Kamis, 11 Desember 2008

Nggih!

Di Solo kami punya tetangga. Orang tua saya biasa menyebut sosok ini dengan Mas Basir. Akhirnya saya dan kakak juga ikut-ikutan memanggil dia dengan Mas, bukan Pak.

Orang ini sangat bersahaja. Ya, terpaksa bersahaja karena dulu kehidupannya memang sangat pas-pasan. Tapi kebersahajaan Mas Basir bukan bersahaja terpaksa meski dulu hidupnya memang terpaksa bersahaja. Bingung?

Keahlian dasar Mas Basir adalah tukang batu. Tapi dia punya multi kemampuan: bikin tembok, tukang kayu, betulin listrik, bikin lemari, bahkan gali sumur. Bahasa kerennya multi tasking meski kalau di-Indonesiakan arti sebenarnya adalah serabutan. Mas Basir ini memang 'produktif'. Meski tukang batu anaknya ada 6 (enam).

Ternyata mengandalkan pekerjaan sebagai tukang batu betul-betul sangat repot mengelola kehidupan. Untuk mengimbangi kebutuhan hidup pada malam hari Mas Basir juga berjualan gorengan. Apa pun digoreng. Kalau yang digoreng tahu, tempe, atau pisang sudah biasa. Tapi Mas Basir menggoreng apa saja: nanas, pepaya, dan buah-buahan lain. Pokoknya apa pun digoreng. Mirip dengan ANIN Rumah Batik. Apa pun yang masuk di ANIN Rumah Batik bakalan dibatik.

Kalau dagangan gorengannya kurang laku, masih banyak yang tersisa, Mas Basir membagikannya kepada para pemuda yang biasa nongkrong di masjid atau di pos kamling. Kalau ada yang berniat membayar dia menolak. "Inilah sedekah yang bisa saya lakukan," katanya.

Yang juga menarik dari Mas Basir adalah kemampuannya untuk tidak berkata 'tidak' kalau ada yang minta tolong kepadanya. "Orang kan diperintahkan sedekah mas. Saya bisanya baru sedekah tenaga, ya inilah sedekah saya," katanya pada suatu ketika.

Karena selalu berkata 'nggih' maka tenaga Mas Basir selalu menjadi rujukan pertama kalau ada kegiatan-kegiatan yang memerlukan tenaga fisik. Kalau ada yang punya hajat Mas Basir juga selalu dipanggil karena mukanya selalu senyum kalau ada yang nyambat tenaganya. Alhasil jarang dia terlihat nganggur di rumah.

Meski kelihatan begitu santun, baik, dan dermawan bukan berarti tidak ada ujian yang diterimanya. Karena mukanya selalu cerah tidak ada yang tahu kalau pada saat itu dia betul-betul tidak punya beras satu butir pun. Tidak ada yang tahu pasti berapa hari dia dan keluarganya tidak makan nasi. Hingga pada suatu hari ibu saya berniat memberikan beras zakat fitrahnya kepada Mas Basir. Ibu saya sangat kaget ketika malam itu Mas Basir menerima beras, "Alhamdulillah lare-lare saget nedho." Alhamdulillah sekarang kami bisa makan (nasi).

Cukup susah Ibu saya menceritakan kejadian itu kepada kami. Ibu sangat susah menggambarkan suasana malam itu. Kata-kata yang Beliau ucapkan tidak cukup mampu menggambarkan suasana yang terjadi. Mas Basir pun tidak bersedia mengaku sudah berapa lama tidak menyentuh nasi. Masih ada beberapa ujian lagi yang harus diterima Mas Basir tapi yang paling saya ingat ya kejadian beras fitrah itu.

Cerita di atas adalah kejadian masa lalu. Karena begitu ringannya Mas Basir membantu orang lain maka Allah juga meringankan langkahnya. Mas Basir sudah cukup menabung. 'Tabungannya' adalah kejujuran dan suka membantu yang lain. Kini dia sudah tidak lagi jualan gorengan. Spesialisasinya masih tukang batu. Tapi kini dia juga 'memegang' motor. Dia menjadi dealer tidak resmi motor.

Secara 'tidak sengaja' usaha 'sampingannya' adalah jualan motor. Usaha sampingan yang jauh lebih besar dari pada usaha utama. Kalau ada yang ingin membeli motor cukup bilang kepadanya. Maka motor yang kemudian dibawa Mas Basir kepada pemesan pasti motor yang baik. Sebaliknya kalau ada yang ingin menjual motor tinggal bilang kepada Mas Basir. Biasanya tidak lama dia bisa mendapatkan pembelinya.

Sehari-hari dia memang pakai motor tapi motor yang dia pakai sering sekali ganti. Karena orang sudah begitu percaya kepadanya maka kalau dia memakai motor berarti motor itu jaminan bagus. Biasanya motor yang dikendarai Mas Basir sering ditaksir orang. Begitu juga dengan anak-anaknya. Keenam anaknya punya prestasi yang membanggakan. Bahkan salah satunya jadi penghafal Qur'an.

Itulah kehidupan. Kehidupan adalah 'cermin' bagi kita. Apa pun yang kita tabur akan kita tuai di kemudian hari. Maka mulailah menabur kebaikan hari ini...

ilustrasi: prayudi

3 komentar: