Senin, 22 September 2008

Museum untuk Sang Pejuang

Samanhoedi adalah seorang pejuang kemerdekaan. Beliau adalah salah satu pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI). Kiprahnya dalam memperjuangkan cita-cita diakui sebagai cara yang elegan dan modern. Selain dikenal sebagai pejuang, dalam kesehariannya dia adalah seorang saudagar batik.

Untuk mengenang kiprahnya Pemkot Solo bekerja sama dengan Yayasan Warna Warni merasa perlu mendirikan museum untuk pejuang ini.
---------------------

Sebuah museum yang menggambarkan perjuangan Samanhoedi, pendiri organisasi modern Sarekat Dagang Islam, diresmikan pembukaannya oleh Walikota Surakarta (Tempo Interaktif).

Museum Samanhoedi yang terletak di Kampoeng Batik Laweyan Solo, dulunya lebih dikenal sebagai museum batik. Maklum, Laweyan memang terkenal sebagai sentra industri batik semenjak zaman penjajahan Belanda.

Tempat tersebut kini disulap menjadi Museum Samanhoedi, yang berisi foto-foto bukti perjuangan KH Samanhoedi, pengusaha besar batik yang telah berjasa mendirikan organisasi modern Sarekat Dagang Islam (SDI).

Foto yang terpajang merupakan foto-foto lama yang telah direproduksi, sehingga semua foto merupakan foto hitam putih. Foto yang terpampang ditata secara berurutan, mulai dari revolusi batik, foto mengenai pembentukan SDI, peran pemerintah kolonial terhadap SDI, Kongres SDI di Solo, dan Samanhoedi di masa tua yang memprihatinkan.

Tidak hanya foto peristiwa, juga terdapat hasil repro anggaran dasar dan anggaran rumah tangga dari organisasi Sarekat Dagang Islam, yang masih tertulis dalam huruf Jawa.

Sayangnya, tidak didapati benda-benda peninggalan Samanhoedi yang dapat dipajang di museum yang diresmikan oleh Walikota Surakarta, Joko Widodo, tersebut.

“Ketika meninggal, kakek tidak mempunyai barang apa pun,” kata Hudi Setyawan, cucu Samanhoedi. Di masa tua, Samanhoedi mengalami kebangkrutan yang luar biasa, karena harta bendanya habis untuk perjuangan membesarkan Sarekat Dagang Islam.

Peninggalan Samanhoedi yang masih tersisa hanyalah sebuah rumah yang terletak tidak jauh dari museum tersebut, itu pun merupakan rumah pemberian dari Soekarno. Rumah tersebut kini ditempati oleh keluarga Hudi Setyawan.

“Semula kita ingin museum tersebut dibuat di rumah itu,” kata Krisnina Maharani, Ketua Yayasan Warna Warni yang memprakarsai berdirinya museum ini. Namun karena digunakan sebagai tempat tinggal, dirinya memilih menyewa sebuah gudang bekas tempat produksi batik tersebut.

Beberapa foto yang dipajang merupakan koleksi pribadi keluarga Samanhoedi. Namun beberapa didapatkan dari Arsip Nasional, dan beberapa didapatkan oleh Krisnina di Kota Leiden, Belanda.

Sedangkan Bisnis Indonesia menulis, Sedikitnya 36 koleksi foto yang didapatkan dari sejumlah kerabat dan keluarga Samanhoedi, serta beberapa peninggalan yang tercatat di museum nasional akan mengisi koleksi di dalam museum itu. Menurut Krisnina, sejarah dan peran Samanhoedi dalam konteks panggung perjuangan pergerakan nasional dengan latar belakang kawasan Laweyan dan perdagangan batik yang memang digeluti oleh tokoh tersebut, menjadi inspirasi dirinya mendirikan museum di daerah itu.

Dia menjelaskan dari berbagai buku sejarah yang dibacanya, peran Samanhoedi sebagai seorang saudagar batik saat itu, memiliki peran yang sentral, termasuk keterlibatannya sebagai tokoh pendiri SI tersebut. "Peran batik Laweyan dan berdirinya SI sangat besar. Samanhoedi menjadi sentral perhatian," ujarnya.

Meski ukuran museum tersebut tidak terlalu besar, dia menuturkan keberadaannya cukup lengkap untuk memuat segala hal tentang Samanhoedi, terutama kisah dan perjuangannya hingga masa tua dan berbagai dokumen penting tentang Kota Solo. "Saya berharap museum sejenis bisa didirikan di setiap kota, sehingga tokoh-tokoh lokal di daerah bisa dikenal oleh masyarakat sekitar dan tentunya wisatawan dari dalam dan luar negeri," ungkapnya.

sumber foto: photobucket

9 komentar:

  1. seorang pejuang sejati, tanpa pamrih. bayangkanlah waktu beliau wafat tidak meninggalkan harta buat anak apalagi cucu. semoga amal beliau dibalas dengan lebih baik oleh Allah swt, amin.

    BalasHapus
  2. This set of unspoken pandora jewerly rules went unchallenged it's not pandora bead and this extra weight, almost magically, pandora charms bracelets everything changed.Brings about acne could Pandora beads find out how traditions evolve, they simply do. To discount pandora the creative mind, images of a wizened pandora sale old wizard sitting atop a stone tower towards discount pandora charms the top of by far the largest mountain pop into your head. He sits Pandora beads 2010 in his white robe stroking his long a few facial beard pandora beads charms coupled with surveys the earth's weddings to be which buy pandora charm has a look of greatly consternation.

    BalasHapus
  3. terima kasih atas informasinya..
    semoga dapat bermanfaat bagi kita semua :) mobil banjir

    BalasHapus
  4. terima kasih atas informasinya..
    kunjungi juga website kami Suspensi Mobil

    sukses selalu

    BalasHapus
  5. Jangan berhenti untuk terus berkarya, semoga

    kesuksesan senantiasa menyertai kita semua.
    keep update!model mobil

    BalasHapus
  6. harga honda Jazz 20147 April 2014 10.06

    Jangan berhenti untuk terus berkarya, semoga kesuksesan senantiasa menyertai kita semua.
    keep update!Harga Honda Jazz 2014

    BalasHapus
  7. piala dunia2 Mei 2014 14.48

    terima kasih atas informasinya..
    kunjungi juga website kami Piala Dunia

    sukses selalu

    BalasHapus