oleh: Yuswohady
Merebaknya sharing lifestyle atau collaborative lifestyle menghasilkan “mahluk baru” yang saya sebut “
Generasi We” atau biar pendek saya sebut “
Wetizen”.
Wetizen adalah generasi yang peduli. Peduli akan kian kurusnya bumi
oleh kerakusan manusia dalam mengonsumsi sumberdaya. Kepedulian ini
memicu konsep sharing economy atau collaborative consumption yang marak
10 tahun terakhir. Konsep ini memicu kesadaran untuk berbagi sumberdaya
untuk mengurangi eksploitasi berlebihan terhadap bumi yang kita diami.
Berkat konsep ini penggunaan sumber daya yang ada bisa menjadi lebih
irit dan efisien karena dipakai bersama melalui inovasi-inovasi platform
berbasis sharing. Generasi masa depan adalah generasi WE (
wetizen) yang peduli, bukan generasi ME (
metizen)
yang selfish. Bagaimana prospek wetizen di Indonesia? Kantor saya
Inventure mencoba membuat kajian mengenai hal ini. Berikut ini
ringkasannya.
Disownership Is the New Normal
Di era konsumsi kolaboratif, wetizen melihat bahwa kepemilikan terhadap
sesuatu barang sudah tidak terlalu penting lagi. Gaya hidup
berkolaborasi (collaborative lifestyle) mereka anggap lebih modern,
beradab, dan keren cool. Semua menjadi lebih murah, efisien, ramah bumi.
Budaya konsumsi “
share, not own” ini akan kian massif
tanah air. Wetizen tak usah membeli CD/DVD, cukup langganan iTunes atau
Netflix. Mereka tak perlu punya mobil sendiri, kita bisa naik Gojek atau
Uber. Bahkan bekerja pun tak harus punya kantor sendiri, wetizen bisa
berbagi ruang dengan pekerja lain. Bagi wetizen:
sharing is the new buying, disownership is the new normal.
The New Face of “Saweran”
Crowdfunding marak di tanah air. Sharing platform memungkinkan kita
menggalang dana untuk merealisasikan proyek impian. Tak ketinggalan dari
negara maju, para wetizen di Jakarta dan kota-kota besar lain di tanah
air, berlomba menginisiasi corwdfunding untuk mewujudkan proyek-proyek
bersama baik untuk tujuan profit maupun non-profit.
Beberapa proyek crowdfunding dibesut oleh para wetizen tanah air seperti
Kitabisa,
Wujudkan, dan
Ayopeduli.
Semua mengemban misi yang sama, yaitu memudahkan wetizen mengakses dana
dari masyarakat luas yang tertarik atau ingin menjadi bagian dari
mimpi, ide, dan harapan mereka. Crowdfunding bakal marak di tanah air
karena by-default kita adalah budaya masyarakat kita adalah komunal yang
suka saling tolong-menolong dan gotong-royong. Ingat, crowdfunding itu
Indonesia banget!
Working Alone Sucks!!!
Bagi para wetizen bekerja kini tak lagi harus di kantor. Padatnya
lalu-lintas dan mobilitas yang semakin tinggi membuat mereka kini bisa
bekerja di mana saja. Beberapa perusahaan bahkan sudah tidak mewajibkan
para karyawannya ngantor setiap hari. Karenanya mereka membutuhkan
tempat yang representatif untuk bekerja selain di kantor.
Solusinya adalah co-working space. Co-working space memfasilitasi
freelancers, entrepreneurs, atau karyawan perusahaan untuk berbagi
peralatan, ide, dan pengetahuan. Di Jakarta sudah banyak proyek
co-working space seperti
Comma,
Conclave,
Workout,
Code, dan
Jakarta Digital Valley. Untuk bengkel kerja (workshop) berbagi atau makerspace pun kini mulai bermunculan seperti
Indoestri,
Makedonia atau
Crazy Hackerz.
Peer-to-Peer Solutions for Traffic Chaos
Apa solusi kemacetan kronis di Jakarta? Salah satunya adalah platform berbagi kendaraan via komunitas. Komunitas
Nebengers
mengambil peran ini. Komunitas ini mempertemukan para pengguna motor
atau mobil yang punya kursi kosong dengan orang yang ingin menebeng
dengan kesepakatan share tertentu, win-win solution. Dalam versi yang
komersial, muncul
Gojek,
Uber dan
Grab
mengusung platform yang sama/mirip. Kini wetizen semakin meminati model
transportasi ini, karena lebih murah dan efisien. Sebuah solusi
cespleng bagi Jakarta yang macetnya minta ampun.
More Experiential Shared Space
Sharing lifestyle juga marak di dunia travelling dan hospitality.
Traveller dengan bujet cekak (backpacker) kini mulai ramai memanfaatkan
platform seperti
Airbnb atau
Counchsurfing
untuk mendapatkan akomodasi murah sekaligus mencari pengalaman baru
yang berbeda dari menginap di hotel. Layanan ini kini mulai marak
digunakan oleh para wetizen di tanah air. Bagi mereka, menginap di hotel
adalah biasa dan boring, menginap via Airbnb lebih experiential, cool,
dan karena itu lebih bisa dipamerkan ke teman-teman.
When Access Is Better Than Ownership
Para wetizen penikmat musik sudah tak lagi mendengarkan musik dalam
bentuk rilisan fisik. Mereka kini tak perlu lagi harus membeli atau
memiliki album musik secara penuh. Melalui
iTunes atau
Spotify
misalnya, mereka cukup berlangganan setiap bulan untuk bisa
mendengarkan koleksi jutaan lagu. Hal ini tentu lebih menguntungkan
daripada harus membeli per album. Dengan platform yang sama,
Netflix
juga hadir untuk para penggemar film. Menonton film dan serial favorit
cukup melalui layanan dengan harga terjangkau ini daripada harus membeli
DVD bajakan.
Towards a Sustainable Co-housing Community
Seiring tumbuhnya kelas menengah dengan pendapatan yang semakin
meningkat, kebutuhan memiliki rumah tak terelakkan lagi. Namun, dengan
harga properti yang setiap tahun naik gila-gilaan, mendapatkan hunian di
lingkungan yang nyaman dan akses yang terjangkau semakin susah
didapatkan. Hal ini menimbulkan inisiatif co-housing di kalangan para
wetizen.
Secara umum, konsep co-housing adalah membuat sebuah komunitas yang
dibentuk berdasarkan rencana bangun-lingkungan-hunian yang akan
dinikmati bersama. Komunitas ini merencanakan klaster hunian
bersama-sama, mulai dari mencari lahan/lokasi yang cocok, desain
arsitektur, hingga pendanaan. Di Jakarta, beberapa co-housing community
sudah terbentuk, salah satunya diinisiasi oleh
DFhousing.
Komunitas ini juga telah melebarkan sayap hingga Surabaya dan
Yogyakarta. Ke depan platform co-housing dapat menjadi gaya hidup baru
serta solusi dalam membantu pemerintah memaksimalkan ruang kota.
Connecting the Learning Enthusiasts
Selain bekerja, kini belajar pun bisa di mana saja, tak harus di sekolah
atau institusi formal. Kini mulai banyak wetizen dari kalangan
profesional yang ingin berbagi pengetahuan atau pengalamannya. Banyak
juga yang ingin belajar atau diajar. Kedua needs ini dipertemukan dalam
platform berbagi (learning sharing platform). Komunitas belajar marak di
seantero tanah air seperti
Akademi Berbagi,
Komunitas Memberi,
Kelas Inspirasi,
dan sebagainya. Konsep kelasnya sangat sederhana dan efisien.
Komunikasi dan pendaftaran cukup melalui media sosial. Tempat belajarnya
memanfaatkan ruang-ruang yang luang di kafe atau kantor. Semua serba
efisien dan dijalankan dengan semangat social entrepreneurship.
*Ditulis bersama Farid Fatahillah
sumber :
Yuswohady