Rabu, 06 Juni 2012

Mengenal 5 Motif Batik Yogya

Salah satu batik dari Jawa Tengah yang terkenal adalah batik Yogyakarta. Batik ini pada dasarnya memiliki corak batik dengan dasar putih. Nah, anda ingin tahu apa saja motif batik Yogyakarta? Ini dia:


1. Motif Kawung


Motif batik kawung adalah motif batik tulis dengan zat pewarna Napthol dan  digunakan sebagai kain panjang. Makna Filosofi  dalam batik ini adalah sebagai lambang keperkasaan dan keadilan
Motif Kawung berpola bulatan mirip buah Kawung (sejenis kelapa atau kadang juga dianggap sebagai buah kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris. Kadang, motif ini juga diinterpretasikan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan empat lembar daun bunga yang merekah. Lotus adalah bunga yang melambangkan umur panjang dan kesucian.
Biasanya motif-motif Kawung diberi nama berdasarkan besar-kecilnya bentuk bulat-lonjong yang terdapat dalam suatu motif tertentu. Misalnya : Kawung Picis adalah motif kawung yang tersusun oleh bentuk bulatan yang kecil. Picis adalah mata uang senilai sepuluh sen yang bentuknya kecil. Sedangkan Kawung Bribil adalah motif-motif kawung yang tersusun oleh bentuk yang lebih besar dari pada kawung Picis. Hal ini sesuai dengan nama Bribil, mata uang yang bentuknya lebih besar daripada picis dan bernilai setengah sen. Sedangkan kawung yang bentuknya bulat-lonjong lebih besar daripada Kawung Bribil disebut Kawung Sen.
2. Motif Parang Kusumo
Motif parang kusumo adalah Motif Batik Tulis dengan zat pewarna Napthol dan digunakan sebagai kain saat tukar cincin. Dalam motif Parang Kusumo terkandung suatu makna bahwa suatu  kehidupan harus dilandasi dengan  perjuangan dan usaha dalam mencapai keharuman lahir dan batin. Hal ini bisa disamakan dengan harumnya suatu bunga (kusuma).
Suatu kehidupan dalam  masyarakat yang paling utama harus kita dapatkan adalah  keharuman pribadinya tanpa harus meninggalkan norma-norma dan nilai  yang berlaku. Suatu hal yang sulit untuk direalisasikan. Tetapi pada umumnya orang Jawa berharap bisa menempuh suatu kehidupan yang boleh dikatakan sempurna lahir batin  yang diperoleh atas jerih payah dari tingkah laku dan pribadi yang baik.
motif Batik Parang Kusumo bermakna hidup harus dilandasi dengan perjuangan untuk mencari kebahagiaan lahir dan batin, ibarat keharuman bunga (kusuma). Contohnya, bagi orang Jawa, yang paling utama dari hidup di masyarakat adalah keharuman (kebaikan) pribadinya tanpa meninggalkan norma-norma yang berlaku dan sopan santun agar dapat terhindar dari bencana lahir dan batin.

3. Motif Truntum


Motif batik Truntum adalah motif batik tulis dengan zat Pewarna: Soga Alam. Digunakan saat pernikahan.
Truntum diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III) bermakna cinta yang tumbuh kembali. 

Beliau menciptakan motif ini sebagai simbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi, dan semakin lama terasa semakin subur berkembang (tumaruntum). Karena maknanya,  Truntum biasanya dipakai oleh orang tua pengantin pada hari pernikahan. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi kedua mempelai. Kadang dimaknai pula bahwa orang tua berkewajiban untuk “menuntun” kedua mempelai untuk memasuki kehidupan baru.

4. Motif Tambal


Motif batik tambal adalah motif batik tulis dengan zat pewarna soga alam..Unsur motif yang digunakan adalah ceplok, parang, meru, dll dengan ciri khas kerokan. Digunakan sebagai kain panjang.

Makna Filosofi  dalam motif ini adalah, ada kepercayaan bila orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut, sakitnya cepat sembuh, karena tambal artinya menambah semangat baru.

5. Motif Pamiluto


Motif batik pamiluto menggunakan zat pewarna Soga Alam yang digunakan sebagai kain panjang saat pertunangan.

Unsur Motif  yang terkandung di dalamnya adalah: Parang, Ceplok, Truntum, dan lainnya. Sementara filosofi  dalam batik ini adalah Pamiluto berasal dari kata “pulut”, berarti perekat. Dalam bahasa Jawa bisa berarti kepilut (tertarik).

Selain 5 motif diatas, batik Yogyarkarta juga mempunyai banyak motif lainnya yang menjadi ide lahirnya batik-batik kontemporer saat ini. Mari cintai batik

sumber: kriyalea

Selasa, 29 Mei 2012

Foto Langka: Bung Karno Shalat di Amerika 1956

Masih dalam rangka kunjungan Presiden Sukarno ke Amerika Serikat tahun 1956. Ketika tiba saatnya shalat, Bung Karno dan rombongan menuju salah satu masjid di sana untuk bersujud. 

Bung Karno, dengan tongkat komandonya, berjalan kaki melintasi koridor masjid. 

Usai shalat berjamaah, Bung Karno berdoa sejenak. Sejurus kemudian, ia bangkit berdiri lagi untuk kembali melaksanakan shalat sunah dua reka’at. Anggota rombongan lain, ada yang mengikuti Bung Karno shalat sunah, ada yang tekun berdzikir, ada pula yang beringsut mundur, dan menunggu di luar masjid.

Usai shalat, tak pernah lupa Bung Karno khusuk berdoa. Tampak di sebelah kanan Bung Karno adalah Roeslan Abdulgani, diplomat muda, pahlawan pada pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya. Ia kemudian diangkat menjadi Menteri Luar Negeri, dan termasuk tokoh di balik Konferensi Asia Afrika Bandung yang bersejarah itu. Roeslan Abdulgani wafat 29 Juni 2005 dalam usia 91 tahun.


Seperti umumnya jemaah masjid, begitu pula Bung Karno. Di dalam masjid, tidak ada presiden, tidak ada menlu, tidak ada pejabat. Yang ada hanya imam dan makmum. Begitu pula usai shalat, Bung Karno dengan santai duduk di tangga masjid untuk mengenakan sepatu, seperti halnya jemaah yang lain.

Usai shalat, ia kembali melanjutkan protokol kunjungan kenegaraannya. Antara lain menggelar pembicaraan bilateral dengan Presiden Dwight Eisenhower yang dikisahkan “kurang mesra”.


sumber: warungkondo

Senin, 28 Mei 2012

Motif-Motif Etnik di Batik Batak

Batik Batak mungkin sebelumnya tak banyak terdengar, tapi sejak ada ‘sentuhan’ Nurcahaya Nasution (67), batik dengan dengan motif berbagai daerah di Sumatera Utara itu mulai dikenal.


Semua berawal dari keikutsertaan Nurcahaya pada pelatihan membatik yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Medan.


Saat itu, Nurcahaya baru saja pensiun dari Dinas Kesehatan Kota Medan. Ia dipanggil Dekranasda untuk ikut pelatihan membatik.  


“Kok rasa-rasanya kalau kita kembangkan, ibu-ibu rumah tangga ini ikut membatik, akan bertambahincome keluarga, jadi  bisa juga mengentaskan kemiskinan,” kata Nurcahaya.


Alasan ini pula yang kemudian mendorong Nurcahaya membuat usaha batik motif khas Sumatera Utara pada tahun 2008. Bekal kemampuan membatik dari Dekranasda tak membuat Nurcahaya puas. Ia berhasrat untuk membuat batik dengan motif khas Sumatera Utara.


Nurcahaya pun mendatangi perpustakaan daerah. Ia membenamkan diri mencari motif yang cocok untuk dijadikan motif pada batik buatannya nanti. Usaha ini membawanya pada ide untuk membuat motif sesuai dengan lima etnis Batak yang ada di Sumatera Utara.


Kelima etnis Batak yang menjadi inspirasi Nurcahaya untuk membuat motif batik yakni Mandailing, Tapanuli Utara (Toba), Simalungun, Karo, Pakpak Dairi, dan Tapanuli Tengah.


Selain mengembangkan motif batik dari etnis Batak, Nurcahaya pun meramu motif batik Melayu Deli dan Nias.


Beragam motif batik dari lima etnis Batak, itu di antaranya motif ulos yang mengambil corak dari kain ulos Batak, motif Hari Hara Sundung di Langit yang menunjukkan ciri khas Batak Toba, dan motif Pani Patunda dari Simalungun. Ada juga motif Pelana Kuda yang identik dengan budaya Melayu Deli.


Ada dua jenis batik yang diproduksi oleh Nurcahaya, yakni batik tulis dan batik cap. Menurut Nurcahaya, batik cap membutuhkan waktu tiga hari pembuatan, sedangkan batik tulis memakan waktu minimal satu minggu.


Proses pembuatannya sendiri seperti diakui Nurcahaya tak jauh berbeda dengan pembuatan batik di Pulau Jawa.


Kain polos, kira-kira 2,5 meter x 1,3 meter diberi motif pakai pensil. Lalu dicanting, mengikuti gambar yang sudah dibuat pakai pensil. Kemudian, batik direbus beberapa kali, setelah itu diwarnai. "Terakhir ya dijemur,” tutur Nurcahaya. 


Batik Batak Nurcahaya punya banderol mulai ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah, tergantung kesulitan pengerjaan batik tersebut.


sumber: antaranews

Kamis, 03 Mei 2012

Batik masuk kurikulum sekolah mode Italia

 Koefia--sebuah sekolah mode tertua di Italia-- tertarik dengan batik Solo, Indonesia, dan berencana memasukkan desain mode dengan bahan kain batik ke dalam kurikulum pelajarannya. 

Direktur Artistik Koefia, Bianca Lami, beserta Wakil Ketua DPRD di Lazio, Italia Raffaele D` Ambrosio mengatakan bahwa pihaknya mengetahui Solo sebagai pusat batik dari internet, Selasa.

"Saya tahu dari internet bahwa Solo merupakan ibukota batik. Di sini banyak industri batik, bahkan saya dengar ada kampung dengan nama batik. Saya ingin melihatnya secara langsung," katanya.

Ia mengatakan, bahwa pihaknya akan mengajarkan desain fesyen batik kepada siswanya selama tiga tahun. Hal ini dikarenakan pihaknya melihat batik sebagai warisan budaya dunia yang diakui Unesco dari Indonesia dan bisa menjadi tren fesyen baru nantinya. 

"Kami ingin mengembangkan fashion heritage. Ini sekaligus untuk menggabungkan budaya Solo dengan budaya Eropa dan saya kira hasilnya akan sangat bagus," kata dia.

Sabtu, 07 April 2012

Batik Sebagai Simbol Kekuasaan


Pakubuwono X bersama Ratu Mas dan
Sekar Kedaton 1935
(Koleksi: Perpustakaan Sanapustaka
Kraton Kasunanan Surakarta)
Batik, beberapa tahun belakangan begitu digandrungi dan dirayakan dengan berbagai acara seremoni di beberapa kota di Jawa. Kain atau pun teknik batik menjadi ikon nasionalisme masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, karena warisan masa lalu ini telah ditetapkan oleh Unesco sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.

Batik Hoek
Begitu bangganya, masyarakat di kota Solo mengadakan berbagai acara yang bertemakan batik, dari fashion show hingga yang termegah adalah Solo Batik Carnival. Selain itu murid-murid di sekolah dan para pegawai diwajibkan menggunakan baju batik setiap jumat. Dan ketika hari kemerdekaan RI masyarakat di Solo diwajibkan bergotong-royong menghiasi gapura masuk perkampungan dengan motif batik.

Menurut Henk Schulte Nordholt, pada tingkat yang kurang lebih sadar, kebiasaan berpakaian sudah menjadi alat, membentuk dan mereproduksi berbagai kelompok orang-orang dalam arti bahwa batas-batas antara kelompok-kelompok tersebut menjadi sangat jelas dan oleh karena itu sukar dilangkahi. Baik negara maupun kelompok kepentingan menggunakan kode-kode berpakaian untuk menciptakan penampilan kuat dari kontrol negara, kebangsaan atau solidaritas kelompok:

Parang Rusak
Artinya bahwa fashion (mode) dapat menjadi alat politik penguasa untuk membentuk segregasi sosial pada masyarakat. Pada masyarakat kerajaan di Indonesia pakaian raja, bangsawan dan rakyat biasa selalu dibedakan baik kualitas, desain, maupun waktu penggunaannya. Hal ini sebagai pembeda dari status sosial mereka, dan ini berlanjut hingga kolonisasi yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa di Indonesia. Segregasi sosial melalui pakaian sangat terlihat jelas pada masa kolonial Belanda terutama di daerah kerajaan, yaitu Surakarta.


Semen Ageng Sawat Garuda
Pameran kebesaran kerajaan dilakukan melalui berbagai upacara seremoni yang menunjukkan hegemoni kekuasaan terhadap pemakaian pakaian bagi masyarakat dengan peraturan pelarangan penggunaan motif batik tertentu bagi masyarakat Surakarta. Ada beberapa motif batik yang tidak dapat digunakan oleh masyarakat Surakarta, yaitu motif Hoek, yang diperuntukan bagi raja, permaisuri raja, pangeran dan orang yang berpangkat Adipati serta anak-anak perempuan raja. 


Udan Riris
Motif yang kedua adalah parang roesak yang diperuntukkan bagi keluarga raja dan anak-anak raja dari permaisuri. Motif ketiga adalah Semen Ageng Sawat Garoeda yang digunakan oleh keluarga raja. Motif keempat adalah Oedan Iris. Penggunaan motif ini diberlakukan kepada keluarga raja dan anak-nak raja yang berasal baik dari permaisuri maupun selir. Motif kelima adalah Roedjak Sente, yang digunakan oleh seluruh keluarga raja.



Kawung
Sedangkan motif batik Kawoeng hanya diperbolehkan untuk cucu raja dari permaisuri dan para bupati. Motif Semen Alit digunakan oleh bupati dan mantri penewu. Motif batif Slobok digunakan oleh mantri penewu dan penjaga kerajaan. Motif batik Tjilatjap Kemitir  digunakan oleh panji, mantri, sersan yang bertugas sebagai kepala pasukan pada saat jaga dan pada saat acara gerebeg.

Rujak Sente
Pelarangan penggunaan motif batik yang dilakukan oleh pihak istana kerajaan Jawa tidak lain adalah sebuah pertunjukkan dari semakin hilangnya kekuasaan politik kerajaan akibat kolonialisme Belanda. Alih-alih melakukan perlawanan secara nyata terhadap kolonialisme Belanda, kerajaan Jawa melakukan perlawanan simbolik melalui berbagai upacara-upacara seremoni gemerlap untuk menunjukkan kebesarannya.

Semen Alit

Patut dicermati juga bahwa batik yang sejak dulu telah menjadi sarana politik, juga menjalar hingga saat ini. Peraturan memakai batik di hari tertentu bagi murid-murid sekolah dan pegawai, karnaval-karnaval batik yang gemerlap tidak lain adalah bentuk simbolik bahwa dengan hal itu semua tradisi akan tetap terjaga dan terpelihara...





Slobok

Cilacap Kemitir












sumber: infogue