Selasa, 22 Desember 2015

Cinta Tanpa Syarat

Sepuluh tahun lalu, senior saya, seorang wartawan berusia 60 tahun. Ibunya yang kala itu berusia 80 tahun lebih dirawat di rumah sakit.

Suatu malam, kawan saya itu menunggui ibunya. Dia tertidur pulas di kursi panjang di ruang rawat. Di luar, cuaca hujan dan dingin. Tiba-tiba...sang ibu turun dari ranjang rawatnya. Dia tertatih-tatih jalan menuju sofa tempat sang anak pulas. Diselimutinya anaknya itu dengan selimut yang seharusnya untuk pasien itu. Dia kembali ke ranjang rawat, tidur tanpa selimut. 

Meski usia kawan itu 60 tahun dan sudah jadi kakek, anak adalah tetap anak. Pagi hari, kawan saya bangun dengan kaget, karena dia sudah diselimuti. Sang ibu tak lama wafat.
 

Dua puluh tahun lalu, seorang kawan (pria, waktu itu berumur 30-an) terkena kanker paru-paru. Sang ibu menemaninya di rumah sakit. Ketika anaknya itu buang air kecil atau air besar, dengan tak sungkan ibu itu membersihkan anusnya, mengelap penisnya. 

Saya menyela ,"saya bantu bu!" Jawab beliau : "Wios, da sanaos tos 30 yuswa na, da asa budak keneh we (tak apa-apa, meski usianya sudah 30, rasanya dia masih anak kecil). Sahabat saya itu meninggal.
 

Cinta ibu, adalah cinta tanpa syarat...
Pintu surga terbuka lebar untuk para ibu...

Selamat Hari Ibu...

Budhiana Kartawijaya

Senin, 19 Oktober 2015

Near Win


Kesuksesan adalah racun. Ya, karena begitu kita mencapai puncak sukses, kita cenderung terjangkit penyakit puas diri dan kemapanan. Kita cenderung terjebak pada perangkap kenyamanan. Kita menjadi “penikmat” prestasi masa lalu, dan tak lagi menjadi “pejuang” capaian masa depan. Dalam kondisi ini sense of crisis hilang, sense of striving pupus, daya kreasi dan imajinasi pun kemudian memudar.

“Perfection is the enemy of progress,” kata Winston Churchil. Ketika kita menganggap apa yang kita perjuangkan telah mencapai kesempurnaan, maka pada titik itulah sesungguhnya kita mandek. Ketika kita merasa hebat, bahkan merasa yang terhebat, maka sesungguhnya di situlah awal titik kejatuhan kita.

Itu sebabnya saya mengatakan musuh kesuksesan adalah kesuksesan itu sendiri. Kesuksesan menciptakan kondisi enak, nyaman, dipuja-puji, disanjung-sanjung, ditiru-tiru, dijadikan role model, dianggap paling hebat, dianggap menginspirasi. Kondisi serba enak dan nyaman ini seringkali menjadikan kita lupa, lalai, bahkan takabur. Kondisi paling parah adalah kalau kesuksesan menjadikan kita malas berpikir keras, malas bekerja keras, malas berkreasi keras, malas belajar keras. Ketika itu terjadi maka kiamat di depan mata.

“Hampir Menang”
 
Saya suka dengan istilah “near win” yang diperkenalkan oleh Sarah Lewis, seorang kurator seni, dalam bukunya The Rise (Simon & Shuster, 2014). Ia mengatakan bahwa kita seharusnya tak pernah boleh merasa betul-betul sukses. Kita harus menganggap sukses yang kita capai sebagai sesuatu yang belum betul-betul final.

Sehebat apapun kesuksesan yang kita raih harusnya tetap kita anggap sebagai “setengah sukses” atau “hampir sukses”. Ya, karena kalau kita merasa betul-betul sukses maka penyakit kemapanan dan kenyamanan bakal menyergap. Dalam berjuang menggapai impian, sesungguhnya kita tak pernah betul-betul menang, yang ada adalah “hampir menang”.

Near win menjadikan kita terus memompa andrenalin untuk mencapai sukses berikutnya. Near win memungkinkan kita tetap menjaga vitalitas perjuangan untuk menerima tantangan-tantangan dalam mencapai sukses-sukses berikutnya. Near win menjadikan kita tidak malas, tidak comfort, dan tidak takabur. Near win membebaskan kita dari sikap mendewakan prestasi masa lalu, dan lupa pada tantangan kesuksesan masa depan.

Singkatnya, near win yang membuat kita selalu bersemangat untuk terus maju, tidak mandek. “In our pursuit of success, it is actually our near wins that push us forward,” ujar Sarah. Kalau “menang” adalah racun kesuksesan, maka “hampir menang” adalah madu kesuksesan.

“Sekali Sukses, Sesudah Itu Mati”
 
Dalam salah satu sajaknya Chairil Anwar pernah bilang, “Sekali berarti, sesudah itu mati.” Untuk tulisan ini, boleh kiranya bunyi sajak itu saya plesetkan sedikit menjadi, “Sekali sukses, sesudah itu mati.” Ungkapan ini pas sekali menggambarkan sosok-sosok yang sukses, tapi suksesnya tak berkesinambungan. Begitu sukses diraih, sekonyong-konyong penyakit sok hebat, penyakit kemapanan, dan penyakit kemalasan menghinggapi. Akibatnya kemudian bisa ditebak: kesuksesan yang diraih tersebut adalah yang pertama, sekaligus yang terakhir.

Untuk bisa mendaki dari gunung kesuksesan satu ke gunung kesuksesan berikutnya, maka kita harus memiliki mentalitas near win. Mentalitas untuk tetap rendah hati menjadi underdog. Mentalitas untuk menganggap kesuksesan sebagai sebuah never-ending journey: perjalanan yang tak pernah mengenal kata akhir.

Bicara mengenai sukses sebagai sebuah never-ending journey, saya teringat ungkapan Steve Jobs ketika ia di depak dari Apple di tahun 1980-an. Steve bilang, “…getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.”

Ia tidak menyikapi pemecatannya sebagai akhir dari segalanya, tapi justru sebaliknya membebaskannya memasuki masa-masa terkreatif dan terproduktif dalam perjalanan karirnya. Memulai kembali di titik nol justru memberinya energi luar biasa untuk berkreasi menghasilkan produk demi produk hebat di kemudian hari mulai iPod, iPhone, hingga iPad. Kondisi serba keterbatasan di tengah keterpurukan justru memberikan spirit luar biasa untuk merengkuh kesuksesan berikutnya.

Keterpurukan menjadikan Steve Jobs berpikir 1000% lebih keras, bekerja 1000% lebih keras, berkreasi 1000% lebih keras. Hanya dengan begitu kita bisa mendaki dari gunung kesuksesan satu ke gunung kesuksesan berikutnya. Hanya dengan begitu kita mencapai sukses yang berkesinambungan, bukan “sekali sukses, sesudah itu mati.”

sumber|: yuswohady.com

Rabu, 25 Maret 2015

Gus Mus: Mengenakan Batik, Meneladani Nabi Muhammad SAW

Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A Mustofa Bisri kembali menegaskan perbedaan antara muslimin Indonesia dan Arab Saudi. Meski keduanya menganut agama yang sama tapi masing-masing memiliki kekhasan budaya.

“Islam kita itu ya Islam Indonesia bukan Islam Saudi Arabia, bukan berarti kalau tidak pakai jubah dan sorban Islam kita tidak diterima,” katanya saat membuka Pameran Seni Rupa Nasirun di Bentara Budaya Yogyakarta, Selasa (2/10).

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini berpesan kepada umat Islam di Indonesia untuk meneladani Nabi Muhammad SAW secara tepat. Menurut dia, Nabi termasuk pribadi yang menghargai tradisi setempat dan berperangai menyenangkan.

“Rasulallah SAW memakai jubah, sorban dan berjenggot ya karena tradisi orang Arab seperti itu. Abu Jahal juga berpakaian yang sama, berjenggot pula. Bedanya kalau Rasul wajahnya mesem (sarat senyum). Nah, kalau Abu Jahal wajahnya kereng (pemarah). Silahkan mau pilih yang mana?” katanya disambut gelak tawa hadirin.

“Seandainya, ini seandainya, kalau Rasulullah itu lahir di Texas, mungkin pake jeans,” ujar Gus Mus.

“Makanya Gus Dur, saya, make pakaian sini (Jawa); pake batik,” tambah GusMus, seperti dilansir NU Online.

Menurut Gus Mus, mengenakan batik bisa diartikan sebagai ittiba’ Kanjeng Nabi. Sedangkan mengenakan serban, jubah, berjenggot, bisa juga dikatakan sebagai ittiba’ Abu Jahal. Bukankah Abu Jahal juga mengenakan jubah, serban dan berjenggot?

Perbedaan antara Abu Jahal, Abu Lahab, dengan Kanjeng Nabi adalah air mukanya. Kanjeng Nabi itu wajahnya tersenyum, Abu Jahal wajahnya sangar. Kalau ingin ittiba’  Kanjeng Nabi, pake serban pake jubah, wajah harus tersenyum.

Gus Mus lalu mengisahkan, pada zaman Nabi, kalau ada sahabatnya yang sumpek, mempunyai beban, ketemu Kanjeng Nabi, melihat wajahnya, hilang sumpeknya.

“Sekarang ini, nggak (demikian). Pakaiannya aja yang sama. Kita nggak sumpek, nggak apa, lihat wajahnya malah sumpek,” pungkasnya.

Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh Unesco telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral andIntangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.

Batik memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yangmemiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Saat ini, penggunaan batik kembali dihidupkan di masyarakat Indonesia, dengan menjadikan batik sebagai pakaian dalam acara-acara kenegaraan. Memakai batik juga berarti membantu meningkatkan produktivitas para perajin, yang artinya membantu meningkatkan penghasilan para pekerja, pedagang, dan lainnya, yang terkait dengan industri batik.

sumber:
nu.or.id
liputanislam

Minggu, 08 Maret 2015

Asupan Down Syndrome

Tulisan menarik dari Bu Nunki Suwardi :
-----

“Dok, anak saya penderita Down Syndrome. Umur 12 bulan berat badannya hanya 7 kg. Karena berat badannya kurang, saya konsul ke dokter gizi. Anak saya disuruh makan daging 500 gr harus habis 3 hari. Tiga bulan hanya naik setengah kilo. Periksa lab anak saya didiagnosis ginjalnya RTA atau bocor. Kok bisa ya dok?”, tanya seorang ibu dengan sedih.

Tadi siang suami saya, Dr. Suwardi, menjadi pembicara bagi komunitas Persatuan Orang Tua dengan Anak Down Syndrome. Saya tidak mendengar jawaban suami karena sibuk urusan lain. 

Tapi di perjalanan pulang suami curhat, “Ya ampun anak 12 bulan disuruh makan daging sebanyak itu. Ya jebol lah ginjal tuh anak. Tapi ayah nggak tega ngomong pada si ibu jika dietnya itu penyebab bocor ginjal anaknya. Kasihan nanti jadi kepikiran”.

“Lha emang berapa gram sih maksimum makan daging sehari ?”, tanya saya.

“40 (empat puluh) gram. Itu pun sebaiknya 4-5 hari sekali, bukan tiap hari. Kebayang kan kepayahannya ginjal anak sekecil itu mencerna daging sebanyak itu tiap hari”, jelas suami. “Lagipula, mau tiap hari makan daging sekilo pun tuh anak nggak bakal naik berat badannya”, imbuh suami.

“Lho kok bisa?”, tanya saya bingung.

“Karena anak-anak down syndrome itu kekurangan asetilkolin yang memproduksi hormon pertumbuhan agar berat badannya bisa naik. Jadi mau dimakanin daging berapa pun ya percuma”.

“Lha terus harus makan apa dong biar berat badannya naik?”.

“Makan makanan yang mengandung banyak enzim untuk merangsang hormon pertumbuhan yaitu makanan yang masih fresh yang kurang diolah dengan pemanasan seperti sayur segar, buah-buahan, kacang2an dan ikan. Enzim itu nanti yang merangsang produksi asetilkolin. Kalau daging kan perlu pemanasan tinggi jadi enzim nya semua mati”, jelas suami.

Sambil menunggu lampu merah, mata suami menerawang, “Ayah nggak ngerti cara pikir teman-teman sejawat. Kok nggak mikir ya gimana nanti itu makanan diolah oleh tubuh dan dampaknya ke organ. Kasihan kan si anak sampai jadi korban gitu. Para peserta tadi juga banyak yang bengong dengar penjelasan ayah. Mereka nggak ngerti anak-anak down syndrome itu metabolismenya rentan sehingga sebaiknya menghindari makanan berpengawet, pewarna, tinggi gula dan sintetik seperti chiki-chikian, minuman instan, dan sejenisnya. Harusnya anaknya diberi makanan sealami mungkin agar sehat”.

“Wajar aja kalau nggak ngerti. Lha dietnya saja bisa salah hingga fatal begitu”, hibur saya.

“iya ya. Ayah juga sedih angka penderita down syndrome makin naik”, kata suami.

“Bukannya itu penyakit keturunan atau gara-gara melahirkan di usia resiko?”, tanya saya.

“Down syndrome itu penyakit genetik. Bukan karena melahirkan di umur beresiko atau keturunan. Penyebabnya itu karena gen yang normal berubah jadi rusak sehingga lahir anak-anak down syndrome. Gen itu bisa rusak karena tidak menjaga gaya hidup. Kebiasaan makan Junk Food, minum nggak sehat, merokok, gaya hidup amburadul, stres tinggi. Berapa pun umurnya tapi kalau hidupnya nggak benar ya beresiko melahirkan anak down syndrome”, jelas suami. “Bisa juga selnya normal tapi mengalami gangguan saat zygot bertemu karena tubuh dipenuhi banyak terpapar toksin”.

Hmm... ngeri juga ya, batin saya. Bersyukur saya dikaruniai tiga putri yang cantik-cantik dan cerdas. Padahal saat itu kesadaran saya untuk hidup sehat belum muncul. Makan apa saja yang penting enak dan biasa begadang ngerjain tugas kampus dan kerjaan kantor.

Sebenarnya saya ingin langsung tidur merebahkan badan. Tapi saya tak ingin apa yang saya tahu terlewat untuk dibagi. Mungkin ada teman yang berencana memiliki anak jadi tahu pentingnya menjaga tubuh tetap sehat agar lahir anak yang sehat pula. Mungkin juga ada teman yang memiliki anak, keluarga atau kerabat dengan down syndrome terbantu olehnya.

Semoga bermanfaat dan selamat berakhir pekan.

Salam,
Nunki Suwardi

Pusat Studi & Pendidikan Psikologi Komunikasi Bawah Sadar
Studi integratif bahasa tubuh - tulisan tangan - intuisi - fisiognomi



Rabu, 04 Maret 2015

Yirrkala, Batik Kolaborasi Warga Aborijin dan Pekalongan

Bermotif lukisan kulit pohon yang digambar seniman Aborijin, Yirrkala terinspirasi dari sebuah lagu yang bercerita tentang nenek moyang sang seniman. Batik ini dibuat bekerjasama dengan pembatik tradisional Pekalongan, Jawa Tengah.
----------
Nawurapu Wununmurra melukis Yirrkala di atas kulit kayu pohon 'Bark' karena terinspirasi lagu Yolngu yang menceritakan kisah pelaut Makassar yang selalu berkunjung ke kampungnya, Arnhem Land, di Wilayah Utara Australia. Seniman Aborijin berusia 63 tahun ini diyakini memiliki hubungan nenek moyang dengan orang Makassar.

Batik ini sendiri dibuat berdasarkan lukisan yang diciptakan Nawurapu.
"Batik Yirrkala adalah interpretasi yang tepat atas lukisan sang seniman," ujar Alison Purnell, Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar Australia di Jakarta.

Menurutnya, ide lagu itu dan juga lukisan Nawurapu menggambarkan keterkaitan sejarah antara para pelaut atau pedagang asal Makasar dengan warga Aborijin Australia.

"Sebelum kedatangan Belanda dan Inggris di Indonesia dan sebelum kedatangan Inggris di Australia, sudah ada sejarah panjang antara warga Aborijin Australia dengan pedagang asal Makassar, Sulawesi Selatan," ceritanya kepada Nurina Savitri dari ABC-Australia Plus.

Ia lantas menuturkan, "Di dalam lagu itu, ada penyebutan tentang batu, uang, pisau, rokok, yang menunjukkan bahwa orang-orang Aborijin melakukan hubungan dagang dengan orang-orang dari Makassar."

Tak heran jika motif batik Yirrkala berbentuk segitiga.
"Bentuk segitiga itu menggambarkan kapal layar merah yang dipakai para pedagang Makassar," sebut diplomat Australia berambut pendek tersebut.

Batik Yirrkala bermotif segitiga yang menggambarkan simbol pedagang Makassar.

Batik Yirrkala terbuat dari dua jenis kain, yaitu sutra dan katun. Pembuatannya sendiri adalah hasil kolaborasi antara Pusat Kesenian Yirrkala di Arnhem Land, dengan para pembuat batik tradisional di Pekalongan, Jawa Tengah. Proyek ini merupakan bagian dari Program Seni dan Budaya Kedutaan Besar Australia di Jakarta.

Pembatik Pekalongan-pun dipilih dengan alasan tertentu.
"Kenapa Pekalongan?, karena yang kami pahami, kota itu adalah tempat kelahiran Batik. Karena di sana, para pembuat batiknya masih tradisional," ungkap Atase Alison.

Proyek Batik Yirrkala selesai dikerjakan pada bulan Oktober 2014 dan dipamerkan dalam ajang 'Indonesia Fashion Week' yang baru saja dilangsungkan di Jakarta akhir Februari lalu.

Dubes Australia , Paul Grigson, beserta istri mengunjungi stad batik Yirrkala pada pembukaan 'Indonesia Fashion Week'



















Ke depannya, batik ini akan diberikan ke sejumlah museum di Australia dan juga museum di Indonesia untuk dipajang.

"Tentu saja ini bukan proyek komersial, kami (Kedutaan) membuatnya karena ingin membuat kolaborasi antara seniman Australia dengan pengrajin dari Indonesia. Antara seni Aborijin dengan seniman tradisional Indonesia," kemuka Alison.

Tentang sang pelukis

Nawurapu Wununmurra adalah seniman gaek Aborijin. Selain melukis, ia juga membuat patung, dan beberapa kali menerima penghargaan seni, termasuk 'Telstra National Aboriginal and Islander Art Award' di tahun 1997. Ia pun pernah memamerkan karyanya di 'Moscow Biennale' tahun 2009.
Lukisan Yirrkala yang berjudul asli 'Manda at Gurrumurru' ini diciptakan pada tahun 2011 dan walau dibuat berdasarkan lagu yang bercerita tentang pelaut Makassar yang sering datang ke kampung halaman Nawurapu, uniknya, tokoh dalam kisah ini digambarkan sebagai seekor gurita (Manda).

sumber : Radio Australia

Rabu, 07 Januari 2015

Melihat Dapur Pembuatan Batik di Desa Wisata Batik Babagan

 
Rumah Batik Sekar Kencana

Perjalanan kami kali ini city tour ke Lasem, Rembang. Tak hanya mengenal kebudayaan dan sejarah kota yang dijuluki Tiongkok Kecil, kota di pesisir utara Pulau Jawa ini juga menyediakan wisata belanja.

Tujuan pertama kami adalah mengunjungi Desa Wisata Batik Babagan. Tak sulit menemukan tempat ini. Gapura besar bertuliskan informasi desa wisata ini berdiri megah di sisi selatan jalan utama Pantura. Tak jauh dari gapura ini, berdiri baliho peta wisata yang menunjukkan beberapa pusat batik di Babagan.

Di kawasan ini, kita bisa melihat rumah-rumah tua khas Tiongkok. Mayoritas, milik pengusaha batik. Kami memilih rumah batik Sekar Kencana yang berjarak sekitar 250 meter dari gapura masuk sebagai tujuan pertama.

Sekar Kencana merupakan rumah batik milik Sigit Witjaksono yang juga tokoh Tionghoa. Di rumah ini, Sigit memiliki sekitar 20 pegawai. Mulai pembuat pola, membatik, sampai tenaga pendukung hingga kain batik siap jual. "Saya sendiri yang membuat gambar, selanjutnya pegawai yang membuat pola di kain," ungkap Sigit.

Di usianya yang menginjak 85 tahun, Sigit masih sigap. Dia tak segan menjelaskan dan menunjukkan dapur pembuatan batik. Ada yang tengah Nglengkreng, Nerusi, Ngelir, Nembok, Nglorot, juga menjemur kain. "Tidak ada batik cap di Lasem, semua batik tulis. Dibutuhkan waktu hingga satu bulan untuk menghasilkan satu kain batik. Itu sebabnya, harga batik Lasem mahal," jelasnya.

Sigit menyebut, ada tiga motif batik khas Lasem. Yakni, Latohan, Sekar Jagad, dan Watu Pecah atau Kricak. Latohan merupakan buah dari tanaman yang hidup di tepi laut pesisir utara Pulau Jawa. Sementara Sekar Jagad merupakan kumpulan motif bunga yang terserak.

"Watu Pecah atau Kricak merupakan motif yang terinspirasi dari pembangunan jalan proyek Daendels, Anyer-Panarukan," terang Sigit.

Tak hanya mengandalkan tiga motif batik tersebut. Sigit yang merupakan generasi kedua dari keluarga Njo yang membuat batik membuat terobosan. Dia memadukan motif batik dengan aksara Tiongkok. "Kami ingin membuktikan, batik Lasem memang memadukan budaya Jawa dan Tionghoa seperti sejarahnya," imbuhnya.

Menjemur batik

 Tak puas melihat proses membatik di Babagan, kami melanjutkan perjalanan ke "Purnomo Batik Art and Handicraft" di Jalan Gedungmulyo. Lokasi ini berseberangan jalan dengan Sentra Batik Babagan.

Di tempat ini, kami melihat proses pembuatan batik dan memilih-milih batik yang bisa dijadikan oleh-oleh. "Batik Lasem memiliki warna khas abang getih pitik dan biru. Warna pesisir memang identik terang, itu sebabnya kami menggunakan pewarna kimia. Belum bisa menemukan komposisi pas kalau menggunakan pewarna alam," terang Gustav N Purnomo, pengelola rumah batik tersebut.

Gustav juga tak pelit membagi informasi terkait pembuatan batik. Juga, mengajak kami berjalan-jalan di tempat pembuatan batik. Menurut Gustav, kedatangan Laksamana Cheng Ho di Lasem membuat budaya dan tradisi di Lasem kental akan Tiongkok. "Itu juga mempengaruhi batik. Warna dan motif merupakan perpaduan Jawa dan Tiongkok. Motif burung hong, naga, kura-kura dan kupu kupu kental akan filosofi Tiongkok," jelasnya.

Batik Lasem dibanderl Rp 700.000 hingga lebih dari Rp 1 juta per potong. Anda ingin membawanya sebagai oleh-oleh?

sumber: kompas