Rabu, 12 Mei 2010

Tuhan Sembilan Senti

oleh: Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,

tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Sabtu, 24 April 2010

Carilah Partner tak "Sepaham"


Apakah judul di atas mengherankan? Apakah tidak ada yang salah dengan judul itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu bisa dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan lain, misalnya bagaimana mungkin kita disuruh mencari partner yang bertolak belakang dengan keinginan kita? Mana bisa tujuan bisa dicapai kalau tim tidak sejalan dengan keinginan kita?

Saya masih ingat dengan cerita James Gwee (mudah-mudahan semua sudah tahu siapa James Gwee itu). Sewaktu baru saja lulus dari perguruan tinggi dia dan kawan-kawannya bermaksud membuka bisnis.

Dengan semangat yang membara James bertekad menjadi pengusaha. Dia kumpulkan teman-teman seide untuk mewujudkan mimpi bersama. James merasa beruntung menemukan teman yang selalu seide. Hampir semua usulannya diterima.

Singkat kata bisnis yang dijalani berjalan dengan cepat melesat. Sebagai orang yang mempunyai banyak ide dia selalu disupport oleh mitra kerjanya. Berbagai produk baru terus diciptakan. Temannya juga selalu menciptakan produk-produk baru. Kreasi yang terus muncul menjadikan perusahaan cepat dikenal dan terkenal. Tetapi, nyawa perusahaan ini ternyata hanya seumur jagung. Dengan waktu yang tidak lama perusahaan yang melesat cepat itu akhirnya harus runtuh dan tutup buku.

Di kemudian hari James Gwee baru menemukan jawabnya. Sebab utamanya adalah perusahaan mereka dijalankan oleh orang yang punya tipe yang sama. James dan kawannya punya tipe kreator. Mereka terus menciptakan produk baru. Mereka selalu bertemu dengan klien. Namun mereka tidak mempunyai orang yang mengurus perusahaan dengan baik, teliti, detil, dan njlimet dengan angka-angka. Mereka tidak punya orang yang tipenya supporter.

Pelajaran yang bisa diambil adalah kita seharusnya mengenali tipe diri kita. Roger Hamilton sudah membuat klasifikasi manusia menjadi 8 tipe kepribadian (Creator, Star, Supporter, Deal Maker, Trader, Accumulator, Lord, Mechanic). Ke 8 tipe ini bisa menjelaskan hampir semua kepribadian manusia dan pekerjaan yang paling optimal untuk masing-masing tipe.

Beberapa hari lalu di milis TDA kita membaca keluhan salah seorang sahabat yang omset tokonya merosot tajam setelah ditinggalkan pagawainya. Padahal biasanya omset selalu naik dari hari ke hari.

Untuk sebuah usaha yang dijalankan secara offline (seperti toko) maka sangat menentukan bagaimana kita memilih pegawai yang dijadikan ujung tombaknya. Pegawai yang banyak bicara, supel, pinter ngajak bicara orang lain, pinter nggodain customer, sangat vital peranannya. Pokoknya pegawai yang tipenya mirip Dorce adalah jaminan (meski tidak 100%) bahwa usahanya akan sukses. Tipe Dorce adalah kalau dia ngerjain orang, yang dikerjain tidak mungkin marah.

Saya mempunyai famili yang tipenya introvert, tidak suka bertemu dengan banyak orang. Dia punya usaha yang dijalankan secara offline. Karena menyadari bahwa dirinya tidak bisa ngajak omong orang lain yang belum dia kenal, maka dia merekrut familinya yang tipenya ramai, banyak omong, ramah, mudah gaul untuk dijadikan ujung tombak pemasaran produknya. Padahal famili saya ini tidak pernah kenal dengan orang yang bernama Roger Hamilton.

Suatu saat dia ditawari mengadakan pameran di sebuah mal yang masih sepi. Saking sepinya mal itu dia dibebaskan dari biaya sewa tempat. Hampir semua peserta pameran mengeluh sepi karena sedikitnya pengunjung yang datang. Tetapi khusus famili saya, omsetnya cukup bagus dan terus naik, Ini karena ujung tombaknya adalah orang yang tipenya pas dengan medannya.

Sedangkan kalau usaha itu dijalankan secara online tentu saja diperlukan orang dengan tipe yang berbeda.

Manusia adalah makhluk unik. Satu orang dengan yang lain tidak sama. Tidak ada manusia yang sempurna. Kekurangan yang dimiliki satu orang bisa ditutupi oleh orang lain yang punya tipe dan watak yang berbeda.

Ibaratnya puzzle (sepeti foto di atas), puzzle itu akan membentuk sebuah bangun yang sempurna kalau tonjolan salah satu unsurnya bertemu dengan lekukan unsur yang lain. Terus menerus seperti itu. Kekurangan unsur yang lain dipertemukan dengan kelebihan unsur lainnya. Saling lengkap-melengkapi inilah yang akhirnya membentuk puzzle menjadi sebuah bangun yang sempurna.

Maka kalau usaha kita ingin berhasil kenalilah tipe diri kita dan carilah partner yang tidak "sepaham" alias berbeda dengan kita. Partner yang saling melengkapi dan menutup kekurangan masing-masing...

Selasa, 06 April 2010

Produk RI Tembus Supermal Harrods London

London - Dikawal teks Remarkable Indonesia, the Legacy of Timeless Treasures, produk Indonesia dari batik, handicraft, furnitur, sampai jewelry hadir sangat mewah di supermal Harrods, London.

Keberhasilan produk nasional masuk Harrods, supermal mewah yang didirikan oleh Charles Henry Harrod (1834) dan kini dimiliki Al-Fayyed, itu berkat kerjasama KBRI London, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Budaya dan Pariwisata dalam rangka promosi Indonesia, yang akan resmi dibuka pada 8/4/2010 dan akan berlangsung sebulan penuh.

"Di antara produk Indonesia itu ada gunungan dan tokoh wayang kulit nan artistik, dipadu dengan wayang golek dan latar belakang Candi Borobudur," tutur PLE Priatna, warga Indonesia di Brussel yang sedang liburan Paskah di London kepada detikcom, 5/4/2010.

Menurut Priatna, sebagai orang Indonesia dia merasa bangga dan berdecak kagum dengan keberedaan Indonesia's Corner di supermal mewah Harrods. "Ternyata barang dan produk Indonesia tampak bagus, mewah terpajang di tempat bergengsi ini," tegas Priatna.

Secara terpisah, Dubes RI untuk Inggris dan Irlandia Yuri O. Thamrin mengatakan bahwa upaya pihaknya menghadirkan Indonesia di supermal Harrods yang terkenal di seluruh penjuru dunia adalah sebagai langkah promosi terobosan untuk mengundang pelancong melihat Indonesia dari sudut kota London.

"Puluhan ribu pelancong dan warga Inggris sendiri setiap ke London pasti mendatangi Harrods. Berkunjung ke London tanpa ke Harrods terasa tidak lengkap. Esensi dan peluang itu yang kita tangkap," ujar Yuri, ketika berjumpa Priatna di Bandara Heathrow sehari sebelumnya.

Kehadiran produk dan promosi Indonesia di Harrods tersebut tidak hanya secara fisik visual di etalase dan gala dinner, tetapi juga akan melekat terbawa pulang oleh ribuan orang yang berbelanja di supermal bermoto Omnia Omnibus Ubique (Semua Barang untuk Semua Orang, di Mana Saja, red).

Sebab dalam struk tanda bukti pembayaran belanja di Harrods akan tertera teks "Remarkable Indonesia, Visit the Food Hall to sample Indonesian Cuisine and see Indonesia Fashion, Art, and Design, in the Exhibition Windows. "

Menurut Priatna, struk seperti ini melekatkan citra produk Indonesia ke benak pengunjung sekaligus mematrikan citarasa dan karya seni Indonesia di manca negara. "Ini juga bisa menjadi memorabilia, kenangan indah yang istimewa dan mahal harganya," tandasnya.

Priatna berpendapat, bahwa terobosan promosi terpadu semacam ini sepatutnya tidak hanya di lakukan sekali, tapi harus berkesinambungan dan di banyak kota lain di Eropa.

"Selamat datang Indonesia di Harrods, London!" pekik Priatna. (es/es)

sumber: detik.com

Sabtu, 06 Maret 2010

Furnitur Anin Rumah Batik di Kontan


Secara tidak sengaja waktu 'jalan-jalan' malam mingguan kami menemukan sebuah tulisan menarik di Tabloid Kontan.

Tulisan ini sebenarnya sudah lama, sudah satu tahun lalu. Tapi tidak apa-apa untuk mengingatkan kembali bahwa produk unik ini rupanya cukup menarik bagi sebuah media massa yang cukup besar.

Tentu saja kami tidak bisa menyembunyikan perasaan senang ini. Dan kalau ingin melihat edisi lengkapnya silahkan klik di sini.



Ternyata...

Ketika 'jalan-jalan' dilanjutkan, ditemukan lagi sebuah tulisan di situs yang berbeda, di sebuah situs portal bisnis, tetapi isi tulisannya sama karena sumber tulisannya ternyata juga sama. Silahkan klik di sini untuk melihat detailnya.

Kamis, 18 Februari 2010

Sedekah si Kaya dan si Miskin


Ketika sedang 'jalan-jalan' saya menemukan tulisan yang sangat menggugah. Sebuah artikel karya Tarmizi, Direktur Eksekutif PPPA Daarul Qur'an.
----------------=

Pemilik klub sepakbola Inggris Chelsea, Roman Abramovich, menghabiskan $ 52 ribu dollar atau sekitar Rp 520 juta hanya untuk makan siang bersama 9 temannya di Restoran Nello, New York (Sunday Mail, 1 November 2009).

Itu belum seberapa. Dailymail edisi Selasa, 3 November 2009, mengutip majalah Don Juan Kolombia, yang mengungkapkan kegilaan Pablo Escobar. Bos narkoba Kolombia ini, pada suatu malam di tengah pelariannya, pernah membakar tumpukan uang kertas senilai hampir Rp 20 Miliar untuk menghangatkan tubuh putrinya, Manuela, yang menderita hipotermia.

Kita juga punya cerita yang mirip. Seorang bos rokok Indonesia, memiliki apartemen di distrik elite Singapura yang setiap meternya berharga sampai Rp 70 juta. Dia datang ke Jakarta bila ada urusan bisnis, dan tidak menginap kecuali di sebuah Penthouse Hotel Grand Hyatt yang bertarif minimal US$ 3.300 semalam atau sekitar Rp 30 jutaan/malam. Sebuah Rolls Royce Phantom seharga US$ 320 ribu yang di Indonesia hanya ada 10 biji, siap mengantarnya ke mana-mana.

Pada 1991, tergelar pesta pernikahan anak konglomerat Indonesia bak di negeri dongeng. Pesta berlangsung maraton selama 3 hari, yakni tanggal 28, 29, dan 31 Agustus 1991, dan menghabiskan ongkos Rp 5 miliar. Dibutuhkan 6 truk untuk mengangkut seluruh kado untuk mempelai.

* * *

Meski memilih hidup miskin, Rasulullah tak pernah membenci kekayaan dunia. Beliau berwasiat, ‘’Jangan kalian mencaci-maki dunia. Dia adalah sebaik-baik kendaraan. Dengannya orang dapat meraih kebaikan dan dapat selamat dari kejahatan’’ (HR Ad-Dailami).

Misalnya Abdurrahman bin Auf. Dari total asetnya yang sekitar Rp 600 Milyar, sebagian besar diinfakkan fi sabilillah. Tiap hari, rumah Abdul Rahman tak pernah sepi pengunjung. Sepertiga penduduk Madinah datang ke pondoknya untuk membayar utang, sepertiga lainnya berkunjung untuk berutang, dan sepertiga berikutnya bersilaturahim sambil mengambil sedekah.

Hmmm, alangkah enaknya jadi Abdurrahman bin ‘Auf.

Bayangan enaknya jadi orang kaya seperti itu, empat belas abad yang lalu pernah dikemukakan beberapa sahabat di hadapan Khalifah Umar bin Khattab. Waktu itu Umar naik mimbar dan bertanya kepada jamaah, ‘’Kemukakan keinginan kalian.’’ Aku mengandaikan mendapat rumah yang dipenuhi dirham, lalu aku infakkan fi sabilillah, jawab seseorang. ‘’Utarakan keinginan kalian,’’ kata Umar lagi. ‘’Aku mengandaikan mendapat rumah yang dipenuhi emas, lalu aku infakkan fi sabilillah,’’ jawab seorang lainnya. ‘’Sampaikan keinginan kalian,’’ kata Umar lagi. ‘’Aku mengandaikan mendapat rumah yang dipenuhi permata, lalu aku infakkan fi sabilillah,’’ jawab seorang lagi. ‘’Apalagi selain itu?’’ kata orang-orang ketika Umar mengulangi pertanyaannya (Imam Bukhari dari Zaid bin Aslam, dalam Tarikh As Saghir: 29).

Cita-cita untuk kaya sehingga dengannya dapat berbuat kebajikan lebih banyak, bukan angan-angan sia-sia. Bahkan meski masih sebatas keinginan, ia sudah bernilai pahala. Sebagaimana dikatakan Nabi Muhammad saw: ‘’…. menanti-nanti (mengharap-harap) kelapangan (sehingga dengannya dapat berbuat kebajikan) adalah suatu ibadah’’ (HR Bukhari).

Syahdan, di suatu negeri ada seorang kaya raya, yang rajin beribadah dan beramal serta tidak sombong atau riya’. Ia banyak membangun rumah ibadah, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga-tetangganya yang miskin dan kekurangan, serta berbagai amal sosial lainnya. Di musim paceklik, ia membagikan bahan pangan dari kebunnya yang berhektar-hektar kepada banyak orang yang kesusahan. Salah satu yang sering dia bantu adalah seorang tetangganya yang miskin.

Dikisahkan, sesudah meninggal, si orang kaya ini masuk surga. Namun di luar dugaannya, mantan tetangganya yang amat miskin itu juga berada di level surga yang sama dengannya. Si kaya pun menegurnya:

“Allah Maha Pengasih kepada semua umat-Nya tanpa memandang kaya-miskin. Kalau boleh aku ingin tahu, amalan apa yang telah kau lakukan sehingga kita dapat bertemu di sini?”

“Aku mendapat pahala atas amalan membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga yang miskin dan kekurangan, serta berbagai amal sosial lainnya,” tutur mantan tetangga dengan mantap.

“Bagaimana mungkin?” Si kaya keherananan, ‘’bukankah waktu di dunia dulu kamu sangat miskin. Bahkan seingatku, untuk nafkah hidup sehari-hari saja kamu harus berutang kanan-kiri?”

“Itu memang benar,” jawab si miskin. “Cuma waktu di dunia dulu, aku sering berdoa: ‘Oh, Tuhan! Seandainya aku diberi kekayaan materi seperti tetanggaku yang kaya itu, aku berniat membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga yang miskin dan banyak amal lainnya. Tapi apapun yang Kau berikan untukku, aku akan ikhlas dan sabar menerimanya.”

Jadi, jangan takut untuk bercita-cita kaya, dan baik.

Tapi memang, belum tentu kekayaan itu yang terbaik buat yang seseorang. Ingatlah akan kegelisahan Nabi: ‘’Aku tidak khawatir kalian ditimpa musibah dan melarat sepeninggalku. Yang aku takutkan, bila Allah membuka perbendaharaan kekayaan-Nya bagi kalian dan kalian menjadi lupa diri karenanya.’’

Sejumlah sahabat Nabi, pernah merasa ‘’kalah bersaing’’ dengan orang kaya dalam beramal. Abu Dzar ra mengisahkan, ada sekelompok sahabat dhuafa mengadu ke Rasulullah. “Wahai Rasulullah,’’ kata mereka, ‘’orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, tapi mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.”

Rupanya kelompok orang itu salah sangka pada Allah Swt. Benar, Allah Swt membeda-bedakan kekayaan hamba-hamba-Nya. “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia angkat sebagian kamu atas sebagian lain derajatnya untuk menguji kamu pada rezeki yang diberikan kepada kamu…. ” (QS Al Anaam:165).

Tapi, bukan berarti harta kekayaan menjadi satu-satunya alat beramal saleh. Kepada para sahabat tadi, Nabi menjelaskan, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sungguh pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah, dan pada setiap tahlil ada sedekah; Menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.”

Kelompok sahabat tadi kaget dan berkata, “Ya Rasulallah, apakah kegiatan memenuhi kebutuhan syahwat pun berpahala?” Rasul menjelaskan, “Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala” (HR Muslim).

Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang disodorkan ke mulut isterinya (HR Ahmad dan Abu Dawud). Dan, ‘’siapa yang ridho dengan rezeki yang sedikit dari Allah maka Allah akan ridho dengan amal yang sedikit dari dia, dan menanti-nanti (mengharap-harap) kelapangan adalah suatu ibadah.’’ (HR Bukhari).

Abu Hurairah ra mengisahkan, seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw lalu berkata, ‘’Wahai Rasulallah, sedekah manakah yang paling agung?’’ Jawab Nabi, ‘’Engkau bersedekah ketika engkau sehat lagi kikir dan sangat memerlukannya, engkau takut miskin dan sangat ingin menjadi kaya.’’ (HR Muslim).

Ketika Nabi menyerukan penghimpunan dana untuk mengirim ekspedisi jihad, para sahabat berbondong-bondong datang menyerahkan sebagian hartanya. Di antaranya Abdurrahman bin Auf, yang berkata, ‘’Aku mempunyai uang 4000 dirham. Yang 2000 untuk nafkah keluargaku, 2000 lagi untuk kuinfakkan.’’

‘’Semoga Allah menerima yang engkau infakkan, dan memberkahi yang engkau sisakan untuk keluargamu,’’ sambut Nabi.

Lalu datang seorang Anshar membawa dua gantang kurma. ‘’Wahai Rasulullah,’’ katanya sembari menghapus keringat di wajahnya. ‘’Aku baru saja mendapat upah dua gantang kurma. Ini yang segantang aku infakkan, sisanya kuberikan untuk keluargaku.’’

Menyaksikan kesederhanaan pemberian orang Anshar itu, orang-orang munafik menertawakannya. Nabi murka pada kelakuan munafikin. Bersamaan dengan itu turunlah ayat 79 Surat At Taubah yang mencela perbuatan kaum itu dan memuji pengorbanan sahabat Nabi betapapun sederhananya.

Al Qayyuum
Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mandiri

foto: Logo TDA