Senin, 22 Desember 2008

I B U


Hari ini kita memperingati Hari Ibu. Ingin sekali saya membuat tulisan khusus mengenai sosok yang paling berperan dalam hidup kita. Namun sayang sekali saya tidak punya cukup ide yang bisa menggambarkan keagungan Ibu kita.

Tulisan berikut ini saya buat tahun lalu, juga untuk memperingati Hari Ibu.

**************

Kata mereka diriku slalu dimanja,
Kata mereka diriku slalu ditimang
oh bunda,
ada dan tiada dirimu kan selalu
ada di dalam hatiku....


Penggalan syair "Bunda" karya Melly Goeslaw yang dinyanyikan pada 21 April lalu begitu sahdu, hidmat, dan sangat menyentuh. Begitu sahdunya sehingga membuat hampir semua pengunjung acara di MetroTV saat itu tidak mampu menahan air matanya... termasuk saya yang menyaksikan dari rumah

Siapa pun orangnya, dari bangsa mana pun dia, mempunyai nilai universal tentang seorang ibu. Tidak peduli kalangan berpendidikan tinggi atau rendah, kelas ekonomi atas maupun ekonomi paling bawah, apakah dia seorang ulama atau residivis, semua akan tersentuh manakala di hadapannya diperlihatkan sosok seorang ibu. Ibu yang tegar, mencintai dengan tulus, rela mengorbankan apa pun demi kebahagiaan anaknya.

Ibu adalah sosok nyata tentang nilai cinta yang tulus. Cinta yang ikhlas. Cinta yang total. Tidak ada cinta yang melebihi ketulusan cinta seorang ibu. Mencintai adalah memberi. Ikhlas adalah melepas keinginan untuk dibalas. Seorang ibu akan memberi apa pun yang dia punya tanpa sedikit pun mengharapkan balasan dari anak-anaknya. Seorang ibu akan merasakan kebahagiaan yang berlimpah manakala melihat anak-anaknya mampu tertawa lepas. Lepas dari beban kehidupan. Beban itu cukup lah jadi 'beban' ibu saja.

Begitu totalitasnya seorang ibu terhadap kebahagiaan sang buah hati, maka hanya Tuhan yang mampu membalas keikhlasannya. Tidak ada seorang anak di dunia mana pun yang bisa membalas jasa ibunya. Maka jangankan seorang anak durhaka kepada bunda, hanya berkata 'ah' saja kepada sang ibu, sudah membuat Allah murka kepada seorang anak. Dan jika seorang anak berani menyakiti hati sang ibu berarti dia langsung berhadapan dan menantang sang khalik. Kita semua tentu sudah tahu resikonya : Hidupnya tidak mungkin bahagia dan berkah.

Seorang ibu selalu rela 'pasang badan' manakala ada yang kurang baik pada sang buah hati. "Anak ini kok tidak terurus, bagaimana sih ibunya?" adalah komentar pertama yang dilontarkan masyarakat bila melihat ketidak beresan seorang anak.

"Anak ini bandel sekali, kemana saja sih ibunya?" komentar yang lain

"Anak kok tidak pernah sarapan, emang ibunya tidak pernah memasak?" kata guru kelasnya.

Ibu juga selalu menjadi tumpuan kesalahan. Rumah tidak bersih, mainan anak berantakan, nilai sekolah anak jeblok, anak bandel, anak lapar, anak jatuh dari sepeda, dan sebagainya. Tetapi ketika semua keadaan jadi baik dan menyenangkan: Anak mendapat ranking di kelasnya, suasana rumah nyaman & bersih, maka sangat jarang pujian dialamatkan kepada sang ibu. Dan ibu tidak pernah protes untuk semua perlakuan yang tidak seimbang ini.

Dan ketika masa senja menjemput hari-harinya, ibu pun tidak pernah protes mengapa semua anaknya hidup menjauh dari sisinya. Dia sudah merasa nikmat hanya ditemani suami dan keheningan rumah yang telah banyak menorehkan catatan sejarah anak-anaknya. Rumah yang menjadi saksi bagaimana semuanya tumbuh dan berkembang.

Seorang ibu akan sangat berbahagia manakala telepon rumahnya berdering, dan dari seberang sana terdengar suara yang sangat akrab di telinganya: suara anak-anak dan cucun-cucunya.

Jadi mulai lah menambah frekwensi suara kita di telinga sang ibu. Kebahagiaan ibu mampu mempercepat upaya kita menggapai mimpi. Ridlo ibu mempermudah kita 'menemukan' jalan yang tepat.

"SELAMAT HARI IBU"

Rabu, 17 Desember 2008

Berkah Mandiri

Lebih 3 tahun lalu, ketika saya mengikuti Temu Nasional EU (Entrepreneur University) di Yogyakarta, saya sempat bingung. Saya bingung ketika disodori formulir oleh panitia. Dalam formulir itu ada pertanyaan jenis usaha yang saya jalani saat itu.

Bisa saja sih saya abaikan saja pertanyaan itu dan tidak saya isi jawabannya. Tapi saya malu. Masa di acara temu nasional pengusaha saya tidak punya usaha, apa kata dunia... :)

Cukup lama saya terdiam membiarkan formulir itu di tangan saya. Saat itu saya memang belum punya usaha. Saya masih mencari-cari usaha apa yang bisa saya jalani saat itu. Usaha yang bisa dijalani tanpa melibatkan uang sebagai modal utama.

Kebetulan saat itu saya membawa beberapa sampel VCD milik sahabat saya. VCD yang berisi pendidikan untuk anak. Tiba-tiba muncul ide di kepala saya. Mengapa bukan VCD ini saja yang dijadikan sebagai entitas usaha? Akhirnya muncul ide di kepala saya sebagai distributor VCD pendidikan untuk anak.

Saya ambil lagi formulir itu. Di kolom jenis usaha langsung saya isi sebagai 'Distributor Media Pendidikan Anak'. Ternyata masalah belum berakhir di sini. Masih ada pertanyaan apa Nama Usaha Anda? Di sini saya bingung lagi. Nyari ide lagi. Beruntung saya tidak terlalu lama mencari ide nama usaha saya. Kalau lama panitia bisa-bisa curiga orang ini sedang ngarang bisnis meski saat itu saya memang sedang ngarang beneran :). Akhirnya muncullah nama 'Berkah Mandiri Distribusi'. Maka saat itu saya punya 'perusahaan distribusi' yang saya dirikan semenit yang lalu.

Saat itu saya memakai nama Berkah Mandiri karena cita-cita saya memang ingin mandiri, tidak ngantor di tempat orang. Dan apa yang saya lakukan bisa menjadi berkah untuk sesama, amin. Itulah cita-cita saya saat itu (sekarang pun juga masih).

Bensin non Berkah

Bicara soal berkah mengingatkan saya kepada sahabat yang sudah lebih lima tahun tidak bertemu. Ubaidi, nama sahabat saya itu, adalah teman main sejak kecil. Suatu ketika kami pernah bertemu ketika Idul Fitri di Solo. Karena sudah lama tidak bertemu maka obrolan kami menjadi sangat menarik. Mulai dari obrolan ringan hingga pembicaraan yang lebih serius. Dan obrolan kami pun sampai kepada hal yang cukup sensitif tapi sangat menarik untuk direnungkan. Berikut ini adalah pembicaraan yang masih saya ingat. Mudah-mudahan tidak banyak melencengnya.

"Aneh ya mas hidup ini," katanya.

"Apanya yang aneh?" timpal saya.

"Saya dulu kan bekerja di SPBU. Bos saya menyuruh kita-kita men-set meteran di sana. Sehingga konsumen yang membeli sebenarnya dirugikan."

"Mengapa tidak protes saja?"

"Ya nggak berani lah. Namanya juga karyawan. Menentang berarti dipecat."

"Terus anehnya di mana?"

"Memang sih keuntungan kita bertambah banyak. Tapi ada yang ngganjel di hati saya. Susah digambarkan. Pokoknya hidup saya jadi gimana gitu."

Cukup lama Ubaidi terdiam. Mungkin dia kesulitan meneritakan suasana keluarganya saat itu. Kebetulan saat itu dia belum punya anak padahal sudah menikah sekian tahun.

"Akhirnya lama kelamaan hati saya tidak kuat mas. Saya sering sakit. Kalau diperiksakan ke dokter tidak ada yang sakit padahal saya merasakan badan saya sakit. Saya juga jadi berfikir apakah Allah belum mengabulkan keinginan kami untuk punya anak karena uang yang saya dapatkan tidak halal.

Karena sering sakit dan perang batin akhirnya saya beranikan diri untuk keluar dari tempat kerja. Saat itu saya jadi pengangguran meski tidak lama karena kemudian mencoba jualan makanan kecil. Hasil usaha saya memang jauh lebih kecil dibanding gaji sebelumnya tapi hati saya kok tiba-tiba jadi ringan banget. Dan anehnya tidak lama kemudian istri saya hamil. Apakah ini peringatan dari Allah kepada saya ya yang selama itu mendapatkan uang dengan cara tidak halal," tanyanya tanpa meminta jawaban dari saya.

Bisa jadi Ubaini benar. Harta yang didapatkan dengan cara tidak halal hanya akan menjerumuskan kita sendiri.

Merdeka Sehat

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan pak Priono. Pria ini sehari-hari adalah sopir taksi. Setelah ngobrol sebentar dengan saya dia langsung bisa menebak dari mana saya berasal, maklum logat saya sangat medhok sehingga langsung ketahuan. Dan langsung berbicara dengan saya memakai bahasa Jawa :).

"Saya dari Wonogiri mas. Dulu pegang bis Wonogiri-Jakarta."

"Mengapa kok berubah ke taksi, pak?" tanya saya.

"Maklum mas, saya merasa honornya kurang. Dulu kami sering main kucing-kucingan dengan pengawas bus dari perusahaan. Aturan perusahaan kami tidak boleh nyari penumpang di jalan demi kenyamanan penumpang yang membeli tiket di loket. Tapi karena merasa kurang maka saya dan kenek saya sering 'ngambil' orang di jalan. Uangnya tentu saja masuk kantong sendiri. Kejadian ini cukup lama kami jalani sampai suatu saat batin saya tidak kuat."

"Tidak kuatnya kenapa?" tanya saya ingin tahu.

"Perusahaan saya sebenarnya sangat baik. Kalau kita butuh uang, perusahaan selalu mau meminjamkan uangnya, berapapun kita minta. Masa perusahaan yang sangat baik ini kita tikam dari belakang?" tanya pak Priono tanpa minta jawaban.

"Saya sempat setahun nganggur. Setelah itu saya diterima bekerja di sebuah perusahaan kontraktor. Di perusahaan itulah saya biasa memegang uang sangat banyak. Saya dipercaya belanja kebutuhan proyek seperti semen, pasir, batu, dan sebagainya. Tapi dasar nafsu kita yang suka serakah, saya sering menaikkan harga belanjaan material. Bahasa sekarang disebut mark up. Saat itu harga semen masih Rp 8000 (tahun 80-an) tapi pada laporan saya tulis Rp 11.500. Itu untuk satu zak. Padahal dalam sebulan belanja semennya ada sekian ribu zak. Itu baru dari semen saja, belum dari material lainnya. Tiap bulan penghasilan saya tidak pernah kurang dari Rp 10 juta. Itu tahun 80-an."

"Besar sekali," kata saya.

"Betul mas. Besar sekali. Tapi ada yang aneh. Anak saya selalu sakit-sakitan. Kadang asmanya kambuh, kadang lambungnya kumat. Pokoknya sering banget sakit. Pernah salam sebulan tiga kali dirawat di rumah sakit. Saya jadi bingung ada apa dengan anak saya. Mengapa jadi begini. Apakah ini karena pekerjaan saya yang tidak diridloi Allah. Apakah karena saya sering mendapat uang dengan cara-cara tidak halal," kata pak Priono

"Wah bapak 'beruntung' langsung diingatkan Allah," saya menimpali.

"Saya nggak tahu mas. Sampai pada suatu ketika saya memberanikan diri meninggalkan pekerjaan saya yang sangat empuk itu."

"Terus apa yang dilakukan bapak?"

"Ya saya nganggur lagi. Sampai kemudian ada teman yang mengajak saya menjadi supir taksi sampai sekarang ini. Dan ajaibnya, anak-anak saya tiba-tiba jadi sehat semuanya, bagas waras tidak kurang suatu apa. Mereka sehat-sehat. Asmanya tidak pernah kambuh. Bagas waras adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang artinya sangat sehat, betul-betul sehat. Sampai sekarang saya masih heran lho mas. Heran dan bersyukur kami tidak pernah lagi menginjak rumah sakit."

Apa yang kita alami adalah rangkaian dari apa yang kita upayakan. Apa pun yang menimpa kita merupakan akibat dari apa yang kita lakukan, disadari atau tidak. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai mengambil hikmahnya. Matur nuwun pak Priono atas pelajarannya yang sangat berharga dan bermanfaat ini....


foto: fesabilillah

Kamis, 11 Desember 2008

Nggih!

Di Solo kami punya tetangga. Orang tua saya biasa menyebut sosok ini dengan Mas Basir. Akhirnya saya dan kakak juga ikut-ikutan memanggil dia dengan Mas, bukan Pak.

Orang ini sangat bersahaja. Ya, terpaksa bersahaja karena dulu kehidupannya memang sangat pas-pasan. Tapi kebersahajaan Mas Basir bukan bersahaja terpaksa meski dulu hidupnya memang terpaksa bersahaja. Bingung?

Keahlian dasar Mas Basir adalah tukang batu. Tapi dia punya multi kemampuan: bikin tembok, tukang kayu, betulin listrik, bikin lemari, bahkan gali sumur. Bahasa kerennya multi tasking meski kalau di-Indonesiakan arti sebenarnya adalah serabutan. Mas Basir ini memang 'produktif'. Meski tukang batu anaknya ada 6 (enam).

Ternyata mengandalkan pekerjaan sebagai tukang batu betul-betul sangat repot mengelola kehidupan. Untuk mengimbangi kebutuhan hidup pada malam hari Mas Basir juga berjualan gorengan. Apa pun digoreng. Kalau yang digoreng tahu, tempe, atau pisang sudah biasa. Tapi Mas Basir menggoreng apa saja: nanas, pepaya, dan buah-buahan lain. Pokoknya apa pun digoreng. Mirip dengan ANIN Rumah Batik. Apa pun yang masuk di ANIN Rumah Batik bakalan dibatik.

Kalau dagangan gorengannya kurang laku, masih banyak yang tersisa, Mas Basir membagikannya kepada para pemuda yang biasa nongkrong di masjid atau di pos kamling. Kalau ada yang berniat membayar dia menolak. "Inilah sedekah yang bisa saya lakukan," katanya.

Yang juga menarik dari Mas Basir adalah kemampuannya untuk tidak berkata 'tidak' kalau ada yang minta tolong kepadanya. "Orang kan diperintahkan sedekah mas. Saya bisanya baru sedekah tenaga, ya inilah sedekah saya," katanya pada suatu ketika.

Karena selalu berkata 'nggih' maka tenaga Mas Basir selalu menjadi rujukan pertama kalau ada kegiatan-kegiatan yang memerlukan tenaga fisik. Kalau ada yang punya hajat Mas Basir juga selalu dipanggil karena mukanya selalu senyum kalau ada yang nyambat tenaganya. Alhasil jarang dia terlihat nganggur di rumah.

Meski kelihatan begitu santun, baik, dan dermawan bukan berarti tidak ada ujian yang diterimanya. Karena mukanya selalu cerah tidak ada yang tahu kalau pada saat itu dia betul-betul tidak punya beras satu butir pun. Tidak ada yang tahu pasti berapa hari dia dan keluarganya tidak makan nasi. Hingga pada suatu hari ibu saya berniat memberikan beras zakat fitrahnya kepada Mas Basir. Ibu saya sangat kaget ketika malam itu Mas Basir menerima beras, "Alhamdulillah lare-lare saget nedho." Alhamdulillah sekarang kami bisa makan (nasi).

Cukup susah Ibu saya menceritakan kejadian itu kepada kami. Ibu sangat susah menggambarkan suasana malam itu. Kata-kata yang Beliau ucapkan tidak cukup mampu menggambarkan suasana yang terjadi. Mas Basir pun tidak bersedia mengaku sudah berapa lama tidak menyentuh nasi. Masih ada beberapa ujian lagi yang harus diterima Mas Basir tapi yang paling saya ingat ya kejadian beras fitrah itu.

Cerita di atas adalah kejadian masa lalu. Karena begitu ringannya Mas Basir membantu orang lain maka Allah juga meringankan langkahnya. Mas Basir sudah cukup menabung. 'Tabungannya' adalah kejujuran dan suka membantu yang lain. Kini dia sudah tidak lagi jualan gorengan. Spesialisasinya masih tukang batu. Tapi kini dia juga 'memegang' motor. Dia menjadi dealer tidak resmi motor.

Secara 'tidak sengaja' usaha 'sampingannya' adalah jualan motor. Usaha sampingan yang jauh lebih besar dari pada usaha utama. Kalau ada yang ingin membeli motor cukup bilang kepadanya. Maka motor yang kemudian dibawa Mas Basir kepada pemesan pasti motor yang baik. Sebaliknya kalau ada yang ingin menjual motor tinggal bilang kepada Mas Basir. Biasanya tidak lama dia bisa mendapatkan pembelinya.

Sehari-hari dia memang pakai motor tapi motor yang dia pakai sering sekali ganti. Karena orang sudah begitu percaya kepadanya maka kalau dia memakai motor berarti motor itu jaminan bagus. Biasanya motor yang dikendarai Mas Basir sering ditaksir orang. Begitu juga dengan anak-anaknya. Keenam anaknya punya prestasi yang membanggakan. Bahkan salah satunya jadi penghafal Qur'an.

Itulah kehidupan. Kehidupan adalah 'cermin' bagi kita. Apa pun yang kita tabur akan kita tuai di kemudian hari. Maka mulailah menabur kebaikan hari ini...

ilustrasi: prayudi

Selasa, 02 Desember 2008

Modar (MOdal DAsaR)

Ini cerita istri saya:

Minggu lalu dua orang penjual (sales) mampir di outlet kami. Mereka membawa panci-panci yang harganya di atas rata-rata harga panci di pasaran. Sekilas panci yang mereka bawa memang mempunyai kualitas lebih baik dibanding dengan panci yang biasa ada di pasar.

Dua orang ini sebenarnya tidak menawarkan dagangannya kepada kami. Mereka menawarkan kepada seorang ibu yang kebetulan sedang mampir di outlet kami. Karena settingan tempat kami adalah semacam "ruang tunggu", maka dua pemasar ini kami persilahkan masuk.

Dari dua orang ini kelihatan sekali bahwa salah satu dari mereka nilai penjualannya pasti lebih tinggi dibanding temannya. Dia pinter sekali mengajak calon pembelinya ngobrol sehingga diantara penjual dan (calon) pembeli ada semacam keterikatan. Dan karena sudah terjalin "keterikatan", maka sang konsumen jadi merasa tidak enak dan kikuk kalau tidak membeli barang dagangan mereka. Dan meski sang konsumen akhirnya berhasil lolos dari "jebakan" harus beli, lolosnya tidak mudah.

Istri saya yang memperhatikan bagaimana penjual ini mempengaruhi konsumennya akhirnya tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya. Singkatnya, sang sales akhirnya bercerita bahwa saat ini dia "memegang" empat produk dari empat perusahaan yang berbeda. Sebuah prestasi yang tidak kecil. Biasanya seorang sales hanya bisa menjajakan produk dari satu perusahaan. Biasanya setiap pagi dan/atau sore ada semacam apel yang ditujukan bagi para penjual untuk mengevaluasi kinerja mereka pada hari tersebut. Tapi, bagi sales yang mampir di tempat kami, dia jarang mengikuti apel itu.

"Saya tidak pernah ikut apel bu. Biasanya sih dipecat tapi ternyata nama saya tetap tercantum sebagai tenaga pemasar di sana. Mungkin karena saya selalu bisa memenuhi target, jadi tetap saja tercantum," katanya.

Yang dikatakan sangat mungkin benar. Bagi perusahaan, mungkin, yang penting adalah seorang penjual bisa menjual, terserah dia masuk kantor atau tidak.

"Mbak, kalau sampeyan punya kemampuan menjual bagini bagus, mengapa tidak bisnis saja sendiri, tidak bergantung pada perusahaan?" tanya istri saya.

"Abis bagaimana ya bu, saya kan belum punya modal," jawabnya.

Sebuah jawaban yang aneh. Sebagai seorang pemasar yang andal ternyata pola pikirnya masih "kaca mata kuda". Pola pikirnya masih modal identik dengan duit.

"Mbak, modal anda sudah besar. Kemampuan menjual itulah modal yang sangat besar," bantah istri saya. Tapi, anehnya, tetap saja sang panjual ini belum mengerti.

Mindset bahwa yang namanya modal adalah identik dengan uang ternyata memang sudah masuk ke alam bawah sadar mayoritas orang. Jarang sekali yang melihat bahwa potensi yang dimiliki seseorang adalah modal yang sebenarnya sangat besar. Maka menjadi mudah menjelaskan fenomena mengapa seseorang yang ingin jadi pengusaha tidak kunjung action karena pola pikirnya belum berubah. Pola pikir modal identik dengan duit.

Menunggu Godot

Hari minggu kemarin saya bertemu dengan seorang sahabat. Dia punya bisnis souvenir atau cinderamata. Sebenarnya perusahaan itu bukan dia yang merintis tapi 'warisan' ayahnya. Sahabat saya ini punya tempat yang sangat strategis. Dia juga punya banyak pelanggan potensial. Pelanggan yang jarang menawar harga yang dia sodorkan. Sebuah bisnis ideal, pikir saya.

"Mas, sekarang ini pasar saya lesu. Modal kami banyak tersedot ke tempat lain. Seandainya ada tambahan modal pasti saya bisa menambah varian produk. Pengalaman saya kalau variannya banyak omsetnya pasti bagus. Sayang sekali dana yang saya harapkan tak kunjung ada," keluhnya. "Wah, menunggu godot," pikir saya.

"Sampeyan kan punya tempat bagus?" tanya saya.

"Betul tapi modal yang nggak ada," jawabnya.

Jawabannya membuat saya sangat heran. "Siapa bilang sampeyan nggak punya modal. Lokasi strategis itu kan modal yang sangat besar. Dan modal ini bertambah besar lagi karena anda punya pelanggan potensial yang tidak sensitif harga," sergah saya.

"Maksudnya?" sahabat saya ternyata masih bingung dengan pernyataan saya.

"Coba sampeyan datang ke pembuat atau pemilik produk. Nego dengan mereka. Ceritakan kondisi anda (lokasi, pelanggan potensial, dan sebagainya). Ceritakan semuanya. Bilang pada mereka kalau anda ingin menjualkan barang mereka. Sampeyan bilang saja ingin pinjam barang sekitar tiga hari. Kalau tidak laku barang dikembalikan."

"Bagaimana kalau mereka tidak percaya saya. Kan mereka tidak kenal saya."

"Ajak mereka ke tempat anda. Kalau perlu suruh dia nongkrong beberapa jam supaya bisa melihat profil pelanggan anda."

Sahabat saya terdiam. "Boleh juga dicoba," katanya.

"Dengan cara ini semuanya untung. Anda nggak perlu keluar uang sedangkan pemilik barang juga senang karena barangnya mendapat pasar yang bagus. Mereka pasti mau kalau sudah melihat konsumen anda," kata saya.

Sebenarnya tiap orang sudah mempunyai modar (MOdal DasAR) nya sendiri-sendiri. Tapi jarang yang melihat kelebihan modar masing-masing. Maka yang terjadi adalah ya... modar beneran. :)

ctt:
modar (bhs jawa)= KO, mati, dsb.

Sabtu, 22 November 2008

Sawang Sinawang

Sekali lagi saya kesulitan menerjemahkan kosa kata bahasa Jawa ini ke dalam Bahasa Indonesia. Secara sederhana kosa kata ini mengandung arti orang biasanya hanya melihat kekurangan diri sendiri dan melihat orang lain lebih nyaman, lebih sukses, dan lebih baik dibanding dirinya. Padahal, ternyata, orang lain juga merasakan seperti itu.

Minggu lalu saya 'bertemu' dengan sahabat lama. Kami sudah tidak bertemu lebih 15 tahun. Kami sibuk dengan perjalanan hidup masing-masing. Bertemu pun juga bukan bertemu secara riil tapi kami bertemu karena 'dijembatani' oleh sebuah portal komunitas global.

Melihat profilnya di portal itu rasanya sahabat saya ini sudah mencapai semua yang diimpikan seorang profesional. Dia bekerja di sebuah perusahaan konsultan ternama. Jabatannya cukup tinggi. Wewenangnya besar. Tidak hanya itu, saat ini dia juga menjadi wakil rakyat di sebuah kabupaten di Jawa Barat. Sempurna, pikir saya.

"Apa kabar mas Abduh. Masih ingat saya kan?" Dia membuka dialog di portal itu.

"Masih ingat banget, apalagi sampeyan pakai batik, mana bisa saya lupa?" jawab saya sekenanya.

"Ah bisa saja. Sampeyan bisnis batik ya?"

Agak kaget saya dengan pertanyaannya. Dari mana dia tahu saya bisnis batik. Ternyata dengan melihat foto saya di portal itu, dia langsung bisa menyimpulkan usaha saya.

"Betul, mas," jawab saya

"Saya iri lho dengan temen-teman yang sudah punya bisnis sendiri."

"Iri gimana? Sampeyan kan sukses di tempat kerja. Apalagi juga jadi wakil rakyat," saya keheranan dengan pernyataannya.

"Betul, saya iri mas. Dari dulu saya cuma jadi orang gajian. Tidak mandiri. Sementara banyak teman-teman yang sudah berhasil di bisnis. Gimana sih caranya bisnis? Ajari dong?"

Saya betul-betul heran. Orang 'sesukses' ini ternyata menyimpan kegelisahan yang cukup dalam. Dan saya juga bingung bagaimana menjawab pertanyaannya tentang cara mulai bisnis. Agak lama saya terdiam, tidak menjawab pertanyaannya. Sampai kemudian dia menulis lagi pertanyaan (mungkin karena lama tidak saya jawab).

"Modal saya kan tidak besar. Bagaimana saya bisa mulai bisnis?"

Pertanyaan terakhir inilah yang kemudian saya jadikan 'bola panas' untuk menjawab pertanyaannya.

"Di mata saya, modal sampeyan sangat besar. Coba dihitung, berapa banyak relasi sampeyan di tempat kerja, berapa banyak klien anda. Dan modal ini bertambah sangat besar ketika sampeyan juga jadi wakil rakyat...," jawab saya

"Maksudnya?" Sahabat saya keheranan. "Emang kenapa dengan relasi saya? Apa hubungannya relasi dengan modal?"

"Anda menyukai bidang apa?" tanya saya.

"Konsultan."

"Kalau gitu mulai sekarang bikin kartu nama. Bikin nama perusahaan konsultan sendiri. Jadikan namamu sebagai managing director. Mulai saat ini tiap ketemu relasi, sahabat, teman, dll, beri mereka kartu nama yang baru, kartu nama perusahaan sendiri. Kan keren, udah jadi wakil rakyat, punya perusahaan konsultan pula."

"Tapi saya kan belum sewa kantor, belum ada karyawan, belum ada...."

"Jangan berfikir rumit begitu. Orang yang anda beri kartu nama kan tidak tahu apakah sampeyan sudah punya kantor atau belum. Mereka kan juga nggak mungkin tanya berapa karyawan anda. Yang mereka lihat adalah sampeyan punya perusahaan konsultan dan anda jadi managing director, meski merangkap sebagai office boy juga," jawab saya sambil tertawa.

"Berarti saya harus iklan ya?"

"Betul, minimal iklan kepada relasi sampeyan yang sangat banyak dan potensial itu."

"Wah, ternyata simpel juga ya."

"Semuanya tergantung kita. Bisa simpel bisa juga ruwet," jawab saya. "Itu bisnis yang keren (konsultan). yang sederhana juga ada," tambah saya.

"Yang sederhana apa?"

"Sampeyan jualin produk saya, bisa busana, furnitur batik, atau barang-barang antik. Modalnya cuma ngomong, kalau laku dapat profit cukup besar."

"Wah, jadi semangat nih. Saya ingin main ke rumah sampeyan mas," kata sahabat saya.

"Boleh, rencana kapan? Karena saya beberapa hari ini harus ke luar kota," jawab saya.

Lama tidak ada jawaban. Ditunggu tetap saja tidak ada jawaban. Akhirnya saya harus log-out dari portal itu.

Malam hari dia kirim email, "Maaf mas tadi terputus karena listrik di kantor saya tiba-tiba mati."

Saya hanya tertawa membaca emailnya. "Saya maklum kok mas kalau listrik byar pet. Kalau byar terus malah aneh," jawab saya dalam hati... :)

Kamis, 13 November 2008

Mengapa yang Miskin Lebih Dermawan?

Siti Hajar mulai kelelahan setelah sekian kali berlari dari Safa ke Marwa dan sebaliknya. Dan pada kali ketujuh setelah bolak-balik Safa - Marwa, dia pun tidak kuat lagi. Setelah menempuh kurang lebih 7x350 meter dia pun ambruk, pasrah. Dia pasrah menerima apa pun yang akan terjadi setelah usahanya mencarikan air bagi anak tercinta, Ismail, belum membuahkan hasil.

Dan ketika upayanya sudah maksimal, maka pertolongan Allah pun turun. Tiba-tiba dari bawah kaki Ismail memancar air yang sangat jernih. Air ini kemudian dinamakan air Zam-zam.

Sampai sekarang air Zam-zam tidak pernah habis dikonsumsi oleh jutaan orang pada waktu yang bersamaan ketika musim haji.

"Apakah air yang didapat Siti Hajar adalah usahanya?" tanya pak Quraish Shihab ketika Beliau memberi materi di televisi.

"Air itu bukan usaha Siti Hajar tapi pertolongan langsung dari Allah," Beliau jawab sendiri pertanyaannya.

"Tapi (ini poin terpenting), air itu tidak akan keluar jika Siti Hajar tidak berusaha mencarinya. Jika Siti Hajar cuma berdiam diri maka tidak ada apa pun yang didapatnya," tambah ahli tafsir ini.

Pelajaran buat kita adalah kita harus berusaha maksimal untuk mendapatkan impian kita. Maksimal dan maksimal. Hanya kita sendiri yang bisa mengukur apakah usaha kita sudah maksimal atau belum. Pasrah adalah menyerahkan hasil yang kita upayakan kepada Allah ketika kita sudah maksimal.

Kepasrahan total setelah upaya maksimal akan melahirkan kejadian yang sama sekali di luar jangkauan nalar kita.

"Tolooong"

Anak saya setiap habis Isya suka melihat tayangan televisi "Tolooong". Acara ini dikemas sedemikian rupa sehingga penonton tahu seberapa besar kepedulian kita kepada masalah yang sedang dihadapi orang lain.

Kejadian-kejadian pada "Tolooong" tidak direkayasa. Selalu ada kamera tersembunyi yang mengikuti obyek yang sedang mempunyai masalah. Masalah yang ada memang direkayasa tetapi kejadian yang menimpa sang obyek adalah original, asli.

Pada satu episode dikisahkan ada seorang anak yang kesulitan mencarikan obat buat ibunya. Obatnya tidak susah dicari tapi anak ini tidak mempunyai uang untuk membeli obat. Harga obatnya murah karena obat yang biasa beredar di pasaran. Anak ini diminta sang produser untuk minta tolong kepada orang-orang yang ditemui di jalanan. Bagaimana reaksi orang-orang yang dimintai tolong inilah inti program ini.

Sang anak keluar masuk toko, keluar masuk warung, keluar masuk pasar, menemui orang-orang yang dijumpai. Tidak ada seorang pun yang peduli. Ada yang berusaha mendengar keluhan anak tapi tidak berupaya menolong. Lebih banyak yang cuma melirik dengan sebelah mata sebelum ngeloyor pergi. Sekian puluh orang dari beragam kalangan yang ditemui semuanya nihil. Ada beberapa yang meledek, "tidak punya uang kok mau beli obat..." Astaghfirullah.

Hingga kemudian anak ini berjumpa dengan seorang ibu, pedagang kaki lima, yang menggelar dagangannya di depan emperan sekolah. Setelah mendengar keluhan sang anak ibu ini pun sedikit bertanya sebelum berdiri. Mereka berdua kemudian pergi ke sebuah warung terdekat. Sang Ibu membelikan obat dan menyerahkannya kepada anak itu. Sang anak mengucapkan beribu terima kasih dan pergi. Sang Ibu kembali ke lapaknya dan kembali duduk beralaskan sandalnya sendiri.

Tidak lama kemudian datang kru "Tolooong". Dia berpura-pura membeli dagangan sang Ibu. Dagangan ibu ini dibayar dengan setumpuk uang 50.000-an. Sang ibu kaget, tidak percaya, dan akhirnya cuma diam. Yang sangat menginspirasi adalah ketika sang kru memaksa ibu ini untuk menerima tumpukan 50.000-an, ibu ini menolak. Dia betul-betul menolak. Dipaksa tetap menolak sambil menangis.

"Saya hanya mau menerima uang ini setelah tahu dari mana dan mengapa diberikan kepada saya," tanya ibu ini sambil menangis. Kejadian yang terekam cukup dramatis, membuat saya sangat kesulitan menahan mata saya tetap kering. Dan saya pun pura-pura menguap supaya mata saya yang basah tidak terlihat oleh anak saya sebagai menangis.

Setelah semuanya reda, dan sang ibu sudah bersedia menerima setumpuk 50.000-an dia bercerita tentang keluarganya yang serba kekurangan. Sambil menangis dia bercerita bagaimana dia sudah kehabisan akal mengatasi masalah yang ada. Anaknya sudah hampir setahun tidak membayar SPP. Penghasilan suaminya tidak mungkin cukup memenuhi kebutuhan minimal.

"Saya berjualan seperti ini kalau dihitung-hitung sebenarnya tidak akan cukup. Tapi yang bisa saya lakukan hanya berjualan seperti ini untuk membantu suami saya. Tadi saya menolong anak kecil karena saya bisa merasakan bagaimana susahnya kalau keluarga kita sedang sakit. Sebenarnya hasil jualan saya habis buat membelikan obat tadi, tapi tidak apa-apa. Masih ada yang lebih susah dibanding saya," cerita sang ibu.

kepasrahan total setelah usaha maksimal disertai kemurahan hati yang ikhlas akan melahirkan kejadian luar biasa.

Banyak lagi kisah nyata yang lain, seperti abang becak yang rela tidak dibayar untuk mengantar seorang perempuan yang akan melahirkan. Setelah ditolak sekian puluh orang yang dimintai tolong mengantar ke rumah sakit akhirnya sang ibu bertemu dengan abang becak murah hati. Dan ketika abang becak menerima penghargaan luar biasa dari kru "Tolooong", dia pun ambruk. Tidak percaya dengan anugerah yang diterimanya.

Ada lagi kejadian seorang perempuan hamil muda yang sangat membutuhkan jamu. Setelah ditolak sekian puluh toko jamu akhirnya perempuan ini bertemu dengan tukang jamu gendong berhati mulia. Ibu penjual jamu gendong ini memberikan apa pun jamu yang diminta secara gratis. "Yang penting bayimu sehat," nasehatnya kepada yang minta. Dan anugerah luar biasa diterimanya ketika keikhlasan menyertai usahanya yang maksimal.

Yang sangat menarik dari hampir semua episode "Tolooong" adalah, mengapa orang-orang berhati mulia lahir dari kalangan yang sebenarnya juga sangat membutuhkan pertolongan? Mengapa orang-orang berhati malaikat belum pernah ditemukan dari kalangan mapan dalam acara ini?

Inilah otokritik buat kita semua.............

foto oleh omaigat.

Rabu, 05 November 2008

Welcome Dinner

Pada 26 Oktober 2008 kami, TDA Solo Raya, mendapat kesempatan menghadiri Welcome Dinner yang diadakan Walikota Solo dalam rangka menyambut WHCCE (World Heritage Cities Conference & Expo). Konferensi Kota-Kota Bersejarah Dunia yang ketiga ini diadakan di Kota Solo. Acara ini diadakan di tempat terbuka, di Taman Balekambang.

"Malam ini merupakan keajaiban karena Kota Solo biasanya hujan pada malam hari," kata Walikota. "Kami memang 'mengupayakan' supaya malam ini tidak hujan," tambah Pak Jokowi.


Hadirin yang memenuhi taman terbuka Balekambang.


Sendratari 'Replika Jawa'. Salah satu suguhan kesenian yang mengesankan.


Mas Agung (kiri) dan Mas Andhika: Penjaga gawang TDA Solo Raya.


Mm... Nasi liwet dan teh anget manis. Uenak tenan... Sudah lama sekali saya tidak menikmati nasi liwet.


Kami beruntung bisa foto bareng Pak Jokowi, Walikota Solo yang fenomenal itu. Sayang Mas Andhika tidak tampak... Karena dia yang motret. :)


Bersama prajurit Kota Solo (bukan prajurit Kraton).


Foto yang lebih lengkap ada di sini dan di sini.

Minggu, 26 Oktober 2008

PPE, Intrade, dan Jokowi


Kira-kira satu tahun lalu saya berkesempatan ikut rombongan anggota Koperasi Pedagang Tanah Abang ke Solo. Saat itu Koperasi Pedagang Tanah Abang mendapat undangan dari pengelola PGS (Pusat Grosir Solo) untuk mengunjungi pusat perdagangan itu. Tentu saja bukan undangan biasa. Dan tentu saja ada 'maksud' tertentu dari pengelola PGS mengundang koperasi ini.

PGS memposisikan dirinya sebagai 'Tanah Abang'nya Solo. Maka mereka merasa perlu memperkuat potisioningnya dengan mengundang para pedagang Tanah Abang yang asli. Dan tentu saja mereka menginginkan para pedagang asli Tanah Abang ini nantinya juga 'menghuni' PGS. Sebuah ide yang cukup bagus.

Supaya undangannya efektif dan mendapat respon cukup bagus, pengelola PGS harus mengeluarkan kiat khusus, yaitu menggratiskan akomodasi dan konsumsi rombongan selama di Solo. Tidak hanya itu, bahkan transportasi ke Solo juga mereka gratiskan. Kiat ini ternyata cukup jitu. Jumlah rombongan sesuai dengan keinginan pengelola PGS.

Tetapi karena yang diundang adalah pengusaha rupanya tidak mudah bagi PGS untuk menarik minat mereka. Rombongan, dengan jam terbangnya masing-masing, selalu berusaha mencari peluang di manapun berada. Peluang yang akan memperluas pasar mereka. Peluang yang sebenarnya di luar kehendak PGS. Yang terjadi undangan itu efektif mengundang orang tapi tidak efektif menarik mereka untuk menjadi penyewa PGS.

Usaha mengundang pengunjung atau rombongan dengan cara menggratiskan akomodasi dan konsumsi memang cukup jitu untuk menarik minat. Keberhasilan kota Solo menjadi tuan rumah WHCCE atau Konferensi Kota-Kota Bersejarah Dunia adalah juga karena keberhasilan walikotanya untuk menggratiskan akomodasi dan konsumsi selama di Solo. Dan hari-hari ini Solo sedang sibuk melayani dan menjamu para tamu manca negara.

'Untungnya' yang diundang walikota Solo bukan para pedagang atau pengusaha. Jadi mudah-mudahan saja kiat ini cukup jitu mempromosikan Solo menjadi 'kota dunia' :)

Perhatian dan keberpihakan pemerintah untuk ikut memajukan ekonominya juga ditunjukkan pemerintah Malaysia. Demi memajukan sektor riilnya pemerintah Malaysia tidak tinggal diam ikut meramaikan International Trade (Intrade) Malaysia 2008. Mereka tidak segan mengeluarkan biaya untuk menjamu pengunjung yang sangat diharapkan menjadi buyernya.

Saya tidak tahu persis berapa orang yang akomodasi dan konsumsinya selama acara Intrade ditanggung pemerintah Malaysia. Yang jelas ada 27 anggota TDA yang diudang untuk menghadiri Incoming Buying Mission International Trade (IBM Intrade) Malaysia 2008. Panitia jauh-jauh hari sudah membuat batasan aturan. Kalau ternyata nanti terbukti para undangan yang akomodasi dan konsumsinya ditanggung melakukan kegiatan 'selling', maka semua fasilitas langsung dicabut. Tidak tahu persis apakah panitia belajar dari kasus PGS atau tidak... :)

Dalam Intrade ini pemerintah Malaysia menyiapkan 4 hal: Hal A, B, D, E. Tidak ada penjelasan mengapa kok tidak ada Hal C. Entah, apakah ini masalah kepercayaan, klenik, fengshui, primbon, weton, atau yang lain. :). Jumlah stand yang disiapkan adalah 633 stand dengan luas total 14.649 meter persegi.

Bandingkan dengan PPE (Pameran Produk Ekspor) yang diinggriskan menjadi The 23th Trade Expo Indonesia. Di PPE ada 7 hal, 1000 stand, dan luas total 38.000 meter persegi. Buyer yang diharapkan datang adalah 8000 buyer.

Kita tunggu saja apakah nanti jumlah buyer PPE lebih banyak dibanding Intrade. Kalau lebih banyak PPE berarti undangan dengan cara menggratiskan makan dan tidur kurang efektif kalau itu ditujukan untuk para pebisnis. Tapi kalau buyer Intrade lebih banyak berarti kiat gratis makan-tidur cukup efektif untuk kalangan siapa saja... :)

foto PGS Solo oleh Skyscrapercity

Jumat, 17 Oktober 2008

Let's Go to Solo, the Spirit of Java


Melihat foto di atas ingatan saya kembali ke masa-masa penuh kenangan. Masa ketika kami, saya dan teman-teman, sering menggunakan pelataran Kraton Kasunanan Surakarta itu sebagai ajang bermain.

Kami sering berlarian, main sepeda, main layang-layang, dan sebagainya. Hampir tiga puluh tahun silam pelataran Kraton juga penuh dengan pedagang aneka makanan yang setia melayani setiap wisatawan yang berkunjung ke sana. Di pelataran Kraton itu juga rutin digunakan sebagai tempat mengadakan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

Dulu tempat itu teduh dan nyaman. Ada dua pohon besar Sawo Kecik yang menaungi pelataran itu. Tiap hari tubuh kita dimanja oleh angin sepoi-sepoi basa yang dihembuskan olah dua pohon besar itu.

Kini suasananya sudah berubah. Pelataran Kraton sudah 'bersih' dari pohon dan pedagang. Tempat itu kini sepi. Tidak ada lagi anak-anak yang berlarian bermain di sana. Pokoknya suasananya sudah 'tertib', hening, bisu. Udaranya tentu juga berubah menjadi sangat terik. Pada musim kemarau seperti sekarang ini sinar Matahari dengan leluasa 'membakar' setiap yang lewat di sana. Satu-satunya yang masih tersisa adalah pelataran itu sampai sekarang masih digunakan sebagai tempat menyelenggarakan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

Saya menghabiskan masa kecil di sekitar Kraton karena ayah saya mendapat izin untuk magersari di sana. Magersari adalah izin membangun rumah di atas lahan milik Kraton.

Ah, kok jadi cerita masa kecil...

Kembali ke judul Let's Go to Solo. Kini di berbagai penjuru kota Solo terpajang spanduk Let's Go to Solo, the Spirit of Java. Spanduk itu dipasang dalam rangka menyambut World Heritage Cities Conference and Expo 2008 (WHCCE). Dalam bahasa yang merakyat WHCCE adalah Konferensi Kota-Kota Kuno se-Dunia. Inilah cara pak Jokowi, walikota Solo, mempromosikan kotanya menjadi kota ternama di dunia. Sebuah proyek sangat prestisius yang langsung dirasakan rakyat. Sebuah ide luar biasa yang belum ada duanya. Acara sangat besar tapi penyelenggaraannya hanya dilakukan oleh skala kota madya. Hm... lagi-lagi pak Jokowi, seorang pengusaha yang kini jadi walikota.

Bagaimana caranya pak Jokowi meyakinkan peserta bahwa Solo adalah kota yang paling cocok untuk WHCCE 2008?

Sebelum terpilih menjadi wali kota, sebagai pengusaha di bidang berkaitan dengan kayu, ia mengunjungi berbagai kota di Rusia, Korea Selatan, dan Cina. Yang pertama kali terkesan dan menjadi obsesinya adalah tradisi yang tetap hidup dan berkembang sementara kota-kota itu tumbuh modern.

Huruf mereka sendiri, misalnya, mewarnai seluruh kota: terpampang di mana-mana sebagai alat menyampaikan informasi, digunakan untuk menulis nama jalan, nama toko, hotel, perkantoran, dan sebagainya. ”Lha, kita di sini malah cenderung memakai bahasa Inggris,” katanya.

Begitu duduk di kursi wali kota, selain mendaftar masalah-masalah, ia pun menghitung potensi Kota Madya Solo. Ia menemukan kemiripan Solo dengan beberapa kota kecil dunia yang sukses dengan MICE-nya. MICE adalah Meeting, Incentive travel, Conference, dan Exhibition. Dalam bahasa yang sederhana MICE adalah kegiatan yang berhubungan dengan pariwisata, konferensi, pameran bisnis, festival seni & budaya.

Dari sinilah, pelan-pelan, dua tahun kemudian ia melancarkan berbagai program untuk menjadikan Solo kota MICE. Lalu, diluncurkan semboyan untuk mengundang orang mengunjungi Solo: Let’s Go to Solo. Selain itu, untuk membangun karakter Solo, pada ulang tahun kota ke-263 ini, 17 Februari 2008, ia meresmikan penggunaan aksara Jawa.

WHCCE atau Konferensi Kota-Kota Warisan Dunia adalah sebuah forum untuk melestarikan kota-kota bersejarah yang memiliki warisan berupa benda dan seni budaya. Anggotanya adalah kota-kota yang oleh Unesco diakui sebagai kota cagar budaya, salah stunya adalah SOLO.

Tiap dua tahun sekali konferensi ini mengumpulkan para pakar dalam bidang pelestarian kota bersejarah serta pemafaatannya untuk priwisata dan peningkatan perekonomian kota. Termasuk yang dikumpulkan adalah walikota, politisi, dan birokrat.

Ketika konferensi diadakan di Lijian, Cina, pada 2006. Jokowi melobi sidang agar Solo diterima menjadi tuan rumah pada konferensi 2008. ketika itu jokowi harus bersaing dengan Austria, Korea Selatan, Pakistan, dan Rusia. Jokowi merasa terdesak dalam bidding di Lijian karena pesaing-pesaingnya didukung dana besar.

Entah bagaimana ceritanya muncul ide di kepala pak Walikota satu ini untuk menembak soal biaya. Inilah senjata pamungkas. "Saat konferensi lanjutan di Pattaya, Thailand, saya hanya bisa bilang semua akan saya gratiskan mulai penginapan dan makanan," tutur jokowi.

Ajaib, senjata pamungkas itu bekerja dengan baik. Sidang sepakat menjadikan Solo tempat konferensi 2008. Apa kata Jokowi? "Sebenarnya menggratiskan hotel dan makanan itu murah. Pemkot hanya habis Rp 400 juta. Kalau konferensi di negara maju mematoknya dengan dolar sehingga mahal."

Jokowi tak mau melepaskan kesempatan emas ini. WHCCE diadakan 25-30 Oktober 2008 di Solo. Selain kongres Jokowi berusaha merapatkan beberapa event internasional ke jadwal WHCCE 2008, misalnya Solo International Ethnic Music, Solo Batik Sale, Borobudur Travel Mart, dan International Keroncong Fest. Ibaratnya sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui.

Ini memang strategi seorang pengusaha, bukan semangat formalistis birokrat. Sebab nantinya ada 33 walikota anggota OWHC (Organization of World Heritage Cities), 37 walikota anggota UCLG (United Cities and Local Goverment) Asia Pasifik, 100 orang UCLG Euro-Asia, 93 anggota Apeksi (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia), 80 perwakilan LSM, serta 30 perwakilan perguruan tinggi dan profesional. Total delegasi resmi dan pedamping 1050 orang. Padahal menurut pengalaman selain delegasi resmi terdapat pengikut tak resmi. Hitung-hitung WHCCE akan dihadiri oeh sekitar 2500 orang. Mereka inilah yang akan menjadi agen promosi untuk Solo, hampir-hampir gratis.

Dampak lain yang sangat dirasakan adalah maraknya kegiatan ekonomi. Semua kamar hotel di Solo penuh. Semua taksi hilir mudik membawa penumpang dengan frekwensi tinggi. Becak-becak menjadi semarak karena para tamu tentu ingin merasakan moda transportasi tradisional yang khas. Gladag Langen Bogan, wisata kuliner yang baru saja diresmikan Walikota, tentu semarak dengan aneka makanan khas Solo. dan tentu saja pakaian khas berupa batik akan ikut menikmati promosi gratis yang dibawa oleh para tamu.

Inilah mindset seorang pemimpin yang berlatar belakang pengusaha. Pengusaha yang berangkat dari bawah. Pak Jokowi akan membuat sejarah. Jadi tunggu apa lagi, Let's Go to Solo, the Spirit of Java.


foto: rooneyruni. sumber: Majalah Venue

Sabtu, 11 Oktober 2008

Kalau Laris, Gimana?

"Sepupu saya sekarang sudah jadi 'orang'. Bisnis kainnya sudah merambah ke luar kota. Sudah kaya dia sekarang," kata ibu tetangga sebelah menceritakan familinya.

"Sudah berapa lama dia menjalankan bisnisnya?" tanya istri saya.

"Sudah lama banget, bu. Sudah sejak saya masih belum menikah," jawabnya.

"Ya sudah selayaknya dong kalau sekarang dia sukses. Dia serius dengan bisnisnya lebih sepuluh tahun lalu. Terus, mengapa Bu Ade (bukan nama sebenarnya) tidak ingin meniru dia?" tanya istri saya.

"Takut aja bu kalau gagal," jawabnya ringan.

Obrolan di atas sebenarnya tidak hanya sekali saja terjadi. Pembicaraan seperti itu sudah beberapa kali terjadi antara istri saya dengan ibu tetangga. Mengubah pola pikir memang bukan perkara mudah.

Bu Ade sering mengeluh kalau karir suaminya susah beranjak naik. Bukan karena prestasi suaminya jelek tapi perusahaan tempat suaminya bekerja berjalan stagnan, bahkan sekarang cenderung grafiknya menurun. Bu Ade sering sekali mengemukakan keinginannya untuk membuka usaha tapi pola pikir yang ada di kepalanya yang akhirnya menghentikan semua niatnya.

"Coba deh Bu Ade pikir. Anggap saja bu Ade bisa sukses nanti pada tahun ke-5...." (belum selesai istri saya melanjutkan kalimatnya, bu Ade memotong...

"Wah, lama banget kalau harus lima tahun..."

"Itu anggap saja, sukur bisa 2 tahun. Kalau sekarang mulai buka usaha, berarti nanti pada tahun 2013 bu Ade sudah merdeka. Itu kalau mulainya sekarang. Bagaimana kalau mulainya tahun depan atau dua tahun nanti. Makin lama lagi bisa merdeka finansial

Sebenarnya ibu kan punya keahlian, yaitu kalau membuat empek-empek (makanan khas Palembang) kelezatannya sudah diakui orang. Puasa kemarin jualan empek-empeknya laris kan?" kata istri saya.

"Alhamdulillah laris."

"Mengapa enggak diteruskan saja jualan empek-empeknya?"

"Iya sih... tapi kalau nggak laku, gimana?"

Inilah lagi-lagi pola pikir yang saya yakin menghinggapi mayoritas penduduk bumi Nusantara. Sebagian besar mereka sadar kalau membuka usaha, berbisnis adalah solusi kongkret menghadapi krisis yang sekarang sudah diambang pintu. Berbagai fakta dan gambaran yang kita kemukakan sebenarnya mereka terima. Tapi kalau diminta untuk action... inilah masalahnya.

Pola pikir negatif barangkali adalah pola pikir yang dianut sebagian besar masyarakat kita. Yang ada di benak mereka adalah 'bagaimana kalau gagal'. Padahal dengan cara yang sangat sederhana pola pikir ini sebenarnya bisa langsung dibalik dengan kalimat: 'bagaimana kalau berhasil'.

Tetapi ternyata mengubah kalimat yang sederhana itu tidak mudah kalau harus diterapkan di kehidupan nyata. Memasukkan 'bagaimana kalu berhasil' ke alam bawah sadar ternyata persoalan yang cukup sulit.

Tapi sulit bukan berarti tidak bisa. Sebenarnya ada beberapa metode yang bisa mengubah pola pikir itu secara sederhana dan cukup singkat. Salah satunya adalah workshop EDAN-nya pak Ikhwan Sopa...

Sabtu, 27 September 2008

Bisnis adalah Menemukan 'Jalan'

Kemarin sore, hari terakhir kantoran sebelum libur panjang menyambut Idul Fitri 1429 H.

Setelah saya menyelesaikan urusan di daerah Kota Lama dengan sebuah BUMN (kisahnya ada di sini), saya kembali ke Bekasi menumpang KRL nyaman. Sengaja saya menggunakan moda ini karena paling menguntungkan dibanding menggunakan moda angkutan apa pun di Jakarta.

Waktu keberangkatan kereta ini relatif tepat, berpendingin udara, bebas macet. Dari stasiun Kota ke Bekasi waktu tempuhnya kurang dari 1 jam. Bandingkan dengan mobil pribadi yang waktu tempuh normalnya rata-rata 'cuma' lebih 2 jam.

Ada dua orang bapak di sebelah saya yang terlibat obrolan mengasyikkan. Kalau dilihat dari seragamnya mereka bukan teman sekantor tapi sering bertemu di kereta yang sama.

... bla bla bla mulai dari urusan negara sampai kejelian mereka mengamati kehidupan pengusaha.

"Pengusaha itu enak ya. Duitnya banyak, kerjanya bebas," kata bapak I

"Memang enak kalau kita melihatnya sekarang," jawab bapak II

"Betul. Kalau sudah ketemu jalannya semuanya jadi enak. Dia ngapain aja selalu jadi duit. Banyak lho mereka membuka bisnis baru tapi nggak keluar modal."

"Yah, kalau sudah ketemu jalannya semuanya memang serba nyaman. Tapi merintisnya itu... setengah mati."

"Itulah yang saya nggak sanggup. Merintis itu susahnya bukan main. Kalau sudah ketemu jalannya sih saya juga mau hehe..."

"Tetangga saya modalnya cuma sertifikat. Dia puter-puterin saja sertifikat itu ke bank. Eh, modalnya datang sendiri. Dia nggak pernah keluar duit sendiri. Bisnisnya tambah banyak aja. Kelihatannya gampang banget ya."

"Gampang ya, kok bapak nggak ingin niru aja seperti dia?"

"Pingin sih. Iya kalo berhasil, kalau gagal gimana? Sertifikat kan melayang."

"Sudah pernah mencoba belum?"

"Belum sih, takut aja kalau gagal."

Mindset, pola pikir. Tidak ada yang salah dengan pendapat di atas. Yang berbeda hanyalah pola pikir antara wiraswasta dengan pekerja. Pola pikir positif dengan negatif. Yang satu melihat persoalan yang sama sebagai peluang, sedangkan yang lain persoalan yang sama dianggap sebagai halang rintang, problem, bencana.

Maka kalau kita ingin pindah atau memindah kuadran orang lain, yang paling esensi adalah bagaimana kita mampu mengubah mindset kita atau mindset orang lain. Kalau pola pikirnya sudah pas maka yang lain tinggal diselenggarakan secara seksama dan dalam tempo.... :)

Senin, 22 September 2008

Museum untuk Sang Pejuang

Samanhoedi adalah seorang pejuang kemerdekaan. Beliau adalah salah satu pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI). Kiprahnya dalam memperjuangkan cita-cita diakui sebagai cara yang elegan dan modern. Selain dikenal sebagai pejuang, dalam kesehariannya dia adalah seorang saudagar batik.

Untuk mengenang kiprahnya Pemkot Solo bekerja sama dengan Yayasan Warna Warni merasa perlu mendirikan museum untuk pejuang ini.
---------------------

Sebuah museum yang menggambarkan perjuangan Samanhoedi, pendiri organisasi modern Sarekat Dagang Islam, diresmikan pembukaannya oleh Walikota Surakarta (Tempo Interaktif).

Museum Samanhoedi yang terletak di Kampoeng Batik Laweyan Solo, dulunya lebih dikenal sebagai museum batik. Maklum, Laweyan memang terkenal sebagai sentra industri batik semenjak zaman penjajahan Belanda.

Tempat tersebut kini disulap menjadi Museum Samanhoedi, yang berisi foto-foto bukti perjuangan KH Samanhoedi, pengusaha besar batik yang telah berjasa mendirikan organisasi modern Sarekat Dagang Islam (SDI).

Foto yang terpajang merupakan foto-foto lama yang telah direproduksi, sehingga semua foto merupakan foto hitam putih. Foto yang terpampang ditata secara berurutan, mulai dari revolusi batik, foto mengenai pembentukan SDI, peran pemerintah kolonial terhadap SDI, Kongres SDI di Solo, dan Samanhoedi di masa tua yang memprihatinkan.

Tidak hanya foto peristiwa, juga terdapat hasil repro anggaran dasar dan anggaran rumah tangga dari organisasi Sarekat Dagang Islam, yang masih tertulis dalam huruf Jawa.

Sayangnya, tidak didapati benda-benda peninggalan Samanhoedi yang dapat dipajang di museum yang diresmikan oleh Walikota Surakarta, Joko Widodo, tersebut.

“Ketika meninggal, kakek tidak mempunyai barang apa pun,” kata Hudi Setyawan, cucu Samanhoedi. Di masa tua, Samanhoedi mengalami kebangkrutan yang luar biasa, karena harta bendanya habis untuk perjuangan membesarkan Sarekat Dagang Islam.

Peninggalan Samanhoedi yang masih tersisa hanyalah sebuah rumah yang terletak tidak jauh dari museum tersebut, itu pun merupakan rumah pemberian dari Soekarno. Rumah tersebut kini ditempati oleh keluarga Hudi Setyawan.

“Semula kita ingin museum tersebut dibuat di rumah itu,” kata Krisnina Maharani, Ketua Yayasan Warna Warni yang memprakarsai berdirinya museum ini. Namun karena digunakan sebagai tempat tinggal, dirinya memilih menyewa sebuah gudang bekas tempat produksi batik tersebut.

Beberapa foto yang dipajang merupakan koleksi pribadi keluarga Samanhoedi. Namun beberapa didapatkan dari Arsip Nasional, dan beberapa didapatkan oleh Krisnina di Kota Leiden, Belanda.

Sedangkan Bisnis Indonesia menulis, Sedikitnya 36 koleksi foto yang didapatkan dari sejumlah kerabat dan keluarga Samanhoedi, serta beberapa peninggalan yang tercatat di museum nasional akan mengisi koleksi di dalam museum itu. Menurut Krisnina, sejarah dan peran Samanhoedi dalam konteks panggung perjuangan pergerakan nasional dengan latar belakang kawasan Laweyan dan perdagangan batik yang memang digeluti oleh tokoh tersebut, menjadi inspirasi dirinya mendirikan museum di daerah itu.

Dia menjelaskan dari berbagai buku sejarah yang dibacanya, peran Samanhoedi sebagai seorang saudagar batik saat itu, memiliki peran yang sentral, termasuk keterlibatannya sebagai tokoh pendiri SI tersebut. "Peran batik Laweyan dan berdirinya SI sangat besar. Samanhoedi menjadi sentral perhatian," ujarnya.

Meski ukuran museum tersebut tidak terlalu besar, dia menuturkan keberadaannya cukup lengkap untuk memuat segala hal tentang Samanhoedi, terutama kisah dan perjuangannya hingga masa tua dan berbagai dokumen penting tentang Kota Solo. "Saya berharap museum sejenis bisa didirikan di setiap kota, sehingga tokoh-tokoh lokal di daerah bisa dikenal oleh masyarakat sekitar dan tentunya wisatawan dari dalam dan luar negeri," ungkapnya.

sumber foto: photobucket

Senin, 15 September 2008

Tepo Seliro

Ada pemandangan cukup menarik di depan sebuah SD yang terletak dekat dengan outlet kami.

Pagi itu banyak sekali siswa mengerumuni seorang pedagang. Saya tidak tahu persis apa yang dijual pedagang keliling itu karena saking banyaknya siswa SD yang mengerumuninya, sehingga sama sekali tidak kelihatan sosok sang pedagangnya.

Tapi lama kelamaan saya bisa menebak apa yang dijual sang pedagang keliling itu. Beberapa anak yang berhasil 'meloloskan' diri dari situasi suk-sukan terlihat membawa 'senapan'. Ada beberapa jenis 'senapan', mulai dari yang paling sederhana, yang cuma berbentuk silinder, sampai yang mirip dengan M-16 yang dilengkapi dengan 'peluncur' roket.

Dan tak lama kemudian halaman SD tersebut, juga tidak bisa dihindari halaman outlet kami, berubah menjadi medan 'pertempuran'. Puluhan anak dengan aneka jenis 'senapan' saling bertempur dengan menggunakan peluru khusus. Peluru itu berupa kertas koran basah yang dibentuk menjadi bulatan-bulatan sangat kecil, mirip peluru. Tapi jangan salah, meski cuma kertas basah padat, 'peluru' ini kalau mengenai kita pada jarak cukup dekat mampu membuat kulit kita perih dan memerah.

'Senapan' yang dijual sang pedagang dibuat dari bambu muda, dipotong-potong, dibentuk, dan hanya diikat dengan karet untuk menjadikannya mirip dengan senapan otomatis. Karena segmennya adalah anak-anak sekolah maka harganya juga disesuaikan dengan pangsa pasarnya. Untuk senapan sederhana cukup dengan Rp 1000 seorang anak sudah bisa memilikinya. Sedangkan senapan seperti pada foto di atas harganya Rp 2000. Sangat murah kalau dibandingkan dengan kreativitas yang dibutuhkan untuk bisa membuatnya.

Ketika bel sekolah berbunyi, dan anak-anak masuk ke kelas masing-masing, sang pedagang pun mulai membereskan barang dagangannya. Di sinilah saya benar-benar heran dengan apa yang dilakukan sang pedagang.

Padahal para pedagang lain yang juga menggelar di depan SD itu tidak ada satu pun yang memberesi barang-barangnya. Mereka menunggu saat istirahat nanti, karena saat istirahat adalah saat di mana rezeki akan mendatangi mereka. Saya sangat yakin kalau pedagang senapan itu masih membuka lapaknya, pada saat istirahat nanti pasti banyak anak yang masih ingin membeli senapannya.

Ketika saya mengemukakan keheranan ini, rupanya istri saya yang saat itu kebetulan juga ada di outlet, penasaran juga.

"Saya nggak enak dengan yang lain bu," jawab sang pedagang senapan ketika ditanya istri saya mengapa membongkar dagangannya.

"Saya lihat (pedagang) yang lain jadi sepi dengan adanya saya," tambahnya.

Kaget. Saya tidak menyangka dengan jawaban ini. Jawaban sederhana. Tapi di balik kesederhanaan jawaban ini terkandung ketinggian akhlak yang bagi saya menakjubkan. Sebuah sikap yang mengedepankan harmoni, keserasian, kerukunan, dan rahmat lahir dari sosok yang (mungkin) kita anggap sederhana. Sebuah sikap yang bisa diperas menjadi dua kata saja: tepo seliro, sebuah istilah dalam bahasa jawa yang artinya kurang lebih mengedepankan harmoni, keserasian, kerukunan, dan rahmat.

"Dari sini terus pulang?"

"Tidak bu, saya akan ke sekolah lain. Kalau dagangan saya rame, maka saya juga sebentar saja di tempat itu. Kasihan yang lain."

Hari itu saya dapat pelajaran sangat berharga. Sebuah ilmu yang lahir dari realitas hidup.

Senin, 08 September 2008

Meski Lambat, Industri Batik tetap Tumbuh

Meski saat ini batik sedang tren, ternyata pertumbuhannya belum secepat yang diharapkan. Kemungkinan masalahannya adalah pada rasio jumlah pengrajin yang masih timpang dibanding dengan jumlah pemakai. Begitu juga jumlah pengrajin batik dibanding dengan pakaian non batik jumlahnya juga masih belum imbang.

Setelah sekian lama batik ditinggalkan, menyebabkan pembuat batik banyak yang gulung tikar. Tidak melanjutkan usaha yang berciri budaya ini. Sangat sedikit yang serius dan tetap bertahan dengan ciri khas batiknya. Barangkali inilah yang menyebabkan ketika mode batik kembali digemari, jumlah pembuat batik tidak bertambah banyak dengan cepat karena memang tidak banyak yang bisa membuat batik.

Tulisan di Kompas.com hari ini cukup menarik:
-----------------------

Industri kerajinan batik tahun 2007 mencapai nilai produksi Rp 2,9 triliun dengan penyerapan tenaga kerja 792.300 orang untuk 48.300 unit usaha.

Hal itu dikatakan Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil dan Menengah Fauzi Aziz yang membacakan sambutan Menteri Perindustrian Fahmi Idris saat membuka Pameran Batik di ruang Garuda, Departemen Perindustrian (Depperin), Jakarta, Senin (8/9).

"Memang ada kenaikan pertumbuhan industri batik dari tahun 2006 tapi hanya mencapai 5-10 persen saja, tak terlalu signifikan. Banyak daerah selain Yogya, Solo dan Pekalongan sekarang mulai bermunculan industri ini," tuturnya.

Fauzi mengatakan ada delapan provinsi yang menjadi wilayah utama penghasil batik yakni Jambi, Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali."Saat ini telah tumbuh kegiatan usaha pembatikan di Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Papua. Ini yang terus kita dorong," katanya.

Mengenai pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap industri kerajinan batik, dikatakan Fauzi, memang dampaknya ada tetapi tidak terlalu signifikan. "Pengrajin batik itu kan memakai malam, bahan bakar minyak tanah itu yang lumayan memberatkan. Tetapi sejauh ini belum ada keluhan berarti dari mereka," katanya.

Senin, 01 September 2008

Surat dari Penerbit di Singapura

Kemarin saya mendapat surat dari sebuah penerbit di Singapura. Penerbit ini rupanya mendapat kepercayaan dari "Depdiknas"-nya negari Jiran itu untuk menebitkan buku panduan pendidikan bagi murid sekolah menengah pertama. Kaget dan bangga karena mereka rupanya tertarik dengan produk kami, gitar batik. Sebuah karya seni unik dan eksklusif.

Sebuah pengakuan internasional mengenai khazanah budaya kita.

Tidak semua isi surat saya copy di sini
-----------------

Kehadapan Tuan M. Abduh,

Semoga tuan menerima surat ini dalam keadaan sejahtera. Kami ingin memohon keizinan untuk menggunakan gambar produk tuan dalam terbitan kami. Kami sedang menerbitkan sebuah buku bertajuk Art in Life (Seni dalam Kehidupan) karangan............... dan ....................

Buku ini akan digunakan sebagai buku teks oleh pelajar menengah rendah (berumur 13 - 14 tahun) di Singapura tahun hadapan (2009). Pakej terbitan ini termasuk sebuah Buku Panduan Guru serta CD-ROM. Gambar yang kami perlukan juga akan dimasukkan ke dalam Buku Panduan Guru serta CD-ROM tersebut. Kami berminat menggunakan gambar yang berikut:

Lelaman Internet dimana gambar dijumpai Keterangan Saiz gambar yang akan tertera di dalam buku kami

http://itrademarket.com/rumahbatik/493726/gitar-batik.htm

Gambar tersebut telah kami lampirkan dengan emel ini untuk rujukan anda.

Kami memohon keizinan tuan untuk menggunakan gambar tersebut di dalam terbitan kami, dalam bentuk cetakan dan juga elektronik, buat cetakan kali ini dan juga cetakan-cetakan seterusnya / edisi baru buku yang sama, di masa hadapan. Kami juga memintakan tuan emelkan imej hi-res untuk gambar ini, kalaulah tuan mempunyainya.

Oleh kerana buku ini adalah untuk tujuan pendidikan dan kami punyai bajet yang terhad, kami amat berbesar hati jika tuan dapat mengizinkan kami untuk menggunakan gambar tersebut secara gratis. Jika tidak, sila terangkan harga yang perlu dibayar untuk penggunaan gambar tersebut.

Kami akan memastikan penghargaan diberikan kepada tuan/pihak tuan secara terperinci di dalam buku kami. Namun, jika tuan inginkan ayat penghargaan yang khusus, sila berikan butirannya kepada kami.

Walau bagaimanapun, jika hak cipta gambar ini bukan milik tuan, kami mohon agar tuan rujukkan surat ini kepada yang berhak menerimanya, atau beritahu kami kepada siapa kami harus memohon keizinan. Kami juga amat berbesar hati jika tuan dapat memberikan gambar yang lebih besar dan terang (high-resolution) untuk kegunaan kami. Jika tuan mengenakan bayaran untuk penggunaan gambar tersebut, harap maklum yang kami akan memotong dari harga yang ditetapkan, sebarang cukai atau levi yang perlu kami biayai, yang terbit daripada bayaran itu.

Keterangan lanjut tentang terbitan kami adalah seperti berikut:

Tajuk: Art in Life - Lower Secondary

Keterangan: Buku teks untuk pelajar menengah rendah, berdasarkan sukatan pelajaran terbaru Kementerian Pendidikan Singapura, untuk tahun 2009.

Saiz buku: 275 mm x 215 mm (Buku teks pelajar); 300 mm x 226 mm (Buku Panduan Guru).
Had mukasurat : 184 mukasurat untuk kedua buku (Buku teks dan Panduan Guru)
.............................. dst.

Senaskhah Buku Panduan Guru akan diberikan kepada sekolah-sekolah secara gratis bada tahun pertama. Jika guru-guru menginginkan lebih, setiap Buku Panduan Guru akan dijual pada harga $...............

Tarikh cetakan: November 2008.

Pasaran sasaran: Sektor pendidikan, khususnya di Singapura.
Bahasa penerbitan: Inggeris.

Semoga tuan dapat memberikan jawapan secepat mungkin. Terima kasih atas sokongan dan bantuan tuan.

Yang benar,
............
Editor
............ ............ Publishing
............ ........... .......... Asia (............)

Selasa, 26 Agustus 2008

Kesetiaan Pembatik Tua


Khazanah budaya adalah kekayaan sebuah bangsa. Sebuah bangsa bisa menjadi besar dan disegani kalau mereka mampu mempertahankan ciri khasnya. Jepang, Cina, Korea adalah contoh bangsa yang menjadi besar dan maju dengan tetap memegang teguh bahasa dan ciri khas kulturnya. Sedangkan kita menjadi bangsa yang sering dilecehkan karena sering silau dengan bahasa dan budaya orang lain.

Tulisan berikut cukup menarik. Saya menyalin tulisan ini dari Pemkab Sragen, Jawa Tengah.

-----------------

Memasuki desa Pilang Kecamatan Masaran, tepatnya di Dusun Jantran terdapat sebuah rumah yang kini ditempati seorang pembatik tua, bahkan bisa dibilang paling tua di antara pembatik-pembatik tua yang masih tersisa di desa Pilang. Teman-teman sebayanya dulu yang sering membatik bersamanya kini telah tiada semua.

Mbah Towirejo, begitu orang-orang menyebutnya. Perempuan tua berbadan kurus yang tak pernah menyerah dengan kerentaannya. Telinganya sudah tidak bisa mendengar secara jelas. Untuk berkomunikasi, seseorang harus mendekatkan mulutnya ke dekat telinga wanita empat anak ini.

Cara berjalannyapun sudah membungkuk dan sedikit terhuyung-huyung, sehingga harus dibantu seseorang agar tidak jatuh. Namun sesekali ia berjalan sendiri sambil merambat berpegangan pada dinding-dinding rumah kayu yang kini ia tempati bersama anak keduanya.

”Umur ibu saya sekitar 102 tahun, teman-teman sebayanya sudah meninggal semua, tinggal ibu saya yang masih setia mempertahankan batik tradisional” tutur Sayem(67), anak kedua mbah Towirejo.

Kebiasaan membatik sudah dilakoninya sejak umur sepuluh tahunan. ”Dulu sewaktu ibu masih muda dan saya masih kecil, ia sering bercerita kepada saya, sewaktu umur sepuluh tahunan sudah diajari simbah saya (ibu mbah Towirejo) untuk membatik. Sekitar umur dua belasan tahun ia sudah mahir membatik” jelas Sayem.

Gurat-gurat seorang pekerja keras jelas terpancar di kerutan-kerutan wajah mbah Towirejo. Meski sudah uzur sinar matanya masih bening tajam menatap setiap orang yang ia temui. Sewaktu muda, ia sering membatik sampai subuh pagi, kemudian tidur sebentar dan sebelum matahari memancarkan sinarnya, si Sabruk, nama kecil mbah Towirejo, sudah bangun untuk melanjutkan membatik. ”Dulu ketika masih muda, saya sering membatik, hingga menjelang subuh ”cerita mbah Towirejo, sambil berkaca-kaca. Pikirannya terlihat menerawang jauh ke masa silamnya.

”Dulu bayarannya sedikit mas, hanya cukup untuk makan. Sewaktu muda, kalau membatik saya selalu bersama-sama ibu dan saudara-saudara saya, sekeluarga kami semua pembatik kecuali ayah saya, seorang buruh tani” tutur mbah Towirejo. Meski sudah uzur, cara bicaranya masih tegas dan jelas.

Ayah si Sabruk, dulu harus berjalan kaki seharian untuk mengambil kain ke Pasar Kliwon Solo di tempat Juragan Batik bernama Tuan Kadir. Setiap dua minggu sekali ayahnya selalu ke Solo untuk mengambil kain maupun menyetorkan hasil batikannya. Jam dua belas malam, ayahnya sudah mulai berjalan menyusuri malam menuju kota Solo, sendirian. Memang kala itu pembatik-pembatik di sini belumlah banyak seperti sekarang. ”Jalan menuju kota belum baik seperti sekarang, ayah saya harus menyusuri jalan-jalan desa, kadang juga lewat Plupuh dengan menyeberang sungai Bengawan Solo,” cerita mbah Towirejo.

Sekitar delapan jam perjalanan barulah sang ayah tiba di Solo. Sampai di rumah kembali sore hari atau Azdan Magrib berkumandang. Rutinitas ini dilakoni ayahnya hingga tahun enam puluhan. Ketika anak keduanya, Sayem, menginjak dewasa dan menikah, suami anaknya merintis untuk menjadi juragan batik. ”Saya dan suami, bisa dibilang juragan batik pertama di desa Kliwonan dan desa Pilang,” tegas Sayem. Sejak itu, mbah Towirejo bekerja pada Juragan Batik Sayem anaknya sendiri. Suami mbah Towirejo tidak perlu susah-susah berjalan kaki ke Solo lagi untuk menyetorkan maupun mengambil kain batik.

Keahlian

Di balik kerentaannya itu, ada satu hal yang sangat menonjol. Mata perempuan ini masih tajam dan seperti tak pernah lelah ketika menorehkan lekuk demi lekuk garis dalam selembar kain.

Tangan kanannya yang memegang canting tidak terlihat bergetar saat mengguratkan malam yang dicairkan dengan bara kayu jati ke atas kain putihan yang membentang di hadapannya.

Sambil bercerita, ia masih memegang canting dan mengoreskan ukiran-ukiran batik di selembar kain. Anehnya di lebar kain putih tersebut tidak terdapat gambaran pola batik. Rupanya mbah Towirejo mempunyai keahlian tersendiri yang tidak dimiliki oleh teman-teman pembatik lainnya sejak jaman dulu.

Sayem menyatakan bahwa sejak kecil ibunya mempunyai keahlian tersendiri dalam membatik yang jarang tidak dimiliki oleh pembatik-pembatik lainnya di desa Pilang maupun Kliwonan. Setiap membatik dia tidak mau kain sebagai bahan dasar membatik sudah digambari atau diberi pola. Ia lebih senang berkreasi di lembaran kain polos, serta langsung mengoreskan cantingnya tanpa mengeblat pola, dan hasilnya malah lebih bagus”.

Motif Rumit

Sampai kini ia masih hafal betul motif-motif batik. “Motif-motif yang saya kuasai sejak dulu adalah motif Sidomukti, Sidoluhur, Sekar Jagad, Gringgring, Parang, Sidodrajad dan Semen Rantai,” cerita mbah Towirejo dalam bahasa Jawa. Sampai sekarang pun ia masih mahir mengoreskan setiap jenis motif tersebut tanpa harus mengeblat pola.

Menurut Sayem, konon Mbah Towirejo bisa menyelesaikan sebuah motif sekar jagad yang cukup rumit dalam waktu dua hari. ”Padahal, saya yang lebih muda saja harus menyelesaikan motif itu dalam 1 minggu,” tuturnya.

Ya, Mbah Towirejo memang sangat mahir. Melihat dia beraksi di atas kain, seolah-olah seperti melihat gerakan pembatik muda. Garis-garis yang dibuat sangat halus. Titik-titik juga dibuatnya dengan sangat teliti, sangat runtut meski tidak mengeblat pada pola. Beberapa pembatik muda justru kalah dari Mbah Towirejo.

Sejak kecil, Mbah Towirejo memang telah bergelut dengan malam, canting, dan kain. Tak urung, puluhan tahun yang telah dilewatinya untuk membatik itu membuatnya menjadi sangat piawai dalam membuat motif.

”Sekarang ibu sebetulnya sudah saya larang untuk membatik karena kasihan, usianya sudah uzur. Namun sekali saya perbolehkan membatik, sekedar untuk hiburan, beliau kadang jadi lupa waktu, seharian penuh ia bisa membatik terus,” cerita Sayem.

Jarang Sakit

Kebiasan membatik dari pagi hingga subuh, yang telah dilakoni sejak kecil dulu, tak menjadikan mbah Towirejo menjadi rentan terhadap penyakit. Justru ia mengaku tak pernah menderita penyakit serius. “Paling hanya masuk angin atau pusing-pusing, setelah minum jamu sembuh dan sehat kembali,” ungkap mbah Towirejo.

Menurut mbah Towirejo untuk tetap sehat dan jarang sakit resepnya sangat sederhana, yakni banyak minum air putih dan minum jamu, serta jarang mengkonsumsi makanan yang mengandung kolesterol. Sedang lauk kegemarannya yang sering menemani setiap makan adalah bothok mlanding (bothok pete cina).

Penghargaan

Keahlian membatik mbah Towirejo kini telah diteruskan oleh para anak cucu dan masyarakat lainnya di desa Pilang dan Kliwonan. Sudak tak terhitung lagi berapa jumlah anak cucu ataupun warga dari desa-desa disekitarnya yang telah ia ajari membatik. Di usia senjanya mbah Towirejo berharap agar seni membatik yang merupakan warisan budaya yang adiluhur dari nenek moyang dapat tetap dilestarikan.

Pada tahun 2004, mbah Towirejo pernah mendapatkan penghargaan dari Bupati Sragen Untung Wiyono. Pemerintah Kabupaten Sragen memandang dia telah berjasa dalam kepeloporan, keteladanan dan pelestarian warisan tradisional leluhur bangsa indonesia yakni kerajinan batik. Penghargaan berupa Piagam ADI KARYA NUGRAHA Tahun 2004 tersebut diserahkan Bupati Sragen kepada mbah Towirejo, bersamaan dengan peresmian menara pandang di Sangiran.

Kamis, 21 Agustus 2008

Mensyukuri Remah Industri Batik


Di tengah maraknya busana batik yang jadi tren saat ini, ada kisah menarik tentang 'pemilik' industri batik yang sesungguhnya. Tulisan di Kompas hari ini cukup menarik untuk direnungkan.

Dari tulisan ini saya baru tahu kalau Pemerintah sesungguhnya sudah berniat menjadikan batik sebagai pakaian nasional, menggantikan jas. Sebuah niat visioner.

Tulisan ini saya ambil dari Harian Kompas, 21 Agustus 2008, dengan judul yang sama.

--------------------

Batik adalah rangkaian ribuan titik. Namun, usianya tidak hanya sesaat seperti saat mata canting meneteskan titik demi titik malam (lilin untuk membatik) cair. Rangkaian itu sekaligus menyimpan seribu satu cerita, suka-duka, sedih-gembira, tangis- tawa. Pendeknya, setiap mata canting merekam setiap hela napas si pembatik dalam titik malam yang menetes.

Kalau yang sudah terampil, satu kain dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan. Tetapi, bisa juga jadi lama, apalagi kalau hatinya sedang susah. Membatik itu kan seperti melukis juga,” kata Nila, pembatik yang bekerja di rumah produksi batik di Pekalongan, Jawa Tengah.

Seorang pembatik sepuh di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pernah mengatakan, membatik itu bukan hanya bekerja. Membatik juga melibatkan batin si pembatik. Jika ingin menghasilkan batik tulis yang halus, hati si pembatik tidak boleh gundah, curiga, dan menyimpan prasangka atau menyimpan niat untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari karya itu. ”Selain niat, batin harus tulus. Tidak bisa membatik dengan rasa hati selalu dikejar-kejar,” katanya.

Meskipun tidak mengenal atau bertemu dengan pembatik sepuh dari Imogiri itu, tampaknya Nila membenarkan ungkapannya. ”Bisa juga, untuk mengejar penghasilan, kami membatik cepat, tetapi hasilnya jelek. Hati jadi tidak sreg,” kata Nila.

Hati harus tenang, Jika perlu membenamkan dalam-dalam kegundahan yang mungkin saja sempat datang mengganggu.

Industri

Datang setiap pagi dengan mengendarai sepeda tua miliknya, Nila mesti bekerja seharian demi upah Rp 6.000 ditambah uang makan Rp 2.500. Jika mengambil borongan, ia bisa memperoleh tambahan Rp 40.000 untuk setiap lembar kain yang ditulisnya.

Demikian juga Paleha. ”Karena masih baru, upah harian saya Rp 8.500, termasuk uang makan. Yang sudah empat atau lima tahun mendapat upah Rp 10.000,” kata Paleha, pembatik di Wiradesa, Pekalongan.

Paleha yang masih ikut orangtuanya harus bersusah payah mengatur pengeluaran. Ia mesti lentur menyiasati hidup, selentur ketika tangannya membatik. Ia menjadi sandaran kehidupan keluarga, apalagi ibunya yang mewariskan keahlian membatik sudah berangsur tua dan tidak kuat lagi membatik.

Untuk menambah pemasukan, Paleha ikut kerja borongan. ”Dalam keadaan sekarang, sangat sulit mengatur pengeluaran dan pemasukan sebesar itu,” kata Paleha, yang bertugas memopok atau melapisi bagian-bagian tertentu pada kain dengan lilin cair atau malam.

Sebagai ilustrasi, upah minimal di Kota dan Kabupaten Pekalongan untuk tahun 2008 sebesar Rp 615.000, sementara upah minimal rata-rata untuk Jawa Tengah masih Rp 601.418,92.

Pekalongan telah tumbuh menjadi satu pusat batik di Indonesia. Di sepanjang jalan utama dan lorong-lorong kota itu, sangat gampang ditemui gerai dan pusat produksi batik rumahan. Geliatnya telah menarik ratusan ribu warga, termasuk Nila dan Paleha, dalam kerja budaya yang telah menjadi industri itu. Ada ribuan anak putus sekolah terlibat dalam rangkaian kerja industri yang telah mengubah wajah Pekalongan.

Sebagian dari mereka bertugas menulisi kain sutra atau katun putih dengan malam-cair seturut pola motif yang telah digambar. Ada pula yang mewarnai, membuat pola, melepaskan lilin, hingga membuat batik cap. Motif yang dibuat antara lain jawa hokokai dan jelamprangan. Juga ada motif pakem batik Solo atau Yogyakarta, seperti Kawung, Parang Rusak, atau Sidomukti.

Dalam dua tahun terakhir ini, kerajinan dan industri batik di Pekalongan maju pesat. Seiring niat pemerintah menjadikan batik sebagai pakaian nasional pengganti jas, batik tak lagi menjadi ciri khas pakaian orang tua. Tahun ini batik telah menjadi arus utama mode di kalangan anak muda.

Bukan hanya pemilik industri batik yang meraup keuntungan dari ledakan itu. Warga pinggiran dan anak-anak putus sekolah pun memperoleh penghasilan sebagai pekerja pada industri batik. Namun, di tengah kemeriahan itu, kehadiran mereka masih sebatas penikmat remahan kue besar industri batik di Pekalongan. ”Perlu modal besar jika ingin membatik sendiri. Jika sekarang masih ikut orang, ya dijalani dulu,” kata Nila.

Pembatik

Kesabaran, itulah kekayaan sebenarnya para pembatik. Begitulah kebijakan si pembatik meskipun kain itu nantinya tidak lagi menjadi miliknya. Setiap hela napas dan batinnya terekam kuat dalam keindahan karya budaya itu.

Setelah semua proses usai, selembar kain batik tulis halus bisa jadi berharga jutaan rupiah. Nyaris dapat dipastikan si pembeli tidak mengenal siapa si pembatik sesungguhnya. Namun, dari sudut pandang lain, bisa jadi si pembeli hanya memiliki lembaran kain batik yang indah dan mahal itu, tetapi ada ”pemilik” lain yang dengan tulus tinggal di balik bilik-bilik rumah pembatikan di Pekalongan.

Merekalah sang pemilik sesungguhnya, mereka yang meneteskan titik demi titik malam cair menjadi lukisan nan menawan….


sumber foto: inori2000

Kamis, 14 Agustus 2008

Laki-laki 'Telmi'

Pernahkah kita melihat penjaga stan pameran yang berpakaian 'aduhai'? Bohong ah kalau kita mengatakan belum pernah. Saya yakin banyak sekali di antara kita yang hafal betul pameran-pameran apa saja yang penjaga stan nya didominasi yang 'bening' nan aduhai dengan pameran yang stand guide nya biasa-biasa saja. :)

Mengapa para pemilik stan pada pameran produk tertentu masih sering memajang 'boneka' cantik di lini depan sedangkan sales force yang sudah terlatih menjual diletakkan di belakang? Saya ibaratkan 'boneka' karena fungsi utamanya memang hampir persis manekin, hanya berdiri diam. Bedanya mereka ini mampu senyum-senyum dan memang lebih enak dilihat dari pada boneka beneran. :)

Tentu saja para pemilik stan punya asumsi kalau yang ditaruh di garis depan adalah para 'boneka' cantik, lead stan nya akan tinggi. Dan imbasnya penjualan produk yang dipercayakan kepada mereka juga makin tinggi. Tapi apakah asumsi ini benar?

Hari ini saya melihat tulisan yang menarik di kompas.com:

Kemolekan tubuh kaum wanita yang mengenakan bikini ternyata bisa membuat pria telmi alias telat mikir. Demikian menurut laporan berjudul Bikinis Instigate Generalized Impatience in Intertemporal Choice, yang dimuat dalam Journal of Consumer Research.

Dalam sebuah "percobaan bikini", peneliti dari Belgia melakukan beberapa seri uji coba terhadap 358 pria muda. Mereka diminta mengikuti serangkaian tes, salah satunya adalah pria-pria tadi diminta menawar harga sambil melihat video wanita berbikini di pantai dan video pemandangan.
"Para pria jadi lebih impulsif dalam segala hal setelah melihat hal-hal yang seksi, seperti wanita berbikini," kata Bram Van den Bergh, pemimpin penelitian.

Bukti lainnya adalah penelitian yang dilakukan dua peneliti, George Loewenstein dari Carnegie Mellon University dan Dan Ariely dari MIT, yang berjudul Heat of the Moment: The Effect of Sexual Arousal on Sexual Decision Making. Para peneliti menemukan bahwa pria yang mendapat rangsangan seksual seringkali melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak direncanakan olehnya.

"Ketika kita memikirkan seks, sedikit banyak yang bisa kita pikirkan hanya seks. Sehingga wajar jika para pria melakukan tindakan yang tidak seharusnya, misalnya menolak memakai kondom," ujar Loewnstein.

Ada fakta menarik lainnya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa iklan yang menampilkan wanita cantik dan seksi, tidak akan membuat pria mengingat jenis produknya. Mereka tak akan peduli apa mereknya atau keunggulannya. Yang diingat hanyalah alangkah moleknya tubuh sang model.
-----------

Jadi, masihkah kita mempercayakan produk kita, brand kita kepada mereka? Rugi besar dong. :)