semut. Terkadang tubuh lemahnya (setelah melalui perjalanan panjang di dalam tanah) harus dia pasrahkan untuk seekor tikus yang juga sedang menanti buruan. Sudahkah berakhir sampai disitu?

Ternyata belum. Di luar sana masih banyak bahaya menanti.

Soa-soa, adalah sebutan orang Sulawesi Bagian Utara bagi hewan bernama Biawak adalah pemangsa utama Maleo. Selain mereka memangsa anak Maleo, mereka pun adalah predator utama bagi telur Maleo (selain manusia). Penciuman mereka yang sangat tajam sehingga dengan mudah menemukan telur Maleo yang sudah tertimbun tanah sekalipun.

Bahaya lainnya datang dari burung pemangsa (seperti Elang). Lokasi telur Maleo yang sebagian besar merupakan daerah terbuka, sangat memudahkan bagi burung elang untuk mengintai mangsanya. Anak Maleo yang masih lemah pun menjadi sasaran empuk mereka. Belum lagi bahaya dari ular, atau bahkan manusia.

Alam mempunyai sistem yang sempurna. Allah sudah membuat mekanisme bagi makhluknya. Untuk perjuangan dan ujian yang begitu berat ini tentu terdapat reward yang sangat istimewa. Untuk perjuangan yang sarat bahaya dan penuh resiko ini Allah swt memberi keistimewaan kepada anak Maleo, sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk unggas manapun.

Anak maleo yang baru saja mencapai permukaan tanah ternyata sudah bisa terbang. Ya, terbang tanpa asuhan sang induk. Terbang dengan sendirinya lengkap dengan kemampuan navigasi. Tidak hanya terbang saja tapi juga punya kemampuan yang komplit mengenai cara mencari makan, menghindari bahaya, survival, dan sebagainya.

Ada pelajaran bagi kita dari burung Maleo ini. Di balik ujian berat yang mungkin kita alami, di balik berbagai rintangan yang harus kita hadapi kita harus yakin bahwa di balik sana tentu ada 'hadiah' dan 'keistimewaan' yang sudah disiapkan Allah untuk kita. Keistimewaan yang khas kita. Dan itu sangat indah untuk dilalui... wallahu a'lam.


foto maleo: tompotika