Dalam sebuah pementasan wayang nilai filosofis sebuah cerita sebagian besar disampaikan dalam bentuk ujaran dan gerakan . Dalam pelantunan lagu macapat nilai filisofis disampaikan dalam bentuk lirik dan lagu. Dalam sehelai batik tiap goresan canthing adalah lukisan penuh makna dari sang pembatik. Tiap motif adalah simbolisasi dari sebuah peristiwa besar yang dituangkan dalam bentuk gambar.
Batik selama beberapa tahun terakhir seolah-olah mengalami suatu masa reinassance. Pakaian batik yang sebelumnya hanya digunakan pada kesempatan-kesempatan tertentu, sekarang menjadi jamak dikenakan dalam berbagai kesempatan. Para designer dan majalah-majalan mode ramai-ramai mengangkat batik sebagai tema utama sehingga booming fashion batik terjadi.
Kebangkitan luar biasa terjadi dalam industri batik di berbagai daerah . Kota-kota sentra batik seperti Solo, Yogya, Cirebon, Pekalongan, Lasem menjadi begitu hidup seiring bergeliatnya industri batik dalam negri. Modernisasi terhadap berbagai batik pun terus terjadi berbanding lurus dengan meningkatnya permintaan barang dan pesaingan bisnis antar produsen batik. Effeknya inovasi-inovasi terus berkembang dan batik terus dimodifikasi dan dimodernisasi.
Di kota Solo dikenal dua jenis batik, yang pertama batik kratonan dan batik saudagaran. Batik Saudagaran adalah batik yang diproduksi oleh para pengusaha batik, misalnya di daerah kauman dan laweyan. Batik yang diperdagangkan bebas dan dipakai oleh orang kebanyakan termasuk dalam batik jenis ini. Yang kedua batik larangan, adalah batik yang hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan dalam acara-acara tertentu. Keberadaan batik ini tertutup karena hanya boleh dikenakan oleh kalangan tertentu dalam Keraton.
Adapun batik yang sekarang beredar luas dan dianggap merupakan motif larangan sebenarnya belum tentu merupakan batik larangan yang sesungguhnya, karena yang benar-benar mengetahui tentang batik larangan hanyalah keluarga Raja, jelas Quintanova.
Berkenaan dengan nilai filosofis batik asal Surakarta Drs. Sabar Narimo menjelaskan lebih lanjut tentang hal tersebut.
Gagrag Surakarta Hadiningrat adalah sebutan motif batik asal Kraton Surakarta Hadiningrat. Terdapat sekitar 317 motif yang berasal dari wilayah Kraton Surakarta, itu belum termasuk motif batik pada kain jarit yang saat ini banyak diangkat untuk batik-batik modern.
Sebelum menciptakan sebuah motif batik, sang pembuat batik menjalani proses yang dinamakan lelaku dimana ia merenungi suatu peristiwa dan mengamati keadaan sekitarnya. Hal itu yang menyebabkan tiap lekuk motif batik dan tiap goresan canthing memiliki makna mendalam jika dibedah. Nilai filosofis batik tidak hanya terdapat pada latar belakang sejarah penciptaan suatu motif semata. Nilai pendidikan batik juga tercermin dari cara pemakaian dan waktu pemakaian.
Motif batik memiliki nilai eksklusifitas yang berbeda-beda artinya tidak semua orag dapat menggunakan suatu motif batik. Batik larangan adalah sebutan bagi batik yang hanya boleh digunakan oleh keluarga Raja atau bangsawan. Lereng atau Parang adalah salah satu contoh motif larangan.
Berikut adalah beberapa motif batik dan penjelasan singkatnya:
1. Batik Parang atau lereng menurut pakem nya hanya boleh digunakan oleh sentono dalem ( anak dari ratu). Lereng berasal dari kata mereng (lereng bukit). Sejarah motif ini diawali ketika terjadi pelarian keluarga kerajaan dari Kraton Kartasura. Para keluarga Raja terpaksa bersembunyi di daerah pegunungan agar terhindar dari bahaya.
2. Jenis batik Truntum dipakai saat seseorang menggelar pesta hajatan. Motif truntum sendiri ditemukan oleh Istri dari Pakubuwana V. Saat itu beliau sedang menjalani hukuman karena melanggar peraturan kerajaan. Pada suatu malam beliau merenung dan memandangi langit berbintang yang ada di angkasa kemudian beliau menuangkan apa yang dia lihat dengan chanthing sehingga menjadi motif batik truntum.
3. Batik Sido Mukti dipakai oleh pasangan pengantin. Sida mukti sendiri melambangakan sebuah harapan, jadi seketika sepasang pengantin menggunakan kain sidamukti maka muncul keinginan untuk mencapai kehidupan baru yang berhasil atau dalam bahasa jawa disebut mukti.
4. Batik Sido Drajad dipakai oleh besan ketika upacara pernikahan.
Cara pemakaian batik juga memiliki nilai pendidikan tersendiri, berikut adalah beberapa uraian dari cara pemakaian kain batik.
Bagi anak-anak batik dipakai dengan cara sabuk wolo. Pemakaian jenis ini memungkinkan anak-anak untuk bergerak bebas. Secara filosofis pemakaian sabuk wolo diartikan bebas moral, sesuai dengan jiwa anak-anak yang masih bebas dan belum dewasa dan belum memiliki tanggungjawab moral di dalam masyarakat.
Ketika beranjak remaja maka seseorang tidak lagi mengenakan batik dengan cara sabuk wolo melainkan dengan jarit. Panjang jarit yang dipakai memiliki arti tersendiri. Seamakin pajang jarit maka semakin tinggi derajad seseorang dalam masyarakat. Semakin pendek jarit maka semakin rendah pula strata sosial orang tersebut dalam masyarakat.
Bagi dewasa pemakaian batik memiliki pakem tersendiri antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki wiru diletakkan di sebelah kiri. Sedangkan pada wanita wiru diletakkan di sebelah kanan, yang berarti nengeni. Artinya seorang putri tidak boleh melanggar kehendak suami.
Batik Modern
Mungkin selama ini masyarakat masih rancu dengan apa yang disebut dengan batik modern. Quintanova, salah satu pengamat batik sekaligus panitia SBC, menjelaskan istilah modern dalam konteks batik dapat dilihat dari beberapa segi:
Yang pertama modern dalam arti motif dan yang kedua modern dalam teknis pembuatan. Contoh modernisasi motif diantaranya memadukan dua motif batik dalam satu kain misalnya perpaduan antara lereng dengan kawung menjadi motif lereng-kawung. Batik kontemporer bahkan mengaplikasikan motif-motif modern atau bahkan abstrak dalam kain yang diproses dengan teknis pembuatan batik.
Modern yang kedua adalah dalam hal teknis. Batik printing adalah salah satu bentuk modenisasi teknis pembuatan batik. Namun istilah batik printing yang dikenal masyarakat sebenarnya bukan termasuk batik karena tidak melalui tahapan pembuatan batik. Proses pembuatan batik secara singkat harus melalui beberapa tahap, penggambaran motif, pelapisan dengan malam, pewarnaan, dan terakhir proses lorot (penghilangan malam). Tanpa proses tersebut sebuah kain tidak bisa dikatakan batik tetapi hanya tekstil yang bermotif batik.
Inovasi lain dalam hal teknis pembuatan adalah dengan printing malam seperti yang dilakukan di Desa Wisata Batik Kliwonan dimana malam yang panas dicetak pada sebuah kain secara massal. Dengan proses ini dimungkinkan membuat batik dengan jumlah besar dan dalam waktu singkat tetapi tidak menyimpang dari aturan proses pembuatan batik.
Perlu Inovasi agar batik bisa bertahan
Hal ini senada dengan yang diungkapkan Arifatul Uliana, putri Solo tahun2009, batik modern merupakan usaha agar batik lebih memasyarakat. Demi menjangkau konsumen kaum muda batik yang modern keberadaan batik modern memang sangat perlu. Dengan motif yang bervariasi maka kaum muda tidak lagi enggan menggenakan kain batik dan perlahan-lahan stereotype batik sebagai pakain untuk yang lebih “senior” bisa terkikis.
Menurut Uli pakem filosofis batik tidak harus dikorbakan walaupun proses modernisasi terus terjadi. Nilai filosofis batik bisa dipertahankan dengan menciptakan motif baru dengan pakem-pakem yang sudah ada. Tanpa variasi dan modernisasi batik akan terkesan monoton, dan tidak bisa bertahan membudaya sampai saat ini.
Edukasi Pertahankan Nilai Filosofis Batik
Para pencipta motif batik baru perlu lebih berhati-hati dalam menuangkan kreasinya, paling tidak seorang creator motif batik memiliki pengetahuan dan literature tentang batik-batik terdahulu. Agar motif batik yang diciptakan tidak menyalahi aturan dan pakem yang telah ada.
Batik yang saat ini menjadi trend mode sesunguhnya adalah suatu modal untuk memperkenalkan sejarah dan filosofis batik pada masyarakat. Edukasi budaya diperlukan agar ketika seseorang mengenakan batik dia tidak hanya mengenakannya dengan alasan trend fashion semata tetapi dengan diiringi kesadaran bahwa batik adalah warisan budaya yang patut untuk dilestarikan.
Upaya edukasi nilai filosofis batik dapat dilakukan dengan membawa batik ke sekolah baik dalam bentuk pelajaran intrakulikuler ataupun ekstrakulikuler. Dengan upaya tersebut generasi muda khususnya pelajar menjadi mengenal batik secara lebih mendalam. Sehingga di masa depan batik tetap berjaya. Pameran batik yang digelar perlu lebih menekankan pada pengenalan nilai sejarah batik, tidak hanya pengenalan sekilas tentang kain batik saja tanpa ada tidak lanjut yang lebih mendalam.
Jangan sampai aset budaya yang tak ternilai harganya hilang bersama hilangnya kepedulian kita untuk nguri-uri budaya sendiri.Dengan usaha-usaha tersebut booming trend batik tidak akan luntur seiring bergantinya trend busana.
sumber: vitoz89
Batik Adalah Identitas
Praktek bisnis, kiat usaha, human interest
Senin, 26 Desember 2011
Kamis, 24 November 2011
Batik Penghias Kota
Lain padang, lain belalang. Ungkapan itu sangat tepat menyimpulkann cara masyarakat di daerah penghasil batik menunjukkan kebanggan terhadap batik khas hasil daerahnya masing-masing.
Pekalongan
Masyarakat di kota pesisiran ini mengaplikasikan motif batik nyaris di seluruh kota. Tembok pembatas halaman, hingga becak. Segera semua terlihat jelas ketika kita memasuki kota.
Madura
Warna-warna terang dan pola kontemporer batik Madura nyaris berhamburan di seluruh kota besar madura. Dinding bangunan, tembok pembatas, dan gapura menjadi sarana mengimplementasi motif batik khas daerah ini.
Solo
Tergolong sebagai kota besar di Pulau Jawa, pemerintah Solo sangat menyadari potensi budaya yang dimiliki daerah ini. Alih-alih membiarkan masyarakat menghiasi kota dengan graffiti bermotif batik, pemerintah mengolah motif batik menjadi elemen penghias kota. Motif Kawung dijadikan penghias tempat sampah dan canting distilir menjadi lampu kota. Indah bukan...
sumber: batikcintaku
Rabu, 16 November 2011
Makna Di Balik Motif Batik Solo
Batik Solo mengeluarkan aura megah dan kesan anggun. Tidak semata-mata karena paduan warna dan lekuk motifnya, melainkan makna yang terkandung di balik setiap motif itu.
Dalam sejarah, hanya di wilayah Jawa, tepatnya di Solo dan Jogjakarta, batik masuk ke ranah kekuasaan. Motif-motif batik khusus dibuat untuk raja dan kalangan keraton.
Selain motif, warna soga (kecoklatan) yang menjadi ciri khas batik Solo, dan kemudian disebut sebagai batik Sogan ini, memiliki arti “kerendahan hati, bersahaja” menandakan kedekatan dengan bumi, alam, yang secara sosial bermakna dekat dengan rakyat.
Di antara beragam motif yang ada, ditemukan lima motif khas batik Solo, yang menarik untuk diperhatikan.
Sido Asih
Motif geometris berpola dasar bentuk-bentuk segi empat ini memiliki arti keluhuran. Saat mengenakan kain Sido Asih, berarti seseorang mengharapkan kebahagiaan hidup. Motif ini dikembangkan setelah masa pemerintahan SISKS (Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan) Pakoe Boewono IV di keraton Surakarta.
Ratu Ratih
Nama motif ini diambil dari kata "Ratu Patih" yang berarti seorang raja
yang memerintah didampingi oleh perdana menterinya, karena usia yang
masih sangat muda. Motif batik yang menggambarkan kemuliaan, dan
hubungan penggunanya dengan alam sekitar ini, mulai dibuat pada masa
pemerintahan SISKS Pakoe Boewono VI di tahun 1824

Parang Kusumo
Parang adalah motif diagonal, berupa garis berlekuk-lekuk dari sisi
atas ke sisi bawah kain. Sedangkan Kusumo berarti bunga. Motif Parang
Kusuma ini menjelaskan penggunanya memiliki darah raja (keturunan raja)
atau disebut sebagai Darah Dalem. Motif batik ini berkembang pada masa
pemerintahan Ingkang Panembahan Senopati di Kerajaan Mataram pada abad
ke-16.

Bokor Kencono
Sebuah motif geometris berpola dasar berbentuk lung-lungan yang
mempunyai makna harapan dan keagungan, kewibawaan. Motif ini untuk
pertama kalinya dibuat untuk dikenakan PB XI.
Sekar Jagad
Sekar berarti bunga dan Jagad adalah dunia. Paduan kata yang tercermin dari nama motif ini adalah “kumpulan bunga sedunia”. Motif ini merupakan perulangan geometris dengan cara ceplok (dipasangkan bersisian), yang mengandung arti keindahan dan keluhuran kehidupan di dunia. Motif ini mulai berkembang sejak abad ke-18.
sumber: batikcintaku
Rabu, 05 Oktober 2011
Sabun untuk Merawat Batik
Tentu saja jawabannya adalah pada perawatannya. Dan perawatan terpenting pada pakaian adalah bagaimana cara mencucinya, sabun apa yang dipergunakan, dan bagaimana cara pengeringannya pasca dicuci.
Untuk pakaian batik sangat dianjurkan TIDAK menggunakan deterjen ketika mencuci. Deterjen tidak cocok untuk baju batik dan baju-baju bagus yang lain. Disamping itu deterjen juga merusak lingkungan karena mengandung bahan kimia seperti fosfat, silikat, dan pewarna yang berbahaya bagi kelestarian air.
Supaya pakaian batik tetap awet, tidak kusam, dan tahan lama kami perkenalkan Sabun Perawatan Batik NOC.. Sabun ini memakai Sapindus Rarak de Candole atau populer dengan sebutan Lerak alias Lamuran sebagai bahan baku. Lerak adalah pohon dengan kualitas kayu yang setara dengan kayu jati dan banyak tumbuh di pulau Jawa dan Sumatra.
Biji pohon Lerak mengandung Saponin yang menghasilkan busa dan berfungsi sebagai bahan pencuci dan pembersih.
Untuk info lebih lanjut silahkan kontak 0815 8940 350
Harga eceran Rp 20.000, isi: 250 ml
Untuk reseller kami beri diskon 31,25 %.
Langgan:
Entri (Atom)









