Selasa, 11 Agustus 2009

Undangan Training Franchise


Minggu kemarin, tepatnya tanggal 3-7 Agustus 2009, Anin Rumah Batik mendapat undangan dari Departemen Perdagangan unuk mengikuti training manajemen Bisnis Franchise.

Bagi saya undangan ini merupakan anugerah dan sangat bermanfaat. Betapa tidak, pelatihannya sendiri berlangsung selama lima hari (Senin-Jumat) dari pagi sampai sore. Oleh Departemen Perdagangan kami diberi fasilitas penginapan sekelas hotel berbintang plus konsumsi.

Yang memberikan materi pun juga bukan sembarangan. Sebut saja pak Anang Sukandar, ketua AFI (Asosiasi Franchise Indonesia). Ada pak Bije Widjajanto dari BenWarG Consulting yang sangat berpengalaman. Sedangkan untuk masalah legalitas disampaikan oleh pak Bambang Pram Said, SH, MPA, LLM.

Training yang kami ikuti bisa dikatakan sebuah training yang komprehensif. Komprehensif karena menyangkut mulai dari ide, strategi, perencanaan tahap demi tahap, launching, promosi, sampai aspek legalitas. Komplit.

Bagi saya sendiri kesempatan ini termasuk langka. Sangat jarang kita bisa mendapatkan pengetahuan franchise secara lengkap dan utuh. Biasanya seminar tentang franchise yang promosinya banyak terdapat di media bisnis adalah seminar 3 jam-an dengan topik yang parsial. Kalau pun topiknya tidak parsial mesti dilakukan selama beberapa hari berturut-turut. Diadakan di tempat yang elegan (biasanya hotel) dengan biaya yang tentunya tidak kecil.

Maka pelatihan yang diadakan Departemen Perdagangan adalah sebuah upaya positif dari Pemerintah dalam rangka memajukan dunia usaha yang saat ini masih UKM. Terima kasih Depdag.

Namun segala kebaikan ini bukan berarti tidak ada kekurangannya. Ketika Depdag mengumumkan pelatihan ini kepada para usahawan, porsi yang ada disediakan hanya untuk 30 bisnis. Yang mendaftar tercatat 40 lembaga bisnis sehingga yang waiting list ada 10 orang.

Namun ketika hari H tiba, peserta yang datang sangat sedikit. Bisa dikatakan semua yang mengundurkan diri tidak memberi tahu panitia. Mundur tiba-tiba. Keadaan ini tentu saja membuat panitia kalang kabut dan kecewa. Akhirnya ketika pelaksanaan sudah berjalan panitia terpaksa menghubungi para waiting list. Dan karena banyak waiting list yang tinggalnya di luar kota maka tidak semua yang dipanggil bisa datang secara mendadak. Akhirnya total yang mengikuti pelatihan ini hanya 23 perusahaan. Jadi ada jatah kosong untuk 7 perusahaan, mubazir. Dari 23 perusahaan ini separuh diantaranya ganti personil di tengah jalan. Artinya kesinambungan materinya terputus.

Memang sangat disayangkan. Ketika Pemerintah sudah melakukan upaya membantu para usahawan respon yang diterima tidak menggembirakan. Tetapi ketika bisnis sedang gonjang ganjing mereka berteriak mengapa Pemerintah tidak pernah membantu... Ah, kita memang tidak tahu diuntung dan suka menyalahkan orang lain...

3 komentar: