Senin, 18 Februari 2008

Trust: Percaya Nggak Percaya

"Pak, bisa nggak kalau saya pesan meja tv yang dibatik?" begitu bunyi sms yang saya terima sekitar 2 minggu lalu.

"Bisa bu," jawab saya mantap. "Kami sangat senang kalau ada contoh atau fotonya," saya menambahkan.

Sehari kemudian sang ibu mengirim foto meja tv ke email saya.

"Pak, kalau saya pesan yang ukuran sekian kali sekian, berapa ya harganya?"

Saya tidak langsung menjawab. Foto itu kami diskusikan dengan 'pasukan' saya. Di samping itu saya juga masih ragu, benar nggak ibu ini serius dengan niatnya, mengingat sudah beberapa kali saya nyaris jadi kurban penipuan. Alhamdulillah semua niat jahat itu tidak mengenai sasaran.

Saya memutuskan untuk serius menjawab pertanyaan calon konsumen. Toh menjawab tidak ada ruginya. Setelah kami diskusikan, saya jawab sms beliau.

"Bu, pesanan ibu setelah kami hitung harganya sekian...."

"Wah kok mahal ya pak?" jawab calon pelanggan.

Di sinilah saya harus bisa meyakinkan bahwa kami hanya membuat produk berkualitas, unik, eksklusif, elegan.

"Pesanan ibu kami buat dari kayu jati. Bahan dasarnya sendiri sudah berkualitas. Proses pembatikan kami lakukan persis seperti membuat batik tulis di atas kain. Batik tulis adalah batik yang mempunyai value added seni tertinggi. Batik tulis adalah perpaduan antara seni dan skill yang memerlukan jam terbang khusus.

Kalau batik tulis pada kain biasanya melalui 6 tahap pengerjaan, maka batik tulis kami pada kayu melalui 9 tahap pengerjaan. Jadi sebenarnya tidak mahal, bu," jawab saya.

Lama jawaban saya tidak mendapat respon. Saya berfikir apakah penawaran saya terlalu mahal. Tapi saya yakin bahwa yang saya tawarkan sebenarnya murah dibanding value nya. Tidak banyak yang mampu mengerjakan apa yang kami kerjakan.

Kalau sang ibu merasakan terlalu mahal, apa boleh buat. Produk kami tidak mahal. Masalahnya hanya soal terjangkau atau tidak.

"Pak, harganya bisa turun lagi ya?" tiba-tiba sang ibu mengirim sms pada pagi hari. Tiba-tiba ada rasa iba. Beliau sangat berminat tapi harganya kurang terjangkau.

"Bu, kami bisa memberi diskon 15%. Kalau dirupiahkan kami sudah menurunkan harga sekian juta lho," jawab saya.

"Oke pak, gimana cara pembayarannya?"

Kaget. Kami belum pernah bertemu. Selama ini komunikasi hanya lewat sms dan email. Apakah betul beliau percaya kepada kami?

"Mohon DP nya 50% ya bu," saya menjawab sms nya masih agak ragu.

"Baik pak. Siang ini saya transfer."

Ternyata betul. Esok pagi-pagi sekali ketika saya cek via m-banking ada dana masuk 50% dari harga meja televisi.

Kami belum pernah bertemu, belum berbicara, hanya via sms dan email. Tapi beliau bersedia melakukan pembayaran cukup signifikan. Barangnya belum ada. Trust ini harus dijaga.

2 komentar:

  1. This set of unspoken pandora jewerly rules went unchallenged it's not pandora bead and this extra weight, almost magically, pandora charms bracelets everything changed.Brings about acne could Pandora beads find out how traditions evolve, they simply do. To discount pandora the creative mind, images of a wizened pandora sale old wizard sitting atop a stone tower towards discount pandora charms the top of by far the largest mountain pop into your head. He sits Pandora beads 2010 in his white robe stroking his long a few facial beard pandora beads charms coupled with surveys the earth's weddings to be which buy pandora charm has a look of greatly consternation.

    BalasHapus