Kamis, 28 Januari 2016

Batik Bakal Jadi Raja Saat Era Perdagangan Bebas


Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengaku optimis batik bakal menjadi primadona ketika Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) berlangsung.
Hal itu bukan tanpa alasan. Menurutnya saat ini terjadi pergeseran tren dimana produk-produk unik diincar tak terkecuali batik.

Dia juga mengatakan, kecenderungan itu didukung meningkatnya peminat masyarakat internasional yang menyukai barang dengan jumlah produksi yang sedikit atau ekslusif.

"Batik itu sangat memiliki potensi, dan mungkin saya menarik garis dari tren perhiasan dan aksesoris. Saya melihatnya tren di dunia itu agak pergi dari manufaktur masal, lebih kepada barang-barang unik," kata dia di Jakarta, Selasa (22/12/2015).

Dia menegaskan, kecenderungan tersebut terjadi di hampir semua kalangan baik tua maupun muda. Hal tersebut menjadikan batik memiliki peluang besar merajai ASEAN.

"Di  negara maju remaja dan dewasa muda mencari barang unik, bukan yang masal dan dipakai semua orang. Saya melihat masa depan cerah di kerajinan termasuk batik," tuturnya.

Maka dari itu, Thomas tidak melakukan deregulasi terkait dengan pembatasan kain bermotif batik. Dia khawatir akan menghantam industri dalam negeri.

"Terus terang itu deregulasi yang saya tunda. Pembatasan kain bermotif batik, itu produk manufaktur masal. Saya takut sekali itu merusak citra kain batik yang hemat saya harus kita lestarikan. Kita harus jaga betul citra dan reputasi kain," tandas dia.

sumber:
liputan6

Selasa, 22 Desember 2015

Cinta Tanpa Syarat

Sepuluh tahun lalu, senior saya, seorang wartawan berusia 60 tahun. Ibunya yang kala itu berusia 80 tahun lebih dirawat di rumah sakit.

Suatu malam, kawan saya itu menunggui ibunya. Dia tertidur pulas di kursi panjang di ruang rawat. Di luar, cuaca hujan dan dingin. Tiba-tiba...sang ibu turun dari ranjang rawatnya. Dia tertatih-tatih jalan menuju sofa tempat sang anak pulas. Diselimutinya anaknya itu dengan selimut yang seharusnya untuk pasien itu. Dia kembali ke ranjang rawat, tidur tanpa selimut. 

Meski usia kawan itu 60 tahun dan sudah jadi kakek, anak adalah tetap anak. Pagi hari, kawan saya bangun dengan kaget, karena dia sudah diselimuti. Sang ibu tak lama wafat.
 

Dua puluh tahun lalu, seorang kawan (pria, waktu itu berumur 30-an) terkena kanker paru-paru. Sang ibu menemaninya di rumah sakit. Ketika anaknya itu buang air kecil atau air besar, dengan tak sungkan ibu itu membersihkan anusnya, mengelap penisnya. 

Saya menyela ,"saya bantu bu!" Jawab beliau : "Wios, da sanaos tos 30 yuswa na, da asa budak keneh we (tak apa-apa, meski usianya sudah 30, rasanya dia masih anak kecil). Sahabat saya itu meninggal.
 

Cinta ibu, adalah cinta tanpa syarat...
Pintu surga terbuka lebar untuk para ibu...

Selamat Hari Ibu...

Budhiana Kartawijaya

Senin, 19 Oktober 2015

Near Win


Kesuksesan adalah racun. Ya, karena begitu kita mencapai puncak sukses, kita cenderung terjangkit penyakit puas diri dan kemapanan. Kita cenderung terjebak pada perangkap kenyamanan. Kita menjadi “penikmat” prestasi masa lalu, dan tak lagi menjadi “pejuang” capaian masa depan. Dalam kondisi ini sense of crisis hilang, sense of striving pupus, daya kreasi dan imajinasi pun kemudian memudar.

“Perfection is the enemy of progress,” kata Winston Churchil. Ketika kita menganggap apa yang kita perjuangkan telah mencapai kesempurnaan, maka pada titik itulah sesungguhnya kita mandek. Ketika kita merasa hebat, bahkan merasa yang terhebat, maka sesungguhnya di situlah awal titik kejatuhan kita.

Itu sebabnya saya mengatakan musuh kesuksesan adalah kesuksesan itu sendiri. Kesuksesan menciptakan kondisi enak, nyaman, dipuja-puji, disanjung-sanjung, ditiru-tiru, dijadikan role model, dianggap paling hebat, dianggap menginspirasi. Kondisi serba enak dan nyaman ini seringkali menjadikan kita lupa, lalai, bahkan takabur. Kondisi paling parah adalah kalau kesuksesan menjadikan kita malas berpikir keras, malas bekerja keras, malas berkreasi keras, malas belajar keras. Ketika itu terjadi maka kiamat di depan mata.

“Hampir Menang”
 
Saya suka dengan istilah “near win” yang diperkenalkan oleh Sarah Lewis, seorang kurator seni, dalam bukunya The Rise (Simon & Shuster, 2014). Ia mengatakan bahwa kita seharusnya tak pernah boleh merasa betul-betul sukses. Kita harus menganggap sukses yang kita capai sebagai sesuatu yang belum betul-betul final.

Sehebat apapun kesuksesan yang kita raih harusnya tetap kita anggap sebagai “setengah sukses” atau “hampir sukses”. Ya, karena kalau kita merasa betul-betul sukses maka penyakit kemapanan dan kenyamanan bakal menyergap. Dalam berjuang menggapai impian, sesungguhnya kita tak pernah betul-betul menang, yang ada adalah “hampir menang”.

Near win menjadikan kita terus memompa andrenalin untuk mencapai sukses berikutnya. Near win memungkinkan kita tetap menjaga vitalitas perjuangan untuk menerima tantangan-tantangan dalam mencapai sukses-sukses berikutnya. Near win menjadikan kita tidak malas, tidak comfort, dan tidak takabur. Near win membebaskan kita dari sikap mendewakan prestasi masa lalu, dan lupa pada tantangan kesuksesan masa depan.

Singkatnya, near win yang membuat kita selalu bersemangat untuk terus maju, tidak mandek. “In our pursuit of success, it is actually our near wins that push us forward,” ujar Sarah. Kalau “menang” adalah racun kesuksesan, maka “hampir menang” adalah madu kesuksesan.

“Sekali Sukses, Sesudah Itu Mati”
 
Dalam salah satu sajaknya Chairil Anwar pernah bilang, “Sekali berarti, sesudah itu mati.” Untuk tulisan ini, boleh kiranya bunyi sajak itu saya plesetkan sedikit menjadi, “Sekali sukses, sesudah itu mati.” Ungkapan ini pas sekali menggambarkan sosok-sosok yang sukses, tapi suksesnya tak berkesinambungan. Begitu sukses diraih, sekonyong-konyong penyakit sok hebat, penyakit kemapanan, dan penyakit kemalasan menghinggapi. Akibatnya kemudian bisa ditebak: kesuksesan yang diraih tersebut adalah yang pertama, sekaligus yang terakhir.

Untuk bisa mendaki dari gunung kesuksesan satu ke gunung kesuksesan berikutnya, maka kita harus memiliki mentalitas near win. Mentalitas untuk tetap rendah hati menjadi underdog. Mentalitas untuk menganggap kesuksesan sebagai sebuah never-ending journey: perjalanan yang tak pernah mengenal kata akhir.

Bicara mengenai sukses sebagai sebuah never-ending journey, saya teringat ungkapan Steve Jobs ketika ia di depak dari Apple di tahun 1980-an. Steve bilang, “…getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.”

Ia tidak menyikapi pemecatannya sebagai akhir dari segalanya, tapi justru sebaliknya membebaskannya memasuki masa-masa terkreatif dan terproduktif dalam perjalanan karirnya. Memulai kembali di titik nol justru memberinya energi luar biasa untuk berkreasi menghasilkan produk demi produk hebat di kemudian hari mulai iPod, iPhone, hingga iPad. Kondisi serba keterbatasan di tengah keterpurukan justru memberikan spirit luar biasa untuk merengkuh kesuksesan berikutnya.

Keterpurukan menjadikan Steve Jobs berpikir 1000% lebih keras, bekerja 1000% lebih keras, berkreasi 1000% lebih keras. Hanya dengan begitu kita bisa mendaki dari gunung kesuksesan satu ke gunung kesuksesan berikutnya. Hanya dengan begitu kita mencapai sukses yang berkesinambungan, bukan “sekali sukses, sesudah itu mati.”

sumber|: yuswohady.com

Rabu, 25 Maret 2015

Gus Mus: Mengenakan Batik, Meneladani Nabi Muhammad SAW

Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A Mustofa Bisri kembali menegaskan perbedaan antara muslimin Indonesia dan Arab Saudi. Meski keduanya menganut agama yang sama tapi masing-masing memiliki kekhasan budaya.

“Islam kita itu ya Islam Indonesia bukan Islam Saudi Arabia, bukan berarti kalau tidak pakai jubah dan sorban Islam kita tidak diterima,” katanya saat membuka Pameran Seni Rupa Nasirun di Bentara Budaya Yogyakarta, Selasa (2/10).

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini berpesan kepada umat Islam di Indonesia untuk meneladani Nabi Muhammad SAW secara tepat. Menurut dia, Nabi termasuk pribadi yang menghargai tradisi setempat dan berperangai menyenangkan.

“Rasulallah SAW memakai jubah, sorban dan berjenggot ya karena tradisi orang Arab seperti itu. Abu Jahal juga berpakaian yang sama, berjenggot pula. Bedanya kalau Rasul wajahnya mesem (sarat senyum). Nah, kalau Abu Jahal wajahnya kereng (pemarah). Silahkan mau pilih yang mana?” katanya disambut gelak tawa hadirin.

“Seandainya, ini seandainya, kalau Rasulullah itu lahir di Texas, mungkin pake jeans,” ujar Gus Mus.

“Makanya Gus Dur, saya, make pakaian sini (Jawa); pake batik,” tambah GusMus, seperti dilansir NU Online.

Menurut Gus Mus, mengenakan batik bisa diartikan sebagai ittiba’ Kanjeng Nabi. Sedangkan mengenakan serban, jubah, berjenggot, bisa juga dikatakan sebagai ittiba’ Abu Jahal. Bukankah Abu Jahal juga mengenakan jubah, serban dan berjenggot?

Perbedaan antara Abu Jahal, Abu Lahab, dengan Kanjeng Nabi adalah air mukanya. Kanjeng Nabi itu wajahnya tersenyum, Abu Jahal wajahnya sangar. Kalau ingin ittiba’  Kanjeng Nabi, pake serban pake jubah, wajah harus tersenyum.

Gus Mus lalu mengisahkan, pada zaman Nabi, kalau ada sahabatnya yang sumpek, mempunyai beban, ketemu Kanjeng Nabi, melihat wajahnya, hilang sumpeknya.

“Sekarang ini, nggak (demikian). Pakaiannya aja yang sama. Kita nggak sumpek, nggak apa, lihat wajahnya malah sumpek,” pungkasnya.

Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh Unesco telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral andIntangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.

Batik memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yangmemiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Saat ini, penggunaan batik kembali dihidupkan di masyarakat Indonesia, dengan menjadikan batik sebagai pakaian dalam acara-acara kenegaraan. Memakai batik juga berarti membantu meningkatkan produktivitas para perajin, yang artinya membantu meningkatkan penghasilan para pekerja, pedagang, dan lainnya, yang terkait dengan industri batik.

sumber:
nu.or.id
liputanislam

Minggu, 08 Maret 2015

Asupan Down Syndrome

Tulisan menarik dari Bu Nunki Suwardi :
-----

“Dok, anak saya penderita Down Syndrome. Umur 12 bulan berat badannya hanya 7 kg. Karena berat badannya kurang, saya konsul ke dokter gizi. Anak saya disuruh makan daging 500 gr harus habis 3 hari. Tiga bulan hanya naik setengah kilo. Periksa lab anak saya didiagnosis ginjalnya RTA atau bocor. Kok bisa ya dok?”, tanya seorang ibu dengan sedih.

Tadi siang suami saya, Dr. Suwardi, menjadi pembicara bagi komunitas Persatuan Orang Tua dengan Anak Down Syndrome. Saya tidak mendengar jawaban suami karena sibuk urusan lain. 

Tapi di perjalanan pulang suami curhat, “Ya ampun anak 12 bulan disuruh makan daging sebanyak itu. Ya jebol lah ginjal tuh anak. Tapi ayah nggak tega ngomong pada si ibu jika dietnya itu penyebab bocor ginjal anaknya. Kasihan nanti jadi kepikiran”.

“Lha emang berapa gram sih maksimum makan daging sehari ?”, tanya saya.

“40 (empat puluh) gram. Itu pun sebaiknya 4-5 hari sekali, bukan tiap hari. Kebayang kan kepayahannya ginjal anak sekecil itu mencerna daging sebanyak itu tiap hari”, jelas suami. “Lagipula, mau tiap hari makan daging sekilo pun tuh anak nggak bakal naik berat badannya”, imbuh suami.

“Lho kok bisa?”, tanya saya bingung.

“Karena anak-anak down syndrome itu kekurangan asetilkolin yang memproduksi hormon pertumbuhan agar berat badannya bisa naik. Jadi mau dimakanin daging berapa pun ya percuma”.

“Lha terus harus makan apa dong biar berat badannya naik?”.

“Makan makanan yang mengandung banyak enzim untuk merangsang hormon pertumbuhan yaitu makanan yang masih fresh yang kurang diolah dengan pemanasan seperti sayur segar, buah-buahan, kacang2an dan ikan. Enzim itu nanti yang merangsang produksi asetilkolin. Kalau daging kan perlu pemanasan tinggi jadi enzim nya semua mati”, jelas suami.

Sambil menunggu lampu merah, mata suami menerawang, “Ayah nggak ngerti cara pikir teman-teman sejawat. Kok nggak mikir ya gimana nanti itu makanan diolah oleh tubuh dan dampaknya ke organ. Kasihan kan si anak sampai jadi korban gitu. Para peserta tadi juga banyak yang bengong dengar penjelasan ayah. Mereka nggak ngerti anak-anak down syndrome itu metabolismenya rentan sehingga sebaiknya menghindari makanan berpengawet, pewarna, tinggi gula dan sintetik seperti chiki-chikian, minuman instan, dan sejenisnya. Harusnya anaknya diberi makanan sealami mungkin agar sehat”.

“Wajar aja kalau nggak ngerti. Lha dietnya saja bisa salah hingga fatal begitu”, hibur saya.

“iya ya. Ayah juga sedih angka penderita down syndrome makin naik”, kata suami.

“Bukannya itu penyakit keturunan atau gara-gara melahirkan di usia resiko?”, tanya saya.

“Down syndrome itu penyakit genetik. Bukan karena melahirkan di umur beresiko atau keturunan. Penyebabnya itu karena gen yang normal berubah jadi rusak sehingga lahir anak-anak down syndrome. Gen itu bisa rusak karena tidak menjaga gaya hidup. Kebiasaan makan Junk Food, minum nggak sehat, merokok, gaya hidup amburadul, stres tinggi. Berapa pun umurnya tapi kalau hidupnya nggak benar ya beresiko melahirkan anak down syndrome”, jelas suami. “Bisa juga selnya normal tapi mengalami gangguan saat zygot bertemu karena tubuh dipenuhi banyak terpapar toksin”.

Hmm... ngeri juga ya, batin saya. Bersyukur saya dikaruniai tiga putri yang cantik-cantik dan cerdas. Padahal saat itu kesadaran saya untuk hidup sehat belum muncul. Makan apa saja yang penting enak dan biasa begadang ngerjain tugas kampus dan kerjaan kantor.

Sebenarnya saya ingin langsung tidur merebahkan badan. Tapi saya tak ingin apa yang saya tahu terlewat untuk dibagi. Mungkin ada teman yang berencana memiliki anak jadi tahu pentingnya menjaga tubuh tetap sehat agar lahir anak yang sehat pula. Mungkin juga ada teman yang memiliki anak, keluarga atau kerabat dengan down syndrome terbantu olehnya.

Semoga bermanfaat dan selamat berakhir pekan.

Salam,
Nunki Suwardi

Pusat Studi & Pendidikan Psikologi Komunikasi Bawah Sadar
Studi integratif bahasa tubuh - tulisan tangan - intuisi - fisiognomi