Rabu, 17 Desember 2008

Berkah Mandiri

Lebih 3 tahun lalu, ketika saya mengikuti Temu Nasional EU (Entrepreneur University) di Yogyakarta, saya sempat bingung. Saya bingung ketika disodori formulir oleh panitia. Dalam formulir itu ada pertanyaan jenis usaha yang saya jalani saat itu.

Bisa saja sih saya abaikan saja pertanyaan itu dan tidak saya isi jawabannya. Tapi saya malu. Masa di acara temu nasional pengusaha saya tidak punya usaha, apa kata dunia... :)

Cukup lama saya terdiam membiarkan formulir itu di tangan saya. Saat itu saya memang belum punya usaha. Saya masih mencari-cari usaha apa yang bisa saya jalani saat itu. Usaha yang bisa dijalani tanpa melibatkan uang sebagai modal utama.

Kebetulan saat itu saya membawa beberapa sampel VCD milik sahabat saya. VCD yang berisi pendidikan untuk anak. Tiba-tiba muncul ide di kepala saya. Mengapa bukan VCD ini saja yang dijadikan sebagai entitas usaha? Akhirnya muncul ide di kepala saya sebagai distributor VCD pendidikan untuk anak.

Saya ambil lagi formulir itu. Di kolom jenis usaha langsung saya isi sebagai 'Distributor Media Pendidikan Anak'. Ternyata masalah belum berakhir di sini. Masih ada pertanyaan apa Nama Usaha Anda? Di sini saya bingung lagi. Nyari ide lagi. Beruntung saya tidak terlalu lama mencari ide nama usaha saya. Kalau lama panitia bisa-bisa curiga orang ini sedang ngarang bisnis meski saat itu saya memang sedang ngarang beneran :). Akhirnya muncullah nama 'Berkah Mandiri Distribusi'. Maka saat itu saya punya 'perusahaan distribusi' yang saya dirikan semenit yang lalu.

Saat itu saya memakai nama Berkah Mandiri karena cita-cita saya memang ingin mandiri, tidak ngantor di tempat orang. Dan apa yang saya lakukan bisa menjadi berkah untuk sesama, amin. Itulah cita-cita saya saat itu (sekarang pun juga masih).

Bensin non Berkah

Bicara soal berkah mengingatkan saya kepada sahabat yang sudah lebih lima tahun tidak bertemu. Ubaidi, nama sahabat saya itu, adalah teman main sejak kecil. Suatu ketika kami pernah bertemu ketika Idul Fitri di Solo. Karena sudah lama tidak bertemu maka obrolan kami menjadi sangat menarik. Mulai dari obrolan ringan hingga pembicaraan yang lebih serius. Dan obrolan kami pun sampai kepada hal yang cukup sensitif tapi sangat menarik untuk direnungkan. Berikut ini adalah pembicaraan yang masih saya ingat. Mudah-mudahan tidak banyak melencengnya.

"Aneh ya mas hidup ini," katanya.

"Apanya yang aneh?" timpal saya.

"Saya dulu kan bekerja di SPBU. Bos saya menyuruh kita-kita men-set meteran di sana. Sehingga konsumen yang membeli sebenarnya dirugikan."

"Mengapa tidak protes saja?"

"Ya nggak berani lah. Namanya juga karyawan. Menentang berarti dipecat."

"Terus anehnya di mana?"

"Memang sih keuntungan kita bertambah banyak. Tapi ada yang ngganjel di hati saya. Susah digambarkan. Pokoknya hidup saya jadi gimana gitu."

Cukup lama Ubaidi terdiam. Mungkin dia kesulitan meneritakan suasana keluarganya saat itu. Kebetulan saat itu dia belum punya anak padahal sudah menikah sekian tahun.

"Akhirnya lama kelamaan hati saya tidak kuat mas. Saya sering sakit. Kalau diperiksakan ke dokter tidak ada yang sakit padahal saya merasakan badan saya sakit. Saya juga jadi berfikir apakah Allah belum mengabulkan keinginan kami untuk punya anak karena uang yang saya dapatkan tidak halal.

Karena sering sakit dan perang batin akhirnya saya beranikan diri untuk keluar dari tempat kerja. Saat itu saya jadi pengangguran meski tidak lama karena kemudian mencoba jualan makanan kecil. Hasil usaha saya memang jauh lebih kecil dibanding gaji sebelumnya tapi hati saya kok tiba-tiba jadi ringan banget. Dan anehnya tidak lama kemudian istri saya hamil. Apakah ini peringatan dari Allah kepada saya ya yang selama itu mendapatkan uang dengan cara tidak halal," tanyanya tanpa meminta jawaban dari saya.

Bisa jadi Ubaini benar. Harta yang didapatkan dengan cara tidak halal hanya akan menjerumuskan kita sendiri.

Merdeka Sehat

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan pak Priono. Pria ini sehari-hari adalah sopir taksi. Setelah ngobrol sebentar dengan saya dia langsung bisa menebak dari mana saya berasal, maklum logat saya sangat medhok sehingga langsung ketahuan. Dan langsung berbicara dengan saya memakai bahasa Jawa :).

"Saya dari Wonogiri mas. Dulu pegang bis Wonogiri-Jakarta."

"Mengapa kok berubah ke taksi, pak?" tanya saya.

"Maklum mas, saya merasa honornya kurang. Dulu kami sering main kucing-kucingan dengan pengawas bus dari perusahaan. Aturan perusahaan kami tidak boleh nyari penumpang di jalan demi kenyamanan penumpang yang membeli tiket di loket. Tapi karena merasa kurang maka saya dan kenek saya sering 'ngambil' orang di jalan. Uangnya tentu saja masuk kantong sendiri. Kejadian ini cukup lama kami jalani sampai suatu saat batin saya tidak kuat."

"Tidak kuatnya kenapa?" tanya saya ingin tahu.

"Perusahaan saya sebenarnya sangat baik. Kalau kita butuh uang, perusahaan selalu mau meminjamkan uangnya, berapapun kita minta. Masa perusahaan yang sangat baik ini kita tikam dari belakang?" tanya pak Priono tanpa minta jawaban.

"Saya sempat setahun nganggur. Setelah itu saya diterima bekerja di sebuah perusahaan kontraktor. Di perusahaan itulah saya biasa memegang uang sangat banyak. Saya dipercaya belanja kebutuhan proyek seperti semen, pasir, batu, dan sebagainya. Tapi dasar nafsu kita yang suka serakah, saya sering menaikkan harga belanjaan material. Bahasa sekarang disebut mark up. Saat itu harga semen masih Rp 8000 (tahun 80-an) tapi pada laporan saya tulis Rp 11.500. Itu untuk satu zak. Padahal dalam sebulan belanja semennya ada sekian ribu zak. Itu baru dari semen saja, belum dari material lainnya. Tiap bulan penghasilan saya tidak pernah kurang dari Rp 10 juta. Itu tahun 80-an."

"Besar sekali," kata saya.

"Betul mas. Besar sekali. Tapi ada yang aneh. Anak saya selalu sakit-sakitan. Kadang asmanya kambuh, kadang lambungnya kumat. Pokoknya sering banget sakit. Pernah salam sebulan tiga kali dirawat di rumah sakit. Saya jadi bingung ada apa dengan anak saya. Mengapa jadi begini. Apakah ini karena pekerjaan saya yang tidak diridloi Allah. Apakah karena saya sering mendapat uang dengan cara-cara tidak halal," kata pak Priono

"Wah bapak 'beruntung' langsung diingatkan Allah," saya menimpali.

"Saya nggak tahu mas. Sampai pada suatu ketika saya memberanikan diri meninggalkan pekerjaan saya yang sangat empuk itu."

"Terus apa yang dilakukan bapak?"

"Ya saya nganggur lagi. Sampai kemudian ada teman yang mengajak saya menjadi supir taksi sampai sekarang ini. Dan ajaibnya, anak-anak saya tiba-tiba jadi sehat semuanya, bagas waras tidak kurang suatu apa. Mereka sehat-sehat. Asmanya tidak pernah kambuh. Bagas waras adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang artinya sangat sehat, betul-betul sehat. Sampai sekarang saya masih heran lho mas. Heran dan bersyukur kami tidak pernah lagi menginjak rumah sakit."

Apa yang kita alami adalah rangkaian dari apa yang kita upayakan. Apa pun yang menimpa kita merupakan akibat dari apa yang kita lakukan, disadari atau tidak. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai mengambil hikmahnya. Matur nuwun pak Priono atas pelajarannya yang sangat berharga dan bermanfaat ini....


foto: fesabilillah

5 komentar: