Senin, 24 Desember 2018

Hari Ibu

Di balik semaraknya masyarakat merayakan Hari Ibu, banyak para ibu setiap hari harus banting tulang berusaha mencukupi kebutuhan keluarga. Tanpa hari libur.

Berikut adalah cuplikan di salah satu sudut pasar hasil bumi di Jawa Tengah.



... hanya memberi tak harap kembali
bagai Sang Surya menyinari dunia.

Jumat, 18 Mei 2018

Al Quran 30 Juz Dibuat di 1 Lembar Kulit - Quran 30 Chapters Made of Leather

Al Quran 30 juz dibuat di atas satu lembar kulit domba. Unik dan eksklusif. Hanya ada di Indonesia. Pengerjaannya menggunakan teknik khusus mirip 'tato', sehingga tulisan permanen. Tidak luntur tidak pudar.

90 x 90 cm
Detil tulisan nampak jelas. Memadukan seni kaligrafi dan arabesk. Terdapat 40-an ornamen arabesk yang menghiasi karya seni ini.

Cocok dijadikan  koleksi, cinderamata, souvenir, maupun hadiah untuk relasi / keluarga.
Tersedia warna gold dan silver.

Tersedia warna gold dan silver.

-----------

Quran / Koran 30 chapters made on a single sheet of sheepskin. Unique and exclusive. Only in Indonesia. The work uses a special technique similar to 'tattoo', so that the article does not fade do not fade.

90 x 90 cm


Detailed writing is clear. Integrating art of calligraphy and arabesque. There are 40s of arabesque ornaments that decorate this artwork.

Suitable for collection, souvenir, gift.



Untuk informasi detil:
whatsapp: +6281567979300

Rabu, 02 Mei 2018

Penghemat BBM Alami 'GEM'

Bagi perusahaan transportasi atau usaha yang banyak menggunakan jasa transportasi, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) adalah faktor utama. Semakin hemat penggunaan BBM, maka biaya operasional semakin rendah. Selanjutnya harga yang ditawarkan ke konsumen semakin kompetitif. Akibatnya pelanggan yang bisa dijaring semakin banyak.

Salah satu cara supaya pemakaian BBM makin irit adalah dengan menggunakan aditif yang dicampurkan pada BBM.

GEM (Green Engine Miracle) adalah aditif alami buatan Indonesia. Bukan aditif sintetis.


Tiap botol berisi 30 ml, bisa digunakan untuk 400 liter BBM solar atau bensin. 

Mobil angkut seperti ini, kalau rata-rata menghabiskan 40 liter/hari, setelah diberi aditif GEM bisa menjadi 30 liter/hari (penghematan 25%).

Truk Jakarta-Solo pp, kalau biasanya perlu solar 155 liter, setelah diberi aditif GEM bisa menjadi sekitar 116 liter. Satu botol (berdasarkan pengalaman) bisa dipakai 3 rit Jakarta-Solo pp.

Untuk mobil atau truk faktor pengemudi cukup signifikan dalam pemakaian solar atau bensin.


Aditif alami GEM bisa juga untuk menghemat BBM pada alat pertanian maupun nelayan


Sedangkan untuk genset penghematannya bisa mencapai 35-40% (berdasarkan pengalaman).

Untuk informasi silahkan 
email ke greenEngine88@gmail.com  atau
WA 081567979300




Senin, 02 Januari 2017

"Bolpen, Mas"



“Dua ribu, mas,” seorang laki-laki 60-an tahun tiba-tiba berdiri di depan saya menyodorkan bolpen sambil tersenyum. Dan tiba-tiba tawa saya pun pecah melihat ulah bapak ini.

“Hebat, pak. Bapak kok tahu yang saya butuhkan?”

“Abis sampeyan tolah toleh,” jawab Bapak itu sambil tertawa.

Saat itu saya memang harus mengisi formulir. Dan "untungnya" saya tidak membawa bolpen.

Dan tanpa proses tawar menawar bolpen itu berpindah ke tangan saya bersamaan dengan berpindahnya satu lembar dua ribu-an ke tangannya. Simpel dan cepat.

Bapak itu pun kembali ke aktivitasnya, mencari orang yang tolah toleh. Sebuah proses bisnis yang simpel, sederhana, cepat, profitable berlangsung dengan baik dan rutin. 

Peristiwa di atas terjadi di kantor Samsat Solo. Tiap hari ratusan orang dari pagi sampai siang-sore mengurus dokumen kendaraan bermotor. Mari kita coba mengira-ngira berapa omset bapak yang menjual bolpen itu. 

Kalau dihitung dengan google maps, luas halaman Kantor Samsat Solo sekitar 1100 m2. Dari luas itu ada daerah yang padat orang dan ada daerah yang kosong. Kita anggap saja kepadatan rata-rata adalah 1 orang menempati 5 m2. Maka di halaman Samsat itu ada sekitar 220 orang.

Begitu juga dengan ruangan tempat pembayaran. Luas yang dipakai untuk pelayanan publik sekitar 500-an meter persegi. Di sini kepadatan orang lebih banyak dibanding di halaman. Kita angap saja 1 orang menempati 3 m2, maka di dalam ruangan itu ada sekitar 170-an orang.

Jadi dalam satu waktu ada sekitar 400-an orang.

Kalau satu orang membutuhkan waktu total sekitar  90 menit di kantor itu, maka kalau dihitung dari jam 8.00 sampai jam 16.00 (8 jam), maka total masyarakat yang datang ke kantor itu tiap hari sekitar (480/90)*400 orang = 2000-an orang.

Bisa dikatakan semua yang datang ke kantor Samsat mengisi formulir. Artinya semua membutuhkan bolpen untuk mengisi formulir itu. Kalau kita anggap dari semua yang mengisi formulir hanya 5% saja yang membeli bolpen, maka ada 100 orang atau ada 100 transaksi beli bolpen.

Kalau harga bolpen @ Rp 2000, maka ada omset Rp 200.000/hari. Dari omset itu berapa kira-kira profitnya? Kalau melihat jenis bolpen yang dijual saya yakin profitnya 50%, alias Rp 100.000/hari. Ini kalau yang membeli ada 100 orang, bagaimana kalau lebih? Ya tentu saja profitnya lebih besar.

Itu hanya dari bolpen. Padahal yang mengurus STNK juga selalu membutuhkan plastik pembungkus STNK. Plastik pembungkus STNK juga dijual Rp 2000, padahal untuk plastik ini kulakannya hanya 500-an rupiah saja (atau malah kurang). :)

Mampu menemukan kebutuhan masyarakat, dan kemudian menyediakan apa yang sangat dibutuhkan masyarakat, adalah proses bisnis yang bisa sederhana... sangat sederhana. Yang tidak sederhana barangkali adalah “menemukan” itu... melihat ”peluang” itu.


Selasa, 23 Agustus 2016

Gejala Transformasi Budaya dalam Perkembangan Batik Masa Kini


oleh: Astuti Soekardi

Saya sempat terhenyak ketika salah seorang pakar dan produsen batik ternama di Pekalongan, H. Dudung Aliesyahbana, dalam kuliah umumnya di Program Studi DIII Teknologi Batik, Universitas Pekalongan menyatakan bahwa perkembangan batik sekarang ini lebih dominan pada batik carangan dan batik sempalan. Dunia industri fashion sudah sedemikian rupa menggiring batik dalam kondisinya yang seperti sekarang ini. Bahkan di Pekalongan, muncul suatu kebanggaan bahwa jika bisa memproduksi batik dengan harga semurah mungkin, maka itu adalah prestasi!
 
Jika sudah berbicara tentang harga murah, maka pada akhirnya mutulah yang dipertanyakan. Mutu, terutama akan terkait dengan kain dan obat batik yang digunakan serta desain yang ditampilkan. Orang Jawa bilang, ono rego ono rupa. Hal ini memiliki kedalaman bahwa suatu produk yang dijual dengan harga murah, apa iya memiliki mutu yang bagus? Jika batik menjadi seperti itu, maka batik yang awalnya adalah karya seni yang adiluhung bertransformasi menuju tahapan yang justru lebih rendah. Meminjam istilah Van Peursen bahwa transformasi budaya tidak berarti menuju suatu tahapan yang lebih tinggi, tetapi menuju suatu hal yang berbeda sifatnya saja. Dikatakan juga bahwa proses transformasi selalu terjadi dengan disertai penyelewengan-penyelewengan. Bukankah penyelewengan yang dimaksud sudah terjadi?

Tetapi apakah hanya sejauh itu saja yang terjadi? Apakah sebuah proses transformasi hanya menuju pada sesuatu yang lebih rendah? Pada faktanya sekarang, perkembangan desain batik yang ada di lapangan begitu variatif. Meminjam istilah dalam pewayangan bahwa yang namanya cerita wayang bisa dikategorikan dalam cerita pakem, cerita carangan dan cerita sempalan. Dalam pewayangan, cerita pakem didefinisikan sebagai cerita/lakon wayang yang masih mengikuti cerita klasik seperti Baratayuda dan Ramayana.  

Cerita carangan adalah lakon yang masih mengambil unsur-unsur dalam lakon pakem tetapi sudah dengan sentuhan bentuk baru serta penyajian baru. Sedangkan cerita sempalan adalah cerita wayang yang sama sekali lepas dari cerita pakem. 

Demikian yang terjadi dengan perkembangan batik sekarang ini. Tidak semua perkembangan yang terjadi pada batik menuju pada sesuatu yang lebih buruk. Dewasa ini, perkembangan batik begitu variatif dalam tampilannya. Tampilan batik tidak lagi terpaku pada batik pakem/klasik sebagaimana awal kehadirannya dalam khasanah budaya Indonesia. Bukanlah hal ini juga merupakan penyelewengan akibat proses transformasi? Tapi merupakan penyelewengan yang bersifat positif.

Berdasar analog dunia pewayangan tadi, maka definisi batik pakem adalah batik yang masih melestarikan penggunaan motif dan warna batik sebagaimana asalnya dulu (batik klasik). Batik carangan adalah batik yang sudah mengalami modifikasi tetapi masih menampilkan unsur-unsur batik klasik. Sedangkan batik sempalan, tampilannya merupakan modifikasi bebas hasil kreatifitas desainer/pembatiknya. 

Sangat bisa terjadi bahwa motif dan warna yang digunakan sama sekali lepas dari pakemnya. Dalam bahasa lain, pada batik sempalan, bisa saja diartikan bahwa yang tersisa pada batik jenis ini hanyalah prosesnya saja. Atau dengan kata lain, apapun tampilan batik, jika masih memenuhi kriteria definisi yang diberikan oleh konvensi Batik Internasional di Yogyakarta pada tahun 1997, adalah tetap bisa disebut batik. 

Definisi batik yang dimaksud adalah proses penulisan gambar atau ragam hias pada media apapun dengan menggunakan lilin batik (wax) sebagai alat perintang warna. Bilamana prosesnya tanpa menggunakan lilin batik maka tidak bisa dinamakan batik tetapi dikatakan tekstil bermotif batik.

Apakah perkembangan yang terjadi pada batik yang sudah sedemikian rupa, merupakan sesuatu yang salah? Tidak ada yang salah dalam hal ini. Batik berkembang sedemikian adalah karena tuntutan jaman. Baik batik carangan maupun batik sempalan adalah dalam rangka usaha si pembuatnya untuk mencari format baru yang sesuai dengan perkembangan jaman. Oleh Umar Kayam dikatakan bahwa transformasi budaya merupakan suatu ‘perintah historis’, yaitu usaha untuk mencari format dan sosok yang lebih mampu dan efektif dalam menjawab tantangan jaman dan kebudayaan. 

‘Perintah historis’ adalah sebuah strategi nenek moyang kita untuk mempertahankan kelangsungan hidup dari berbagai pengaruh serta ‘kekuatan’ dari luar. ‘Perintah historis’ mengisyaratkan adanya idiom ‘keluwesan’, kelenturan, dan kreativitas dalam menghadapi pengaruh peradaban lain yang lebih kuat. Dengan kata lain, apapun perkembangan tampilan batik yang sekarang ada, jika dimaknai positif pada dasarnya adalah hasil kreatifitas masyarakat masa kini dalam mensikapi perkembangan jaman. 

Hanya saja, apakah dengan adanya begitu banyak perkembangan yang terjadi, masyarakat memahami sejauhmana selembar batik bisa dikatakan termasuk dalam katagori batik pakem/klasik, batik carangan dan batik sempalan? Atas nama pewaris budaya batik yang adiluhung, seyogyanya masyarakat Indonesia mengetahuinya. Dan bagi para produsen batik, dengan memaknai katagori batik yang berbeda tersebut, maka akan memiliki rasa tanggungjawab terhadap jenis apapun batik yang diproduksinya. 

Jangan sampai terjadi ketika dia memproduksi jenis batik sempalan maka mengaku-aku batiknya merupakan batik carangan, atau lebih ironis lagi jika mengatakan sebagai batik pakem/klasik.

 sumber: askarlo.org

Selasa, 29 Maret 2016

Sharing Economy dan Koperasi

oleh: Yuswohady

Salah satu manfaat sosial terpenting dari sharing economy adalah penciptaan wirausahawan individu (“individual entrepreneurs” atau sering juga disebut “micro-entrepreneurs”) melalui sebuah platform kolaborasi untuk mengubah aset menganggur (idle assets) menjadi layanan bernilai tinggi. Dalam kasus Gojek, wirausahawan individu itu adalah para pengojek yang bergabung dengan Gojek. Dalam kasus AirBnB, mereka adalah para pemilik rumah kosong atau kos-kosan yang memanfaatkan situs Airbnb.com.

 Banyak dari mereka awalnya menganggur, namun berkat platform berbasis aplikasi itu mereka kemudian bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan layak. Mereka mejadi self-employeed tanpa harus ribet mengurus ijin PT atau menyewa kios di Tanah Abang yang harganya selangit. Cukup menjadi anggota Gojek atau mendaftar di situs Airbnb.com, mereka bisa langsung “buka lapak” menawarkan jasanya melalui aplikasi.

Karena itu tak bisa dipungkiri, di tengah membludaknya pengangguran di negeri ini, plaform sharing economy menjadi “dewa penyelamat” bagi rakyat kebanyakan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Perusahaan Rakyat
Saya menyebut perusahaan berbasis platform sharing economy sebagai “perusahaan rakyat” (people’s company). Kenapa? Karena perusahaan seperti Gojek, Uber, atau AirBnB mempekerjakan “rakyat kebanyakan” dengan pola kemitraan bagi hasil yang saling menguntungkan dengan pemilik platform. Pemilik platform memberikan tools yang memudahkan wirausahawan individu (pemilik motor, mobil, atau rumah kosong) menemukan konsumen, dan ketika terjadi transaksi, hasilnya dibagi berdua secara adil.

Dengan kemitraan semacam itu, potensi kewirausahaan rakyat mendadak menggeliat dan berpotensi menghasilkan kemakmuran yang lebih merata. Di dalam platform berbagi ini terjadi hubungan kemitraan bapak-anak angkat antara usaha besar (pemilik platform) dengan usaha kecil (wirausahawan individu). Menggunakan istilah pak David Marsudi pendiri D’Cost, pemilik platform di sini memainkan peran strategis sebagai “distributor rejeki”. Ketika Gojek atau Grab maju, maka dengan sendirinya para wirausahawan individu yang dinaunginya akan ikutan maju dan makmur. Pertumbuhan dengan sendirinya diikuti dengan pemerataan kemakmuran.

Dengan model bisnis semacam ini, maka platform sharing economy berpotensi menjadi model ekonomi alternatif yang lebih manusiawi dan beradab dibanding sistem kapitalisme yang selama ini kita adopsi. Kita tahu bersama bahwa sistem kapitalisme telah gagal total karena telah menghasilkan kerusakan akhlak (materialisme, egoisme, ketamakan), ekonomi (krisis 1929, 1998, 2008), sosial (ketimpangan kaya-miskin) dan lingkungan (pemanasan global). Sistem kapitalisme harus dirusak secara kreatif (creative destruction) untuk menghasilkan sistem yang lebih baik.

Public Good
Pertanyaannya, dengan sistem yang selama ini ada, apakah mekanisme solutif seperti yang saya gambarkan di atas bisa berlangsung? Saya ragu sejauh Gojek, Grab, atau AirBnB masih dimiliki oleh kaum kapitalis. Ketika platform sharing economy masih dimiliki dan dioperasikan oleh organisasi kapitalis, maka platform tersebut akan diposisikan sebagai mesin keuntungan (profit machine), bukan sebagai alat distributor rezeki (wealth distribution).

Dengan posisi semacam itu maka keuntungan ekonomi dari ekosistem ini akan disedot oleh pemilik modal (investor) bukan untuk kemanfaatan rakyat banyak (wirausahawan individu dan konsumen pemakai layanan). Kita ketahui bersama, kehadiran Gojek, Uber, Grab, AirBnB di tanah air tak ada urusan dengan penciptaan lapangan kerja atau pemerataan kemakmuran. Perusahaan-perusahaan itu hadir di sini untuk memanfaatkan pasar Indonesia yang lukratif dengan memanfaatkan tukang-tukang ojek kita, pemilik-pemilik mobil nganggur, pemilik-pemilik rumah kosong, dan tentu jutaan konsumen kita. Tujuannya sangat jelas untuk mendapatkan massa konsumen sebanyak mungkin dan ujung-ujungnya menghasilkan valuasi saham setinggi langit di bursa dunia.

Di tingkat dunia kini masih muncul perdebatan apakah platform sharing economy ini dimasukkan dalam kategori public good. Public good seperti jalan, jembatan, internet, World Wide Web, GPS (juga mungkin nantinya Google) seharusnya dikelola atau setidaknya diatur penggunaannya oleh negara agar tidak dimanfaatkan oleh free rider pencari keuntungan. Dengan menjadi domain publik maka bisa dipastikan operasi platform sharing economy seperti Gojek atau Grab akan diakomodasikan untuk kepentingan rakyat kebanyakan, bukan untuk segelintir pemilik modal.

Koperasi
Melihat potensi platform sharing economy sebagai alat strategis untuk mendistribusi kemakmuran, kita teringat pesan Bung Hatta mengenai koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Seharusnya model bisnis sharing economy bisa menjadi eksperimen mutakhir untuk mewujudkan cita-cita bung Hatta. Platform sharing economy seharusnya bisa menjadi miniatur dari ekonomi kerakyatan seperti divisikan Bung Hatta.

Untuk mewujudkannya platform sharing economy harus dimiliki dan dioperasikan oleh para wirausahwan individu (tukang ojek, pemilik mobil, pemilik rumah) dalam sebuah wadah koperasi. Dengan format koperasi maka platform ini betul-betul dikelola oleh dan untuk wirausahawan individu yang tergabung di dalamnya, di samping tentu untuk memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat sebagai konsumen. Di sini negara harus hadir untuk bernegosiasi dengan perusahaan global pemilik platform untuk secara bertahap mengakuisisi kepemilikan dan kemudian dalam jangka panjang mengalihkannya ke koperasi.

Menyusul demo pekan ini, pemerintah kini sedang sibuk menyusun payung regulasi untuk mengatur keberadaan platform sharing economy di sektor transportasi. Saya berharap pemerintah dan DPR tak hanya melihat regulasi tersebut sebatas aspirin yang meredam sesaat teriakan masyarakat. Pemerintah harus mengkaji arus besar sharing economy ini secara menyeluruh dan menjadikannya momentum untuk menghidupkan kembali spirit kerakyatan Bung Hatta dengan mencangkokkan sistem koperasi ke dalamnya.

Sebagai sebuah bangsa, kita sudah bosan dijajah pihak asing. Ratusan tahun kita dijajah Belanda untuk diambil rempah-rempah dan hasil buminya. Tak lama merdeka, di bawah kepemimpinan Suharto kita kemudian “dijajah” perusahaan multinasional yang perlahan tapi pasti menguasai beragam sektor industri (dari bank, telekomunikasi, pertambangan, otomotif, hingga konsumer). Ketika internet hadir, gelombang kapitalis global pun berebut masuk ke Indonesia untuk memodali start-up yang kelak bakal mendominasi jagat e-commerce Indonesia. Kita tak mau gelombang besar sharing economy sekarang ini (sekali lagi) menjadi ajang perburuan kapitalis global untuk mengekploitasi negeri ini. Kita tak mau negeri ini kian tergerus kemandirian ekonominya. Negara harus hadir melawannya.

 sumber:
yuswohady dotcom


Rabu, 23 Maret 2016

Kekasih di Surga


Cinta ini Adalah rasa dari Yang Kuasa 
Setiap saat kita bersama Walau usia berubah 
Cinta ini Semoga Allah menguatkannya 
Agar terjaga untuk slamanya Tak tergoda bisikan dunia 

Cinta ini Seperti kasih Aisyah dan Baginda Yang Mulia 
Seperti setia rembulan pada bumi Mengiringi setiap hari 
Cinta ini Tlah satukan dua hati kami 
Slalu menjaga hingga Usia senja Tak tergoyah 

Allah jadikanlah cinta ini Sebagai ibadah 
Agar pendamping di dunia Jadi kekasih di surga 

Cinta ini Seperti kasih Aisyah dan Baginda Yang Mulia 
Seperti setia rembulan pada bumi Mengiringi setiap hari 
Cinta ini Tlah satukan dua hati kami 
Slalu menjaga hingga Usia senja Tak tergoyah

Sabtu, 12 Maret 2016

Wetizen

oleh: Yuswohady

 


Merebaknya sharing lifestyle atau collaborative lifestyle menghasilkan “mahluk baru” yang saya sebut “Generasi We” atau biar pendek saya sebut “Wetizen”. Wetizen adalah generasi yang peduli. Peduli akan kian kurusnya bumi oleh kerakusan manusia dalam mengonsumsi sumberdaya. Kepedulian ini memicu konsep sharing economy atau collaborative consumption yang marak 10 tahun terakhir. Konsep ini memicu kesadaran untuk berbagi sumberdaya untuk mengurangi eksploitasi berlebihan terhadap bumi yang kita diami.

Berkat konsep ini penggunaan sumber daya yang ada bisa menjadi lebih irit dan efisien karena dipakai bersama melalui inovasi-inovasi platform berbasis sharing. Generasi masa depan adalah generasi WE (wetizen) yang peduli, bukan generasi ME (metizen) yang selfish. Bagaimana prospek wetizen di Indonesia? Kantor saya Inventure mencoba membuat kajian mengenai hal ini. Berikut ini ringkasannya.

Disownership Is the New Normal
Di era konsumsi kolaboratif, wetizen melihat bahwa kepemilikan terhadap sesuatu barang sudah tidak terlalu penting lagi. Gaya hidup berkolaborasi (collaborative lifestyle) mereka anggap lebih modern, beradab, dan keren cool. Semua menjadi lebih murah, efisien, ramah bumi. Budaya konsumsi “share, not own” ini akan kian massif tanah air. Wetizen tak usah membeli CD/DVD, cukup langganan iTunes atau Netflix. Mereka tak perlu punya mobil sendiri, kita bisa naik Gojek atau Uber. Bahkan bekerja pun tak harus punya kantor sendiri, wetizen bisa berbagi ruang dengan pekerja lain. Bagi wetizen: sharing is the new buying, disownership is the new normal.

The New Face of “Saweran”
Crowdfunding marak di tanah air. Sharing platform memungkinkan kita menggalang dana untuk merealisasikan proyek impian. Tak ketinggalan dari negara maju, para wetizen di Jakarta dan kota-kota besar lain di tanah air, berlomba menginisiasi corwdfunding untuk mewujudkan proyek-proyek bersama baik untuk tujuan profit maupun non-profit.
Beberapa proyek crowdfunding dibesut oleh para wetizen tanah air seperti Kitabisa, Wujudkan, dan Ayopeduli. Semua mengemban misi yang sama, yaitu memudahkan wetizen mengakses dana dari masyarakat luas yang tertarik atau ingin menjadi bagian dari mimpi, ide, dan harapan mereka. Crowdfunding bakal marak di tanah air karena by-default kita adalah budaya masyarakat kita adalah komunal yang suka saling tolong-menolong dan gotong-royong. Ingat, crowdfunding itu Indonesia banget!

Working Alone Sucks!!!
Bagi para wetizen bekerja kini tak lagi harus di kantor. Padatnya lalu-lintas dan mobilitas yang semakin tinggi membuat mereka kini bisa bekerja di mana saja. Beberapa perusahaan bahkan sudah tidak mewajibkan para karyawannya ngantor setiap hari. Karenanya mereka membutuhkan tempat yang representatif untuk bekerja selain di kantor.

Solusinya adalah co-working space. Co-working space memfasilitasi freelancers, entrepreneurs, atau karyawan perusahaan untuk berbagi peralatan, ide, dan pengetahuan. Di Jakarta sudah banyak proyek co-working space seperti Comma, Conclave, Workout, Code, dan Jakarta Digital Valley. Untuk bengkel kerja (workshop) berbagi atau makerspace pun kini mulai bermunculan seperti Indoestri, Makedonia atau Crazy Hackerz.

Peer-to-Peer Solutions for Traffic Chaos
Apa solusi kemacetan kronis di Jakarta? Salah satunya adalah platform berbagi kendaraan via komunitas. Komunitas Nebengers mengambil peran ini. Komunitas ini mempertemukan para pengguna motor atau mobil yang punya kursi kosong dengan orang yang ingin menebeng dengan kesepakatan share tertentu, win-win solution. Dalam versi yang komersial, muncul Gojek, Uber dan Grab mengusung platform yang sama/mirip. Kini wetizen semakin meminati model transportasi ini, karena lebih murah dan efisien. Sebuah solusi cespleng bagi Jakarta yang macetnya minta ampun.

More Experiential Shared Space
Sharing lifestyle juga marak di dunia travelling dan hospitality. Traveller dengan bujet cekak (backpacker) kini mulai ramai memanfaatkan platform seperti Airbnb atau Counchsurfing untuk mendapatkan akomodasi murah sekaligus mencari pengalaman baru yang berbeda dari menginap di hotel. Layanan ini kini mulai marak digunakan oleh para wetizen di tanah air. Bagi mereka, menginap di hotel adalah biasa dan boring, menginap via Airbnb lebih experiential, cool, dan karena itu lebih bisa dipamerkan ke teman-teman.

When Access Is Better Than Ownership
Para wetizen penikmat musik sudah tak lagi mendengarkan musik dalam bentuk rilisan fisik. Mereka kini tak perlu lagi harus membeli atau memiliki album musik secara penuh. Melalui iTunes atau Spotify misalnya, mereka cukup berlangganan setiap bulan untuk bisa mendengarkan koleksi jutaan lagu. Hal ini tentu lebih menguntungkan daripada harus membeli per album. Dengan platform yang sama, Netflix juga hadir untuk para penggemar film. Menonton film dan serial favorit cukup melalui layanan dengan harga terjangkau ini daripada harus membeli DVD bajakan.

Towards a Sustainable Co-housing Community
Seiring tumbuhnya kelas menengah dengan pendapatan yang semakin meningkat, kebutuhan memiliki rumah tak terelakkan lagi. Namun, dengan harga properti yang setiap tahun naik gila-gilaan, mendapatkan hunian di lingkungan yang nyaman dan akses yang terjangkau semakin susah didapatkan. Hal ini menimbulkan inisiatif co-housing di kalangan para wetizen.

Secara umum, konsep co-housing adalah membuat sebuah komunitas yang dibentuk berdasarkan rencana bangun-lingkungan-hunian yang akan dinikmati bersama. Komunitas ini merencanakan klaster hunian bersama-sama, mulai dari mencari lahan/lokasi yang cocok, desain arsitektur, hingga pendanaan. Di Jakarta, beberapa co-housing community sudah terbentuk, salah satunya diinisiasi oleh DFhousing. Komunitas ini juga telah melebarkan sayap hingga Surabaya dan Yogyakarta. Ke depan platform co-housing dapat menjadi gaya hidup baru serta solusi dalam membantu pemerintah memaksimalkan ruang kota.

Connecting the Learning Enthusiasts
Selain bekerja, kini belajar pun bisa di mana saja, tak harus di sekolah atau institusi formal. Kini mulai banyak wetizen dari kalangan profesional yang ingin berbagi pengetahuan atau pengalamannya. Banyak juga yang ingin belajar atau diajar. Kedua needs ini dipertemukan dalam platform berbagi (learning sharing platform). Komunitas belajar marak di seantero tanah air seperti Akademi Berbagi, Komunitas Memberi, Kelas Inspirasi, dan sebagainya. Konsep kelasnya sangat sederhana dan efisien. Komunikasi dan pendaftaran cukup melalui media sosial. Tempat belajarnya memanfaatkan ruang-ruang yang luang di kafe atau kantor. Semua serba efisien dan dijalankan dengan semangat social entrepreneurship.

*Ditulis bersama Farid Fatahillah

sumber : Yuswohady

Kamis, 28 Januari 2016

Batik Bakal Jadi Raja Saat Era Perdagangan Bebas


Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengaku optimis batik bakal menjadi primadona ketika Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) berlangsung.
Hal itu bukan tanpa alasan. Menurutnya saat ini terjadi pergeseran tren dimana produk-produk unik diincar tak terkecuali batik.

Dia juga mengatakan, kecenderungan itu didukung meningkatnya peminat masyarakat internasional yang menyukai barang dengan jumlah produksi yang sedikit atau ekslusif.

"Batik itu sangat memiliki potensi, dan mungkin saya menarik garis dari tren perhiasan dan aksesoris. Saya melihatnya tren di dunia itu agak pergi dari manufaktur masal, lebih kepada barang-barang unik," kata dia di Jakarta, Selasa (22/12/2015).

Dia menegaskan, kecenderungan tersebut terjadi di hampir semua kalangan baik tua maupun muda. Hal tersebut menjadikan batik memiliki peluang besar merajai ASEAN.

"Di  negara maju remaja dan dewasa muda mencari barang unik, bukan yang masal dan dipakai semua orang. Saya melihat masa depan cerah di kerajinan termasuk batik," tuturnya.

Maka dari itu, Thomas tidak melakukan deregulasi terkait dengan pembatasan kain bermotif batik. Dia khawatir akan menghantam industri dalam negeri.

"Terus terang itu deregulasi yang saya tunda. Pembatasan kain bermotif batik, itu produk manufaktur masal. Saya takut sekali itu merusak citra kain batik yang hemat saya harus kita lestarikan. Kita harus jaga betul citra dan reputasi kain," tandas dia.

sumber:
liputan6

Selasa, 22 Desember 2015

Cinta Tanpa Syarat

Sepuluh tahun lalu, senior saya, seorang wartawan berusia 60 tahun. Ibunya yang kala itu berusia 80 tahun lebih dirawat di rumah sakit.

Suatu malam, kawan saya itu menunggui ibunya. Dia tertidur pulas di kursi panjang di ruang rawat. Di luar, cuaca hujan dan dingin. Tiba-tiba...sang ibu turun dari ranjang rawatnya. Dia tertatih-tatih jalan menuju sofa tempat sang anak pulas. Diselimutinya anaknya itu dengan selimut yang seharusnya untuk pasien itu. Dia kembali ke ranjang rawat, tidur tanpa selimut. 

Meski usia kawan itu 60 tahun dan sudah jadi kakek, anak adalah tetap anak. Pagi hari, kawan saya bangun dengan kaget, karena dia sudah diselimuti. Sang ibu tak lama wafat.
 

Dua puluh tahun lalu, seorang kawan (pria, waktu itu berumur 30-an) terkena kanker paru-paru. Sang ibu menemaninya di rumah sakit. Ketika anaknya itu buang air kecil atau air besar, dengan tak sungkan ibu itu membersihkan anusnya, mengelap penisnya. 

Saya menyela ,"saya bantu bu!" Jawab beliau : "Wios, da sanaos tos 30 yuswa na, da asa budak keneh we (tak apa-apa, meski usianya sudah 30, rasanya dia masih anak kecil). Sahabat saya itu meninggal.
 

Cinta ibu, adalah cinta tanpa syarat...
Pintu surga terbuka lebar untuk para ibu...

Selamat Hari Ibu...

Budhiana Kartawijaya

Senin, 19 Oktober 2015

Near Win


Kesuksesan adalah racun. Ya, karena begitu kita mencapai puncak sukses, kita cenderung terjangkit penyakit puas diri dan kemapanan. Kita cenderung terjebak pada perangkap kenyamanan. Kita menjadi “penikmat” prestasi masa lalu, dan tak lagi menjadi “pejuang” capaian masa depan. Dalam kondisi ini sense of crisis hilang, sense of striving pupus, daya kreasi dan imajinasi pun kemudian memudar.

“Perfection is the enemy of progress,” kata Winston Churchil. Ketika kita menganggap apa yang kita perjuangkan telah mencapai kesempurnaan, maka pada titik itulah sesungguhnya kita mandek. Ketika kita merasa hebat, bahkan merasa yang terhebat, maka sesungguhnya di situlah awal titik kejatuhan kita.

Itu sebabnya saya mengatakan musuh kesuksesan adalah kesuksesan itu sendiri. Kesuksesan menciptakan kondisi enak, nyaman, dipuja-puji, disanjung-sanjung, ditiru-tiru, dijadikan role model, dianggap paling hebat, dianggap menginspirasi. Kondisi serba enak dan nyaman ini seringkali menjadikan kita lupa, lalai, bahkan takabur. Kondisi paling parah adalah kalau kesuksesan menjadikan kita malas berpikir keras, malas bekerja keras, malas berkreasi keras, malas belajar keras. Ketika itu terjadi maka kiamat di depan mata.

“Hampir Menang”
 
Saya suka dengan istilah “near win” yang diperkenalkan oleh Sarah Lewis, seorang kurator seni, dalam bukunya The Rise (Simon & Shuster, 2014). Ia mengatakan bahwa kita seharusnya tak pernah boleh merasa betul-betul sukses. Kita harus menganggap sukses yang kita capai sebagai sesuatu yang belum betul-betul final.

Sehebat apapun kesuksesan yang kita raih harusnya tetap kita anggap sebagai “setengah sukses” atau “hampir sukses”. Ya, karena kalau kita merasa betul-betul sukses maka penyakit kemapanan dan kenyamanan bakal menyergap. Dalam berjuang menggapai impian, sesungguhnya kita tak pernah betul-betul menang, yang ada adalah “hampir menang”.

Near win menjadikan kita terus memompa andrenalin untuk mencapai sukses berikutnya. Near win memungkinkan kita tetap menjaga vitalitas perjuangan untuk menerima tantangan-tantangan dalam mencapai sukses-sukses berikutnya. Near win menjadikan kita tidak malas, tidak comfort, dan tidak takabur. Near win membebaskan kita dari sikap mendewakan prestasi masa lalu, dan lupa pada tantangan kesuksesan masa depan.

Singkatnya, near win yang membuat kita selalu bersemangat untuk terus maju, tidak mandek. “In our pursuit of success, it is actually our near wins that push us forward,” ujar Sarah. Kalau “menang” adalah racun kesuksesan, maka “hampir menang” adalah madu kesuksesan.

“Sekali Sukses, Sesudah Itu Mati”
 
Dalam salah satu sajaknya Chairil Anwar pernah bilang, “Sekali berarti, sesudah itu mati.” Untuk tulisan ini, boleh kiranya bunyi sajak itu saya plesetkan sedikit menjadi, “Sekali sukses, sesudah itu mati.” Ungkapan ini pas sekali menggambarkan sosok-sosok yang sukses, tapi suksesnya tak berkesinambungan. Begitu sukses diraih, sekonyong-konyong penyakit sok hebat, penyakit kemapanan, dan penyakit kemalasan menghinggapi. Akibatnya kemudian bisa ditebak: kesuksesan yang diraih tersebut adalah yang pertama, sekaligus yang terakhir.

Untuk bisa mendaki dari gunung kesuksesan satu ke gunung kesuksesan berikutnya, maka kita harus memiliki mentalitas near win. Mentalitas untuk tetap rendah hati menjadi underdog. Mentalitas untuk menganggap kesuksesan sebagai sebuah never-ending journey: perjalanan yang tak pernah mengenal kata akhir.

Bicara mengenai sukses sebagai sebuah never-ending journey, saya teringat ungkapan Steve Jobs ketika ia di depak dari Apple di tahun 1980-an. Steve bilang, “…getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.”

Ia tidak menyikapi pemecatannya sebagai akhir dari segalanya, tapi justru sebaliknya membebaskannya memasuki masa-masa terkreatif dan terproduktif dalam perjalanan karirnya. Memulai kembali di titik nol justru memberinya energi luar biasa untuk berkreasi menghasilkan produk demi produk hebat di kemudian hari mulai iPod, iPhone, hingga iPad. Kondisi serba keterbatasan di tengah keterpurukan justru memberikan spirit luar biasa untuk merengkuh kesuksesan berikutnya.

Keterpurukan menjadikan Steve Jobs berpikir 1000% lebih keras, bekerja 1000% lebih keras, berkreasi 1000% lebih keras. Hanya dengan begitu kita bisa mendaki dari gunung kesuksesan satu ke gunung kesuksesan berikutnya. Hanya dengan begitu kita mencapai sukses yang berkesinambungan, bukan “sekali sukses, sesudah itu mati.”

sumber|: yuswohady.com

Rabu, 25 Maret 2015

Gus Mus: Mengenakan Batik, Meneladani Nabi Muhammad SAW

Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A Mustofa Bisri kembali menegaskan perbedaan antara muslimin Indonesia dan Arab Saudi. Meski keduanya menganut agama yang sama tapi masing-masing memiliki kekhasan budaya.

“Islam kita itu ya Islam Indonesia bukan Islam Saudi Arabia, bukan berarti kalau tidak pakai jubah dan sorban Islam kita tidak diterima,” katanya saat membuka Pameran Seni Rupa Nasirun di Bentara Budaya Yogyakarta, Selasa (2/10).

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini berpesan kepada umat Islam di Indonesia untuk meneladani Nabi Muhammad SAW secara tepat. Menurut dia, Nabi termasuk pribadi yang menghargai tradisi setempat dan berperangai menyenangkan.

“Rasulallah SAW memakai jubah, sorban dan berjenggot ya karena tradisi orang Arab seperti itu. Abu Jahal juga berpakaian yang sama, berjenggot pula. Bedanya kalau Rasul wajahnya mesem (sarat senyum). Nah, kalau Abu Jahal wajahnya kereng (pemarah). Silahkan mau pilih yang mana?” katanya disambut gelak tawa hadirin.

“Seandainya, ini seandainya, kalau Rasulullah itu lahir di Texas, mungkin pake jeans,” ujar Gus Mus.

“Makanya Gus Dur, saya, make pakaian sini (Jawa); pake batik,” tambah GusMus, seperti dilansir NU Online.

Menurut Gus Mus, mengenakan batik bisa diartikan sebagai ittiba’ Kanjeng Nabi. Sedangkan mengenakan serban, jubah, berjenggot, bisa juga dikatakan sebagai ittiba’ Abu Jahal. Bukankah Abu Jahal juga mengenakan jubah, serban dan berjenggot?

Perbedaan antara Abu Jahal, Abu Lahab, dengan Kanjeng Nabi adalah air mukanya. Kanjeng Nabi itu wajahnya tersenyum, Abu Jahal wajahnya sangar. Kalau ingin ittiba’  Kanjeng Nabi, pake serban pake jubah, wajah harus tersenyum.

Gus Mus lalu mengisahkan, pada zaman Nabi, kalau ada sahabatnya yang sumpek, mempunyai beban, ketemu Kanjeng Nabi, melihat wajahnya, hilang sumpeknya.

“Sekarang ini, nggak (demikian). Pakaiannya aja yang sama. Kita nggak sumpek, nggak apa, lihat wajahnya malah sumpek,” pungkasnya.

Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh Unesco telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral andIntangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.

Batik memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yangmemiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Saat ini, penggunaan batik kembali dihidupkan di masyarakat Indonesia, dengan menjadikan batik sebagai pakaian dalam acara-acara kenegaraan. Memakai batik juga berarti membantu meningkatkan produktivitas para perajin, yang artinya membantu meningkatkan penghasilan para pekerja, pedagang, dan lainnya, yang terkait dengan industri batik.

sumber:
nu.or.id
liputanislam

Minggu, 08 Maret 2015

Asupan Down Syndrome

Tulisan menarik dari Bu Nunki Suwardi :
-----

“Dok, anak saya penderita Down Syndrome. Umur 12 bulan berat badannya hanya 7 kg. Karena berat badannya kurang, saya konsul ke dokter gizi. Anak saya disuruh makan daging 500 gr harus habis 3 hari. Tiga bulan hanya naik setengah kilo. Periksa lab anak saya didiagnosis ginjalnya RTA atau bocor. Kok bisa ya dok?”, tanya seorang ibu dengan sedih.

Tadi siang suami saya, Dr. Suwardi, menjadi pembicara bagi komunitas Persatuan Orang Tua dengan Anak Down Syndrome. Saya tidak mendengar jawaban suami karena sibuk urusan lain. 

Tapi di perjalanan pulang suami curhat, “Ya ampun anak 12 bulan disuruh makan daging sebanyak itu. Ya jebol lah ginjal tuh anak. Tapi ayah nggak tega ngomong pada si ibu jika dietnya itu penyebab bocor ginjal anaknya. Kasihan nanti jadi kepikiran”.

“Lha emang berapa gram sih maksimum makan daging sehari ?”, tanya saya.

“40 (empat puluh) gram. Itu pun sebaiknya 4-5 hari sekali, bukan tiap hari. Kebayang kan kepayahannya ginjal anak sekecil itu mencerna daging sebanyak itu tiap hari”, jelas suami. “Lagipula, mau tiap hari makan daging sekilo pun tuh anak nggak bakal naik berat badannya”, imbuh suami.

“Lho kok bisa?”, tanya saya bingung.

“Karena anak-anak down syndrome itu kekurangan asetilkolin yang memproduksi hormon pertumbuhan agar berat badannya bisa naik. Jadi mau dimakanin daging berapa pun ya percuma”.

“Lha terus harus makan apa dong biar berat badannya naik?”.

“Makan makanan yang mengandung banyak enzim untuk merangsang hormon pertumbuhan yaitu makanan yang masih fresh yang kurang diolah dengan pemanasan seperti sayur segar, buah-buahan, kacang2an dan ikan. Enzim itu nanti yang merangsang produksi asetilkolin. Kalau daging kan perlu pemanasan tinggi jadi enzim nya semua mati”, jelas suami.

Sambil menunggu lampu merah, mata suami menerawang, “Ayah nggak ngerti cara pikir teman-teman sejawat. Kok nggak mikir ya gimana nanti itu makanan diolah oleh tubuh dan dampaknya ke organ. Kasihan kan si anak sampai jadi korban gitu. Para peserta tadi juga banyak yang bengong dengar penjelasan ayah. Mereka nggak ngerti anak-anak down syndrome itu metabolismenya rentan sehingga sebaiknya menghindari makanan berpengawet, pewarna, tinggi gula dan sintetik seperti chiki-chikian, minuman instan, dan sejenisnya. Harusnya anaknya diberi makanan sealami mungkin agar sehat”.

“Wajar aja kalau nggak ngerti. Lha dietnya saja bisa salah hingga fatal begitu”, hibur saya.

“iya ya. Ayah juga sedih angka penderita down syndrome makin naik”, kata suami.

“Bukannya itu penyakit keturunan atau gara-gara melahirkan di usia resiko?”, tanya saya.

“Down syndrome itu penyakit genetik. Bukan karena melahirkan di umur beresiko atau keturunan. Penyebabnya itu karena gen yang normal berubah jadi rusak sehingga lahir anak-anak down syndrome. Gen itu bisa rusak karena tidak menjaga gaya hidup. Kebiasaan makan Junk Food, minum nggak sehat, merokok, gaya hidup amburadul, stres tinggi. Berapa pun umurnya tapi kalau hidupnya nggak benar ya beresiko melahirkan anak down syndrome”, jelas suami. “Bisa juga selnya normal tapi mengalami gangguan saat zygot bertemu karena tubuh dipenuhi banyak terpapar toksin”.

Hmm... ngeri juga ya, batin saya. Bersyukur saya dikaruniai tiga putri yang cantik-cantik dan cerdas. Padahal saat itu kesadaran saya untuk hidup sehat belum muncul. Makan apa saja yang penting enak dan biasa begadang ngerjain tugas kampus dan kerjaan kantor.

Sebenarnya saya ingin langsung tidur merebahkan badan. Tapi saya tak ingin apa yang saya tahu terlewat untuk dibagi. Mungkin ada teman yang berencana memiliki anak jadi tahu pentingnya menjaga tubuh tetap sehat agar lahir anak yang sehat pula. Mungkin juga ada teman yang memiliki anak, keluarga atau kerabat dengan down syndrome terbantu olehnya.

Semoga bermanfaat dan selamat berakhir pekan.

Salam,
Nunki Suwardi

Pusat Studi & Pendidikan Psikologi Komunikasi Bawah Sadar
Studi integratif bahasa tubuh - tulisan tangan - intuisi - fisiognomi



Rabu, 04 Maret 2015

Yirrkala, Batik Kolaborasi Warga Aborijin dan Pekalongan

Bermotif lukisan kulit pohon yang digambar seniman Aborijin, Yirrkala terinspirasi dari sebuah lagu yang bercerita tentang nenek moyang sang seniman. Batik ini dibuat bekerjasama dengan pembatik tradisional Pekalongan, Jawa Tengah.
----------
Nawurapu Wununmurra melukis Yirrkala di atas kulit kayu pohon 'Bark' karena terinspirasi lagu Yolngu yang menceritakan kisah pelaut Makassar yang selalu berkunjung ke kampungnya, Arnhem Land, di Wilayah Utara Australia. Seniman Aborijin berusia 63 tahun ini diyakini memiliki hubungan nenek moyang dengan orang Makassar.

Batik ini sendiri dibuat berdasarkan lukisan yang diciptakan Nawurapu.
"Batik Yirrkala adalah interpretasi yang tepat atas lukisan sang seniman," ujar Alison Purnell, Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar Australia di Jakarta.

Menurutnya, ide lagu itu dan juga lukisan Nawurapu menggambarkan keterkaitan sejarah antara para pelaut atau pedagang asal Makasar dengan warga Aborijin Australia.

"Sebelum kedatangan Belanda dan Inggris di Indonesia dan sebelum kedatangan Inggris di Australia, sudah ada sejarah panjang antara warga Aborijin Australia dengan pedagang asal Makassar, Sulawesi Selatan," ceritanya kepada Nurina Savitri dari ABC-Australia Plus.

Ia lantas menuturkan, "Di dalam lagu itu, ada penyebutan tentang batu, uang, pisau, rokok, yang menunjukkan bahwa orang-orang Aborijin melakukan hubungan dagang dengan orang-orang dari Makassar."

Tak heran jika motif batik Yirrkala berbentuk segitiga.
"Bentuk segitiga itu menggambarkan kapal layar merah yang dipakai para pedagang Makassar," sebut diplomat Australia berambut pendek tersebut.

Batik Yirrkala bermotif segitiga yang menggambarkan simbol pedagang Makassar.

Batik Yirrkala terbuat dari dua jenis kain, yaitu sutra dan katun. Pembuatannya sendiri adalah hasil kolaborasi antara Pusat Kesenian Yirrkala di Arnhem Land, dengan para pembuat batik tradisional di Pekalongan, Jawa Tengah. Proyek ini merupakan bagian dari Program Seni dan Budaya Kedutaan Besar Australia di Jakarta.

Pembatik Pekalongan-pun dipilih dengan alasan tertentu.
"Kenapa Pekalongan?, karena yang kami pahami, kota itu adalah tempat kelahiran Batik. Karena di sana, para pembuat batiknya masih tradisional," ungkap Atase Alison.

Proyek Batik Yirrkala selesai dikerjakan pada bulan Oktober 2014 dan dipamerkan dalam ajang 'Indonesia Fashion Week' yang baru saja dilangsungkan di Jakarta akhir Februari lalu.

Dubes Australia , Paul Grigson, beserta istri mengunjungi stad batik Yirrkala pada pembukaan 'Indonesia Fashion Week'



















Ke depannya, batik ini akan diberikan ke sejumlah museum di Australia dan juga museum di Indonesia untuk dipajang.

"Tentu saja ini bukan proyek komersial, kami (Kedutaan) membuatnya karena ingin membuat kolaborasi antara seniman Australia dengan pengrajin dari Indonesia. Antara seni Aborijin dengan seniman tradisional Indonesia," kemuka Alison.

Tentang sang pelukis

Nawurapu Wununmurra adalah seniman gaek Aborijin. Selain melukis, ia juga membuat patung, dan beberapa kali menerima penghargaan seni, termasuk 'Telstra National Aboriginal and Islander Art Award' di tahun 1997. Ia pun pernah memamerkan karyanya di 'Moscow Biennale' tahun 2009.
Lukisan Yirrkala yang berjudul asli 'Manda at Gurrumurru' ini diciptakan pada tahun 2011 dan walau dibuat berdasarkan lagu yang bercerita tentang pelaut Makassar yang sering datang ke kampung halaman Nawurapu, uniknya, tokoh dalam kisah ini digambarkan sebagai seekor gurita (Manda).

sumber : Radio Australia

Rabu, 07 Januari 2015

Melihat Dapur Pembuatan Batik di Desa Wisata Batik Babagan

 
Rumah Batik Sekar Kencana

Perjalanan kami kali ini city tour ke Lasem, Rembang. Tak hanya mengenal kebudayaan dan sejarah kota yang dijuluki Tiongkok Kecil, kota di pesisir utara Pulau Jawa ini juga menyediakan wisata belanja.

Tujuan pertama kami adalah mengunjungi Desa Wisata Batik Babagan. Tak sulit menemukan tempat ini. Gapura besar bertuliskan informasi desa wisata ini berdiri megah di sisi selatan jalan utama Pantura. Tak jauh dari gapura ini, berdiri baliho peta wisata yang menunjukkan beberapa pusat batik di Babagan.

Di kawasan ini, kita bisa melihat rumah-rumah tua khas Tiongkok. Mayoritas, milik pengusaha batik. Kami memilih rumah batik Sekar Kencana yang berjarak sekitar 250 meter dari gapura masuk sebagai tujuan pertama.

Sekar Kencana merupakan rumah batik milik Sigit Witjaksono yang juga tokoh Tionghoa. Di rumah ini, Sigit memiliki sekitar 20 pegawai. Mulai pembuat pola, membatik, sampai tenaga pendukung hingga kain batik siap jual. "Saya sendiri yang membuat gambar, selanjutnya pegawai yang membuat pola di kain," ungkap Sigit.

Di usianya yang menginjak 85 tahun, Sigit masih sigap. Dia tak segan menjelaskan dan menunjukkan dapur pembuatan batik. Ada yang tengah Nglengkreng, Nerusi, Ngelir, Nembok, Nglorot, juga menjemur kain. "Tidak ada batik cap di Lasem, semua batik tulis. Dibutuhkan waktu hingga satu bulan untuk menghasilkan satu kain batik. Itu sebabnya, harga batik Lasem mahal," jelasnya.

Sigit menyebut, ada tiga motif batik khas Lasem. Yakni, Latohan, Sekar Jagad, dan Watu Pecah atau Kricak. Latohan merupakan buah dari tanaman yang hidup di tepi laut pesisir utara Pulau Jawa. Sementara Sekar Jagad merupakan kumpulan motif bunga yang terserak.

"Watu Pecah atau Kricak merupakan motif yang terinspirasi dari pembangunan jalan proyek Daendels, Anyer-Panarukan," terang Sigit.

Tak hanya mengandalkan tiga motif batik tersebut. Sigit yang merupakan generasi kedua dari keluarga Njo yang membuat batik membuat terobosan. Dia memadukan motif batik dengan aksara Tiongkok. "Kami ingin membuktikan, batik Lasem memang memadukan budaya Jawa dan Tionghoa seperti sejarahnya," imbuhnya.

Menjemur batik

 Tak puas melihat proses membatik di Babagan, kami melanjutkan perjalanan ke "Purnomo Batik Art and Handicraft" di Jalan Gedungmulyo. Lokasi ini berseberangan jalan dengan Sentra Batik Babagan.

Di tempat ini, kami melihat proses pembuatan batik dan memilih-milih batik yang bisa dijadikan oleh-oleh. "Batik Lasem memiliki warna khas abang getih pitik dan biru. Warna pesisir memang identik terang, itu sebabnya kami menggunakan pewarna kimia. Belum bisa menemukan komposisi pas kalau menggunakan pewarna alam," terang Gustav N Purnomo, pengelola rumah batik tersebut.

Gustav juga tak pelit membagi informasi terkait pembuatan batik. Juga, mengajak kami berjalan-jalan di tempat pembuatan batik. Menurut Gustav, kedatangan Laksamana Cheng Ho di Lasem membuat budaya dan tradisi di Lasem kental akan Tiongkok. "Itu juga mempengaruhi batik. Warna dan motif merupakan perpaduan Jawa dan Tiongkok. Motif burung hong, naga, kura-kura dan kupu kupu kental akan filosofi Tiongkok," jelasnya.

Batik Lasem dibanderl Rp 700.000 hingga lebih dari Rp 1 juta per potong. Anda ingin membawanya sebagai oleh-oleh?

sumber: kompas

Senin, 22 Desember 2014

Selamat Hari Ibu...


Ya Allah lindungilah mereka dalam upaya menjemput rezeki dengan cara yang halal. 
Mereka adalah orang-orang mulia di hadapan-Mu...