Jumat, 07 Maret 2014

Batik Sumbang 20% Ekspor Garmen Nasional

Ketua Umum Yayasan Karya Kreatif Nusantara Iman Sucipto Umar mengatakan sepanjang 2013, batik dan tenun hanya menyumbangkan 20 persen total ekspor garmen nasional.

"Kalau dikira-kira, dari total ekspor garmen kita tahun 2013, yang batik dan tenun itu hanya 20 persen," kata Iman Sucipto Umar, dijumpai seusai acara Deklarasi Busana Indonesia di Jakarta, Kamis.

Dia menyampaikan pada 2013 total ekspor garmen nasional sebesar 7,52 miliar dolar AS. Jumlah tersebut masih tergolong rendah dibandingkan Vietnam yang mampu mengekspor garmen senilai 14,7 miliar dolar AS, Turki senilai 24,29 miliar dolar AS, Bangladesh senilai 19,95 miliar dolar AS, dan China senilai 159,6 miliar dolar AS.

"Makanya perlu ditingkatkan agar ekspor batik dan tenun juga meningkat. Apalagi industri garmen ditunjang perusahaan industri, desainer dan perkembangan fashion serta masyarakat di Indonesia," kata Iman.

Lebih jauh dia mengatakan bahwa acara Deklarasi Busana Indonesia hanya merupakan langkah awal mendukung batik dan tenun, dengan menyatukan seluruh pemangku kepentingan.

Ke depan, menurut dia, perlu dilakukan pertemuan antar kementerian agar pemerintah berkomitmen memajukan batik nasional. "Kalau perlu undang partai politik untuk mendeklarasikan mendukung batik," kata dia.(*) 


antaranews

Rabu, 19 Februari 2014

Berbagai Masalah Masih Menghantui Industri Batik untuk Jadi Industri Unggulan

Sebenarnya tulisan ini sudah lama, dibuat pada Oktober 2011, Sampai sekarang ternyata tetap relevan, karena tidak banyak perubahan.

*****

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menargetkan batik menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Untuk mencapai target itu, Mari beserta beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIP) II, istri para duta besar, yayasan dan komunitas Pecinta dan Peduli Batik mendampingi Ibu Negara dan Ibu Wakil Presiden mengunjungi sentra batik di Pekalongan Jawa Tengah.

Pada siaran pers dia menyebut, kunjungan kerja yang berkaitan dengan perayaan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober kemarin, dapat dijadikan momentum bagi pemangku kepentingan untuk pengembangan produksi batik sebagai motor penggerak ekonomi serta alat diplomasi.

Meski demikian, dia menyadari, penetrasi produk batik di pasar domestik masih terkendala berbagai hal. Tim Penyusun Cetak Biru Batik 2011 Kementerian Perdagangan mendata hal-hal yang menghambat penggunaan produk batik secara intensif di pasar dalam negeri.

Kendala pertama, katanya, diawali soal ketersediaan peralatan membatik. Dari 19 sentra batik di Indonesia, hanya ada enam usaha pembuat canting, 31 usaha pembuat cap batik, dan 10 usaha pembuat campuran malam. Padahal, total usaha batik yang tersebar di Pulau Jawa berjumlah 15.293 unit.

Kendala kedua, soal fluktuasi harga kain mori yang digunakan sebagai media batik. Harga kain mori yang terdiri dari dua jenis yaitu mori primisima dan mori prima mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan akibat peningkatan harga kapas sejak 2009.

Selanjutnya, kendala ketiga, berkaitan dengan kemampuan manajemen, teknik mencanting atau mengecap halus, dan pewarnaan batik. Secara keterampilan, perajin di sentra batik memiliki kemampuan rata-rata sebesar 91,7%.

Kendala keempat, jelas Mari, lebih berkaitan dengan calon konsumen. Hasil survei Tim Penyusun Cetak Biru Batik 2011 ternyata pencitraan batik pada calon konsumen menjadi penentu penetrasi produk tersebut di pasar domestik.

Selain itu, Menteri Perindustrian M.S. Hidayat juga pernah menyebut, pengembangan industri batik nasional itu dihadang tiga masalah utama. Masalah pertama yang menghantui adalah soal kurangnya regenerasi perajin batik.

Masalah kedua, soal bahan baku batik yaitu gondorukem. Penghasil bahan baku itu kurang berminat mengalokasikan gondorukem berkualitas baik untuk kebutuhan dalam negeri. Perum Perhutani cenderung mengekspor gondorukem berkualitas bagus ke luar negeri.

Untuk mengatasi hal itu, dia berjanji akan mendiskusikan hal itu dengan Perum Perhutani agar sewaktu-waktu bermusyawarah dengan perajin dan asosiasi sehingga dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri sebelum mengekspor. "Perundingan itu akan menyangkut tentang harga," katanya.

Lalu problem ketiga, soal pendidikan perajin batik yang belum memahami potensi batik sebagai bisnis. Dia mengatakan, bakal bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan agar seluruh sentra industri untuk mengatasi hal itu. "Saya akan membuat industri batik jadi industri unggulan," ucap Mari.

sumber: Kontan

Sabtu, 11 Januari 2014

Batik untuk Pengantin (2)

Truntum

 Motif Truntum diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Pakoe Boewana III). Bermakna cinta yang tumbuh kembali. Beliau menciptakan motif ini sebagai simbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama semakin terasa subur berkembang (tumaruntum).

Karena maknanya, kain bermotif truntum biasa dipakai oleh orang tua pengantin pada hari penikahan. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi kedua mempelai. Kadang dimaknai pula bahwa orang tua berkewajiban untuk “menuntun” kedua mempelai untuk memasuki kehidupan baru.

Ratu Ratih - Semen rama


 Ratu ratih dari kata ratu patih, ada pula yang menterjemahkan tunjung putih (ratu yang dijunjung atau diembani patih karena usianya masih muda). Di dalam batik ini dikaitkan dengan suatu kemuliaan, keagungan pribadi yang bisa menyesuaikan dengan alam lingkungan.

Beberapa ornamen utama yang ada dalam motif ini adalah ornamen yang berhubungan dengan daratan, lautan, udara, serta ornamen yang berhubungan dengan paham Triloka atau Tribawana (3 dunia: dunia tengah tempat hidup manusia, dunia atas tempat para dewa dan para suci, dunia bawah tempat yang dipenuhi angkara murka).

Dilihat dari namanya batik ini muncul pada masa pemerintahan Pakoe Boewono VI, dimana pada saat diangkat menjadi raja, beliau masih muda dan didampingi oleh patihnya pada tahun 1824 masehi.

Motif Semen Rama dimaknai sebagai penggambaran dari “kehidupan yang semi” (kehidupan yang berkembang atau makmur). Terdapat beberapa jenis ornamen pokok pada motif-motif semen. Yang pertama adalah ornamen yang berhubungan dengan daratan, seperti tumbuh-tumbuhan atau binatang berkaki empat.

Kedua adalah ornamen yang berhubungan dengan udara, seperti garuda, burung, dan megamendung. Sedangkan yang ketiga adalah ornamen yang berhubungan dengan laut atau air, seperti ular, ikan dan katak. Jenis ornament tersebut kemungkinan besar ada hubungannya dengan paham Triloka atau Tribawana.

Paham tersebut adalah ajaran tentang adanya tiga dunia; dunia tengah tempat manusia hidup, dunia atas tempat para dewa dan para suci, serta dunia bawah tempat orang yang jalan hidupnya tidak benar/dipenuhi angkara murka. Motif Semen sendiri biasanya merupakan penggambaran dari kehidupan yang bersemi, berkembang atau makmur.

Dua motif batik kembar sepasang (sawitan) ini umumnya dikenakan pasangan mempelai sebagai lambang kesetiaan istri terhadap suaminya..

Wahyu Tumurun


Batik motif wahyu tumurun merupakan salah satu motif yang banyak disukai karena keindahan pola dan filosofinya yang mendalam.

Motif utamanya yaitu pola mahkota terbang tampak lebih menonjol dengan tambahan motif sepasang ayam atau burung yang berhadap-hadapan.

Pola dalam motif batik wahyu tumurun memiliki makna dan harapan agar orang yang mengenakannya memperoleh anugerah kebahagiaan dari Sang Pencipta di masa mendatang. Batik ini biasa dikenakan oleh mempelai pengantin saat upacara penikahan adat Jawa.

Rabu, 08 Januari 2014

Batik untuk Pengantin (1)


Bagi mempelai yang memilih pernikahan ala tradisional Jawa, hampir dapat dipastikan memilih kain batik untuk melengkapi busana pengantinnya. Seperti juga berbagai tata cara dalam rangkaian upacara tradisional Jawa yang sarat makna, corak kain pengantin tradisional juga memiliki makna, nilai, serta filosofi yang berbeda satu dengan lainnya. 

Oleh karena itu, seorang mempelai sebaiknya memahami terlebih dahulu corak atau motif apa saja yang umum digunakan dalam pernikahannya dan tidak hanya memilih kain batik pengantin hanya berdasarkan keindahan coraknya saja. Dalam acara pernikahan, dianjurkan agar mempelai menggunakan kain batik bermotif yang diawali dengan kata ‘sida/sido’ yang berarti ‘jadi’, seperti:

Sido Mulyo



Kain batik pengaruh Kraton yang berasal dari daerah Banyumas ini pantas dikenakan oleh mempelai pria maupun wanita dan memiliki makna hidup dalam kemuliaan, kebahagiaan serta limpahan rejeki.



Sido Luhur

Batik dari daerah Kraton Surakarta ini memiliki makna keluhuran atau budi luhur yang dijunjung tinggi dalam hidup. Keluhuran yang dimaksud adalah keluhuran secara lengkap, baik materi maupun non materi. Keluhuran materi mengandung makna hidup berkecukupan, mencukupi segala kebutuhan ragawi dengan bekerja keras sesuai pekerjaan, jabatan, pangkat / derajat maupun profesinya.

Sedangkan keluhuran non materi antara lain terdiri dari keluhuran budi, tindakan serta ucapan. Corak batik Sidoluhur ini sangat cocok digunakan oleh mempelai wanita di malam pengantin.

Sido Asih


Corak Sido Asih berasal dari daerah Kraton Surakarta dengan makna harapan agar hidup rumah tangga kedua mempelai selalu dipenuhi kasih sayang. Kain batik dengan motif ini juga cocok digunakan mempelai wanita di malam pengantin.


Sido Mukti

Jenis batik petani dari daerah Surakarta ini biasanya dikenakan mempelai pria dan wanita saat resepsi berlangsung. Corak kain batik ini memiliki makna tercapainya mukti atau kemakmuran dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Kain batik yang bernama lain Sawitan (sepasang) ini juga melambangkan doa dan harapan terciptanya masa depan yang penuh kebaikan.

Sido Wirasat


Dalam corak kain batik Sido Wirasat biasanya disertai dengan paduan motif truntum. Motif ini menjadi simbol nasehat yang selalu diberikan orang tua untuk menuntun kedua mempelai dalam memasuki mahligai hidup berumah tangga.


patronwedding.org, dll

Selasa, 31 Desember 2013

Mengenal Batik Tulis "Arah Timur dan Barat" di Madura

Warna yang mencolok memang ciri khas batik Madura.

Selain terkenal akan kegiatan karapan sapi, penduduk di Pulau Madura, Jawa Timur, juga memiliki keterampilan turun menurun berupa keterampilan membatik. Salah satu sentra batik di pulau garam ini ada di kota Bangkalan.

Bersama rombongan Indonesia Fashion Week dan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kami berkesempatan mengunjungi salah satu galeri batik tulis terkenal yang bernama Tresna Art. Di galeri yang memiliki ciri rumah khas Madura ini kita bisa mendapatkan beragam batik tulis berwarna cerah. Warna yang mencolok memang menjadi ciri khas batik Madura.

“Warna-warna terang ini mencerminkan karakter orang Madura karena dikenal memang menyukai warna gonjreng,” ujar Supi Amin, pemilik Tresna Art Galeri, Minggu (29/12).

Dalam galerinya, ada dua jenis batik tulis yang disajikan, yaitu batik tulis arah timur dan arah barat. Yang dimaksud arah timur adalah batik tulis yang menggunakan pewarnaan bahan kimia, maka hasil warnanya pun terlihat lebih cerah.

Sedangkan untuk batik tulis arah barat masih menggunakan pewarnaan alam yang dihasilkan dari bahan-bahan seperti daun jati dan daun jambu. Daun jati sendiri dipakai untuk menghasilkan warna merah.
“Porsi batik yang menggunakan pewarnaan alami lebih banyak disini dibandingkan batik dari warna kimia,” lanjutnya.

Proses pewarnaan alami memakan waktu enam bulan sampai satu tahun. Bahan-bahan pewarna tersebut diendapkan di dalam gentong atau yang sering disebut oleh pengrajin batik yakni gentongan. Tak heran jika batik tulis yang berasal dari warna alami justru warnanya dapat bertahan sampai ratusan tahun.

“Makanya kain batik tulis warna alami ini juga paling mahal diantara batik tulis lainnya karena warna yang dihasilkan pun sempurna dan melekat pada kain dengan baik,” paparnya.

Untuk batik tulis gentongan sendiri dihargai sekitar Rp3 juta dengan motif yang beragam. Menurut Supi, selain warna-warna yang menjadi identitas batik tulis Madura, motifnya pun cenderung mayoritas didominasi oleh motif binatang.

“Kebanyakan identitas motif batik tulis Madura itu berbentuk binatang, seperti burung atau kupu-kupu. Tapi ada juga beragam motif bunga,” tandasnya.

Di Madura, beberapa motif klasik antara lain matahari dari Sampang dan manuk dari Bangkalan.

NationalGeographic