Kamis, 29 Juli 2010

Munculnya Batik Keraton

Sri Susuhunan Pakoe Boewono X (1866-1939)

Batik berasal dari bahasa Jawa "amba" yang berarti menulis dan "titik". kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan "malam" yang diaplikasikan ke atas kain untuk menahan masuknya bahan pewarna. Dari zaman kerajaan Mataram Hindu sampai masuknya agama demi agama ke Pulau Jawa, sejak datangnya para pedagang India, Cina, Arab, yang kemudian disusul oleh para pedagang dari Eropa, sejak berdirinya kerajaan Mataram Islam yang dalam perjalanananannya memunculkan Keraton Yogyakarta dan Surakarta, batik telah hadir dengan corak dan warna yang dapat menggambarkan zaman dan lingkungan yang melahirkan.

Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motik abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya.

Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari pohon mengkudu, tinggi, soga, nila dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Kerajinan Batik ini, di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke XVIII atau awal abad ke XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke XX. Dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920.

Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar keraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing.


Pesta Keraton Soerakarta ±1910

Sejarah Motif Batik Keraton

Keberadaan batik Yogyakarta tentu saja tidak terlepas dari sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam oleh Panembahan Senopati. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, dia sering bertapa di sepanjang pesisir Pulau Jawa, antara lain Parangkusuma menuju Dlepih Parang Gupito, menelusuri tebing Pegunungan Seribu yang tampak seperti "pereng" atau tebing berbaris. Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman (pakaian) Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya. Karena penciptanya adalah raja pendiri kerajaan Mataram, maka oleh keturunannya, pola-pola parang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja dan keturunannya di lingkungan istana. Motif larangan tersebut dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785. Pola batik yang termasuk larangan antara lain : Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat lar, Udan liris, Rujak Senthe, serta motif parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.

Semenjak perjanjian Giyanti tahun 1755 yang melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, segala macam tata adibusana termasuk di dalamnya adalah batik, diserahkan sepenuhnya oleh Keraton Surakarta kepada Keraton Yogyakarta. Hal inilah yang kemudian menjadikan keraton Yogyakarta menjadi kiblat perkembangan budaya, termasuk pula khazanah batik. Kalaupun batik di keraton Surakarta mengalami beragam inovasi, namun sebenarnya motif pakemnya tetap bersumber pada motif batik Kraton Yogyakarta.

Batik tradisional di lingkungan Kasultanan Yogyakarta mempunyai ciri khas dalam tampilan warna dasar putih yang mencolok bersih. Pola geometri keraton Kasultanan Yogyakarta sangat khas, besar-besar dan sebagian diantaranya diperkaya dengan parang dan nitik. Sementara itu, batik di Puro Pakualaman merupakan perpaduan atara pola batik Keraton Kasultanan Yogyakarta dan warna batik Keraton Surakarta. Perpaduan ini dimulai sejak adanya hubungan keluarga yang erat antara Puro Pakualaman dengan Keraton Surakarta ketika Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Pakubuwono X. Putri Keraton Surakarta inilah yang memberi warna dan nuansa Surakarta pada batik Pakualaman, hingga akhirnya terjadi perpaduan keduanya. Dua pola batik yang terkenal dari Puro Pakulaman yakni Pola Candi Baruna yang terkenal sejak sebelum tahun 1920 dan Peksi Manyuro yang merupakan ciptaan RM Notoadisuryo. Sedangkan pola batik Kasultanan yang terkenal antara lain Ceplok Blah Kedaton, Kawung, Tambal Nitik, Parang Barang Bintang Leider dan sebagainya.

sumber: RRI

Sabtu, 17 Juli 2010

Ayah


Sebuah tautan menarik di facebook.
Sebuah video klip non-Indonesia yang mengisahkan rindunya seorang anak kepada ayahnya. Yang membuat klip tersebut menjadi hidup dan bermakna adalah diiringi oleh ADA Band dan Gita Gutawa.

"Yang Terbaik Bagimu (Jangan Lupakan Ayah)"

Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja

Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan

Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

Reff:
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

Kembali ke: Reff

inilah klip tersebut
video

Rabu, 14 Juli 2010

Kehebatan Lacak PT Pos Indonesia


"Mbak, kiriman saya kok belum sampai ya? Dikirim pakai apa sih mbak?"

Demikian salah satu pelanggan kami menyampaikan keluhannya. Kaget juga menerima protes tersebut, karena pesanan pelanggan ini sudah lama dikirim pakai paket pos. Kami sempat berfikir yang tidak-tidak dengan PT Pos Indonesia. Untuk pelanggan ini kami memang menggunakan jasa PT Pos karena termasuk paling efisien.

Langsung saja kami berusaha mencari tahu dengan cara menghubungi PT Pos Bekasi. Kami juga menghubungi Kantor Pos Pusat di Bandung. Tapi sayang sekali karena telponnya terlalu kemresek sehingga tidak dapat didengar, juga tidak ada yang mengangkat.

Akhirnya setelah beberapa kali berusaha, Kantor Pos Bekasi mengangkat panggilan kami. Dari kantor Pos Bekasi inilah kami dipandu untuk melacak kiriman via web.

Saya cukup kagum. PT Pos Indonesia ternyata sekarang sudah beda. Layanan lacaknya tidak kalah dengan perusahaan kurir kelas dunia. Paket kami tercatat rapi dari jam ke jam: Mulai dari jam berapa kami memasukkan ke kantor pos, jam berapa paket di bawa ke kantor lanjutan, jam berapa paket diantar ke alamat tujuan, dan seterusnya sampai kiriman diterima di tempat tujuan. Nama penerima pun juga tercatat di sana.

Dan kami pun dengan mudah bisa memberi laporan kepada pelanggan kami bahwa paket sudah sampai dan diterima tanggal sekian jam sekian oleh si 'anu'.

Saya betul-betul salut dengan layanan lacaknya. Luar biasa. PT Pos sebagai produk lokal sudah bisa dibanggakan. BUMN Jasa ini sudah berfikir global. Semoga layanan bagus ini terus bertahan. Kalau masih ada yang perlu dikritisi adalah layanan panggilan telponnya atau call center. Belum ada call center. Kalau kita ada masalah harus telpon ke mana. Pusat layanan telponnya belum ditangani dengan baik...

Ayo PT Pos, PR ini cukup mendesak...

Rabu, 07 Juli 2010

Perginya Sang "Bulan"


Ambilkan bulan bu,
Ambilkan bulan bu

yang slalu bersinar di langit

Di langit bulan benderang

Cahyanya sampai ke bintang


Ambilkan bulan bu

untuk menerangi,

tidurku yang lelap

Di malam gelap


*****

Inilah salah satu lagu Pak AT Mahmud yang termasuk slow. Namun slow di sini sama sekali bukan cengeng melainkan mengandung unsur religiusitas yang tinggi, bahwa di dalam gulita Tuhan memberikan sinar-Nya. Syairnya sederhana, mudah dinyanyikan, gampang dihafal, anak-anak banget, namun sangat dalam maknanya. Kombinasi yang luar biasa ini hanya dapat tercipta berkat keseriusan, muncul dari hati, keinginan memuliakan sesama sejak dini. Dan anak-anak adalah bibit bersih yang harus dipoles dengan sesuatu yang positif, bersih, suci, dan sesuai dengan dunianya.

"Lagu ini saya ciptakan ketika anak saya meminta diambilkan bulan," cerita Pak AT Mahmud pada suatu ketika di depan wartawan. Begitu juga dengan lagu Pelangi. "Pelangi saya buat ketika anak saya yang berumur 5 tahun tertarik dan mengagumi pelangi."

Begitulah Pak AT. Setiap kenginan polos nan suci anak-anak mampu diterjemahkan ke dalam sebuah lagu yang sarat dengan makna dan pendidikan. Tidak hanya anak sendiri, keinginan anak-anak sahabat Pak AT pun juga mampu menjadi sebuah lagu yang dikenang sepanjang masa.

Bahkan peristiwa tragis yang dialami seorang anak pada saat kerusuhan G30S/PKI pun menjelma menjadi sebuah lagu Ade Irma Suryani yang melegenda dan selalu dikenang sepanjang zaman. Maka tidak heran kalau koleksi lagu-lagu anak sarat makna hasil karya Pak AT Mahmud mencapai lebih dari 600 lagu.

Keinginan Pak AT yang besar untuk berbuat sesuatu yang positif bagi generasi penerus membuatnya telah melahirkan ratusan lagu anak-anak. Semua lagu-lagunya mengandung unsur pendidikan, hiburan, keceriaan. Pas dengan dunia anak-anak. Tentu saja karya-karyanya tidak dapat disandingkan dengan lagu-lagu anak yang 'asal' bunyi macam obok-obok, kebelet pipis, dan lain-lain yang hanya menekankan aspek bunyi yang ceria.

Di usia senjanya Pak AT masih rajin memperhatikan perkembangan lagu anak-anak. Ia mengaku prihatin ketika menyaksikan anak-anak di televisi menyanyikan lagu-lagu orang dewasa.

Kebanyakan lagu anak-anak yang abadi, dihafal oleh anak-anak, dan diajarkan orang tua pada anak-anaknya ternyata ciptaan Pak AT Mahmud. Dari sekitar 600-an lebih lagu anak, Kompas menampilkan beberapa judul lagu anak yang abadi, diantaranya:
- Anak Gembala
- Libur Tlah Tiba
- Paman Datang
- Di Stasiun
- Kereta Apiku
- Sukacita
- Cemara
- Angin Bertiup
- Mendaki Gunung
- Burung Bernyanyi
- Barisan Musik
- Hujan Rintik-rintik
- Hujan-hujan
- Ambilkan Bulan Bu
- Bintang Kejora
- Pelangi
- Amelia
- Cicak di Dinding.
- Ade Irma Suryani.

Dan saya baru tahu, ternyata lagu-lagu yang sangat familiar di telinga saya sejak dulu adalah ciptaan Pak AT Mahmud.

Dalam dunia bisnis dikenal dengan istilah passive income, artinya meski kita tidak bekerja namun penghasilan kita terus mengalir dari bisnis yang terus berjalan dengan baik. Begitu juga dengan Pak AT Mahmud. Keinginannya mengabdi kepada Sang Pencipta lewat lagu-lagunya akan melahirkan passive income pahala selama masih ada yang menyanyikan dan menyebarkan lagu-lagunya... sungguh beruntung

Kini Sang "Bulan" itu telah pergi dengan meninggalkan "Bulan" yang selalu menyinari dunia.
Kami nangis galo, sementaro kau tersenyum di alam sano.
Selamat jalan Pak AT...

Senin, 05 Juli 2010

Terima Kasih, Dokter Udin

anak pertama, tidak sempat dipotret ketika khitan

Senin pagi, 5 Juli 2010, selesai sudah tugas kami mengkhitankan si Bungsu. Alhamdulillah.
Sebagaimana ketiga anak kami sebelumnya, untuk khitan semuanya kami percayakan kepada Dr. Udin, pemilik RSU Rawalumbu, Bekasi.

Bagi yang belum mengenal Dokter Udin, silahkan membuka link ini yang pernah saya buat 3 tahun silam, ketika kami menyunatkan anak kedua.


khitan anak kedua, 4 Juli 2007

Pada 4 Juli 2007, anak kedua kami dikhitan. Kemampuan besar Dr Udin memberi sugesti positif kepada para pasiennya membuat kami nyaman dan merasa aman. Dan betul, tidak ada masalah.


anak ketiga, 22 Juni 2010

Tiga tahun (kurang beberapa hari) kemudian, 22 Juni 2010, anak ketiga kami dikhitan Dokter Udin. Anak ketiga ini sebenarnya agak susah dibujuk untuk dikhitan. Tapi di tangan Pak Dr. Udin ternyata tidak masalah, tidak ada tangisan.

Keempat, 5 Juli 2010

Dan tepat (lebih satu hari) 3 tahun kemudian, 5 Juli 2010, atau 13 hari setelah anak ketiga, giliran si bungsu dikhitan Dokter Udin.

Ketika mengantar si bungsu inilah saya baru tahu bahwa sebenarnya Dokter Udin mengembangkan teknik khitan yang baru. Saya baru tahu teknik barunya ketika Pak Dokter, sambil meng-khitan, menjelaskan kepada dokter jaga teknik barunya.

Dengan metode ini maka peralatan yang dipakai bisa diminimalkan, artinya efisiensi lebih tinggi. Juga tidak kalah penting adalah tidak perlu adanya darah yang tumpah. Pasien tidak perlu berdarah-darah. Dan yang paling penting, pasien akan sembuh alami.

Ketika saya minta izin untuk menvisualkan sunat ala Dokter Udin, tanpa ragu dia mempersilahkan. "Silahkan pak. Difoto atau di-shoot saya tidak keberatan. Kalau ada yang ingin tahu saya tidak keberatan untuk menjelaskan."

Semangat berbagi inilah salah satu kunci sukses seseorang. Apapun bidang geraknya, para dermawan akan selalu menuai kesuksesan positif di kemudian hari.

Terima kasih, Pak Dokter Udin...