Senin, 30 Juli 2007

Lakon M. Taufik Kindy

Bagi laki-laki, perut gede apakah tanda kemakmuran? Maybe yes maybe not, kata iklan rokok yang lagi ngetren.

Jumat kemarin, ketika saya ada acara di Hotel Sahid, di depan restoran Sukoharjo dipajang 90-an buah karya seni, hampir semuanya karya seni lukis. Pengamatan saya semua aliran lukis ada di sana, mulai dari Romantisme, Realisme, Kubisme, sampai Abstraksi terpampang di bawah penerangan lampu halogen.

Mulanya saya tidak memperhatikan pameran itu. Saya hanya menikmati sekilas benda-benda seni yang tertata rapi. Pada awalnya saya kira itu adalah pameran tunggal.

Tetapi setelah 2-3 kali melewati pameran itu, saya merasakan ada sesuatu yang lain. Karya-karya seni itu makin dinikmati makin tampak keindahannya. Dari sini lah saya mulai memperhatikan siapa pembuat lukisan-lukisan itu. Tidak mungkin pameran itu adalah pameran tunggal karena berbagai aliran ada di sana. Akhirnya satu persatu karya itu saya dekati dan perhatikan. Ternyata benar. Berbagai nama terpampang sebagai pembuat karya-karya seni yang berharga antara Rp 15 juta - Rp 150 juta.

Tetapi ada satu hal yang membuat saya kaget. Meski kreator lukisan itu berbagai nama, hanya satu nama yang menyelenggarakan pameran itu, yaitu Galeri Menara Nusantara. Dan yang membuat saya makin kaget adalah ketika saya tahu bahwa pemilik galeri itu adalah M. Taufik Kindy.

Ya, nama itu tidak asing di telinga saya. Tetapi sudah sangat lama saya tidak mendengar nama itu. Ketika saya tanya kepada penjaga pameran dimana pemilik galeri, saya kaget lagi ketika ditunjukkan. Taufik terlihat sedang ngobrol dengan beberapa orang. Kelihatan sekali mereka tertarik dengan sebuah lukisan dan sedang membahas dengan pemilik galerinya.

Jadi dalam waktu yg sangat singkat saya menderita dua kekagetan. Kaget dengan galeri Menara Nusantara dan lebih kaget lagi ketika tahu siapa pemiliknya.

Ingatan saya langsung mundur kira-kira 15 tahun silam. Saat itu saya dan teman-teman mengontrak sebuah rumah. Sebagai mahasiswa kami memang memilih mengontrak rumah bareng-bareng karena jatuhnya lebih murah dibanding kalau harus kost.

Saya tidak ingat dari mana atau siapa yang mengajak ke rumah kami. Yang saya ingat saat itu Taufik dan 3 temannya numpang di rumah kami. Rumah kami mereka jadikan semacam markas. Saat itu mereka sudah melakoni hidup sebagai sales buku. Tiap pagi mereka berempat selalu diskusi sebelum berangkat menjajakan buku door to door. Dan malam hari ketika pulang mereka berdiskusi lagi tentang kejadian yang ditemui hari itu.

Jadi ketika kami sedang asik dan menikmati hidup sebagai mahasiswa, Taufik sudah memulai merintis "tangga"nya dengan menjadi sales. Tidak jarang kami menggoda dan sedikit mengejek yang mereka lakukan. Saat itu kami merasa "derajat" kami jauh di atas Taufik dkk. Toh mereka hanya sales buku. Sedangkan kami mahasiswa, wong pinter kata orang. Yang juga saya ingat adalah saat itu Taufik sangat kurus. Kurus sekali. Paling kurus di antara teman-temannya.

Saya tidak ingat secara pasti apa yang menyebabkan kami dan Taufik dkk berpisah. Kalau tidak salah penyebab pisahnya kami dan mereka adalah kami harus pindah rumah karena masa kontrak sudah habis. Jadi mau tidak mau Taufik dkk juga harus hengkang.

"Koleksi saya semuanya ada 1200 lebih. Beberapa ratus diantaranya saya taruh di Sarinah," Kata Taufik pada Jumat sore 27 Juli 2007, puluhan tahun kemudian sejak kami berpisah. Puluhan tahun dia mendahului start dengan saya. Dan puluhan tahun lalu kami sempat meremehkan dia. "Selain rutin di Sahid saya juga rutin pameran di Grand Hyatt," sambungnya. Hotel Sahid dan Grand Hyatt adalah nama yang sudah menunjukkan kelas tersendiri. Begitu pula konter tetap dia yang di Sarinah, sudah menunjukkan kelasnya.

"Selain rutin pameran dan konter Sarinah, koleksi-koleksi lain disimpan di mana?" tanya saya.

"Ya saya simpan saja di rumah," jawabnya enteng.

Saya mencoba menghitung-hitung sendiri. Anggap di Sarinah ada 150 lukisan. Yang di pameran total ada 200 buah. Berarti masih ada 1000-an yang dia simpan. Langsung terbayang di benak saya berapa kira-kira luas rumahnya yang terletak di kawasan tebet ini....

Kamis, 26 Juli 2007

Legenda


Untuk menggagalkan upaya Sangkuriang meminang dirinya dayang Sumbi mengajukan dua syarat: Pertama, Sangkuring hars membendung sungai Citarum. Dan kedua, Sangkuriang harus membuat sampan besar untuk menyeberangi sungai itu. Kedua permintaan itu harus selesai sebelum fajar menyingsing.

Ending cerita di atas kita semua sudah tahu. Dayang Sumbi berhasil menggagalkan upaya Sangkuriang. Sang anak marah. Dia menjebol bandungan yang dibuatnya. Seluruh kota tenggelam. Sampan ditendang, melayang, dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.

Kisah di atas bisa sangat mirip dengan Roro Jonggrang dari Jawa Tengah. Roro Jonggrang adalah seorang putri kerajaan Prambanan. Kerajaan ini pada akhirnya dijajah oleh kerajaan Pengging dengan Bandung Bondowoso sebagai penguasanya. Melihat kecantikan sang putri Bandung Bondowoso (BB) pun berniat menjadikan istrinya. Supaya lamarannya batal sang putri mengajukan syarat: Dibuatkan 1000 candi, dan harus selesai dalam waktu semalam saja. BB setuju.

Ending kisah ini pun sama. Ketika jumlah candi sudah 999 buah Roro membangunkan seluruh makhluk di hutan yang menandakan malam sudah berakhir. Ketika BB tahu bahwa pagi sebenarnya belum tiba dia menjadi sangat marah. Dia merasa telah diperdaya Roro. Demi melampiaskan marahnya BB menyihir Roro menjadi sebuah batu. Batu ini lah yang dijadikan candi yang ke-1000.

Ada yang menarik dari dua dongeng di atas. Keduanya mengajarkan sesuatu yang tiba-tiba terjadi. Hanya dalam waktu semalam semua keinginan harus terwujud. Instan. Tanpa proses panjang.

Cerita model instan ternyata tidak hanya di Jawa. Terjadinya Danau Toba juga mirip. Meski setting ceritanya berbeda tapi terwujudnya Danau Toba terjadi dengan seketika. Tiba-tiba air yang sangat deras menyembur dari tanah. Air menyembur dari pijakan seorang petani yang tidak sabar. Terus menyembur sehingga seluruh desa terendam. Air ini pun membentuk sebuah danau yang bernama Toba.

Cerita si Kancil yang sangat populer tidak mengajarkan sesuatu yang instan. Tetapi menggunakan pikiran buat memperdaya makhluk lain. Cerita si Kancil banyak sekali serinya dari mulai mencuri timun, memperdaya gajah, menipu petani, memperdaya buaya, dan sebagainya. Semuanya mengajarkan kelicikan untuk keuntungan pribadi.

Yang menjadi pertanyaan, apakah legenda-legenda seperti ini cukup mempengaruhi pikiran kita saat ini. Cerita ini sudah masuk ke benak kita sejak anak-anak. Dan kalau masuknya pada masa kanak-kanak sangat mudah untuk masuk ke alam bawah sadar. Wah, bahaya.

Jadi apakah keinginan hasil instan sudah terbentuk di dalam diri kita tanpa disadari?

Jangan kuatir ada kok cerita heroik yang patut ditiru. Legenda Hang Tuah yang berasal dari semenanjung Pantai Barat Melayu bisa dijadikan contoh. Bagaimana seorang anak petani bersama empat temannya : Hang Jebat, Hang Lekir, Hang Lekiu, dan Hang Kesturi mampu menghadang perompak. Kemudian dengan ketekunannya Hang Tuah mampu menjabat sebagai pimpinan armada laut kerajaan Bintan.

Dengan kepintarannya Hang Tuah mampu membentuk armada laut yang kuat. Dan menuju Tuban di Majapahit buat meminang sang putri kerajaan terbesar di Jawa itu. Hang Tuah juga berhasil membangun persahabatan dengan India dan Cina. Di Cina, dengan kepintarannya, dia berhasil memandang wajah sang Kaisar, suatu perbuatan terlarang saat itu. Dan kaisar tidak marah.

Akhir cerita heroik Hang Tuah adalah ketika dia mendapt tugas menghadang armada dari Barat yg dipimpin oleh Admiral D Almeida. Armada ini sangat kuat. Dan sang pahlawan gugur dalam tugas ini. Tertembus peluru sang admiral. Sebagai bentuk penghormatan salah satu kapal perang RI diberi nama KRI Hang Tuah.

Jadi kita memang perlu menfilter cerita-cerita legenda. Ada cerita yang mengajarkan proses tapi lebih banyak yang mengajarkan instan serta intrik.

Rabu, 25 Juli 2007

Persepsi


Saya masih ingat beberapa tahun lalu ada teman yang sedikit curhat kepada saya. "Ayah saya belum bisa setuju dengan pilihan saya, gimana ya?"

"Apa alasannya ayahmu tidak setuju dengan calon istrimu?" tanya saya.

"Dia orang Jawa," jawab sahabat saya dengan muka tertunduk.

"Memangnya kenapa dengan perempuan Jawa?" tanya saya keheranan.

"Ayah saya pernah melihat mbok-mbok di Pasar Beringharjo kalau (maaf) buang air sambil berdiri," teman saya menjawab sambil matanya melihat ke arah lain

Meski saya sangat kaget dengan alasan sang ayah tapi saya mencoba untuk menguasai diri. Rupanya sebuah peristiwa yang cuma dilihat sekali cukup untuk membentuk sebuah persepsi di benak sang bapak tentang sosok perempuan Jawa.

Di lain kesempatan peristiwa yang hampir sama juga dialami famili jauh paman saya. Ayah calon mempelai perempuan sangat tidak setuju kalau anaknya dinikahi laki-laki Jawa. Selidik punya selidik ternyata sang ayah melihat sebuah sejarah. Salah seorang perempuan tetangganya menjadi janda karena ditinggal pergi begitu saja oleh suaminya yang asli Jawa...

Persepsi memang jauh lebih dahsyat dibanding realitas.

Salah seorang teman saya begitu tergila-gila dengan mobil Eropa, khususnya BMW. Dia "alergi" kalau harus memakai mobil Jepang. Ternyata ketika ditanya apa alasannya, jawabnya sungguh di luar dugaan. "Kalau memakai BMW kita lebih dihormati. Kalau berhenti di gedung perkantoran, atau di hotel pasti pintunya dibukakan," jawabnya.

"Coba kalau kamu pakai Kijang, buka sendiri pintunya," sambungnya dengan enteng. Setelah saya runut sejarahnya rupanya dia contoh sosok yang post power sindrome. Dia pernah kaya raya tapi kemudian bangkrut karena kesalahannya sendiri. Orang ini sering wanprestasi. Maka satu-satunya jalan biar dianggap orang kaya ya... pakai BMW. Padahal BMW yang dia beli adalah mobil bekas, mudah rusak, sering masuk bengkel. Dan kalau pun dilego bisa Rp 70 juta sudah sangat bagus.

Padahal semurah-murahnya Kijang Innova harganya sudah di atas Rp 150 juta. Kalau Innova V Luxury 2.0 A/T sudah tembus di atas Rp 240 juta. Rupanya teman saya ini memang pinter mampermainkan persepsi orang.

Sebuah persepsi bisa dibentuk oleh sebuah pengalaman yang dialami oleh satu atau sekelompok masyarakat. Persepsi kita tentang orang Padang, Madura, Sunda, Ambon biasanya tidak jauh berbeda. Padahal kalau dilakukan pendataan realitasnya saya yakin tidak seperti persepsi kita.

Apa persepsi kita kalau melihat kantong pakaian seseorang ada bolpen Mont Blanc-nya? Ah, paling itu bajakan yang dibeli sekitar 50-100 ribu-an. Untuk yang ini saya yakin persepsi kita 80% benar. Mengapa? Karena bolpen Mont Blanc Meisterst├╝ck 149 Fountain Pen original harga diskonnya Rp 5.130.000 (harga normal Rp 6.860.000). Mana ada orang kita buat bolpen saja sampai juta-an...

Jadi persepsi itu memang bisa benar, tapi lebih sering salah. Nah dalam komunitas TDA ini persepsi juga berperan penting. Kalau kita membaca postingan yang sangat aktif di milis ini, mayoritas adalah postingan winning, kesuksesan, kenaikan omset, dll. Juga banyak postingan seremonial, foto bersama tokoh, cerita kesuksesan, dll. Pokoknya jadi pengusaha itu enak banget. Postingan seperti ini memang amat bagus untuk menggugah dan membentuk positive thinking.

Sangat jarang postingan yang berisi pelajaran unwinning, bangkit, tersandung, tertipu, dll yang sifatnya antisipasi. Maka yang terjadi kemudian adalah kekagetan bahwa menjadi pengusaha itu ternyata lebih banyak jatuhnya dari pada berhasilnya.

Dan fenomena yang dialami pak Jassin dan pak Endar adalah sebuah pucuk dari gunung es realitas yang sebenarnya dialami para member... wallahu a'lam

Senin, 23 Juli 2007

Untung Huruf A


"Selamat siang pak. Maaf berhubung sebentar lagi saya mau menikahkan anak, saya berniat menarik dana penyertaan saya Rp 20 juta bulan ini. Tks."

Demikian bunyi sms dari salah satu sahabat yang nyelonong ke ponsel saya beberapa bulan lalu. Tidak lama kemudian datang sms lagi, "Maaf, salah kirim."

Saya tidak begitu kaget dengan sms seperti itu. Cukup sering saya menerima berita yang sebenarnya bukan konsumsi saya tapi akhirnya jadi "termakan" juga.

"Nina (bukan nama sebenarnya), bagaimana kalau nanti kita bertemu di tempat biasa?" adalah salah satu pesan singkat yang juga pernah mampir di ponsel saya. Saya tidak tahu pasti siapa Nina yg dimaksud oleh teman saya itu. Mudah-mudahan sih istrinya :)

Pernah juga saya menerima pesan singkat yang berisi ungkapan perasaan dari seorang sahabat yang sedang mengalami masalah keluarga. Masalah yang sangat pelik. Dia sebenarnya bermaksud mengirim pesan ke keluarganya tapi malah nyasar ke ponsel saya. Yah, mudah-mudahan saat ini masalahnya sudah selesai dengan baik.

Ada dua sebab mengapa sms yang sebenarnya secret bisa masuk ke "kamar" yang salah. Barangkali sang pengirim sangat tergesa-gesa sehinga tidak memeriksa lagi alamat tujuan, pokoknya langsung send saja. Akhirnya salah masuk. Sedangkan sebab kedua adalah karena nama saya berawalan dengan huruf A. Jadi otomatis letaknya paling depan. Jarang ada nama lain yang bisa berada di depan saya kecuali direkayasa :)

Saya sendiri sama sekali tidak merasa terbebani dengan pesan-pesan yang salah "kamar" itu. Kadang ada "untungnya" juga, masalah pribadi orang lain bisa saya ketahui tanpa saya kehendaki. Untung saya pinter jaga rahasia, hehe. Jadi wahai para sahabat, hati-hati sebelum mengirim sms. Pastikan bahwa alamatnya sudah benar, ya to.

Juga cukup sering saya mendapat kiriman sms. Setelah saya lihat ternyata hurufnya konsonan semua, mirip ejaan Rusia. wrtcxgptyjkprddwnbcvxxz adalah salah satu kalimat dari puluhan sms yang pernah saya terima. Atau tidak jarang sms yang masuk hanya pesan kosong alias tidak ada hurufnya. Saya yakin pesan itu bukan datang dari badan intelejen, maka ya di delete saja. Biasanya tidak lama kemudian datang sms susulan, "Maaf pak, hp nya dimainan anak ." Yah, maklum.

Tidak jarang pula ponsel saya berdering. Setelah diangkat ternyata hanya terdengar "rrrrrrrrrr.....," Hanya suara motor dan lalu lalang kendaraan. Jelas sekali sang "pengirim" sedang (biasanya) naik motor. Biasanya terjadi pas jam sibuk pulang kantor. Atau ketika diangkat yang terdengar adalah obrolan orang yang sedang menikmati suasana santai. Tapi pernah juga yang masuk ke telinga saya adalah suasana meeting sebuah kantor...

Tapi dari sekian puluh pesan atau panggilan yang salah "kamar" itu ada dua yang cukup berkesan. Yang satu berasal dari teman saya dari Jawa Timur. Saat itu tiba-tiba saya mendapat "bom" sms. Ponsel saya menerima sangat amat banyak sms kosong. Sempat jengkel juga saat itu. Saya bel teman saya tapi tidak bisa masuk. Ponselnya mati. Tapi sms kosong terus saja membombardir. Saya bel lagi tapi ponselnya mati. Saya mulai marah. Tapi yang mau dimarahi tidak terjangkau. Saya pun pasrah.

Setelah sekian jam berlalu tiba-tiba diam. "Tembakan" sms berhenti. Saya heran, kok berhenti. Belum hilang keheranan saya tiba-tiba ada sms masuk dari nomor yang belum saya kenal. "Pak, hp saya error nih. Sms yang ke bapak membuat pulsa saya habis. Ini saya pakai hp teman." Lho, kok malah saya yang kena marah, apa dosa saya? cape deh.

Dan yang paling berkesan adalah ketika beberapa minggu lalu ada panggilan masuk. Begitu saya angkat mati. Berdering lagi, diangkat lagi, mati lagi. Kejadian ini sampai beberapa kali. Saya sempat hampir jengkel, manusiawi kan.

Tidak lama kemudian ada sms masuk, "Maaf pak, kalau ada misscall dari nomer ini jangan diangkat ya. Anak saya sangat senang dengan iRing (nsp) Bapak. Saya adalah pelanggan bapak." Tiba-tiba hati saya langsung nyesss, terharu. Susah diungkapkan.

Sampai sekarang saya masih sering mendapat misscall dari nomor ini. Khusus untuk nomor ini memang di-silent. Jadi biar sang anak bisa menikmati "Tombo Ati" versi keroncong dengan leluasa...

Jumat, 20 Juli 2007

Multiplier Rahmat


"Gimana pak kontrakannya?" tanya saya kepada tukang ojek yang biasa mangkal dekat rumah. Selain narik ojek bapak ini juga mempunyai beberapa "pintu" (istilah untuk rumah petak) yang dikontrakkan.

"Alhamdulillah tidak pernah kosong. Tiap ada yang pindah selalu ada yang ngisi," jawabnya.

Menurut saya bapak ini memang cukup beruntung. Rumahnya yang dekat dengan sebuah pabrik besar garmen di Bekasi membuatnya punya penghasilan bagus hanya dari kontrakan.

Tiba-tiba di pikiran saya terlintas sebuah kekaguman besar terhadap pemilik pabrik itu. Saya sama sekali tidak mengenal siapa mereka. Yang saya tahu owner pabrik itu adalah orang Korea. Hanya itu.

Tiba-tiba juga saya iseng ingin menghitung-hitung. Pabrik itu mempekerjakan kurang lebih 3000 orang, hampir semuanya perempuan. Ada dua shift sekali masuk. Jadi dalam satu shift ada sekitar 1500-an orang.

Hanya dari satu pabrik ini saja terjadi "reaksi berantai" yang cukup panjang dan berliku. Setiap jam istirahat (istirahatnya digilir) di depan pabrik itu berjejer puluhan, mungkin ratusan pedagang kaki lima. Dari jualan pakaian dalam sampai VCD ada di situ. Begitu pula batik, pakaian perempuan, kerudung, pakaian anak, mainan anak, asesoris, tumplek di sana.

Tidak ketinggalan ketoprak, mie ayam, bakso, nasi padang, soto ayam, warteg (ini memang spesialis mereka), es doger, es kelapa muda, sampai daun muda, berbaur di sana. Tidak ketinggalan tukang ojek yang jumlahnya puluhan ikut nongkrong juga. Mereka semua mendapatkan rezeki di sana. Luar biasa. Sangat susah bagi motor, apalagi mobil, untuk lewat di depan pabrik itu kalau pas jam istirahat.

Jika jam pulang sudah mendekati waktunya, area itu berubah menjadi "lautan" motor yang sudah stand-by. Susah membedakan mana yang penjemput dan mana yang tukang ojek. Tampang mereka hampir semuanya sama. Juga celoteh anak-anak yang ikut menunggu ibunya/tantenya/kakaknya ikut meramaikan suasana...

Bisa dibayangkan kalau satu pekerja, anggap saja, mempunyai tanggungan dua orang di rumah. Maka ada 9000 orang yang ikut merasakan keberadaan pabrik itu. Anggap saja 15-20% diantara mereka ngontrak di rumah petak, berarti ada sekitar 600 "pintu" yang kecipratan pabrik itu. Belum lagi ratusan pedagang kaki lima, penjual makanan, dll. Padahal pada pedagang kaki lima dan penjual makanan juga mempunyai tanggungan di rumah... Luar biasa manfaat adanya pabrik itu bagi lingkungan sekitar.

Tiba-tiba terbayang di benak saya alangkah mulianya manusia yang bisa mempekerjakan orang lain. Dia sendiri dapat profit sekaligus memberi (multiplier) rahmat kepada sesama.

Padahal motto TDA saja "cuma" Bersama Menebar Rahmat. Tapi kalau kalimatnya ditambah dengan "multiplier", ya nggak enak dengernya di telinga...:)

Rabu, 18 Juli 2007

Arsenal


Saya yakin siapa pun tahu bahwa Arsenal adalah nama salah satu klub sepak bola di Inggris. Arsenal adalah klub Inggris. Kemudian kalau ditanya siapa pemilik klub ini? Ternyata Stan Kroenke, pengusaha Amerika. Enos Stanley Kroenke, 60 tahun, adalah pengusaha asal Missouri, AS, yang memiliki klub MLS, Colorado Rapids. Dia juga pemilik klub NFL St Louis Rams, tim NBA Denver Nuggets, serta TV olahraga Altitude serta gedung Denver’s Pepsi Center. Kekayaan pribadinya ditaksir sekitar 2 miliar dolar hasil dari investasi di bisnis olahraga dan real-estate. Istrinya, Ann Kroenke, adalah salah satu ahli waris pemilik jaringan ritel Wal-Mart (sumber: bolanews).

Jadi kalau dilihat dari kepemilikannya, Arsenal sekarang adalah milik orang Amerika. Bagaimana kalau keabsahan bahwa Arsenal adalah klub Inggris dilihat dari pemainnya?

Ternyata semua pemain Arsenal adalah WNA yang dikontrak untuk membuat kesebelasan itu tetap mencorong. Ada sih satu WNI (Warga Negara Inggris) yang jadi pemain Arsenal, tapi sampai sekarang perannya hanya duduk di bangku cadangan.

Bagaimana kalau dilihat dari pelatihnya? Ternyata Arsene Wenger adalah warga negara Perancis. Tidak tanggung-tanggung, Wenger telah melatih The Gunners sejak 1996.

Lantas apa dong yang menjadi bukti bahwa Arsenal adalah klub Inggris? Ternyata satu-satunya fakta yang menunjukkan bahwa Arsenal adalah milik Inggris karena "rumah" klub ini adalah Stadion Emirates di Holloway, London. Maka semua orang sepakat bahwa Arsenal adalah klub milik Inggris.

Belum lama ini ada yang bertanya, "Pak, apakah gitar batik itu produk dari Anin Rumah Batik?" Tentu saja saya jawab "Ya". Tetapi ketika ditanya lagi apakah yang membuat produk itu Anin Rumah Batik? Tentu saya jawab memang tidak.

"Kalau begitu nggak bisa dong dikatakan bahwa gitar batik adalah produk AninRumahBatik," sang penanya protes. Akhirnya saya membuat analogi seperti cerita Arsenal di atas.

Boleh nggak ya analogi seperti itu?


Selasa, 17 Juli 2007

Religiusitas tanpa Ayat


"Film-film Islam biasanya kan menampilkan kemiskinan, kekerasan, peran wanita, dll. Nah dalam film Rindu Kami pada Mu, saya menyajikan Islam yang tertawa, bahagia, ceria. Saya sendiri tidak pernah mengatakan bahwa film ini bertema keagamaan tapi ternyata penghargaan yang saya terima semuanya memasukkan film ini ke dalam kategori film religius. Saya sendiri lebih suka menyebut religiusitas tanpa ayat."

Demikian kurang lebih kata Garin Nugroho dalam acara Beyond Marketing di JakTV tadi malam. "Pada dasarnya agama itu memberi manfaat, aplikatif di masyarakat meskipun tidak harus memakai ayat-ayat dalam penyampaiannya. Bahkan Romo Mudji Sutrisno juga memuji keindahan film ini. "Film ini mengisahkan tentang kesalehan yang sesungguhnya, kesalehan di pasar, di masyarakat," kata Romo Mudji. Memang, kesalehan di tempat ibadah sudah sangat biasa. Padahal kesalehan sesungguhnya adalah bagaimana seseorang mengaplikasikan religiusitasnya di tengah masyarakat, di dalam bisnisnya.

Betapa banyak orang yg taat ritual agama tetapi mereka tidak religius. Tidak cerdas spiritual.

"Saya memilih film sebagai karya seni yang harus digarap dengan sungguh-sungguh. Karena film saya sangat menonjolkan karya apik, maka segmen pasarnya juga terbatas," kata Garin. "Tiap produk itu ada pasarnya. Kalau ada sutradara "gila" maka pasti ada produser yang juga "gila". Begitu pula pasti ada segmen penonton yang "gila". Jadi saya tidak pernah khawatir bahwa film saya tidak laku," tambah pria kelahiran 1961 ini.

Film Rindu Kami PadaMu (Love and Eggs), meraih penghargaan sebagai film terbaik Asia pada Osian’s Cinefan Festival ketujuh di New Delhi, India, yang dilangsungkan pada 16-24 Juli 2005. Festival itu merupakan festival film terbesar di India yang diselenggarakan oleh majalah film tertua dan terkemuka di sana, Sinemaya, yang khusus mengulas film di Asia. Festival itu diikuti oleh 30 negara Asia dan dalam seksi kompetisinya antara lain menyertakan karya para sutradara dari Cina, Korea, Iran, dan Jepang.

Penghargaan sebagai The Best Film disampaikan dalam acara yang digelar di auditorium Sirifort, yang berkapasitas 5.000 tempat duduk, di New Delhi, Minggu (24/7).

Mengutip Kompas 25 juli 2005, Rindu kami PadaMu berkisah tentang kehidupan tiga orang anak di pasar kecil dengan berbagai persoalan orangtua. Masing-masing anak tersebut berusaha mencari orang-orang yang mereka cintai lewat telur, sajadah, dan kubah masjid.

Dalam berbagai kritik diberbagai media cetak, film itu dianggap sebagai film yang menggabungkan aspek seni dan hiburan yang terbaik yang dibuat Garin, yang selama ini berkonsentrasi ke film seni.

“Secara tematik, Rindu Kami PadaMu dipilih sebagai film terbaik karena aspek humanisme dan religiusitas sehari-hari yang menawarkan toleransi dengan bersahaja lewat kisah sederhana serta penuh humor yang langka dalam sinema dengan tema Islam,” demikian antara lain alasan dewan juri.

“Saya membuat Rindu Kami PadaMu dengan kisah humor bersahaja, karena film bertema Islam dalam 10 tahun terakhir yang muncul di festival-festival international selalu tentang kekerasan, kemiskinan, peran wanita, pengungsian, dan kehidupan generasi Islam di Eropa, disajikan tanpa humor. Islam menjadi keras dan tanpa humor,” kata Garin mengenai filmnya tersebut.

Karena sifat film-filmnya, segmen yang disasar Garin pun menjadi limited. Bedanya dengan Rumah Batik adalah kalau Garin sudah menemukan "lokasi" segmennya, Rumah Batik sampai sekarang masih dalam proses pencarian yang terus menerus. Ingat, "Semua produk itu ada pasarnya," kata Garin.

Senin, 16 Juli 2007

Madiba Shirt


Madiba adalah nama kehormatan yang diberikan kepada Nelson Mandela dari Klannya. Dan "Madiba Shirt" alias batik adalah pakaian kehormatan yang khusus dipakai oleh Sang Mantan Presiden Afrika Selatan (1994-1999) ini kemana saja dia pergi.

Ya, Nelson Mandela memang merasa sangat nyaman mengenakan pakaian batik made in Indonesia. Ini lah promosi gratis yang dilihat oleh penduduk seluruh dunia. Pemenang Nobel Perdamaian tahun 1993 ini sebenarnya punya pengaruh yg sangat besar dalam memperkenalkan batik Indonesia ke dunia. Sayang sekali, kita tidak merespon "umpan lambung" yang sudah sedemikian nyaman ini, dan promosi batik dari pak Mandela lewat begitu saja...

Nelson Mandela pertama kali mengenakan batik ketika mengadakan kunjungan ke Indonesia pada 1990, sesaat setelah dibebaskan dari tahanan. Beliau menerima hadiah batik dari mantan Presiden Soeharto. Setelah dicoba dia merasa sangat nyaman. Begitu nyamannya dengan batik, pria kelahiran 18 Juli 1918 ini langsung "menyalahi" aturan protokoler ketika untuk kali kedua datang ke Indonesia pada Juli 1997.

Di hari pertama kedatangannya, Ia muncul di Istana Negara dengan kemeja batik lengan panjang bermotif burung merak, yang dikancingkan sampai ke leher. Sebagaimana biasa, tuan rumah Presiden Soeharto mengenakan pakaian sipil lengkap: jas biru tua, berdasi dan berpeci hitam. Toh penampilan Mandela justru mengembuskan suasana hangat.

Mengutip Gatra, 16 Juli 1997, Mandela memberi kesan dekat dengan Indonesia. Ketika mengunjungi London, sebelum bertolak ke Bali, ia mengenakan hem batik pula, bahkan untuk menemui Pangeran Charles. Peraih Hadiah Nobel Perdamaian 1993 itu mengatakan tak melupakan bantuan Indonesia atas perjuangannya. Indonesia dulu memang mendukung upaya-upaya menghapus sistem apartheid di Afrika Selatan.

Ya, "Madiba Shirt" berarti pakaian Mandela. Bagi Afrika Selatan Madiba Shirt adalah Batik Made in Indonesia, bukan made in yang lain...

Sabtu, 14 Juli 2007

Pede (2)


Dua hari kemarin (Kamis-Jumat) saya menghadiri undangan dari penyelenggara Pameran Bunga Rampai Budaya Indonesia. Saya merasa sangat terhormat diundang untuk menghadiri acara yang juga dihadiri oleh orang-orang yg sudah sangat dikenal. Dua hari itu saya sempat bertemu dengan Iwan Tirta, Hary Dharsono, Joop Ave, Ghea (yg ini cuma melihat doang), Mari Pangestu, Aburizal Bakrie. Juga sempat ngobrol dengan Warwick Purser, orang Australia yg sudah jadi WNI, dan sekarang punya bisnis craft besar di Indonesia-Australia.


Banyak sekali kesan positif (dan peluang tentu saja) yang saya terima selama acara itu. Orang-orang yang diundang di sana memang diharapkan nantinya mampu mengirim barangnya menjadi produk ekspor. Pemerintah & penyelenggara juga kelihatan tidak tanggung-tanggung mendatangkan orang-orang yg sangat kompeten di bidang ekspor. Keseriusan ini makin tampak ketika pada hari kedua didatangkan delapan duta besar Indonesia yang bertugas di: Cina, Amerika, Turki, Australia, Spanyol, Hongaria (membawahi Eropa Tengah-Timur), Mexico (membawahi Amerika Selatan), dan dubes Afrika Selatan (membawahi Afrika bag Selatan).

Delapan duta besar itu diminta memaparkan peluang-peluang di wilayah kerja masing-masing. Mereka juga diharuskan melayani pengusaha Indonesia yang ingin masuk ke negara-negara kerja mereka.

Saya belum ingin menceritakan acara itu. Saya hanya ingin cerita mengenai apa yang saya lakukan pada hari kedua saja.

Hari pertama saya rupanya masih dihinggapi sindrom rendah diri. Maklum, yang datang di sana adalah para jagoan. Meski ragu-ragu saya memaksakan diri duduk di deretan ke-3. Sedikit basa basi dengan kiri-kanan. Masih terjadi blocking, pembicaraan masih kurang nyambung.

Di hari kedua, ketika acara dihadiri oleh delapan duta besar Indonesia, saya memaksakan diri duduk di deretan paling depan. Meski tidak ada aturan tertulis, rupanya deretan paling depan secara konvensi biasanya dipakai oleh para tokoh, minimal untuk orang yang sudah sangat dikenal.

Nah, ketika saya hendak beranjak pindah ke deretan belakang, tiba-tiba ada semacam "dorongan" dari dalam yg bicara. "Mengapa mesti pindah, kamu kan juga orang besar (meski badannya kecil), kamu layak duduk di depan, kamu juga seorang tokoh. Bedanya, mereka tokoh kekinian sedangkan kamu tokoh masa depan."

Gleg. Tiba-tiba saya sangat pede dan nyaman dengan posisi saya, duduk di deretan yang paling strategis. Saya duduk paling depan lajur tengah. Jadi paling mudah terlihat.

Setelah berkenalan dan basa-basi dengan sebelah, saya menyadari bahwa saya sedang duduk dengan seorang tokoh. Hari minggu ini dia mendapat anugerah dari Pemerintah. Dia mendapat penghargaan karena upayanya melestarikan koleksi kain-kain adat seluruh Nusantara.

Kami ngobrol beberapa saat sebelum acara dimulai. Saya menceritakan tentang RumahBatik, koleksinya, dan cita-cita saya ke depan. Rupanya dia cukup tekun mendengar apa yang saya katakan. Tidak lama kemudian sang tokoh ini terlihat bicara berbisik dengan sebelahnya.

Dan kemudian saya dikagetkan dengan suara beliau. "Mas, nanti ikut ya tanggal 19-20 Juli. Kami mengadakan diklat khusus. Hanya kalangan sangat terbatas yang kami undang. Bisa kan mas..."

AHA...!

Rabu, 11 Juli 2007

Dilarang Bicara dengan Sopir


Alkisah, sebuah rombongan wisata sedang mengadakan perjalanan ke luar kota dengan menggunakan bus. Bus dengan penyejuk udara itu sepi, hening. Tidak ada seorang pun yang saling bicara atau bercanda. Keheningan itu rupanya tetap berlanjut ketika rombongan telah sampai di tujuan. Semua anggota rombongan tetap membisu, diam, hening. Rombongan lain yang juga piknik di tempat itu heran. Bagaimana bisa sebuah rombongan wisata begitu diam dan membisu padahal mereka BUKAN penderita tuna wicara.

Fenomena ini menemukan jawabannya ketika seorang pedagang asongan masuk ke bus tersebut. Rupanya di atas spion yg terletak di depan pengemudi terdapat tulisan "Dilarang Bicara dengan Sopir". Dan rombongan yang sedang wisata tersebut semua berprofesi sebagai sopir. Pantas saja...

Cerita ini memang hanya rekaan. Saya tidak tahu dari mana cerita ini berasal. Yang saya tahu istri saya lah yang menceritakan kisah itu.

Cerita di atas hanya ingin menggambarkan bagaimana sekelompok orang yang begitu taat dengan peraturan tanpa tahu konteks peraturan tersebut. Tepatnya mereka menganut mazhab tekstual, bukan kontekstual. Mereka tidak mau pusing mempelajari mengapa peraturan itu bisa muncul, bagaimana sejarahnya, bagaimana "asbabul wurud" nya (meminjam istilah agama), dan sebagainya. "Kalau bunyinya seperti itu ya kita harus taat persis dengan bunyinya," kata mereka.

Mereka memang tidak salah. Mereka hanya malas untuk mempelajari sebab turunnya peraturan tersebut. Jadi di mana pun, kapan pun, kalau ketemu dengan sopir ya kita dilarang bicara dengannya. Kasihan orang yang profesinya sopir. :)

"Saya mau mudik selama seminggu," kata saya menjawab seorang teman ketika melihat saya bawa tas tidak seperti biasanya. Ternyata jawaban saya yang begitu jelas dan lugas bisa menimbulkan multi tafsir. Multi tafsir muncul ketika ada yang bertanya hari apa saya balik ke Jakarta.

Perjalanan Jakarta-Solo menggunakan bis malam memakan waktu sekitar 12 jam. Kalau saya berangkat Senin malam maka sampai Solo Selasa pagi. Begitu pula sebaliknya. Di sinilah muncul masalah. Seminggu itu total kepergian saya atau seminggu itu saya berada di Solo. Kalau seminggu saya berada di Solo berarti total perjalanan mencapai 9 hari. Kejadian yang sangat sederhana ini saja bisa menimbulkan multi tafsir apalagi menyangkut yang lebih serius, apakah itu peraturan hukum, adat, apalagi peraturan agama...

Maka langkah yg paling elegan adalah saling menghormati tafsir orang lain.

Masalah salah tafsir ini saya punya kisah nyata yang cukup unik. Kejadiannya sudah lama. Dialami oleh sahabat saya yang berprofesi sebagai dokter. Ketika itu dia sedang bertugas di Timtim ketika masih jadi provinsi ke-27.

"Suatu hari datang seorang pemuda 26 tahun ke tempat praktek saya minta disunat," kata sahabat saya. Teman saya ini sangat heran. Di sana jarang sekali orang minta disunat apalagi yang minta sudah dewasa. Belum habis keheranan sahabat saya, pemuda tersebut berkata, "Betul pak dokter, saya minta disunat. Saya tidak takut."

"Kamu sudah pikir-pikir. Kamu benar-benar ingin disunat?"

"Sudah pak dokter. Saya betul-betul ingin sunat."

Karena tidak ada alasan untuk menolak keinginan pemuda tersebut, sahabat saya pun menyuruh dia datang lagi besuk pagi.

"Begini saja ya. Kamu datang lagi besuk pagi. Dan jangan lupa dicukur yang bersih ya..."

"Baik pak dokter. Terima kasih."

Esoknya sang pemuda pagi-pagi sudah datang ke tempat praktek. Kali ini dengan kepala yang gundul plontos, licin... :))

Selasa, 10 Juli 2007

Pede


"Bangsa Indonesia itu pinter-pinter lho, siapa bilang bodoh?" kata Jaya Suprana pada acara Beyond Marketing di JakTV tadi malam. "Justru orang-orang Jerman banyak sekali yang bodoh. Murid saya itu bodo-bodo lho," sambung bos Jamu Jago ini. Memang, Jaya Suprana pernah 10 tahun tinggal di negaranya Michael Schumacher dan menjadi guru sekolah di sana.

Jaya Suprana tidak salah. Kita bisa lihat buktinya. Di ajang Olimpiade Fisika Dunia yang diadakan di Singapura Juli 2006 siswa Indonesia menjadi juara Dunia. Tim Indonesia menyabet 4 medali emas dan 1 perak. Cina memang merebut lima emas tetapi absolute winner dipegang oleh Jonathan Pradana Mailoa dari Indonesia.

Kejuaraan Dunia Fisika ini diikuti oleh 86 negara dengan 384 siswa. Negara-negara yang kita kenal punya power tinggi seperti Taiwan, Korea, Amerika cuma meraih dua emas. Sedangkan Hongaria hanya satu emas. Di mana Jerman? Nyaris tak terdengar....

Tiga hari lagi Tim Olimpiade Fisika kita akan kembali bertarung di ajang Olimpiade Fisika 2007 yang diadakan mulai 13 Juli di Isfahan, Iran. Mudah-mudahan mengulangi sukses 2006.

Kembali ke Jaya Suprana. "Anak-anak Indonesia selalu lebih unggul. Bedanya hanya lah pada kultur, disiplin, dan rasa percaya diri. Orang Jerman memang punya disiplin tinggi, dan mereka sangat pede," tambah penggagas Muri ini. Kalau diranking total nilai Indonesia sebenarnya lebih tinggi dibanding dengan Jerman. "Sumber daya alam kita lebih bagus. SDM juga tidak kalah. Hanya pede yang masih kalah," tambahnya.

Masalah kultur, ada yang kurang pas pada masyarakat kita. "Kalau ada orang yang berprestasi bagus biasanya tidak diapresiasi tapi malah dicela dan berusaha dijatuhkan nama baiknya. Beda sekali dengan di sana. Orang yang berprestasi bisa dijadikan pancingan supaya yang lain lebih berprestasi lagi," sambung Jaya.

Soal kurangnya pede pada Bangsa kita mungkin sudah menjadi penyakit akut. Betapa sering kita jauh lebih menghargai ekspatriat (baca: londo) dibanding dengan kinerja Bangsa sendiri. Orang-orang londo, baik londo jerman, londo Inggris, maupun londo-londo lain :) selalu kita hargai di luar kewajaran. Padahal mereka tidak lebih pinter dibanding kita.

Untuk soal ini saya jadi teringat dengan Pak Kwik Kian Gie. Mantan Menko Ekuin dan Ketua Bappenas ini pernah gusar dengan kurang pede-nya bangsa Indonesia. "Londo yang ada di negara berkembang adalah londo-londo kelas kambing. Mereka bodoh-bodoh," kata Pak Kwik. "Orang-orang bule kelas I biasanya ditaruh di kantor pusat di negara mereka. Yang kelas II ditaruh di negara new rising seperti Jepang, Korea, Hongkong, dan Singapura. Nah yang kelas kambing baru lah dibuang ke negara berkembang termasuk ke Indonesia."

Jadi hanya pede lah yang bisa mengangkat harkat Bangsa sendiri seperti yang pernah kita alami pada masa Bung Karno dulu... wallahu a'lam.

Senin, 09 Juli 2007

Liar-Liar


Setelah mengikuti seminar Quantum Ikhlas yang dibawakan oleh Pak Nunu hari Sabtu kemarin saya jadi teringat dengan film komedi Liar-Liar. Film produksi Universal Pictures pada tahun 1997 tersebut dibintangi oleh Jim Carrey. Jalan cerita film ini cukup menarik, maka tidak mengherankan kalau mampu menembus box office Amerika dengan mengumpulkan pendapatan hingga USD 181,395,380

Adalah Fletcher Reede (Jim Carrey), seorang pengacara kondang yang seringkali berbohong untuk menyelamatkan kliennya. Liar Liar ini ternyata adalah plesetan dari bahasa inggris Lawyer yang merupakan profesi dari Reede yang mengunakan kebohongan untuk memenangkan kasus.

Dia mempunyai istri tapi sudah pisah rumah karena si Reede tidak pernah menepati janji. Begitu pula dengan anaknya. Dia selalu bohong. Apa pun yang diucapkan adalah dusta. Begitu terbiasanya dengan dusta hingga dia tidak bisa lagi membedakan antara realita dan dusta.

Pada suatu hari anaknya yang berulang tahun kesal karena si ayah tidak bisa datang dengan berbagai alasan. Dan sang anak tahu bahwa alasan yang dikemukakan ayahnya adalah bohong. Puncak kekesalan sang anak akhirnya melahirkan doa. Doa yang keluar dari lubuk hati terdalam. Sebelum meniup lilin di kuenya, si anak mengucapkan permohonan di dalam hatinya. Permohonannya kali ini adalah agar dalam SEHARI saja Ayahnya tidak dapat berkata bohong.

Permohonan si anak ternyata terkabul. Esok paginya si Ayah bangun dan mulai tidak dapat berkata bohong, Semua ucapan yang keluar dari mulutnya adalah pernyataan yang jujur dan apa adanya. Tentu hal ini merepotkan berkenaan dengan statusnya sebagai pengacara yang kebetulan hari itu ada sidang. Sidang yang menentukan karirnya.

Film berdurasi 1 jam 27 menit ini menyuguhkan kejadian-kejadian lucu khas Jim Carrey. Di dalam sidang sang pengacara tidak bisa berbohong. Banyak ucapan2 nya malah memojokkan kliennya. Sang klien marah besar tapi si Reede tidak berdaya dengan mulutnya. Semua perkataannya adalah kebenaran. Dan ternyata di sidang itu dia bisa memenangkan perkara walau harus berkata jujur. "Ternyata jujur bisa menang," ucapnya dengan penuh heran.

Selesai sidang dia cepat-cepat menemui sang anak utk mengucapkan selamat ulang tahun. Di sana lah sang ayah baru tahu penyebab dia tidak bisa berbohong. "Saya memang berdoa sehari saja ayah tidak bisa dusta," kata anaknya. Mendengar itu dia minta sang anak mencabut "kutukannya". Karena merasa kasihan kepada ayahnya sang anak berusaha untuk mencabut doanya.

Aneh! Kali ini sang anak gagal mencabut "permohonan jelek" buat sang ayah. "Maaf saya tidak mampu mencabut doa saya karena TIDAK keluar dari hati saya," kata sang anak kepada Reede. Rupanya kutukan yang terkabul itu berasal dari hati yang terdalam, sedangkan doa mencabut kutukan hanya keluar dari mulut tanpa "melewati" nurani. Rupanya "negative feeling" lebih powerful dibanding "negative thinking". Kekuatan nurani jauh lebih besar dari pada kekuatan fikiran.

Setiap manusia mempunyai fitrah. Fitrah itu sama untuk semua bangsa. Tetapi begitu "turun" ke Bumi banyak variabel yang mempengaruhi fitrah tersebut. Variabel-variabel itu kalau tidak "disaring" mampu menutup sang fitrah sehingga manusia sering melakukan perbuatan di luar kehendak Sang Pencipta.

Maka tatkala kita dihadapkan pada pilihan sulit Rasulullah meminta kita mengembalikan dan menanyakan kepada Sang Nurani. Nurani yang selalu mengusung fitrah.

Kamis, 05 Juli 2007

Prestise atau Praktis?


"Pak Haji, saya ikut mobil Bapak ya?" pinta saya kepada pak Haji Alay ketika kami, peserta talkshow TDA, bersiap ke ITC Mangga Dua. "Boleh saja, tapi bisa muat nggak mobilnya?" jawab Pak Haji agak ragu. Saya sedikit heran mengapa pak Haji tidak bisa menjawab pasti. Saat itu saya memang sangat ingin dekat dengan Sang Narasumber dan menyerap ilmunya selepas acara talkshow.

Keheranan saya akhirnya terjawab ketika kami meninggalkan tempat acara. Ternyata Pak Haji Alay, seorang pedagang besar Tanah Abang, cuma nunut mobilnya pak Joe (pak Joseph Hartanto). Mobil pak Joe akhirnya sesak karena saya memaksakan diri ikut di dalamnya padahal mobil lain banyak yang masih kosong.

Sepanjang perjalanan memang saya banyak belajar dari Beliau. Bagaimana cara memilih produk yang bagus, di mana mencarinya, kisaran harganya, cara menjualnya, dan sebagainya. Meski akhirnya saya "memilih" jalan sendiri ilmu dari Beliau sangat inspiratif.

Di perjalanan itu juga saya mendapatkan jawaban terhadap hal yang mengherankan saya. Mengapa Pak Haji memilih menumpang pak Joe, dan bukan memakai mobil sendiri. "Saya ingin yang praktis saja. Saya kemana-mana lebih senang pakai taksi. Kalau macet lebih senang pakai ojek," Kami semua kaget dengan jawaban pak Haji. "Coba kalau pakai mobil sendiri, kan tegang kita. Jangan-jangan disrempet bajaj. Pakai taksi bisa membantu pengemudinya," Pak Haji melanjutkan jawabannya. Pak Haji, pemilik ratusan kios di berbagai pusat perbelanjaan ini, di setiap tindakannya selalu memikirkan membantu orang lain.

Saya tiba-tiba ingat dengan apa yang pernah saya lakukan pada tahun 1995. Saat itu saya membeli televisi yang punya fitur sangat banyak. Ketika televisi lain masih biasa-biasa saja saya pilih bilingual, subwoofer, 3D stereo. Untuk saat itu fitur tsb masih langka. Ternyata apa yang terjadi? Hampir semua fitur tidak bisa optimal. Bilingual-nya mirip dengan HP 3G sekarang. Ada fasilitasnya tetapi jaringannya tidak mendukung. Ya tetap saja tidak bisa dipakai. Akhirnya saya harus membayar mahal untuk sesuatu yang tidak bisa dinikmati. Mubazir kan...

Pada suatu ketika saya dan seorang teman sedang menunggu di lobi sebuah gedung perkantoran di kawasan elit. Kami melihat banyak sekali para profesional memakai peralatan pendukung mutakhir. Ada satu orang yang membawa sampai tiga hp. "Orang kok nggak praktis, bawa hp sampai tiga," gumam saya. "Ya wajar kamu ngomong seperti itu. Hpmu kan cuma satu," jawab teman saya. Benar juga, pikir saya. "Yang bawa banyak hp dan nggak praktis biasanya kan cuma karyawan. Mana ada bos repot gitu," saya tidak mau kalah. "Kalau kamu beda, hpmu cuma satu karena tidak kuat beli lagi," sambar teman saya. Jangan-jangan dia benar, kata saya dalam hati.

Lama kami terdiam lagi. "Kamu tahu nggak pak Budi Rachmat (salah satu founder TDA). Dia dulu kan profesional Unilever. Kemana-mana bawa mobil plus baju yg selalu necis dan wangi. Sekarang kemana-mana cukup pakai motor padahal duitnya jauuuhhh lebih banyak dibanding dulu. Semakin kaya semakin praktis," Saya merasa di atas angin.

"Kalau kamu beda. Kamu praktis karena memang miskin," teman saya menjawab tanpa ekspresi. Saya kembali diam. "Oke, bagaimana dengan Rusdi Kirana (pemilik Lion Air). Kalau berjalan bareng dengan manajer humasnya, Pak Rusdi lebih mirip sebagai sopirnya karena yang punya potongan orang kaya adalah manajer humasnya," Saya kembali membuka diskusi. Kali ini teman saya yang diam. Mungkin tidak bisa membalas saya. Atau jangan-jangan lebih parah lagi, dia sudah males menjawab karena ucapan saya tidak bermutu.

"Eh tahu nggak, semakin orang itu kaya dia makin praktis lho. Tapi kalau masih miskin malah lebih suka tidak praktis. Mereka lebih senang tidak praktis karena biar dikira sebagai orang kaya. Kalau sudah kaya mereka tidak butuh pengakuan lagi. Jadi lebih memilih praktis," Saya mencoba kembali membuka pembicaraan. Ternyata teman saya lebih memilih tertidur di sofa wisma GKBI...

Rabu, 04 Juli 2007

Dokter Udin


Di kartu namanya cuma tercantum nama Dr. Udin. Alamatnya RSU Rawalumbu Bekasi. Telponnya 82422511. Cuma itu. Tidak ada embel-embel jabatan apa-apa pada kartu namanya. Wajahnya juga tidak potongan orang kaya perkotaan :). Dia juga "hanya" dokter umum, bukan dokter spesialis.

Tapi siapa yang sangka kalau pak dokter ini adalah pemilik RSU Rawalumbu, sebuah rumah sakit yang relatif masih baru tapi pasiennya selalu melimpah. Tidak pernah sepi. Pelayanannya tidak kalah dengan rumah sakit swasta besar di Jakarta.

Yang juga menarik dari dokter Udin adalah namanya dikenal orang seluruh kecamatan. Anda tidak akan susah mencari Dokter Udin. Tinggal tanya tukang ojek atau siapa saja yang tinggal di Rawalumbu pasti ditunjukkan tempat pak dokter ini.

Karena segmennya penduduk Rawalumbu rumah sakit ini memang tidak besar. Berdasarkan data BPS tahun 2003 jumlah penduduk kec Rawalumbu hanya 66.415 orang (kalau sekarang jelas sudah di atas 100 ribu jiwa). Meski tidak besar tapi pelayanan yg diberikan cukup profesional. Fasilitas lab dan penunjang medik juga cukup lengkap.

Sebenarnya di Rawalumbu sudah ada rumah sakit yg cukup besar dan megah (kalau dilihat dari fisik bangunannya) tapi entah mengapa rumah sakit besar ini sudah tidak beroperasi karena kurang pasien. Yang mengherankan pasien RS Rawalumbu malah makin banyak saja. Tempat rawat inap juga lengkap dari kelas VIP sampai kelas 3.

Lho, saya kok malah iklan ya...:) Saya sebenarnya cukup penasaran dengan pak dokter Udin ini. Bagaimana seorang dokter umum bisa mempunyai sebuah rumah sakit yang lengkap dan membawahi banyak dokter spesialis.

Dari info yg saya dapat Dokter Udin ini sebenarnya juga manusia :). Dulunya dia hanya praktek biasa di Rawalumbu. Yang membedakan barangkali pelayanannya. Dulu Dokter Udin tidak pernah menolak kalau dia harus mendatangi pasien yg sakit, pasien yang susah pergi ke dokter karena kondisinya. Dia juga bersedia dipanggil pasiennya 24 jam. Tidak pernah membedakan orang. Pasien miskin pun didatanginya kalau perlu. "Orangnya baik sekali padahal dulu hidupnya juga susah," kata tukang ojek dekat rumah saya menceritakan sosok dokter ini.

Dan yang terpenting, dia selalu mampu memberi sugesti positif kepada pasiennya. Energi positifnya kuat sekali sehingga pasien yang datang bisa cepat sembuh. Anak-anak saya kalau sakit cepat sekali sembuhnya setelah disentuh pak dokter ini. Ternyata tetangga2 saya juga sama. Penyakitnya cepat sembuh kalau sudah disentuh pak dokter Udin.

Kalau memberi obat juga biasa dengan obat generik. Saya yakin demikian karena ongkos yang harus saya keluarkan kalau berobat ke RS Rawalumbu jauh lebih murah dibanding tempat lain.

Barangkali track record inilah yang membuat Dokter Udin begitu dikenal dan disegani. Suka menolong orang, tidak membedakan kaya-miskin, mampu memberi energi positif (sugesti) yg besar kepada tiap pasiennya. Maka sudah selayaknya kalau sekarang dia menikmati hasilnya. "Apa yang kita alami sekarang adalah akumulasi dari perbuatan kita sebelumnya, maka mulailah menabur kebaikan hari ini, saat ini!" kata Andrie Wongso.

Selasa, 03 Juli 2007

Blitz (Serangan Kilat)


"Suami saya nggak apa-apa kan pak?" kata Bu Ema (sebut saja begitu) berkali-kali sambil menatap tajam teman kantor suaminya yang tiba-tiba mengunjungi rumahnya.

"Benar kan pak suami saya nggak apa-apa?" tanya ibu tiga anak yang rumahnya dekat dengan rumah saya itu kembali mengulang pertanyaan kecemasannya.

Sambil menarik nafas panjang sang tamu dengan terpaksa menyampaikan berita duka. Berita duka yang sangat tiba-tiba. "Suami ibu meninggal hari Jumat kemarin. Dugaan kami karena serangan jantung."

Berita itu diterima hari Minggu. Jadi sudah dua hari dari tanggal kejadian. Dan sampai sekarang jenazahnya sedang dalam proses dipulangkan ke Indonesia. Ya, suami bu Ema memang sedang melakukan tugas belajar ke Jepang. Dia dikirim dari kantornya untuk memperdalam product knowledge sebuah produk yang baru saja diluncurkan ke pasar.

Berita ini sontak membuat bu Ema lemas. Matanya tiba-tiba kosong. Dan... bruk! beliau harus dipapah supaya tidak jatuh. Terbayang dalam pikiran bu Ema bagaimana dia harus hidup dengan tiga anak yang masih kecil-kecil. Bagaimana mereka harus melanjutkan hidup. Selama ini memang hanya dari sang suami income keluarga ini. Dan sekarang tiba-tiba sumber tersebut dicabut dengan tiba-tiba, tanpa ancang-ancang sama sekali.

Kejadian ini bisa menimpa siapa saja, tak ada kecuali. Bedanya hanya pada prosesnya. Ada yang pelan-pelan. Namun tidak jarang datang secepat Blitzkrieg, serangan kilat.

Pada banyak perusahaan memang ada penghargaan untuk meringankan kejadian tersebut. Juga banyak asuransi yang menawarkan kompensasi untuk keadaan tak terduga seperti itu. Namun persoalannya ternyata tidak sesederhana itu. Persoalan yang paling mendasar adalah, kalau tunjangan tersebut sudah diterima kemudian buat apa?

Jalan paling aman memang ditabung atau deposito. Tapi dengan tingkat suku bunga seperti sekarang ini bunga deposito jelas tidak cukup untuk menunjang hidup. Bagaimana kalau untuk bisnis? Bagus, tapi bisnis juga mengandung resiko besar kalau seseorang sama sekali belum pernah mencoba bisnis. Investasi properti? Sama saja kalau sama sekali belum pernah mencoba main properti.

Kebimbangan seperti di atas adalah realita yang juga dirasakan oleh istri sahabat saya kira-kira dua tahun lalu. Sang suami tercinta, karyawan perusahaan minyak asing, tiba-tiba meninggal karena kecelakaan. Sang istri mendapat tunjangan cukup besar tapi bingung buat apa dana sebanyak itu? Kalau tidak diputar jelas akan habis. Sementara untuk bisnis dia tidak berani...

Yang menyedihkan adalah kalau sang penyangga hidup tiba-tiba "dipanggil" Yang Kuasa, sedangkan keluarga yang ditinggal tidak mendapat tunjangan yang layak....

Bagaimana mengantisipasinya?

Jalan yang paling rasional, mungkin, salah satu (sukur berdua) sudah harus memulai bisnis dari sekarang, mumpung masih diberi waktu olah Sang Khalik. Karena bisnis memerlukan biaya belajar, baik dana maupun waktu. Dan bisnis yang dikelola ini juga diketahui oleh masing-masing suami-istri. Secara garis besar suami dan istri mengetahui settingan usahanya, bagaimana cara mengelola, hitung-hitungannya, suppliernya, dll.

Nah kalau tiba-tiba terjadi Blitzkrieg yang tidak dikehendaki, yang ditinggalkan masih bisa "melanjutkan" hidup tanpa harus meraba-raba apa yang harus dilakukan. Dan kalau ada tunjangan yg cukup signifikan, tentu saja bisa dipakai buat akselerasi usaha.

Saya menakut-nakuti? Saya sendiri juga takut. Kita semua pada dasarnya kan sedang "antri". Kita duluan atau pasangan kita yang duluan. Tapi saya persilahkan kalau Anda mau "duluan"...:)

Senin, 02 Juli 2007

Fratelli D'Italia


Ternyata selama ini lagu kebangsaan yang paling sering saya dengar bukan Indonesia Raya tetapi Fratelli D'Italia, lagu kebangsaan Italia. Setelah itu menyusul God Save The King, lagu kebangsaan Inggris. Khusus untuk tahun ini God Save The King masih menempati peringkat pertama lagu kebangsaan yang paling sering saya dengar. Mudah-mudahan nanti Fratelli D'Italia bisa menggeser God Save The king. :)

Lho, kok bisa? Apakah saya orang yang tidak nasionalis? Tidak juga. Fratelli D'Italia terdengar di telinga saya adalah konsekwensi saya seorang penggemar nonton balap mobil F-1. Bahkan di televisi mungkin Indonesia Raya terdengar tidak sebanyak Fratelli D'Italia.

Menurut saya balap mobil Formula-1 tidak hanya menyajikan adu kecepatan antar para pembalap tapi lebih kepada bagaimana sebuah tim menunjukkan kinerjanya. F1 menunjukkan bagaimana sebuah tim selalu bekerja dalam kondisi kritis. Setiap elemen tim TIDAK boleh membuat kesalahan, bahkan kesalahan yg sangat kecil. Bahkan "hanya" tukang bawa ban pun punya pengaruh terhadap hasil akhir setiap balapan. Seorang yang "hanya" membawa ban terlambat menyerahkan ban kepada pemasang ban ketika pitstop bisa menghancurkan semua skenario tim yang disusun sejak awal. Keterlambatan satu detik saja bisa berakibat sangat fatal.

Bekerja dalam kondisi kritis inilah yang menarik. Semua elemen tim harus bekerja dengan konsentrasi 100%. Bagaimana pun hebatnya seorang pembalap tapi kalau lolipop-man terlambat mengangkat tanda "go" maka nasib pembalap dan seluruh tim menjadi taruhannya.

Yang juga menarik adalah begitu sebuah tim berhasil dengan kemenangannya, maka yang diingat orang hanya lah sang pembalap. Saat ini yang paling saya ingat adalah Raikkonen, Massa, Hamilton, Alonso. Saya juga ingat sedikit Jean Todt (bos tim Ferrari) atau Ron Dennis (bos McLaren).

Bekerja dalam sebuah tim adalah juga bekerja dengan konsekwensi. Dalam sebuah tim memang ada orang yang harus ditonjolkan sebagai ujung tombak. Ujung tombak inilah yang akan diingat orang. Tetapi ingat, ujung tombak tidak ada artinya apa-apa kalau tidak ada badan tombak. Ujungnya saja tidak mungkin bisa melesat kencang kalau tidak ada yang memegang (badan tombak).

Yang sering jadi masalah adalah kebanyakan orang menginginkan kedudukan sebagai ujung tombak. Posisi ujung tombak memang posisi yang paling nyaman. Namun juga perlu diingat bahwa setiap orang punya potensi diri masing-masing. Menurut Roger Hamilton ada delapan tipe manusia (di kesempatan lain aja ya saya bahas). Nah kalau masing-masing kita mengenali karakter diri dan berjuang sesuai dengan karakternya, DIJAMIN pasti sampai pada posisi puncak.

Setiap organisai atau komunitas juga diperlukan ujung tombak. Ujung tombak inilah yang akan selalu menembus dan berhubungan dengan pihak lain. Dan konsekwensinya ujung tombak inilah yang paling dikenal. Tidak terkecuali dengan TDA. Tidak dapat dipungkiri TDA adalah sebuah komunitas dengan potensi yang sangat besar. Menurut saya saat ini sudah selayaknya ada ujung tombak yang harus disiapkan. Pertanyaannya mana yang didulukan, ujung tombaknya atau badan tombaknya?

Kerendahan hati untuk tidak terkenal dari "badan tombak" sangat diperlukan. Begitu pula sifat tidak sombong dari "ujung tombak" juga harus dijaga. Sampai saat ini saya masih terkesan dengan semboyan Korp Suply TNI-AD:

"Logistik memang tidak memenangkan peperangan tapi tanpa logistik perang tidak akan bisa dimenangkan."