Senin, 26 Desember 2011

Antara Nilai Filosofis Batik Tradisional dan Inovasi Batik Modern

Dalam sebuah pementasan wayang nilai filosofis sebuah cerita sebagian besar disampaikan dalam bentuk ujaran dan gerakan . Dalam pelantunan lagu macapat nilai filisofis disampaikan dalam bentuk lirik dan lagu. Dalam sehelai batik tiap goresan canthing adalah lukisan penuh makna dari sang pembatik. Tiap motif adalah simbolisasi dari sebuah peristiwa besar yang dituangkan dalam bentuk gambar.

Batik selama beberapa tahun terakhir seolah-olah mengalami suatu masa reinassance. Pakaian batik yang sebelumnya hanya digunakan pada kesempatan-kesempatan tertentu, sekarang menjadi jamak dikenakan dalam berbagai kesempatan. Para designer dan majalah-majalan mode ramai-ramai mengangkat batik sebagai tema utama sehingga booming fashion batik terjadi.


Kebangkitan luar biasa terjadi dalam industri batik di berbagai daerah . Kota-kota sentra batik seperti Solo, Yogya, Cirebon, Pekalongan, Lasem menjadi begitu hidup seiring bergeliatnya industri batik dalam negri. Modernisasi terhadap berbagai batik pun terus terjadi berbanding lurus dengan meningkatnya permintaan barang dan pesaingan bisnis antar produsen batik. Effeknya inovasi-inovasi terus berkembang dan batik terus dimodifikasi dan dimodernisasi.


Di kota Solo dikenal dua jenis batik, yang pertama batik kratonan dan batik saudagaran. Batik Saudagaran adalah batik yang diproduksi oleh para pengusaha batik, misalnya di daerah kauman dan laweyan. Batik yang diperdagangkan bebas dan dipakai oleh orang kebanyakan termasuk dalam batik jenis ini. Yang kedua batik larangan, adalah batik yang hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan dalam acara-acara tertentu. Keberadaan batik ini tertutup karena hanya boleh dikenakan oleh kalangan tertentu dalam Keraton. 



Adapun batik yang sekarang beredar luas dan dianggap merupakan motif larangan sebenarnya belum tentu merupakan batik larangan yang sesungguhnya, karena yang benar-benar mengetahui tentang batik larangan hanyalah keluarga Raja, jelas Quintanova.

Berkenaan dengan nilai filosofis batik asal Surakarta Drs. Sabar Narimo menjelaskan lebih lanjut tentang hal tersebut.


Gagrag Surakarta Hadiningrat adalah sebutan motif batik asal Kraton Surakarta Hadiningrat. Terdapat sekitar 317 motif yang berasal dari wilayah Kraton Surakarta, itu belum termasuk motif batik pada kain jarit yang saat ini banyak diangkat untuk batik-batik modern.


Sebelum menciptakan sebuah motif batik, sang pembuat batik menjalani proses yang dinamakan lelaku dimana ia merenungi suatu peristiwa dan mengamati keadaan sekitarnya. Hal itu yang menyebabkan tiap lekuk motif batik dan tiap goresan canthing memiliki makna mendalam jika dibedah. Nilai filosofis batik tidak hanya terdapat pada latar belakang sejarah penciptaan suatu motif semata. Nilai pendidikan batik juga tercermin dari cara pemakaian dan waktu pemakaian.

Motif batik memiliki nilai eksklusifitas yang berbeda-beda artinya tidak semua orag dapat menggunakan suatu motif batik. Batik larangan adalah sebutan bagi batik yang hanya boleh digunakan oleh keluarga Raja atau bangsawan. Lereng atau Parang adalah salah satu contoh motif larangan.

Berikut adalah beberapa motif batik dan penjelasan singkatnya:
1. Batik Parang atau lereng menurut pakem nya hanya boleh digunakan oleh sentono dalem ( anak dari ratu). Lereng berasal dari kata mereng (lereng bukit). Sejarah motif ini diawali ketika terjadi pelarian keluarga kerajaan dari Kraton Kartasura. Para keluarga Raja terpaksa bersembunyi di daerah pegunungan agar terhindar dari bahaya.




2. Jenis batik Truntum dipakai saat seseorang menggelar pesta hajatan. Motif truntum sendiri ditemukan oleh Istri dari Pakubuwana V. Saat itu beliau sedang menjalani hukuman karena melanggar peraturan kerajaan. Pada suatu malam beliau merenung dan memandangi langit berbintang yang ada di angkasa kemudian beliau menuangkan apa yang dia lihat dengan chanthing sehingga menjadi motif batik truntum.




3. Batik Sido Mukti dipakai oleh pasangan pengantin. Sida mukti sendiri melambangakan sebuah harapan, jadi seketika sepasang pengantin menggunakan kain sidamukti maka muncul keinginan untuk mencapai kehidupan baru yang berhasil atau dalam bahasa jawa disebut mukti.




4. Batik Sido Drajad dipakai oleh besan ketika upacara pernikahan.



Cara pemakaian batik juga memiliki nilai pendidikan tersendiri, berikut adalah beberapa uraian dari cara pemakaian kain batik.

Bagi anak-anak batik dipakai dengan cara sabuk wolo. Pemakaian jenis ini memungkinkan anak-anak untuk bergerak bebas. Secara filosofis pemakaian sabuk wolo diartikan bebas moral, sesuai dengan jiwa anak-anak yang masih bebas dan belum dewasa dan belum memiliki tanggungjawab moral di dalam masyarakat.


Ketika beranjak remaja maka seseorang tidak lagi mengenakan batik dengan cara sabuk wolo melainkan dengan jarit. Panjang jarit yang dipakai memiliki arti tersendiri. Seamakin pajang jarit maka semakin tinggi derajad seseorang dalam masyarakat. Semakin pendek jarit maka semakin rendah pula strata sosial orang tersebut dalam masyarakat.


Bagi dewasa pemakaian batik memiliki pakem tersendiri antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki wiru diletakkan di sebelah kiri. Sedangkan pada wanita wiru diletakkan di sebelah kanan, yang berarti nengeni. Artinya seorang putri tidak boleh melanggar kehendak suami.


Batik Modern


Mungkin selama ini masyarakat masih rancu dengan apa yang disebut dengan batik modern. Quintanova, salah satu pengamat batik sekaligus panitia SBC, menjelaskan istilah modern dalam konteks batik dapat dilihat dari beberapa segi:


Yang pertama modern dalam arti motif dan yang kedua modern dalam teknis pembuatan. Contoh modernisasi motif diantaranya memadukan dua motif batik dalam satu kain misalnya perpaduan antara lereng dengan kawung menjadi motif lereng-kawung. Batik kontemporer bahkan mengaplikasikan motif-motif modern atau bahkan abstrak dalam kain yang diproses dengan teknis pembuatan batik.


Modern yang kedua adalah dalam hal teknis. Batik printing adalah salah satu bentuk modenisasi teknis pembuatan batik. Namun istilah batik printing yang dikenal masyarakat sebenarnya bukan termasuk batik karena tidak melalui tahapan pembuatan batik. Proses pembuatan batik secara singkat harus melalui beberapa tahap, penggambaran motif, pelapisan dengan malam, pewarnaan, dan terakhir proses lorot (penghilangan malam). Tanpa proses tersebut sebuah kain tidak bisa dikatakan batik tetapi hanya tekstil yang bermotif batik. 



Inovasi lain dalam hal teknis pembuatan adalah dengan printing malam seperti yang dilakukan di Desa Wisata Batik Kliwonan dimana malam yang panas dicetak pada sebuah kain secara massal. Dengan proses ini dimungkinkan membuat batik dengan jumlah besar dan dalam waktu singkat tetapi tidak menyimpang dari aturan proses pembuatan batik.

Perlu Inovasi agar batik bisa bertahan


Hal ini senada dengan yang diungkapkan Arifatul Uliana, putri Solo tahun2009, batik modern merupakan usaha agar batik lebih memasyarakat. Demi menjangkau konsumen kaum muda batik yang modern keberadaan batik modern memang sangat perlu. Dengan motif yang bervariasi maka kaum muda tidak lagi enggan menggenakan kain batik dan perlahan-lahan stereotype batik sebagai pakain untuk yang lebih “senior” bisa terkikis. 



Menurut Uli pakem filosofis batik tidak harus dikorbakan walaupun proses modernisasi terus terjadi. Nilai filosofis batik bisa dipertahankan dengan menciptakan motif baru dengan pakem-pakem yang sudah ada. Tanpa variasi dan modernisasi batik akan terkesan monoton, dan tidak bisa bertahan membudaya sampai saat ini.

Edukasi Pertahankan Nilai Filosofis Batik


Para pencipta motif batik baru perlu lebih berhati-hati dalam menuangkan kreasinya, paling tidak seorang creator motif batik memiliki pengetahuan dan literature tentang batik-batik terdahulu. Agar motif batik yang diciptakan tidak menyalahi aturan dan pakem yang telah ada.

Batik yang saat ini menjadi trend mode sesunguhnya adalah suatu modal untuk memperkenalkan sejarah dan filosofis batik pada masyarakat. Edukasi budaya diperlukan agar ketika seseorang mengenakan batik dia tidak hanya mengenakannya dengan alasan trend fashion semata tetapi dengan diiringi kesadaran bahwa batik adalah warisan budaya yang patut untuk dilestarikan.

Upaya edukasi nilai filosofis batik dapat dilakukan dengan membawa batik ke sekolah baik dalam bentuk pelajaran intrakulikuler ataupun ekstrakulikuler. Dengan upaya tersebut generasi muda khususnya pelajar menjadi mengenal batik secara lebih mendalam. Sehingga di masa depan batik tetap berjaya. Pameran batik yang digelar perlu lebih menekankan pada pengenalan nilai sejarah batik, tidak hanya pengenalan sekilas tentang kain batik saja tanpa ada tidak lanjut yang lebih mendalam.

Jangan sampai aset budaya yang tak ternilai harganya hilang bersama hilangnya kepedulian kita untuk nguri-uri budaya sendiri.Dengan usaha-usaha tersebut booming trend batik tidak akan luntur seiring bergantinya trend busana.



sumber: vitoz89

Kamis, 24 November 2011

Batik Penghias Kota

Lain padang, lain belalang. Ungkapan itu sangat tepat menyimpulkann cara masyarakat di daerah penghasil batik menunjukkan kebanggan terhadap batik khas hasil daerahnya masing-masing.


Pekalongan

Masyarakat di kota pesisiran ini mengaplikasikan motif batik nyaris di seluruh kota. Tembok pembatas halaman, hingga becak. Segera semua terlihat jelas ketika kita memasuki kota.


Madura

Warna-warna terang dan pola kontemporer batik Madura nyaris berhamburan di seluruh kota besar madura. Dinding bangunan, tembok pembatas, dan gapura menjadi sarana mengimplementasi motif batik khas daerah ini.



Solo

Tergolong sebagai kota besar di Pulau Jawa, pemerintah Solo sangat menyadari potensi budaya yang dimiliki daerah ini. Alih-alih membiarkan masyarakat menghiasi kota dengan graffiti bermotif batik, pemerintah mengolah motif batik menjadi elemen penghias kota. Motif Kawung dijadikan penghias tempat sampah dan canting distilir menjadi lampu kota. Indah bukan...

sumber: batikcintaku


Rabu, 16 November 2011

Makna Di Balik Motif Batik Solo


Batik Solo mengeluarkan aura megah dan kesan anggun. Tidak semata-mata karena paduan warna dan lekuk motifnya, melainkan makna yang terkandung di balik setiap motif itu.

Dalam sejarah, hanya di wilayah Jawa, tepatnya di Solo dan Jogjakarta, batik masuk ke ranah kekuasaan. Motif-motif batik khusus dibuat untuk raja dan kalangan keraton.

Selain motif, warna soga (kecoklatan) yang menjadi ciri khas batik Solo, dan kemudian disebut sebagai batik Sogan ini, memiliki arti “kerendahan hati, bersahaja” menandakan kedekatan dengan bumi, alam, yang secara sosial bermakna dekat dengan rakyat.

Di antara beragam motif yang ada, ditemukan lima motif khas batik Solo, yang menarik untuk diperhatikan.


Sido Asih 

Motif geometris berpola dasar bentuk-bentuk segi empat ini memiliki arti keluhuran. Saat mengenakan kain Sido Asih, berarti seseorang mengharapkan kebahagiaan hidup. Motif ini dikembangkan setelah masa pemerintahan SISKS (Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan) Pakoe Boewono IV di keraton Surakarta.

Ratu Ratih

Nama motif ini diambil dari kata "Ratu Patih" yang berarti seorang raja yang memerintah didampingi oleh perdana menterinya, karena usia yang masih sangat muda. Motif batik yang menggambarkan kemuliaan, dan hubungan penggunanya dengan alam sekitar ini, mulai dibuat pada masa pemerintahan SISKS Pakoe Boewono VI di tahun 1824

                           
Parang Kusumo

Parang adalah motif diagonal, berupa garis berlekuk-lekuk dari sisi atas ke sisi bawah kain. Sedangkan Kusumo berarti bunga. Motif Parang Kusuma ini menjelaskan penggunanya memiliki darah raja (keturunan raja) atau disebut sebagai Darah Dalem. Motif batik ini berkembang pada masa pemerintahan Ingkang Panembahan Senopati di Kerajaan Mataram pada abad ke-16.

                          
Bokor Kencono

Sebuah motif geometris berpola dasar berbentuk lung-lungan yang mempunyai makna harapan dan keagungan, kewibawaan. Motif ini untuk pertama kalinya dibuat untuk dikenakan PB XI.

Sekar Jagad

Sekar berarti bunga dan Jagad adalah dunia. Paduan kata yang tercermin dari nama motif ini adalah “kumpulan bunga sedunia”. Motif ini merupakan perulangan geometris dengan cara ceplok (dipasangkan bersisian), yang mengandung arti keindahan dan keluhuran kehidupan di dunia. Motif ini mulai berkembang sejak abad ke-18.

sumber: batikcintaku

Rabu, 05 Oktober 2011

Sabun untuk Merawat Batik

Bagaimana agar busana batik anda tetap berwarna prima dan tidak kusam untuk waktu yang lama?
Tentu saja jawabannya adalah pada perawatannya. Dan perawatan terpenting pada pakaian adalah bagaimana cara mencucinya, sabun apa yang dipergunakan, dan bagaimana cara pengeringannya pasca dicuci.




Untuk pakaian batik sangat dianjurkan TIDAK menggunakan deterjen ketika mencuci. Deterjen tidak cocok untuk baju batik dan baju-baju bagus yang lain. Disamping itu deterjen juga merusak lingkungan karena mengandung bahan kimia seperti fosfat, silikat, dan pewarna yang berbahaya bagi kelestarian air.



Supaya pakaian batik tetap awet, tidak kusam, dan tahan lama kami perkenalkan Sabun Perawatan Batik NOC.. Sabun ini memakai Sapindus Rarak de Candole atau populer dengan sebutan Lerak alias Lamuran sebagai bahan baku. Lerak adalah pohon dengan kualitas kayu yang setara dengan kayu jati dan banyak tumbuh di pulau Jawa dan Sumatra.

Biji pohon Lerak mengandung Saponin yang menghasilkan busa dan berfungsi sebagai bahan pencuci dan pembersih.



Sabun Lerak tak hanya ramah lingkungan, tapi juga ampuh membersihkan kotoran dan mengawetkan warna pakaian. Sabun Lerak paling cocok untuk mencuci kain batik guna menjaga kualitas warna dan kain. Sabun Lerak juga sangat bagus dipakai untuk mencuci kain berwarna non batik agar tidak mudah kusam. Sabun lerak NOC berbentuk cair sehingga sangat mudah dan praktis penggunaannya.


Untuk info lebih lanjut silahkan kontak 0815 8940 350
Harga eceran Rp 20.000, isi: 250 ml
Untuk reseller kami beri diskon 31,25 %.

Selasa, 09 Agustus 2011

Pemrov NTB Patenkan Batik Sasambo

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat akan segera mempatenkan batik khas suku Sasak Samawa dan Mbojo, yang biasa disingkat SaSaMbo, agar tidak diakui pihak lain.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Nusa Tenggara Barat, Lalu Imam Maliki, di Mataram, Senin, mengatakan, pihaknya segera mengurus hak paten batik SaSaMbo untuk menangkal peredaran batik SaSaMbo tiruan atau kemungkinan adanya produksi dari luar NTB.

"Seperti yang diinginkan gubernur, seluruh satuan kerja perangkat daerah di lingkup Pemerintah Provinsi NTB wajib menggunakan batik SaSaMbo produksi lokal. Kalau pakai produksi luar sama saja dengan membuat orang lain kaya," ujarnya.

Imam belum mengetahui secara pasti peredaran batik SaSaMbo yang diproduksi di luar daerah.

Namun, kata dia, apabila ada daerah lain yang memproduksi batik SaSaMbo, maka NTB dapat dikatakan kecolongan.

Salah satu aset yang baru saja digagas dan menjadi ciri khas NTB ini patut dijaga dengan baik karena bertujuan untuk mengangkat pendapatan masyarakat di daerah.

Maliki mengatakan, pihaknya sudah mendapat banyak masukan untuk mendaftarkan hak paten batik SaSaMbo di Kementerian Hukum dan HAM.

Untuk mewujudkannya, kata dia, pihaknya masih harus mencari satu desain pakem yang merupakan identitas dari SaSaMbo.

"Itu yang masih kami diskusikan, memang sampai sekarang, batik SaSaMbo masih belum punya ciri khas baik dari motif maupun desain yang khas. Seperti batik Keris dari Yogyakarta," ujarnya.

Menurut dia, untuk memutuskan motif dan desain pakem yang akan didaftarkan hak patennya tidak gampang karena apa yang tergambar dalam motif dan desain tersebut merupakan representasi dari tiga etnis yang ada di NTB yaitu Sasak (nama suku di Pulau Lombok) dan Samawa serta Mbojo (nama suku di Pulau Sumbawa).



Oleh sebab itu, kata dia, upaya mempatenkan batik SaSaMbo membutuhkan waktu relatif lama karena harus mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat, seniman, budayawan untuk dimintai pendapatnya soal motif dan desain yang benar-benar sesuai dengan harapan seluruh masyarakat NTB.

"Motif batik harus mencerminkan nilai-nilai budaya. Makanya, kami perlu mendengar masukan dari berbagai kalangan," ujarnya.



sumber: Republika

Gerakan Shalat yang Benar Ternyata Menyehatkan

9 Ramadhan 1432 H

Ibadah shalat, pada hakekatnya terdiri dari tiga unsur. Yakni, gerakan shalat, bacaan doa, dan kekhusyukan hati menjalankan ibadah shalat yang ditandai pemahaman arti doa atau ayat suci yang diucapkan. Ketiga unsur tersebut, menjadi satu rangkaian yang tak bisa dipisahkan dalam menjalankan ibadah shalat.
 Namun dari ketiga unsur yang terdapat dalam shalat tersebut, unsur gerakan ternyata tak hanya memiliki makna sebagai gerakan ibadah. Staf pengajar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr Sagiran Mkes SpB, telah melakukan serangkaian penelitian mengenai masalah gerakan shalat. Hasilnya, ternyata setiap tahapan yang berlangsung dalam ibadah shalat, memberi manfaat kesehatan bagi orang yang melaksanakannya.
''Tapi tentunya bila setiap tahapan gerakan ibadah shalat yang dilaksanakan, sesuai dengan tuntunannya. Kalau tidak sesuai, saya tidak tahu apakah ada manfaatnya atau tidak, karena saya tidak meneliti gerakan shalat yang tidak sesuai dengan tuntunan,'' kata penulis buku ' Mukjizat Gerakan Shalat', saat tampil sebagai pembicara seminar di Masjid Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Purwokerto, Ahad (7/8). 
Seminar yang diselenggarakan sebagai rangkaian kegiatan keagamaan di Bulan Suci Ramadhan ini, diselenggarakan oleh DDII Kabupaten Banyumas, LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, dan Majelis Dhuhaa Banyumas.
''Saya menguraikan manfaat dari gerakan shalat, bukan berarti menganjurkan orang melaksanakan shalat agar menjadi sehat. Bukan seperti itu. Shalat ada tetap merupakan kewajiban ibadah seorang muslim yang harus dilaksanakan. Saya hanya hendak mengungkapkan bahwa gerakan shalat, secara tidak langsung memiliki makna kesehatan bagi orang yang melaksanakannya,'' kata dr Sagiran Mkes SpB, staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Sagiran menyebutkan, sejak awal shalat yang ditandai dengan 'Takbiratul Ihram' hingga 'Salam' yang mengahiri rangkaian ibadah shalat, seluruhnya merupakan memiliki rangkaian gerakan ibadah yang memberi manfaat bagi kesehatan.
Dalam Takbiratul Ihram yang ditandai dengan mengangkat kedua telapak tangan hingga keduanya sejajar dengan telinga kanan-kiri, memberi manfaat kesehatan pada organ tubuh paru-paru, sekat ringga dada dan kelenjar getah bening. 
Menurut Sagiran, saat tangan terangkat maka rusuk akan ikut terangkat sehingga menimbulkan pelebaran rongga dada. Pada saat itu, mestinya udara nafas akan masuk. Tapi bersamaan dengan itu, orang yang akan memulai shalat ternyata harus mengucapkan Allahu Akbar, sehingga memaksa udara harus mengalir keluar. Hal ini menyebabkan sekat rongga dada (diafragma) menjadi terlatih.

Selain itu, ketika tangan terangkat maka ketiak pun akan terbuka. Padahal ketiak merupakan induk atau stasiun dari peredaran kelenjar getah bening (limfe) di seluruh tubuh. Dengan gerakan takbir yang berulang-ulang dalam gerakan shalat, maka secara tidak langsung melakukan active pumping kelenjar getah bening ke seluruh tubuh. 
Setelah takbiratul ihram, maka kemudian kedua telapak tangan akan diletakkan di atas dada. Bukan diletakkan di perut. Dengan meletakkan kedua telapak tangan di atas dada, maka bahu kanan-kiri otomatis akan terangkat dan ketiak sebagai stasiun peredaran limfe akan tetap terbuka. 
Dalam gerakan ruku, yang benar posisi punggung, leher dan kepala harus membentuk haris horisontal. Dengan posisi ini, berat badan bergeser ke depan, sehingga terjadi relaksasi atau peregangan ruas tulang belakang. Relaksasi ini sangat bermanfaat untuk memelihara tulang belakang yang selalu terkompresi. 
''Tapi adanya relaksasi ruas tulang belakang ini hanya dialami bagi orang yang melaksanakan ruku dalam waktu yang cukup. Bagi orang yang shalatnya dilaksanakan dengan buru-buru, manfaatnya mungkin tidak akan terlalu terasa,'' kata dr Sagiran.
Dalam gerakan sujud, memberi manfaat bagi daya tahan pembuluh darah di otak. Menurutnya, posisi kepala yang lebih rendah dari jangtung, menyebabkan darah menumpul di pembuluh darah otak. Hal ini secara tidak langsung melatih pembuluh darah di otak seorang muslim, agar tidak mudah terserang stroke. ''Jadi bisa dikatakan, gerakan sujud ini merupakan gerakan anti stroke,'' katanya.
Kemudian, gerakan duduk di antara dua sujud, ternyata memperkuat jantung berikut sistem sirkulasi darah di seluruh bagian tubuh. Sagiran mengaku, saat seorang muslim yang melaksanakan ibadah shalat berada dalam posisi duduk di antara dua sujud, ternyata aliran darah seseorang tidak akan sampai ke bagian kedua kaki bagian bawah. 
''Saat saya ukur, saturasi darah pada jari kaki orang yang sedang duduk di antara kedua sujud, ternyata nol. Denyut nadi tidak terasa sama sekali, saat orang dalam posisi duduk seperti ini,'' jelasnya.
Hal ini ternyata secara tidak langsung melatih jantung berikut urat-urat nadi seseorang. ''Seperti air kran yang mengalir melalui selang, bila selang secara berulang-ulang dipencet-dibuka berulang-ulang, secara tidak langsung hal ini akan membuat selang menjadi lebih elastis, sekaligus membersihkan kotoran yang terdapat dalam selang,'' katanya.
Terakhir, gerakan salam yang ditandai dengan menolah ke kanan dan ke kiri hingga kedua pipi terlihat oleh orang yang berada di belakangnya, ternyata menimbulkan relaksasi pada otot dan tulang leher. Di leher, terdapat banyak sekali jaringan sistem syaraf dan juga pembuluh darah yang menghubungkan kepala dan baguan badan. ''Gerakan salam ini, secara tidak langsung akan menghindarkan seseorang untuk mengalami ganggian syaraf,'' jelasnya. 
sumber: Republika

Kamis, 14 Juli 2011

Batik: Definisi dan Sejarahnya

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. 

Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.

Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik".

Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan ditemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok  semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India  dan Jepang  semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba  di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal. 


Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa teknik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7.


Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuno membuat batik.

G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.


Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.

Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa. Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.

Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.


Kamis, 23 Juni 2011

Batik Badminton

Pertandingan bulutangkis kelas dunia, Djarum Indonesia Open (DIO) 2011, menjadi ajang bagi desainer Oscar Lawalata untuk memperkenalkan rancangan pakaian tradisional khas Indonesia bagi atlet olahraga tersebut. Pada tahun ini, para peserta  mendapatkan "traditional experience". Jika tahun lalu peserta diberikan pelajaran dan kesempatan untuk membatik, tahun ini mereka akan mengenakan baju batik rancangan Oscar Lawalata, salah satu designer kenamaan Indonesia.

"Saya membuat sepuluh potong baju, masing-masing lima untuk perempuan dan laki-laki," ujar Oscar yang ditemui dalam acara jamuan makan tersebut, Selasa malam.

Ia mengatakan, tema rancangan yang menggunakan bahan batik Kudus tersebut bukan hanya elegan dan sporty, tetapi juga simpel, kasual namun tetap tampil beda.

"Saya melakukan riset dulu mengenai fisik calon pemakainya," kata saudara kandung artis Mario Lawalata yang mengaku mendapat permintaan untuk merancang busana tersebut sekitar satu setengah bulan lalu.

"Sebagai tuan rumah, tentu kami ingin menjamu dengan baik semua peserta yang telah jauh-jauh datang ke negara kita. Selain itu, kami ingin mereka mengetahui sedikit tentang budaya Indonesia, untuk itulah kami membalut nuansa welcome dinner yang biasanya berkesan western menjadi khas Indonesia," ujar perwakilan PT Djarum, Roland Halim.

Oscar adalah seorang designer yang kerap menggunakan kain-kain khas Indonesia dalam karyanya. Dengan ratusan klien, dan menjadi salah satu designer tersukses di Tanah Air, Oscar pun tercatat pernah mengadakan fashion show batik di Amerika Serikat pada 2009, kemudian pada 2010 dia mengeluarkan koleksi busana rancangannya dengan bahan dasar tenun ikat. Untuk para atlet DIO kali ini, Oscar menggunakan batik Kudus sebagai bahan dasar rancangannya.


Beberapa atlet yang tampak mengenakan batik pada malam itu adalah Taufik Hidayat, Lee Chong Wei, Peter Gade, Tine Baun, Lindaweni Fanetri dan Maria Febe Kusumastuti.

Selain itu, Peter Gade dan Tine Baun sempat mencoba membuat shuttlecock. "Saya mungkin baru bisa menyelesaikannya dalam tiga jam," kata Peter.


sumber: bisniscom, antaranews
foto: kaskus.com

Senin, 06 Juni 2011

Citraan Batik dari Cakrawala


Pelukis asal Inggris mengabadikan lanskap Jawa dan Bali dengan teknik melukis dan teknik batik.
-----------

Langit itu bak menyemburkan awan hitam. Terasa ada gerak yang kuat memutar pada awan itu, seperti didera kekuatan angin. Warna kelam kontras dengan cahaya benderang putih dan kemerahan yang makin menghasilkan kesan energi yang bergelora. Di bagian bawah, ada hamparan citraan surealistik. Sejumlah alur berbentuk garis zigzag menampilkan refleksi gelora awan hitam di cakrawala, dan alur yang berhiaskan garis-garis yang mirip pola hias batik.

Adalah Sandy Infield yang melukiskan gelora awan hitam itu di atas kanvas dengan teknik batik dan lukisan. Dia memberi judul dua karya yang mirip Pools in Reflect Mount Merapi Eruption. Seniman asal Inggris ini terinspirasi dari pemandangan Gunung Merapi dari udara menjelang pendaratan di Bandara Adisutjipto. Dia memamerkan 39 karyanya di Sangkring Art Space Yogyakarta bertajuk �Patterns of Belonging: Homage to Java�, 22 Mei-6 Juni.

Berbekal naptol dan cat akrilik, Sandy merespons hamparan pegunungan dengan motif batik. Garis-garis dekoratif berupa paduan dua segitiga yang saling mengisi, seperti biasa ditemui di tepian kain batik, dilukis untuk memetakan hamparan sawah dan pegunungan. 


Model yang sama juga dijumpai dalam karyanya yang lain. Tengger Masif 2, misalnya, atau Mount Agung Landscape dan Mount Agung Leaving Bali. Masing-masing lukisan itu dibuatnya pada tahun yang sama, 2010. Cokelat dan gelap warna gunung berpadu dengan biru lautan, dikombinasikan dengan garis dekoratif batik yang menjadi hamparan daratan. �Semua karya Sandy dibuat di Bali,� kata kurator pameran, Kadek Krishna Adidharma, kepada Tempo kemarin.

Bermula pada 2009, Sandy datang ke Yogyakarta untuk belajar bahasa Indonesia. Seniman alumnus Slade School of Fine Art, Inggris, ini berangkat dari Bali menggunakan pesawat terbang. Di atas udara, menjelang mendarat, dia begitu terpesona oleh pemandangan di bawah. Di Yogyakarta, dia banyak berkenalan dengan pembatik, dan menyerap teknik membatik. Sebagai seniman visual, motif batik dan cara pembatik bekerja itulah yang lantas mendorongnya mengkombinasikan dengan lukisannya.


Sandy melukis dengan memunculkan gambar serta mengkombinasikan dengan teknik pencelupan warna seperti pada membatik. �Ekspresinya (karya yang dihasilkan) abstrak,� kata Kadek. Dari pengalamannya berkenalan dengan teknik membatik, Sandy menemukan ada satu keterkaitan antara motif batik dan pemandangan (landscape) alam di Jawa. Hamparan petak-petak sawah, gunung, dan awan yang berarak tak beraturan adalah inspirasi motif-motif batiknya.

Citraan yang berbeda pernah dihasilkan Linda Kaun, pelukis asal Amerika Serikat, yang menggunakan teknik batik menghasilkan citraan realis.

sumber: Koran Tempo

Sabtu, 04 Juni 2011

Batik Gentongan Menyiasati Zaman

Tarimah (70) membawa selembar kain batik yang sudah selesai diberi malam. Badannya yang bungkuk berjalan pelan-pelan menyusuri lorong kecil di samping rumahnya. Langkah kakinya terdengar berat menapak.

Melalui lorong tadi, Tarimah menuju ke bagian depan rumahnya yang berada di Desa Paseseh, Kabupaten Bangkalan, Madura. Di situ terdapat bilik kecil berukuran sekitar 2 meter x 1,5 meter persegi yang terbuat dari tripleks tanpa jendela. Begitu pintu dibuka, secercah cahaya menerangi ruangan.

Tarimah masuk ke dalam bilik lalu mulai mencelupkan kain yang dibawanya ke dalam sebuah gentong kecil terbuat dari batu kali. Gentong itu usianya sudah lebih dari 100 tahun, jauh lebih tua dari usia Tarimah sendiri. Menurut Mahrufah (35), anak Tarimah, gentong itu peninggalan nenek Tarimah.

Paseseh adalah salah satu desa di Kecamatan Tanjungbumi, Bangkalan. Sejak lama masyarakat Tanjungbumi secara turun temurun menjadi pembatik yang proses pewarnaannya menggunakan gentong batu.

Menurut Muhammad Saad Asjari, budayawan asal Bangkalan, gentong batu sudah digunakan masyarakat Tanjungbumi untuk proses pewarnaan batik sejak abad ke-17. Teknik pewarnaan dengan cara mencelupkan kain yang sudah diberi malam ke dalam gentong membuat batik Tanjungbumi dikenal dengan nama batik gentongan.

Selain Paseseh, ada dua desa lain yang sampai sekarang masih membuat batik gentongan, yaitu Tanjungbumi dan Bandangdaja. Di ketiga desa itu hanya tinggal beberapa orang yang menguasai teknik gentongan. Mereka sudah tua dan kemudian mewariskan keterampilannya kepada anak-anaknya.

”Biasanya yang bisa memberi pewarnaan dengan gentong ya hanya keturunan mereka saja. Jarang sekali keahlian itu diwariskan kepada orang di luar garis keturunannya,” kata Maemunah, perajin batik gentongan yang kini memiliki galeri batik Pesona Madura.

Kearifan


Dari serangkaian panjang pembuatan batik di Tanjungbumi, pewarnaan menggunakan gentong merupakan proses paling penting dan sulit. Diperlukan ketekunan, ketelitian, serta keahlian meramu bahan-bahan pewarna alami, seperti kulit mengkudu, kulit mundu, kulit buah jalawe, kayu jambal, kayu jirek, dan lain sebagainya.

Pewarnaan dengan gentongan memerlukan waktu panjang, yaitu minimal enam bulan untuk satu kain batik. Selama itu pula, seorang pembatik harus berulang kali mencelupkan kain batik ke dalam gentongan lalu mengangin-anginkan di pekarangan rumah.

Batik Tulis Gentongan Motif Kucing Merindu
Proses gentongan ini sarat dengan mitos. Masyarakat setempat percaya bahwa sebelum proses pewarnaan dilakukan, mereka harus membuat ritual kecil agar proses pewarnaan berhasil dilakukan.

Proses pewarnaan gentongan harus dihentikan selama satu minggu bila ada warga desa yang meninggal. ”Dari mitos itu terlihat bagaimana hubungan sosial masyarakat Madura yang penuh dengan toleransi. Ketika ada tetangga yang meninggal, pembatik tidak egois menyelesaikan pekerjaannya meski diburu target pesanan. Mereka ikut serta membantu tetangga yang berdukacita,” kata Asjari.

Sempat meredup 

Batik gentongan sempat tergerus zaman. Karena proses pengerjaannya yang panjang—selembar kain bisa selesai hingga 15 bulan—membuat perajin batik gentongan memilih membuat batik dengan warna kimia yang lebih cepat mendatangkan uang.

Namun, sekitar tahun 2000, saat batik menjadi tren lagi di negeri ini, batik gentongan kembali dicari orang. Pamor batik ini mulai naik ketika beberapa perajin yang masih setia membuat batik gentongan mengikuti berbagai kegiatan pameran di Jakarta.

Dari situ batik gentongan dicari nyonya-nyonya yang tinggal di rumah gedongan. Menurut Mahrufah, pada tahun 2000 harga satu lembar batik gentongan masih Rp 900.000 hingga Rp 1,5 juta. Sekarang harga batik gentongan bisa mencapai Rp 6 juta per lembar.

Batik dari Tanjungbumi ini mengisi ruang-ruang pameran di hotel berbintang lima, gedung pameran yang sewanya dipatok dollar, atau dipamerkan di komunitas masyarakat asing.

Oleh desainer Edward Hutabarat, yang memopulerkan kembali batik di kalangan anak muda, batik gentongan dibawa ke Jepang. Ia merancang beberapa baju dan kimono untuk kalangan atas di Jepang.

Bagaimana gentongan bisa menyiasati zaman? ”Butuh perubahan dan penyesuaian motif,” kata perancang yang akrab disapa Edo ini. Agar gentongan bisa go international, Edo tetap mempertahankan motif yang biasa digambar orang Madura, seperti sulur-suluran atau motif hewan. Hanya saja, ukuran motif diperkecil dan detail isian dikurangi karena pasar luar negeri kurang suka dengan motif yang terlalu ramai.

Bulan April lalu, Edo bersama produsen Attack Batik Cleaner mengunjungi sentra batik gentongan di Paseseh. Mereka juga berkunjung ke sentra pembuatan batik Madura lain di Pamekasan.

Batik gentongan punya keistimewaan pada warna yang semakin cemerlang bila semakin tua usia batiknya. Selain itu, ada 50 motif batik khas gentongan yang berkembang di Madura. ”Motif tadi menggambarkan karakter demografis, adat istiadat, dan tradisi,” kata Maemunah.

Di Desa Paseseh, Tarimah mewariskan keahlian membuat batik gentongan kepada anaknya, Mahrufah. Namun, kini Mahrufah resah karena hingga berusia 40 tahun lebih ia belum punya ahli waris yang menguasai teknik pewarnaan gentongan.

sumber: kompas
foto: batik gentongan

Selasa, 24 Mei 2011

Batik Harus Punya Cerita

Menciptakan sebuah batik yang memiliki nilai tinggi memang tidak mudah. Pasalnya, si pembatiknya harus dimodali ilmu spiritual dan kemampuan visualisasi.

Pendapat itu dilontarkan desainer kondang Iwan Tirta, di sela-sela pagelaran busana Himpunan Ratna Busana di Cascade Lounge Hotel Mulia Jakarta, akhir Maret 2008. Menurut pemilik nama lengkap Nusjirwan Tirtaamidjaja, batik itu jangan bagus hanya dari tampilannya saja, tetapi juga harus ada isinya atau punya cerita.

"Kalau mau tahu batik itu bagus atau tidak, bisa kita lihat dalam jarak tiga sampai empat meter. Kita lihat pengulangan warna ataupun motif yang tertera pada material bahannya," kata Iwan kepada okezone.

Selama proses mencipta batik, Iwan mengaku pikiran harus dikosongkan. Karena kalau pikiran ke mana-mana lantas membatik, hasilnya pasti tidak sesuai harapan.

Saat mau membatik pun Iwan selalu menetapkan waktu khusus, pagi atau malam. Alasannya pun sederhana, dirinya tidak mau diganggu oleh orang lain. "Pikiran harus kosentrasi," ujar lulusan School of Economic's, London dan School of Oriental and African Studies itu pendek.

Untuk menyelesaikan satu lembaran kain batik, Iwan bisa menghabiskan waktu dua sampai tiga bulan. Ukuran kainnya pun biasanya berbeda-beda, tergantung untuk keperluan apa. Semisal untuk kain, bahan yang dibutuhkan bisa sampai dua meter tiga per empat, sementara untuk dress bisa empat meter dan kain sari sepanjang enam meter.

"Namun hanya karena alasan bisnis, kini banyak orang yang masih tidak jujur atau mengelabuhi orang lain. Mereka sebenarnya menjual batik cap atau print, tetapi mengaku batik tulis. Itulah yang harus diperhatikan baik-baik saat membeli kain batik," saran peraih penghargaan dari Presiden Republik Indonesia Upakarti (1990) dan Adikarya Wisata (1992).

Mengenai batik yang kini ditampilkan lebih ramai dengan imbuhan detail, Iwan mengatakan bahwa tidak harus begitu untuk menampilkan batik itu indah.

"Batik yang bagus tidak perlu ditampilkan secara berlebihan. Tetapi kalau harus diberi macam-macam detail seperti payet, itu pasti batiknya yang murahan. Tapi kenyataannya, masih banyak masyarakat yang memilih tampilan yang semakin ramai akan semakin oke," pungkas pria kelahiran 18 April 1935, di Blora, Jawa Tengah.

sumber: okezone

Senin, 09 Mei 2011

Keris Belum Sepopuler Batik

Keris dan batik sama-sama diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Namun, keberadaan keris belum sepopuler batik.

Pernyataan itu diungkapkan Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Ukus Kuswara saat membuka Kongres I Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) di Solo, Jawa tengah, Rabu (20/4).

"Dibandingkan dengan batik, keris masih menghadapi tantangan besar," katanya di hadapan 72 utusan paguyuban keris dan perwakilan tujuh museum keris dari berbagai daerah di Indonesia itu.

Selain anggota paguyuban keris, acara itu juga dihadiri Wali Kota Solo Joko Widodo, Staf Ahli Gubernur Jawa Tengah bidang Politik Maryanto, mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno, para empu (pembuat keris), seniman, dan kalangan akademisi.

Menurut Ukus, jika batik telah berhasil menembus batas-batas gender dan usia, keris masih identik dengan laki-laki dan belum terlalu akrab dengan kalangan muda. Kondisi itu merupakan sebuah pekerjaan rumah bagi SNKI di masa mendatang.

"Kalau tidak, ya bakal punah juga," kata Ukus, mewakili Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik yang berhalangan hadir dalam kesempatan itu.

Menanggapi pernyataan tersebut Sekjen SNKI Wiwoho Basuki Tjokrohadiningrat mengatakan pihaknya akan melakukan berbagai upaya untuk menjawab tantangan tersebut. Karena itulah, salah satu agenda utama dalam kongres tersebut adalah membahas upaya melestarikan dan memasyarakatkan keris.

sumber : Media Indonesia

Kamis, 28 April 2011

Batik Lorok Unggulan Pacitan

Batik Lorok Pacitan Indonesia di tahun 2010 sudah mulai menampakkan keindahan. Para pembatik muda (ibu-ibu muda, remaja lulusan SLTA) sudah mulai terampil membatik. Ada dua jenis batik yang dibuat di era tahun ini yaitu, batik pewarna alam dan batik klasik modern seperti pada foto di samping. 


Batik klasik modern dibuat seperti layaknya batik Lorok tempo dulu, yaitu dengan cara pewarnaan menggunakan wedel (nilo) lalu dilorot, dibatik lagi, di soga lalu dilorot lagi. Sentuhan modernnya berupa coletan warna merah (rapid) dan pemberian warna kuning (sol) pada bagian obyek tertentu. 


Desain batik juga dibuat lebih kontemporer mengikuti perkembangan jaman, namun tidak meninggalkan ciri khas batik lorok yang berupa motif flora dan fauna yang berada di lingkungan daerah Lorok Pacitan.
---------------

Pemerintah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur optimistis industri batik khas lorok yang diagendakan pemerintah menjadi produk unggulan daerah yang dioptimalkan melalui metode one village one product (OVP)  akan tercapai.

Indartarto, Bupati Pacitan, menjelaskan, batik diprioritaskan pengembangannya, karena sudah menjadi warisan budaya Indonesia. Batik khas Pacitan bahkan memiliki keunggulan kompetitif dari sisi warna, karena menggunakan bahan alami dari akar-akaran dan kulit kayu.

”Produk batik dengan pewarnaan alami memiliki prospek yang cukup baik di samping produk lain yang cukup potensial di kawasan Pacitan. Namun, perkembangannya yang masih perlu dioptimalkan, karena ada yang masih memperihatinkan,” ujar Indartarto pada acara peluncuran batik Pacitan melalui program OVOP.

Saat ini unit usaha perajin batik yang lebih terkonsentrasi di Dusun Lorok, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan terdiri dari 134. Jumlah tenaga kerjanya mencapai 287 orang. Sedangkan nilai investasinya mencapai Rp 3,4 miliar.

Agar produk batik Lorok dari Pacitan optimal, Kementerian Koperasi dan UKM memfasilitasinya dengan metode OVOP.  Program ini mengarah pada peningkatan dan pengembangan komoditas unggulan daerah. Terutama untuk masuk pasar internasional.

Dengan sistem pewarnaan alami dari akar-akaran dan kulit kayu, tampilan batik dari daerah ini terkesan lembut. Meski demikian, produk yang dihasilkan sementara ini masih mengarah pada pemakaian tradisional, dan belum dijadikan sebagai produk fesyen seperi baju.

Melalui OVOP, batik Pacitan diharapkan bisa meningkat serta memberi inilai tambah kepada perajin. Batik Pacitan sebenarnya sudah dipamerkan dan dipasarkan di Gallery UKM Indonesia di Gedung Smesco UKM, Jakarta Selatan.

Sesuai prinsip OVOP, yakni local but global, maka Kementerian Koperasi dan UKM berpran aktif mengoptimalkan produk batik dari Pacitan. Instansi ini juga melakukan perkuatan pembiayaan kepada beberapa koperasi setempat untuk meningkatkan permodalan.

Selain batik, komoditas lain yang ditingkatkan kualitas dan pemasarannya adalah, batu aji, gula merah, olahan ikan, produk gerabah, kerajinan olahan kayu, ketela hingga kerajinan anyaman bambu.

”Jumlah koperasi di seluruh Pacitan 391 unit, dan jumlah anggota sekitar 65.000. Total modal kerja mereka sekitar Rp 66 miliar, namun dari kegiatan ekonomi mereka belum berjalan bagus, karena nilai pinjaman masyarakat masih lebih besar dibandingkan dengan simpanan di perbankan,” ujar Indartarto. 


sumber: