Kamis, 30 Oktober 2014

Selamat Jalan IBU...

"Keluarga Bu Mahmudah...,"
Suara perawat ICU pagi itu mengagetkan kami. Saat itu hari Minggu, 26 Oktober 2014. Jam menunjukkan di angka (kisaran) 9.15. Kami pun bergegas masuk ruang ICU dengan perasaan yang sangat tidak menentu.


Dalam kondisi normal tidak ada yang diizinkan memasuki ruang ICU, kecuali pada jam besuk (2 jam di pagi hari, dan 2 jam di sore hari), itu pun dibatasi hanya 2 orang yang bisa menjenguk pasien. Untuk menjenguk pasien diwajibkan mengenakan pakaian khusus yang disediakan rumah sakit.

Delapan hari menunggu ibu yang dirawat di ruang ICU membuat kami hafal beberapa 'isyarat' ruangan itu.
Kalau perawat memanggil keluarga pasien dengan membawa kertas, berarti kondisi relatif 'aman'. Mereka memberikan resep untuk ditukar dengan obat di apotik internal. Hal ini biasanya dilakukan pagi hari sekitar jam 6.00.

Tetapi kalau perawat memanggil keluarga pasien dengan tangan kosong, kita harus siap-siap mental. Ada dua kemungkinan untuk hal ini. Kemungkinan pertama adalah dokter meminta persetujuan untuk melakukan tindakan medis beresiko. Atau kemungkinan kedua, dokter/perawat memberi informasi kalau pasien 'boleh' dijenguk di luar jam besuk. Artinya... pasien sudah mendekati "waktunya"...

Dan pagi itu yang terjadi adalah kemungkinan kedua... :'(

"Kondisi ibu menurun dengan cepat...," Demikian perawat memberikan info kepada kami. Tanpa mendengarkan penjelasan lebih lanjut, saya dan kakak bergegas masuk ICU...

Kami terpana. Kami melihat ada 5 perawat dan dokter sedang berupaya keras mengaktifkan jantung Ibu. Upaya keras mereka lakukan. Namun grafik di monitor EKG (Elektrokardiograf) perlahan-lahan melandai... perlahan lahan menuju lurus...

Kakak langsung menuju telinga Ibu untuk men-talqin, menuntun dzikir. Terus-menerus menuntun dzikir...

Dan... grafik di monitor EKG pun akhirnya 'flat'...

"Ibu sudah 'pergi', Pak..." demikian kata dokter.

Kami terdiam. Kami pandangi wajah tenang Ibu. Tenaga medis pun sudah menghentikan upayanya...

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Selamat jalan Ibu. Allah sudah menunggumu di Sana.
Maafkan anakmu yang selama ini banyak membuat kesalahan. Sering melakukan tindakan tidak menyenangkan. Dan kurang maksimal dalam merawat serta menemanimu...


Ya Allah ampunilah Ibuku, maafkan Ibuku, sayangilah Ibuku sebagaimana Beliau menyayangi kami sejak kecil... Amin...

Kamis, 02 Oktober 2014

Selamat Hari Batik Nasional

... dan Google pun mengucapkan 'Selamat' Hari Batik Nasional...


Jumat, 29 Agustus 2014

Ciri Khas Corak Batik Kebumen

Jika menilik letak geografis wilayah Kabupaten Kebumen, dan juga dari ketidak jelasan sejarah keberadaan batik Kebumen sendiri, maka sangat wajar jika dalam implementasi nyata pada motif-motif yang ada, batik Kebumen terkesan unik. 

Teguh Budiyanto, salah satu pembatik di Desa Seliling, menyatakan bahwa batik Kebumen merupakan bawaan model dari kerajaan di Solo dan Yogyakarta, karena menurutnya, orang-orang sebelum dirinya telah belajar batik dari dua kota tersebut sebelum akhirnya kembali ke Kebumen dan mengembangkan batik di daerahnya sendiri. Artinya Pak Teguh hendak menegaskan bahwa motif batik Kebumen lebih cenderung bercorak pedalaman yang menginduk pada model-model batik keraton. Namun dia juga mengakui bahwa pada perkembangannya, beberapa motif warna cerah ala pesisiran mulai disukai para pembeli.

Mengenai motif tradisional Kebumen, Pak Teguh menyatakan paling tidak ada empat motif tradisional Kebumen yang dikenal secara turun temurun. Dia menyebutkan ada Jagatan Kebumen, Bang-bangan, Sirkit, dan Gringsing Kebumen. Dia bahkan menyatakan bahwa Gringsing Kebumen sangat unik dan merupakan batik tulis terhalus, bukan saja secara nasional, bahkan internasional.

Sementara menurut Ibu Wahyuni, pengrajin batik Desa Jemur, ciri utama dari motif batik Kebumen adalah pada warnanya. Menurutnya, jika masalah corak, bentuk, atau gambar bisa saja dipersamakan dengan daerah-daerah lain seperti Banyumas, Pekalongan, dan sebagainya. Namun masalah warna, Kebumen memiliki ciri khusus yaitu pada beragamnya warna yang digunakan. Dalam satu kain batik bisa sampai 4 warna, sedang biasanya batik secara umum hanya memakai dua kombinasi warna saja. Warna khas yang digunakan di Kebumen menurutnya adalah warna biru tua, biru muda, hijau, dan hitam. Wahyuni dengan tegas menyatakan bahwa model pewarnaan seperti itu hanya dikenal di Kebumen. Di daerah lain tidak ada. Dia menyebutnya sebagai warna klasik asli Kebumen.

Berkaitan dengan pengaruh motif batik yang berkembang di Kebumen, Wahyuni menilai kalau motif dasar atau baku model Kebumen memang tidak dikenal. Adanya motif-motif yang muncul di Kebumen itu bersifat baru atau kontemporer, hanya cara atau model pewarnaannya saja yang unik dilihat dari kombinasinya. Ketika ditanyakan tentang orisinalitas, dia mengaku tidak terpengaruh dari motif luar. Beberapa motif yang dia hasilkan berasal dari pemikirannya sendiri yang terinspirasi oleh alam sekitarnya. 

Berbeda dengan Pak Muhtadin yang tetap mempertahankan pakem dalam hal membatik. Batik yang dikerjakannya hanya model/motif klasik khas Kebumen. Sejauh ini Pak Muhtadin dan beberapa pengrajin di Kelompok Pengrajin Batik “Mekar Sari” hanya mengerjakan batik tulis klasik. Tidak ada motif lain yang coba dia kembangkan. Namun dia pernah mencoba sekali membuat kreasi dalam hal motif. Dia terinspirasi dari berbagai potensi Kebumen, sehingga motif ciptaannya dia namakan motif “sebagian potensi Kebumen”. Warna yang ditampilkan dalamkreasi batik Pak Muhtadin cenderung ke warna cerah dan warna muda. Berikut gambar motif batik hasil kreasi Pak Muhtadin:














 Berdasarkan pada keterangan dari beberapa sumber yang terkait, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa pada dasarnya motif batik Kebumen lebih bercirikan ke model pesisir, mengingat jenis warna yang digunakan lebihcenderung pada warna muda. Namun karena lokasi daerah batik yang berada dilereng bukit dan dekatnya dengan dunia pantai, maka ada percampuran ataukombinasi secara alami dalam kondisi geografisnya, antara dunia pesisir dan dunia pegunungan. Motif yang berkembang kemudian lebih banyak bernuansa flora dan fauna, dedaunan, bunga, hewan, dan unggas, serta ikan.

Mengenai motif tradisional yang bersifat turun temurun, ternyata tidak ada kesepahaman di antara para pengrajin sendiri. Pemerintah Kabupaten Kebumen sendiri tidak pernah memberikan semacam justifikasi atas suatu motif sebagaimotif batik tradisional Kebumen.

Beberapa motif batik Kebumen yang saat ini telah terdaftar di Ditjen HKI merupakan motif-motif yang diciptakan oleh para pengrajin Kebumen, bukan motif tradisional yang telah ada sejak masa lalu dan diajarkan secara turun temurun. Sementara ini, perbedaan yang mencolok antara batik Kebumen dan batik luar adalah pada hal pewarnaan saja. Wahyuni berani memberikan jaminan bahwa model kombinasi warna klasik asli Kebumen, belum ada di daerah lain, karena sangat khas dan tua.

Dengan demikian, corak dasar batik Kebumen yang membedakan dengan batik-batik di luar adalah pada model pewarnaan yang unik yang belum bisa ditiru oleh pengrajin batik di luar daerah. Sedangkan mengenai gambar pada motif Kebumen secara keseluruhan bersifat baru dan lebih banyak terinspirasikan dari gambaran alam, baik flora, fauna, maupun arsitektur. Selera pasar menjadi standar utama, namun kekhasan warna tetap menjadi perhatian. 

Secara tegas ciri khas batik Kebumen dapat dirumuskan sebagai berikut:
Motif-motifnya bernuansa alam, baik flora seperti dedaunan dan bunga, maupun fauna seperti burung-burungan, baik daerah bebukitan maupun kehidupan pantai seperti ikan.

Warna yang digunakan lebih banyak bersifat terang dan kombinasinya antara biru muda, biru tua, hijau, hitam, serta merah. Motif yang banyak dijumpai antara lain Jagatan Kebumen, Gringsing, sirkit, dan bang-bangan.

Hilangnya Nilai Filosofi dan Makna Motif batik

Bagi beberapa pengrajin batik Kebumen, batik merupakan salah satu jalan hidupnya. Artinya mereka membatik dengan murni motivasi seni dan hobi bukan sekedar motif ekonomi. Bagi para pengrajin batik Kebumen, batik bukan lagi sebuah kesenian yang eksklusif dan terikat dengan budaya keraton lagi sebagaimanasejarah batik pada masa lampau. Batik dengan beragam motif memiliki maknakhusus tersendiri, baik budaya mapun spiritual. Kadang motif batik bermakna doa,dan kedudukan sosial, atau prosesi budaya yang tengah dijalankan, atau bahkanhanya sebatas seni artistik semata.

Motif-motif batik yang berkembang di Kebumen lebih pada nilai seni artistik. Artinya nilai batik di lihat dari keindahan dan kerumitan cara dan hasil prosesnya.Bukan pada nilai budaya yang melatar belakanginya. Dari beberapa pengrajin yang berhasil ditemui, mereka mengaku bahwa motif-motif baru yang mereka hasilkan murni berasal dari pengamatan indra penglihatan, seperti alam, tumbuh-tumbuhan, hewan dan suasana. Tidak ada yang menggambarkan abstraksi makna, seperti motif yang bermakna sikap dan niai-nilai moral atau harapan-harapan. Semua disandarkan pada objek nyata yang terlihat dan terasa. 

Bahkan ketika mereka dimintai keterangan mengenai arti dari beberapa jenis motif yang telah mereka hasilkan, pengrajin sendiri kurang begitu mengerti. Semuanya hanya berdasarkan tradisi turun-temurun atau berdasarkan pengamatan pada alam sekitar. Jawaban ini dimungkinkan juga karena keterputusan tradisi dan budaya membatik dari para pendahulunya. Regenerasi batik diturunkan hanya pada taraf seni kerajinan membatiknya saja tanpa transformasi mengenai filosofi dari motif-motif yang dibuat.

Namun ada juga motif Jagatan Kebumen yang menggambarkan keanekaragaman budaya etnis dan kekayaan alam Kebumen. Motif batik tersebut berusaha merangkum beberapa gambaran dari pantai, karang, burung, dan tumbuh-tumbuhan. Motif batik yang berkembang lebih banyak disandarkan pada esensi artistik gambar yang berusaha menggambarkan keanekaragaman alam dan budaya dalam selembar kain.

dari: Bambang Wibiono (www.academia.edu/3441681/batik_kebumen) 

Jumat, 07 Maret 2014

Batik Sumbang 20% Ekspor Garmen Nasional

Ketua Umum Yayasan Karya Kreatif Nusantara Iman Sucipto Umar mengatakan sepanjang 2013, batik dan tenun hanya menyumbangkan 20 persen total ekspor garmen nasional.

"Kalau dikira-kira, dari total ekspor garmen kita tahun 2013, yang batik dan tenun itu hanya 20 persen," kata Iman Sucipto Umar, dijumpai seusai acara Deklarasi Busana Indonesia di Jakarta, Kamis.

Dia menyampaikan pada 2013 total ekspor garmen nasional sebesar 7,52 miliar dolar AS. Jumlah tersebut masih tergolong rendah dibandingkan Vietnam yang mampu mengekspor garmen senilai 14,7 miliar dolar AS, Turki senilai 24,29 miliar dolar AS, Bangladesh senilai 19,95 miliar dolar AS, dan China senilai 159,6 miliar dolar AS.

"Makanya perlu ditingkatkan agar ekspor batik dan tenun juga meningkat. Apalagi industri garmen ditunjang perusahaan industri, desainer dan perkembangan fashion serta masyarakat di Indonesia," kata Iman.

Lebih jauh dia mengatakan bahwa acara Deklarasi Busana Indonesia hanya merupakan langkah awal mendukung batik dan tenun, dengan menyatukan seluruh pemangku kepentingan.

Ke depan, menurut dia, perlu dilakukan pertemuan antar kementerian agar pemerintah berkomitmen memajukan batik nasional. "Kalau perlu undang partai politik untuk mendeklarasikan mendukung batik," kata dia.(*) 


antaranews

Rabu, 19 Februari 2014

Berbagai Masalah Masih Menghantui Industri Batik untuk Jadi Industri Unggulan

Sebenarnya tulisan ini sudah lama, dibuat pada Oktober 2011, Sampai sekarang ternyata tetap relevan, karena tidak banyak perubahan.

*****

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menargetkan batik menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Untuk mencapai target itu, Mari beserta beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIP) II, istri para duta besar, yayasan dan komunitas Pecinta dan Peduli Batik mendampingi Ibu Negara dan Ibu Wakil Presiden mengunjungi sentra batik di Pekalongan Jawa Tengah.

Pada siaran pers dia menyebut, kunjungan kerja yang berkaitan dengan perayaan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober kemarin, dapat dijadikan momentum bagi pemangku kepentingan untuk pengembangan produksi batik sebagai motor penggerak ekonomi serta alat diplomasi.

Meski demikian, dia menyadari, penetrasi produk batik di pasar domestik masih terkendala berbagai hal. Tim Penyusun Cetak Biru Batik 2011 Kementerian Perdagangan mendata hal-hal yang menghambat penggunaan produk batik secara intensif di pasar dalam negeri.

Kendala pertama, katanya, diawali soal ketersediaan peralatan membatik. Dari 19 sentra batik di Indonesia, hanya ada enam usaha pembuat canting, 31 usaha pembuat cap batik, dan 10 usaha pembuat campuran malam. Padahal, total usaha batik yang tersebar di Pulau Jawa berjumlah 15.293 unit.

Kendala kedua, soal fluktuasi harga kain mori yang digunakan sebagai media batik. Harga kain mori yang terdiri dari dua jenis yaitu mori primisima dan mori prima mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan akibat peningkatan harga kapas sejak 2009.

Selanjutnya, kendala ketiga, berkaitan dengan kemampuan manajemen, teknik mencanting atau mengecap halus, dan pewarnaan batik. Secara keterampilan, perajin di sentra batik memiliki kemampuan rata-rata sebesar 91,7%.

Kendala keempat, jelas Mari, lebih berkaitan dengan calon konsumen. Hasil survei Tim Penyusun Cetak Biru Batik 2011 ternyata pencitraan batik pada calon konsumen menjadi penentu penetrasi produk tersebut di pasar domestik.

Selain itu, Menteri Perindustrian M.S. Hidayat juga pernah menyebut, pengembangan industri batik nasional itu dihadang tiga masalah utama. Masalah pertama yang menghantui adalah soal kurangnya regenerasi perajin batik.

Masalah kedua, soal bahan baku batik yaitu gondorukem. Penghasil bahan baku itu kurang berminat mengalokasikan gondorukem berkualitas baik untuk kebutuhan dalam negeri. Perum Perhutani cenderung mengekspor gondorukem berkualitas bagus ke luar negeri.

Untuk mengatasi hal itu, dia berjanji akan mendiskusikan hal itu dengan Perum Perhutani agar sewaktu-waktu bermusyawarah dengan perajin dan asosiasi sehingga dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri sebelum mengekspor. "Perundingan itu akan menyangkut tentang harga," katanya.

Lalu problem ketiga, soal pendidikan perajin batik yang belum memahami potensi batik sebagai bisnis. Dia mengatakan, bakal bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan agar seluruh sentra industri untuk mengatasi hal itu. "Saya akan membuat industri batik jadi industri unggulan," ucap Mari.

sumber: Kontan