Rabu, 16 Oktober 2013

Cara Sederhana Membedakan Batik Original dengan Batik Palsu

Unesco mengakui bahwa Batik Indonesia mempunyai teknik pembuatan dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia mulai dari lahir sampai meninggal dunia. Bayi digendong dengan batik bercorak simbol membawa keberuntungan. Dan yang meninggal ditutup dengan kain batik.

Batik yang diakui adalah batik yang pembuatannya menggunakan teknik tertentu, yaitu pembuatan coraknya menggunakan malam / lilin / wax.

Dan di Indonesia batik yang memenuhi syarat sebagai batik adalah Batik Tulis dan Batik Cap.

Tetapi batik yang saat ini mendominasi pasar ternyata batik palsu. Dan ironisnya mayoritas merupakan produk impor. Lebih disayangkan lagi Pemerintah seolah-olah tidak melakukan upaya apa pun untuk mengatasi ‘palsu-isasi’ batik.

Ada cara yang sederhana untuk membedakan antara batik original dengan batik palsu. Batik original, warna dan corak kain bagian luar dan bagian dalam sama warnanya. Warna bagian dalam sama tajamnya dengan bagian luar.

Batik original
 
Sebaliknya, batik palsu warna bagian dalamnya samar-samar.

Batik palsu
  
Nah, dengan cara yang sederhana ini sekarang kita bisa tahu apakah batik yang kita pakai adalah batik original atau batik palsu.

Kamis, 10 Oktober 2013

Sapi Cerdik Memompa Air Sendiri

Menjelang Idul Adha seperti sekarang, sudah semestinya kalau permintaan terhadap sapi maupun kambing meningkat dengan pesat. Dan tentu saja, karena permintaan meningkat pesat, maka harganya otomatis naik juga. Ribuan sapi dan kambing/domba akan disembelih pada hari Raya Idul Adha minggu depan.

Tapi apakah kita akan tega menyembelih sapi yang cerdik seperti di bawah ini? :)


Jumat, 20 September 2013

Pengalaman Ngelapak di Negeri Singa

“Ini tiketnya, dan ini ongkos taksinya,” demikian kata atasan saya sambil menyodorkan uang 50 dollar Singapura. “Ongkos taksi dari bandara 35 dollar,” tambahnya.

Kalimat di atas masih saya ingat dengan baik meski kejadiannya sudah cukup lama, sekitar 10 tahun yang lalu. Peristiwa itu memberi kesan yang sangat mendalam mengingat perjuangan yang harus kami lakukan setelah itu. Kami, saya dan rekan saya, mendapat tugas untuk memasarkan produk kreatif yang langka, pertama di dunia (klaim kami), untuk dipasarkan di negara tetangga. Meski saya tidak sendirian tapi berangkatnya ke sana saya sendiri saja.

Sebelum berangkat saya sudah bisa menghitung bahwa uang yang saya bawa tinggal 15 dollar Singapura saja. Dengan uang sebesar itu saya harus tinggal di sana selama… 15 hari, wah!
Untuk bertahan di Singapura kami memang tidak dilepas begitu saja, tapi dibekali dengan barang dagangan yang lumayan banyak dan ukurannya besar-besar. Ibarat sebuah film, misi yang kami emban adalah mission (must not) impossible. Dan ibarat sejarah Bani Umayah, kami memposisikan seperti panglima Thariq bin Ziyad ketika menaklukkan Andalusia, yaitu membakar semua kapal. Jadi tidak ada jalan pulang kecuali harus berhasil.

Keluar Terakhir

Ketika berangkat dari Bandara Soekarno Hatta saya banyak dibantu oleh rekan-rekan kantor untuk mengangkat barang dagangan yang berat-berat itu. Tapi ketika tiba di Bandara Changi saya harus melakukan semuanya sendiri. Supaya tidak menganggu penumpang lain, saya memutuskan menjadi orang terakhir yang mengambil bagasi. Begitu suasana sudah sepi, dan ban berjalan di tempat pengambilan bagasi sudah berhenti, baru lah saya beraksi.

Dengan susah payah saya mengangkat, tepatnya setengah menyeret, barang dagangan untuk saya pindahkan ke troli. Setelah berjibaku sekian lama akhirnya berhasil. Saya pun melangkah menuju pintu keluar. Karena suasana sudah sepi, dan penumpang tinggal saya sendiri (saat itu malam hari), saya harus menjelaskan kepada patugas sekuriti barang besar yang ada di troli.
1379672494945108240
                    Area Tempat Pasar Malam

Selanjutnya saya harus mencari taksi menuju Geylang road. Oya, di Geylang road, di wilayah Malay Village (Kampung Melayu), tiap bulan puasa selalu diadakan pasar malam. Pasar malam ini berakhir pada malam takbiran. Di Malay Village inilah kami harus bisa menjual barang yang kami bawa. Tidak hanya menjual, tapi menjual yang profitnya harus bisa menutup biaya akomodasi (makan, penginapan), honor, plus gaji. Kalau tidak bisa, maka gigit jari.

Kembali ke cerita mencari taksi. Saya cukup bersukur bahwa saat itu saya berada di Bandara Changi. Tempat yang sangat aman. Tidak ada porter yang memaksa membawa barang, tidak ada calo, tidak ada taksi tembak, dan tentu saja tidak ada preman. Saya tidak bisa membayangkan kalau saat itu berada di Bandara Soekarno Hatta.

Setelah berputar-putar akhirnya saya menemukan konter taksi. Di konter itu saya diberi pilihan, pilih taksi biasa yang biayanya cukup murah atau taksi besar seperti golden bird kalau di Jakarta tapi biayanya lebih mahal. Sebenarnya saya memilih taksi biasa, tapi mengingat barang bawaan saya yang demikian besar, taksi biasa tidak bisa membawanya. Dan terpaksa saya memilih taksi besar. Biayanya, pas 35 dollar. Dan sekarang, uang saya betul-betul tinggal 15 dollar.

Malam Pertama Ngelapak


13796715841686320664
                   Bersama tetangga sebelah kios



Perjalanan dari bandara ke Malay Village di Geylang road cukup lancar. Saya banyak ngobrol dengan sopir taksinya. Bahasanya campur-campur. Dia pakai Bahasa Melayu, sedangkan saya Bahasa Indonesia. Sesekali kami pakai Bahasa Inggris kalau tidak mengerti maksud kosa kata yang diucapkan.

Di pasar malam saya sudah ditunggu rekan kantor yang sudah lebih dulu tiba di sana. Ternyata taksinya tidak bisa parkir sampai depan pasar malam, tapi harus parkir di Onan Road, di samping Hotel 81, yang jaraknya hampir 100 meter. Dan kami harus mengangkat barang bawaaan yang besar-besar itu secara manual. Peluh keringat pun menyertai kami pada malam itu.
Malam itu saya langsung ikut ngelapak, menjual produk kreatif yang kami produksi. Tidak sempat istirahat, tidak sempat mandi, dan belum makan, plus keringat yang belum kering karena mengangkat barang. Ngelapak adalah istilah untuk berjualan secara kaki lima. Ya, malam itu adalah malam pertama saya jadi PKL di Singapura. PKL yang terorganisir. :)

Malam itu selesai sekitar jam 22.30 waktu setempat. Kami “pulang” ke penginapan. Selesai mandi dan makan saya pun langsung pulas karena kecapekan.

Menjemur di Kamar



13796718771724200201
                            Di Depan Penginapan




Pagi harinya kami punya waktu untuk membereskan beberapa hal karena pasar malam dimulai setelah jam 12 siang. Rekan saya cukup kreatif menyiasati hidup di negeri jiran itu. Dengan uang yang sangat terbatas, betul-betul mengandalkan dari hasil berjualan, tidak mungkin bagi kami membeli makanan di restoran, mencuci baju di laundry, maupun berbelanja macam-macam.

Di penginapan itu, kamar kami selalu dibersihkan dan dirapikan sekitar jam 9 pagi. Ini adalah service yang diberikan pihak hotel kepada kami. Nah, sebelum jam 9 biasanya kami segera keluar untuk sekadar jalan-jalan di luar. Setelah diperkirakan kamar sudah dibersihkan, kami pun segera kembali ke kamar. Secara bergantian kami pun mencuci baju di kamar mandi. Lalu bagaimana menjemurnya?

Baju akan lebih cepat kering kalau udaranya kering. Indonesia (dan Singapura tentu saja) udaranya sangat basah. Baju sulit kering. Fungsi AC di samping untuk mendinginkan udara juga membuat udara menjadi kering.

Selesai mencuci rekan saya membentangkan jemuran di dalam kamar, kemudian AC dihidupkan. Dia punya trik bagaimana membuat AC tetap menyala terus meski kamar ditinggal kosong. Dan karena AC nya dihidupkan seharian, maka ketika kami pulang selepas ngelapak, pakaian kami pun sudah kering semuanya. Sip!. Karena saat itu bulan Puasa maka pekerjaan yang kami lakukan pun terasa lebih berat. Selain menjemur baju kami harus punya trik bagaimana makan dengan cara hemat.

Sebelum berangkat ke Singapura kami sudah mempersiapkan menjalankan puasa di negeri jiran. Kami membeli rice cooker kecil yang murah, seterika lipat, lauk yang tahan lama disimpan, dan sebagainya. Sebelum tidur kami memasak nasi, dan ketika sahur kami tinggal makan sambil menunggu air mendidih, membuat teh atau kopi susu yang dibawa dari Jakarta. Jadilah sahur yang memenuhi syarat seperti di rumah. :)

Tamasya Puasa


1379672007556407001
                            Patung Merlion




Tentunya tidak lengkap kalau sudah di luar negeri tanpa menikmati panorama negeri itu. Tentunya tidak afdol kalau sudah sampai di Singapura tapi tidak menikmati keramaian, lalu lintas, mengenal lingkungan, naik angkutan umum, dan sebagainya.

Setiap hari, selesai mencuci, menggosok, dan sebagainya kami selalu berusaha menyempatkan untuk jalan-jalan menikmati negeri-kota itu. Sekali waktu kami sengaja menjadwalkan hari itu khusus untuk naik MRT (Commuter Line kalau di Jabotabek) keliling Singapura.

Dari tempat menginap, kami berjalan kaki kurang lebih 1 km, menuju stasiun Eunos. Kami mencoba untuk menikmati jalur timur-barat Singapura. Dari Eunos melewati Stasiun: Paya Lebar, Aljunied, Kallang, Lavender, Bugis, City Hall, Raffles Place, Tanjong Pagar, dan seterusnya hingga melewati: Pasir Ris, Tampines, Simei, Tanah Merah, Bedok, Kembangan, dan kembali ke Eunos. Hampir 1,5 jam kami di atas MRT sampai kami sedikit merasa bosan.

1379672088500547187
                             Raffles Place

Pada hari yang lain kami pergi ke Raffles Place. Kembali kami berjalan kaki ke Stasiun Eunos, naik MRT, dan turun di Stasiun Raffles Place. Cukup lama kami menikmati tanah yang luas di lapangan itu, menikmati bangunan tua tapi masih dirawat dengan baik. Sayang sekali kami tidak bisa mengeksplorasi lebih lama karena teriknya panas Matahari membuat kami lebih mudah capai, sedangkan saat itu kami semua manjalankan ibadah puasa.

Dan tentu saja kurang afdol kalau tidak berjalan-jalan di Orchad Road. Di hari yang lain kami pun ke sana. Menikmati suasana lalu lintas, mencari hal-hal yang unik, dan sebagainya. Dari hasil blusukan kami menemukan sebuah toko elektronik kecil, tempatnya terpencil, namun menjual ponsel mutakhir (untuk saat itu) second, kualitas bagus, tapi harganya sangat ‘bersahabat’ bagi kami. Ponsel inilah yang jadi salah satu oleh-oleh kami dari Negeri “Singa” itu.

Parfum 10 Tahun

Di samping blusukan menggunakan MRT kami juga blusukan secara manual, alias jalan kaki. Sebelum buka lapak pada siang-sore hari, tempat-tempat yang cukup dikenal seperti Mustafa Centre di Jalan Syed Alwi, Arab Street, Bugis Street kami datangi. Juga tentu saja Patung Merlion dan Gedung Esplanade kami sambangi.

1379672160542305920
                  Di Arab Street Bersama Rekan Ngelapak

Yang cukup menarik, di Mustafa Centre, selain membeli mainan, saya juga membeli dua parfum dengan wangi yang berbeda. Saya sendiri sebenarnya sangat jarang atau kurang suka pakai parfum. Namun saat itu saya penasaran dengan parfum yang ditawarkan penjualnya. Saya murni penasaran dengan parfumnya, bukan dengan penjualnya, karena panjualnya bukan SPG yang kinyis-kinyis seperti di Jakarta, tapi penjualnya seorang bapak yang sudah cukup berumur. :)

Karena sangat jarang menggunakan parfum, maka sampai sekarang parfum itu masih ada separuh. Sudah 10 tahun parfum itu saya simpan. Yang menarik, wanginya tidak berubah. Tetap wangi seperti ketika masih baru. Betul-betul kwalitasnya yang sangat apik.

Akhirnya pada malam takbiran pasar rakyat itu pun berakhir. Kami bersukur karena hasil penjualan bisa menutup semua biaya (makan, menginap, dll) yang harus dikeluarkan. Paginya Shalat Idul Fitri digelar di Masjid dekat pasar rakyat. Suasananya sungguh berbeda dengan di Tanah Air. Sama sekali tidak ada suasana Lebaran di Negeri itu. Semuanya biasa-biasa saja.

1379672264844183083
Setelah Shalat Ied. Bersama Pak Haji Asal 
 Padang yang Banyak Memberi Bantuan

Sore harinya kami pun ke Bandara Changi untuk kembali ke Jakarta. Kembali ke pelukan keluarga yang sudah menunggu dengan penuh asa.

Senin, 25 Februari 2013

Tari Bedhaya Ketawang




Tari Bedhaya Ketawang merupakan tari sakral Surakarta yang menceritakan percintaan antara Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Bedhaya Ketawang bisa dikatakan tari erotis. Gerakan-gerakannya mengandung birahi. Namun dikemas dengan halus, lembut, dan mengalir sesuai iringan gendhing Ketawang yang akan mampu membius penontonnya serta membawanya ke suasana yang berbeda sesuai imaji masing-masing.

Tari Bedhaya Ketawang hanya boleh dipentaskan setahun sekali, yaitu pada saat Jumenengan Ndalem (penobatan raja). Latihannya pun hanya pada hari tertentu, yaitu hari Selasa Kliwon. Setiap latihan, harus ada penari cadangan. Karena bila saat hari H, ada penari yang datang bulan, penari cadangan tersebut bisa menggantikannya.

Tari Bedhaya Ketawang merupakan simbol kesuburan. Hal itu terlihat pada kostum dodot kampuh ageng warna hijau dengan motif alas-alasan.


Dalam melaksanakan tugasnya para penari Bedhoyo Ketawang yang berjumlah sembilan orang penari putri ini harus dalam keadaan bersih secara spritual (tidak dalam keadaan haid). Selain itu beberapa hari sebelumnya para penari diwajibkan untk berpuasa. 

Komposisi penari Bedboyo Ketawang terdiri dari, Endhel, Pembatak, Apit Najeng, Apit Wingking, Gulu, Enhel Weton, Apit Meneng, Dadha dan Buncit. Dari ke sembilan penari tersebut, Pembatak dan Endhel sangat memegang peranan panting. Pada salah satu adegan, kedua penari ini melakukan adegan percintaan. 

Ditelaah dari syair yang dilantunkan oleh Sindhen dan Waranggana, tari Bedhaya Ketawang ini menggambarkan percintaan antara raja Mataram dengan Kanjeng Ratu Kencanasari. Hanya saja semuanya diwujudkan secara abstrak dan sangat simbolis. 

Karena pertunjukan tari Bedhaya Ketawang bertujuan mereaktualisasikan hubungan cinta secara spiritual antara Raja Mataram dengan Ratu Kencanasari maka kebanyakan sesaji yang ditempatkan di beberapa nampan berupa busana serta alat-alat kecantikan.

sumber: @fp_kotasolo, keratonsurakarta
foto     : kompasiana

Selasa, 05 Februari 2013

Memperkaya Batik Sejarah Demakan

Selama tiga tahun terakhir, batik Demak telah turut menyebarkan budaya dan sejarah daerah di pesisir utara Jawa Tengah, yakni Kabupaten Demak, ke khazanah batik nasional. Motif batik ini tidak hanya bicara soal sejarah dan kekayaan alam, tetapi juga memadukan motif klasik dengan motif batik kontemporer.

Motif Karangmlati
Belajar dari usaha dagang batik yang dirintis ibunya, perajin batik Sri Setyani (52) yang ditemui di Kelurahan Mangunjiwan, Demak Kota, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pertengahan Januari 2013, berharap memindahkan kekayaan alam dan sejarah Demak atau dikenal motif Demakan ke dalam karya setiap kain batiknya. Dengan demikian, tidak hanya penggemar batik, tetapi juga orang lain semakin tahu soal Demak.

Sri Setyani mengatakan, sudah puluhan tahun dia membantu ibunya berjualan batik. Batik itu diambil dari Pekalongan dan Solo. Motif batik yang ada jarang sekali yang bermotif kekayaan alam. Kalau toh ada, batik dengan motif itu terbatas. Padahal, banyak pembeli menginginkan ada batik khas daerah tertentu.

Belajar dari itu, Sri Setyani berpikir, pola batik klasik seperti Sidomukti atau Parangbarong sesungguhnya dapat lebih diperkaya dengan motif buah-buahan atau lambang dominan pertanian maupun kekayaan laut.

Kerajinan batiknya tumbuh tahun 2009 seiring dengan gairah daerah mendorong kerajinan batik lokal. Motif-motif batik Sri Setyani sederhana, tidak jauh dari kekayaan alam di sekitarnya. Perpaduan motif jambu, belimbing, serta motif hiasan Masjid Agung yang ditorehkan di selembar kain katun ternyata banyak peminatnya.

”Batik hasil kerajinan, saya beri label Tyo Collection. Nama Tyo itu dari nama belakang kedua anak saya, yakni Listyo. Tujuan memberi nama sama supaya usaha batik ini bisa tumbuh juga berhasil seperti harapan pada anak-anak saya,” ujar Sri Setyani.

Motif Sekar Jagad Demak Bintoro
Motif Sekar Jagad Demak Bintoro, yaitu motif yang memadukan pola jambu, belimbing berpadu garis pantai telah menjadi seragam khas para pegawai di Pemerintah Kabupaten Demak. November 2012, pemda juga telah memesan 53 potong kain motif sama untuk keperluan kegiatan di pendopo Demak.

Keuletan Sri Setyani membuat batik-batik motif Demakan, ternyata dapat perhatian Pemkab Demak. Produk batiknya bisa mengikuti pameran-pameran busana, batik, serta pemeran batik dan kerajinan di sejumlah daerah di Jawa Tengah, Jakarta, juga DI Yogyakarta. Setiap pameran, Sri Setyani tidak hanya memopulerkan batik motif Demakan, tetapi juga memperluas pasar.

Prospek kerajinan batik, menurut Sri Setyani, sangat bagus. Perajin batik saat ini baru ada delapan di Demak. Pemasaran batiknya sudah merambah Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Namun, diakuinya, pihaknya sudah kewalahan melayani permintaan pasar lokal saja.

Pasar lokal terbangun dari promosi batik motif Demakan melalui pameran, bazar tiap minggu di alun-alun, juga promosi lewat baju batik yang dipakai para pegawai negeri di Pemkab Demak. Itu semua disambut antusias masyarakat. Hasilnya, sejumlah sekolah juga menjadikan baju batik bagian seragam guru dan siswa sehari dalam sepekan.

Motif Ulam Segaran
 ”Kain baju batik dari kain katun sebenarnya kalau dipakai harian tidak tahan lama. Kain atau baju batik termasuk busana khusus dan dipakai keperluan pesta, resepsi, ataupun acara resmi pertemuan kantor. Jadi kalau dipakai harian, memperpendek masa pakai,” kata Sri Setyani.

Mendapatkan bahan katun dalam waktu singkat, ketika pesanan meningkat, menjadi kendala perajin batik di daerah. Sri Setyani mengakui, ia selalu menyediakan stok bahan kain katun sekitar 500-700 meter untuk keperluan tiga bulan. Meski di Demak ada pabrik tekstil, pemasarannya di Solo dan Pekalongan. Selaku perajin, dia tidak bisa membeli langsung ke pabrik.

Kini usaha kerajinan batiknya dibantu 12 tenaga pembatik, dua orang di antaranya laki-laki. Juga ada peracik desain pola batik. Pembatiknya berasal dari kaum perempuan di Mangunjiwan, Dempet, Bonang, serta Kauman yang merupakan sentra pertanian.

Batik tulis mendominasi pembuatan batik ini ketimbang batik cap. Sehari dia bisa menghasilkan 2-4 potong kain. Sengaja kain batik dibuat terbatas menyesuaikan pembelian eceran. Di samping itu, persediaan bahan juga mengantisipasi banyaknya jumlah pesanan kain batik.

Menciptakan pembatik

Memulai usaha batik di daerah yang pembatiknya langka tentu tidak mudah. Tidak hanya itu, Sri Setyani sendiri juga harus belajar membatik di Pekalongan. Meski dia berpengalaman dalam soal batik, mengingat cukup lama dididik dalam perdagangan batik, ternyata dia harus paham dan belajar soal pewarnaan, proses celup, proses pembatikan, dan cara membuat pola batik dengan baik.

Tak heran sejak dirintis tahun 2009, usaha batik makin eksis. Motif batik diambil dari ornamen artefak Masjid Agung Demak peninggalan Adipati Notoprojo itu. Misalnya, batik Pintu Bledeg, polanya berasal dari pengembangan pintu Bledeg peninggalan Ki Ageng Sela. Pola batik Pintu Bledeg ini menginterpretasi motif lawang yang ada gambar kepala naga.

Motif Semangka Tegalan
 Ada pula pola Masjid Agung, yang dipadu dengan motif bunga krisan. Motif masjid itu dibuat dalam pola besar. Sri Setyani ingin menonjolkan bentuk masjid yang dipadu kekayaan alam Demak.

Begitu juga pola belimbing atau jambu. Sri Setyani tinggal bercerita soal filosofi belimbing atau jambu ke perancang polanya. Kemudian 1-2 hari desain pola batik termaksud dapat diaplikasikan di selembar kain. Tak jarang, pola baru tidak mudah diaplikasikan di kain. Perlu kombinasi antara pola unggulan dan latar belakangnya supaya motif yang dimaksud tidak kabur dengan motif latarnya.

Di rumahnya yang juga galeri kain batik, baju, busana, dan kaus batik hasil produksinya, dipajang macam-macam kain batik untuk busana indah. Harga kain batik bervariasi, bergantung pada bahan katun atau kain sutra di label harga mulai dari Rp 150.000 sampai Rp 500.000 per kain. Untuk baju batik, mulai harga Rp 100.000 per potong.

Menurut istri Listyo Marsono ini, Tyo Collection juga menyediakan seperangkat kain batik untuk busana pasangan pengantin. Ada batik Kamajaya-Kamaratih yang mempercantik penampilan pengantin putri. Tersedia kain ukuran 12 meter, harganya mulai Rp 450.000 per kain. Diyakini, pengantin mengenakan busana batik ini dapat hidup rukun sepanjang hayat.

Meski sudah memiliki 12 karyawan andal dalam pembatikan, Sri Setyani masih berusaha untuk mencetak pembatik baru. Tak heran, setiap kali ada pesanan busana batik dalam jumlah besar, maka menjadi kesempatan baginya untuk melatih kaum perempuan desa yang berniat menjadi pembatik.

Motif Kladi Tikus
”Syarat jadi pembatik itu harus telaten, teliti, dan mencintai seni. Kalau sudah punya talenta itu, maka hasilnya akan baik. Saya senang banyak pembatik yang dibina karena suatu saat mereka pasti bisa membuat kain batik sendiri,” kata Sri Setyani. Dengan membagi ilmu membatik ini, dia tidak hanya menciptakan pembatik andal, tetapi juga menyebarkan usaha batik supaya sejarah Demak dalam perbatikan makin dikenal


sumber: kompas
foto-foto: batik khas Demak