
Kamis, 02 Desember 2010
Batik Motif 'Kinahrejo' Laku Rp 51 Juta

Batik tulis motif "Kinahrejo" karya Romi dari Pekalongan terjual Rp 51 juta dalam acara lelang yang diselenggarakan di Plasa Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Selasa (30/11/2010).
Senin, 29 November 2010
You&Home
Banderol untuk gitar batik tertukar dengan banderol harga untuk sempoa-boks batik
Corak batik memang merambah aneka produk, namun yang original batik (pembuatan dengan menggunakan malam/lilin) masih terbatas pada kain, kayu, dan bambu.
Majalah You&Home vol 2/2010, tebal 160 halaman kertas luks full colour.Selasa, 23 November 2010
Open Source Ungkap 'DNA' Batik
Siapa menyangka dari hasil pembicaraan santai sekelompok anak muda di Bandung seputar batik akhirnya menghasilkan inovasi teknologi yang berpotensi memajukan industri batik. Dibantu para peneliti di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), tim yang menyebut dirinya Pixel People Project berhasil mengembangkan software untuk mengungkap kekhasan atau "DNA" batik untuk mengidentifikasi motif asli Indonesia dan membuat motif variannya dengan cepat.
"Setelah dipelajari batik sebetulnya suatu bentuk perulangan yang disebut fraktal. Dalam matematika itu berkaitan dengan teori chaos," ujar Idwan Suhardi Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementrian Riset dan Teknologi di Jakarta, Rabu (11/6). Hal tersebut disimpulkan setelah tim BPPT melakukan melakukan analisis terhadap 300 motif batik dari Sumatera, Jawa, Madura, dan daerah lainnya..
Bahkan dari analisis tersebut dapat diketahui motif dasar atau boleh dibilang DNA batik. Dari motif dasar diketahui rumus matematikanya sehingga dengan mengubah-ubah variabel yang mempengaruhi dapat dibuat variasi motif yang sangat banyak. Dengan teknik tersebut, pembuatan desain baru dapat dilakukan dengan cepat bahkan setiap saat apalagi telah dikembangkan software yang siap pakai.
Ada dua parameter yang digunakan untuk menyusun “DNA” Batik Indonesia. Yang pertama adalah besaran yang mengukur struktur bentuk motif. Kita menggunakan dimensi fraktal. Parameter kedua adalah distribusi warna motif. Konfigurasi warna yang ada tersusun atas kombinasi tiga warna dasar. Parameter-parameter ini kemudian disusun menjadi tabel kumpulan meme yang merefleksikan data-data Batik yang diobservasi. Kemudian dihitung jarak antar artefak batik. Jarak ini yang selanjutnya divisualisasikan ke dalam pohon filomemetika Batik Indonesia.
Proses komputasional ini memperlihatkan terjadinya pengelompokan batik berdasarkan wilayah. Sampel desain Batik dari Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, Garut, Riau hingga Bengkulu cenderung mengelompok berdasarkan daerah asalnya. Setiap daerah memiliki karakteristik yang khas.
Hasil yang diperoleh sangat mengejutkan. Mengapa demikian? Sekarang coba kita bayangkan, kita ambil satu buah desain batik acak dari Pasar Klewer, Solo, yang tidak kita ketahui asalnya. Lalu kita foto dengan kamera digital. Setelah melalui proses perhitungan di komputer maka secara probabilistik dapat diketahui dari daerah mana ia berasal.
"Ini adalah contoh bahwa dengan pendekatan sains sebuah heritage dapat dikembangkan lebih jauh," ujar Idwan. Apalagi software yang dibangun untuk menghasilkan desain secara real time berbasis open source sehingga berpotensi besar dikembangkan terus kemampuannya melalui komunitas. Teori fraktal selama ini dipakai dalam metode mutakhir untuk mengenali gejala retakan pada isolator listrik atau pesawat.
Pemanfaatan teori fraktal sangat berguna untuk menandai motif batik asli Indonesia sehingga tak diakui sebagai produk negara lain. Namun akan lebih bermanfaat jika penemuan ini lebih menggairahkan industri batik sehingga menjadi salah satu sumber perekonomian nasional
.Sumber: RumahBatik.com
Selasa, 26 Oktober 2010
Batik Unik Tanah Liek

Setahun sudah batik diakui Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya atau UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Batik yang selama ini dikenal sebagai budaya masyarakat Jawa, ternyata juga dijumpai di Sumanik, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
Masyarakat di sana menyebutnya dengan batik tanah liek, yang artinya batik tanah liat. Uniknya, tak seperti di Jawa, mereka memproduksi batik yang direndam dalam tanah liat untuk memunculkan warna yang berbeda. Proses perendaman untuk membuat batik ini dilakukan sebelum dan sesudah pembuatan. Pewarnanya pun berasal dari tumbuhan, seperti getah gambir untuk warna merah atau getah kulit jengkol untuk warna hitam.
Batik Ranah Minang punya ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan batik Jawa, baik corak mapun warna. Terutama, media pewarna dasar kain berupa tanah liat dengan cara merendam dasar kain yang belum dibubuhi motif batik ke dalam larutan tanah liat. Perendaman ini bisa memakan waktu lebih dari satu hari untuk mendapatkan ketahanan warna tanah yang menyatu dengan kain. Setelah itu, kain dicuci bersih lalu dibubuhi motif batik, seperti kaluak paku, itiak pulang patang, parang rusak, maupun motif berupa kekayaan flora dan fauna alam Ranah Minang.
Di Sumbar, sentra batik tanah liek ada di tiga daerah, yakni Padang dengan Batik Monalisa, di Dharmasraya dan Pesisir Selatan. Meski sama-sama batik tanah liek, namun motif di masing-masing daerah berbeda-beda sesuai topografi dan kekayaan alam masing-masing. Di Dharmasraya misalnya, selain motif dasar, juga ada pembaharuan motif seperti bunga sawit yang terinspirasi dari bunga sawit yang mekar di perkebunan sawit yang banyak terdapat di daerah ini.
Batik tanah liek adalah batik khas Minangkabau yang motifnya dibuat dari pewarna berbahan tanah liat. Tak ada catatan sejarah sejak kapan kerajinan batik tanah liek muncul di Sumatera Barat. Tetapi diyakini telah dikenal masyarakat Minang sejak abad ke-16 dan digunakan sebagai kain adat. Diduga batik ini muncul dari pengaruh kebudayaan Cina dan hanya dibuat beberapa orang perajin seperti di Tanah Datar. Tapi kerajinan ini hilang tanpa jejak sejak zaman peperangan, mungkin zaman pendudukan Jepang. Hingga kemudian diperkenalkan kembali pada 1994.
Proses pembuatan sehelai batik tanah liek tulis yang memakan waktu satu hingga dua bulan ini menjadikan harga warisan budaya dari Ranah Minang tersebut mencapai Rp 2 juta sehelainya. Anda berminat mengoleksinya?
sumber: RumahBatik.com
Senin, 04 Oktober 2010
Dari Nongkrong Terbitlah Bisnis

