Rabu, 14 November 2007
Selasa, 13 November 2007
Duo Siti
Inilah duo Siti. Dari 5 foto mereka saya pilihkan 2 yang standar saja ya. Pesan mereka, "maaf la kami bagi yang mampu sahaja.... Jangan disalah guna ye pict kami tu....hehehehe."
Senin, 12 November 2007
Apakah Ini Juga LoA?
Pada suatu hari, hatta, menurut cerita ibu mertua saya, puluhan tahun silam ketika berangkat dan pulang mengajar Beliau selalu melewati sebuah rumah."Rumah itu indah, cekli, tidak besar tapi sangat serasi. Bangunan dengan halamannya pas skalanya. Dan yang membuat saya kagum adalah pagarnya yang pancak suji," cerita Beliau kepada anaknya (sekarang jadi istri saya). Pancak suji adalah desain pagar yang saat itu memang jadi tren setter. Ibu mertua ingin sekali memiliki pagar seperti itu. Tiap hari pagi dan siang, kalau lewat di depan rumah itu, Beliau selalu berkata dalam hati, suatu saat kalau membangun rumah pagarnya harus pancak suji.
Dan ternyata benar. Beberapa tahun kemudian ketika cita-citanya membangun rumah kesampaian, pagarnya memang pancak suji.
Lain lagi dengan cerita Ibu saya.
Di dekat rumah orang tua saya ada sebuah rumah. Saya tidak tahu persis siapa pemiliknya. "Rumah itu pagarnya aneh. Masak pagar kok warnanya seperti itu," kata Ibu kepada saya puluhan tahun yang lalu. Pagar yang dimaksud Ibu saya adalah pagar yang warnanya kuning ndesit. Kalau bahasa gaul sekarang, kuning katro. Dari jarak 300 meter warna itu mampu membuat mata kita 'silau'. "Aku kok sebel dengan warna itu," komentar Beliau lagi.
Sayangnya, atau apesnya, tiap belanja sayur Ibu saya selalu melewati rumah dengan pagar katro itu. Jadi Beliau tidak bisa menghindar dari si 'kuning ndesit'. "Jadi panjenangan tiap hari sebel dong," goda saya. Beliau hanya tersenyum saja.
Ternyata, ketika keluarga kami akhirnya mampu merenovasi rumah tercinta, 'keajaiban' terjadi. Pagar rumah kami yang baru warnanya... kuning katro.
"Lho, warna pagarnya kok kuning, persis dengan rumah tetangga itu?" tanya kakak saya. Ibu saya juga heran kok warnanya bisa sama. Padahal yang memilih warna juga ibu saya. Orang bilang sih kualat. "Makanya kalau benci jangan benci-benci amat. Jadinya malah kepikiran terus," kami coba menggoda Ibu.
Ketika saya dan istri memulai hidup baru di Jakarta, tepatnya di Kranggan, Bekasi Selatan, kami punya tetangga dengan dua anak laki-laki yang masih kecil. Tiap hari kami selalu mendengar tangisan anak itu. Kadang tangisan itu disebabkan karena mereka berantem, atau jatuh, bisa juga karena kena marah ibunya.
"Tetangga sebelah itu kasihan ya, punya anak kok umurnya deketan banget. Jadinya kan repot." Kami sering membicarakan insiden yang sering terjadi di rumah sebelah. "Harusnya kalau punya anak jaraknya yang ideal dong," gumam kami lagi. Kami sering menggoda mereka kalau anaknya ada yang menangis. Tetangga sering hanya tersenyum saja kalau kami godain. Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka.
Ternyata ketika kami punya anak, jarak antara anak pertama dan kedua hanya 16 bulan. "Nha, sekarang rasain, repot lagi repot lagi," goda tetangga sebelah ketika melihat betapa kami cukup kelabakan menangani duo laki-laki kami. "Makanya kalau punya anak jangan deket-deket amat." Kali ini mereka punya 'amunisi' yang siap ditembakkan sewaktu-waktu.
Tidak berhenti di sini saja. Ternyata istri saya masih melahirkan lagi duo laki-laki lagi sebelum kami meninggalkan Kranggan. Ternyata kami lebih repot dibanding dengan tetangga sebelah.
Kali ini ada dua tetangga yang sering menggoda. Tetangga depan rumah punya dua anak laki-laki. Tetangga sebelah juga dua anak laki-laki. Mereka sering kompak 'bernyanyi' kalau melihat kami repot dengan empat 'pasukan'. Istri saya sering menjawab, "Paling-paling nanti sampeyan juga nggak kalah repot kalau punya anak lagi." "Kami sudah nggak ingin punya anak lagi tuh," jawab mereka sambil tertawa, hahaha...
Ajaib nggak ya. Dua tetangga kami ternyata, akhirnya, sama-sama 'menambah' dua anak lagi. Jadilah mereka masing-masing punya empat anak. Jadi lah tiga keluarga ini punya selusin anak: 11 laki-laki 1 perempuan.
Kami pun akhirnya pindah ke Bekasi. Di kompleks yang baru kami tentu saja mendapat sedikit perhatian.
Kami membawa 4 anak laki-laki. Tetangga sebelah baru satu anak laki-laki. Kedatangan kami ternyata menambah sedikit keramaian. Mereka sering mendengar saya atau istri saya yang repot menangani kalau 'pasukan' ini sedang 'berperang'. "Kasihan ibu sebelah. Tiap hari suaranya terdengar dari sini," katanya kepada pembantu kami. "Gimana nggak repot. Anaknya empat laki semua," tambahnya. Kami pun sering digoda.
"Ah, paling-paling nanti sampeyan juga banyak anak," kami tidak mau kalah kalau mendapat 'serangan' tetangga sebelah.
Apa yang terjadi sekarang... ?
Tetangga sebelah 'baru' punya 3 anak, semua laki-laki. Apa yang dulu kami alami: suara keras, tangisan, 'perang saudara', semua terdengar dari rumah kami. "Sekarang skornya satu-satu ya bu," goda istri saya kepada ibu sebelah. Dia hanya mesem-mesem saja...
Jumat, 09 November 2007
Rujukan Thesis
Beberapa waktu lalu saya diemail oleh 2 mahasiswi dari Malaysia. Mereka ingin Anin Rumah Batik menjadi salah satu referensi thesis mereka dalam rangka menyelesaikan S1. Tentu saja saya tidak keberatan.
Dua calon sarjana itu juga mengirim foto-foto mereka... ehm cantik juga, haha :))
Inilah hasilnya:
Dua calon sarjana itu juga mengirim foto-foto mereka... ehm cantik juga, haha :))
Inilah hasilnya:
Selasa, 06 November 2007
Apa Kegiatan Anda ketika TDA?
"Apa yang sampeyan lakukan di rumah ketika sudah full TDA?" tanya sahabat saya tiba-tiba ketika kami bertemu di sebuah acara.Pertanyaan itu sebenarnya sangat simpel, sederhana, jelas, dan lugas. Tapi pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan tersebut cukup membuat saya kaget dan gelagapan untuk menjawabnya.
Saat itu saya tidak bisa langsung menjawabnya. Detik itu tidak ada kalimat yang bisa keluar dari mulut saya. Untuk menutupi kebingungan maka yang saya lakukan hanya tertawa dan mengatakan bahwa pertanyaan itu sangat bagus. Bagus sekali.
Kalau salah satu goal dari anggota komunitas ini adalah 100% menjadi TDA (Tangan Di Atas) alias jadi pengusaha, pemberi, dan bukan jadi orang gajian lagi, maka pertanyaan sederhana di atas sangat relevan.
Sebagai karyawan kegiatan kita sehari-hari sangat lah standar: Pagi buta sudah harus keluar rumah, berjibaku dengan pangguna jalan lain memperebutkan sejengkal aspal, menghabiskan 2-3 jam di jalanan, menghirup udara yang sangat polutif, kadang juga meneriakkan anggota Ragunan kalau kendaraannya 'digunting' orang lain. Di jalanan ini lah mungkin sebagian besar energi dihabiskan. Dan karena sering menyebut-nyebut 'saudara tua' yang tinggal di Ragunan tentu saja tingkat stres nya bertambah.
Sedangkan bagi yang naik kendaaan umum, mengejar Mayasari Bhakti jelas sekali memerlukan energi yang setara dengan olahragawan. Belum lagi di dalam bis kaki ini mesti hati-hati memilih pijakan. Salah-salah yang kita injak adalah kaki karyawati (ada untungnya sih, bisa kenalan), bukan lantai bis. Tentu saja energi kita makin terbuang kalau yang kita injak adalah kaki pengamen.
Tiba di tempat kerja langsung berhadapan dengan rutinitas. Ada memang yang pola kerjanya sangat dinamis tapi jumlahnya pasti lebih sedikit. Energi yang dipakai di tempat kerja adalah energi sisa yang sudah banyak terbuang di jalanan.
Jam 12 teng semua meninggalkan satu rutinitas menuju rutinitas lain, makan siang. Di tempat makan ini barangkali kita bisa refreshing. Di samping bisa istirahat kita juga bisa melihat 'pemandangan' lain yang tidak bisa dijumpai di tempat kerja.
Jam 13 menurut peraturan sudah harus kerja lagi, rutinitas lagi. Meski tidak jarang yang nambah jam istirahat atau bertemu rekan sejawat hingga jarum pendek jam bisa tiba-tiba mengarah ke angka 3. Dan jam 17 tepat kembali kita harus berjibaku berebut sejengkal aspal dalam rangka 'menengok' keluarga di rumah. Dikatakan 'menengok' karena waktu untuk orang yang kita cintai lebih sedikit dibanding dengan waktu buat bos.
Apakah kegiatan ini membosankan? Maybe yes maybe no. Bagi orang yang memandang dari kejauhan kegiatan ini sungguh membosankan dan menyiksa. Tapi bagi para pelaku bisa jadi ini adalah kegiatan yang menyenangkan. Bisa karena biasa. Tresno jalaran soko kulino. :)
Nah bagaimana kalau tiba-tiba kita memutuskan menjadi manusia merdeka. Manusia yang bisa mengatur diri sendiri. Yang hidupnya tidak dikendalikan pihak lain?
Pagi hari tiba-tiba kita tidak punya kesibukan super. Tiba-tiba kita bisa menyaksikan anak kita berangkat ke sekolah. Tiba-tiba kita bisa melihat tukang sayur, tukang sol sepatu, penjual ayam keliling, penjual beras, mobil menjajakan perabot, penjual remote control, tukang las, dan lain-lain.
Tiba-tiba pula ada tetangga yang bertanya, "Pak kok sekarang di rumah saja?". Barangkali kita mendengar tetangga yang ngobrol kalau kantor kita bangkrut. Atau kita dipecat karena berantem dengan bos yang tidak tahu persoalan perusahaan. Dan masih banyak lagi...
"Memang semuanya perlu transisi," jawab saya kepada sahabat yang masih penasaran dengan hari-hari jadi TDA. Dan transisi yang paling penting harus disiapkan dengan baik adalah menyiapkan mental keluarga kita sendiri. Apa yang harus dilakukan kalau tiba-tiba anak kita bertanya, "Kok bapak sekarang tidak ngantor lagi?"
Kalau mental keluarga sudah siap, sudah mendukung langkah kita, maka keputusan menjadi TDA adalah berkah. Berkah yang sangat besar.
Dan tiba-tiba tiap pagi saya selalu punya kesibukan sendiri. Kesibukan produktif. Menjadi 'aktivis' Jakarta adalah kesibukan yang (menurut saya) kurang produktif.
Langganan:
Postingan (Atom)









