Selasa, 11 September 2007

Ramadhan


Jika seluruh hari adalah nista, maka Idul Fitri lah kesuciannya.
Jika taqwa kita diuji, maka Qurban lah jawabannya.
Jika semua harta adalah racun, maka Zakat lah penawarnya.
Jika seluruh umur adalah dosa, maka taubat lah obatnya.
Jika seluruh bulan adalah noda, maka Ramadhan lah pemutihnya.

Selamat datang Ramadhan.
Mohon maaf segala khilaf.


(Anonim, puisi di atas masuk ke hp saya dari seorang sahabat)

Senin, 10 September 2007

Menyelesaikan

Saya masih ingat beberapa tahun lalu salah seorang sahabat saya, sebut saja pak Joko, merenung. Dia terlihat sedih. Tangan kanannya menyangga kepala padahal dia tidak sedang sakit kepala. Tidak sakit kepala tapi pusing karena pak Joko ini sedang memikirkan bagaimana cara keluar dari masalah yang sedang dihadapi.

Tiba-tiba sahabat saya yang lain, sebut saja pak Mukri, datang. Melihat pak Joko murung pak Mukri memandang sebentar, dan kemudian keluar lah komentarnya yang terkenal nylekit itu, "Utang itu jangan dipikir tapi dibayar."

Komentar yang nylekit dan terkesan asal-asalan itu membuat pak Joko tersenyum kecut dan tersadar dari lamunannya. Dia pun berdiri dan meninggalkan tempat. Saya tidak tahu pasti apa arti senyuman pak Joko. Kami semua yang ada di tempat itu pun hanya senyum-senyum saja.

Apa yang dikatakan pak Mukri memang tidak enak didengar. Meski begitu apa yang dikatakannya tidak salah. Hutang memang tidak perlu dipikir tapi dibayar saja. "Semua orang juga tahu mas kalau itu jawabannya," kata pak Joko kepada saya ketika kami mau pulang sehabis ngantor.

Beberapa tahun kemudian saya sadar bahwa yang dikatakan pak Mukri memang benar. Padahal ketika mengatakan demikian pak Mukri cuma asal-asalan saja. Yang pernah dikatakan pak Mukri ternyata diperkuat oleh pak Yusef Hilmi ketika Mr Fire ini memberikan presentasinya seusai TDA nonton bareng film The Secret di JDC. "Kita jangan memikirkan hutang tapi pikirkanlah bagaimana memperbesar penghasilan. Kalau penghasilan kita meningkat otomatis hutang akan selesai dengan sendirinya," kata pak Yusef.

Apa yang dikatakan pak Yusef adalah upaya bahwa kita jangan memikirkan kondisi negatif tapi pikirkanlah tindakan positif. Memikirkan kondisi negatif hanya akan mengundang kondisi tersebut datang kepada kita. Begitu pula kalau kita memikirkan kondisi positif maka kondisi tersebut akan mendatangi kita. Sayang sekali pak Yusef termasuk "malas" meng-update blognya (hehe, maaf ya Pak)... :)

Memikirkan kondisi positif memang harus terus dilatih. Berapa banyak orang yang berusaha keluar dari kondisi negatif tapi yang ada di pikirannya adalah kondisi negatif itu sendiri. Memikirkan kondisi positif adalah paradigma 'Menyelesaikan masalah'. Sedangkan memikirkan kondisi negatif adalah 'Menyesuaikan masalah'.

Berapa banyak dari kita yang masih termasuk golongan 'menyesuaikan' masalah: Selalu mengurangi pengeluaran karena penghasilan belum mencukupi, mengurangi kualitas makanan karena income belum besar, menaikkan ketinggian lantai rumah karena selalu terendam banjir. Padahal itu semua TIDAK akan menyelesaikan masalah tapi hanya menyesuaikan masalah.

Memang tidak mudah bagi kita masuk ke pola pikir 'menyelesaikan' masalah. Perlu latihan dan jam tebang. Juga banyak masalah yang penyelesaiannya harus melibatkan pihak lain.

Bagaimana kalau kita masih bingung memilah apa yang kita pikirkan ini sebenarnya pikiran positif atau negatif? Saya sendiri juga masih bingung dan belum bisa memilah dengan pasti. Tapi ada kisah nyata menarik. Kisah ini disampaikain oleh Ustad Yusuf Mansur.

Ada dua karyawan, sebuat saja Ari dan Adi. Dua karyawan ini ingin mempunyai motor untuk menunjang pekerjaannya. Ari memakai cara menabung 100 ribu per bulan. Kalau 10 bulan maka tabungannya menjadi Rp 1 juta. Uang yang terkumpul ini bisa dipakai untuk membayar DP motor. Maka jadi lah Ari mempunyai motor tapi tiap bulan dia harus menyisihkan uang yang jauh lebih besar karena untuk cicilan motornya.

Sedangkan Adi juga mengeluarkan 100 ribu perbulan tapi uang tersebut "ditabung" di panti asuhan, memberi anak yatim, men-sedekah-i fakir miskin, dan lain-lain. Miracle, genap 10 bulan dia mendapat "hadiah" motor dari kantornya. Adi pun bisa menikmati motornya TANPA harus mencicil tiap bulannya....

Jadi "libatkan" lah orang lain untuk menyelesaikan masalah kita supaya tangan-Nya membantu kita menyelesaikan masalah. Kalau Allah sudah berkehendak tidak ada satu pun yang bisa menghalangi...

Kamis, 06 September 2007

Fleksibel


Fleksibel bisa berarti luwes, lentur, tidak kaku. Sikap fleksibel biasanya menggambarkan sikap yang lentur dan luwes. Maka tidak mengherankan kalau kalangan yang kaku sering menganggap mazhab fleksibel sebagai sikap tidak tegas, tidak berpendirian.

Wah saya sedang bicara apa sih kok kelihatan serius amat...

Saya masih ingin ngrasani pak Mario Teguh yang bicara pada minggu lalu. Malam Jumat kemarin dia bicara tentang pentingnya action. Dan rencana harus cepat-cepat direalisasikan.

"Bicara visi-misi jangan lama-lama. Ngomong tujuan jangan lama-lama. Tapi sibuklah dalam cara-cara dan proses mencapai tujuan." kata pak Mario

"Kita harus teguh pada tujuan tapi fleksibel pada metode," tambahnya. Artinya yang penting kita harus punya goal setting. Soal bagaimana cara mencapainya adalah masalah metode. Cara yang bagus dipakai untuk masa lalu belum tentu pas kalau diterapkan sekarang. Metode yang cocok dipakai oleh seseorang belum tentu pas kalau saya yang menjalani. Metode bisa beragam banyaknya, yang penting kita jangan sampai menurunkan goal kita, mimpi kita.

Banyak orang yang terbalik, kaku dengan metode tapi fleksibel dengan tujuan, fleksibel dengan goal. Akibatnya banyak pula yang tidak sampai pada mimpi semula. Semula bermimpi mau ke Jakarta dari Bandung tapi hanya ngotot jalan kaki, akhirnya mimpinya diturunkan hanya 'sampai Padalarang cukup lah'. Padahal kalau dia mau pakai metode lain (bisa pakai kereta, mobil, motor, bahkan sepeda) pasti bisa sampai di Jakarta.

Saya bicara tentang fleksibel ini bukan tanpa sebab. Ada gara-garanya. Minggu kemarin saya bertemu dengan seorang sahabat. Orangnya ekstrovert, banyak relasi, mudal bergaul. Temannya banyak, mulai penjual mie ayam sampai pak Menteri. Mulai pedagang asongan sampai pedagang gedongan. Pokoknya gaul abis.

"Saya lagi ada masalah, mas," katanya membuka pembicaraan. "Masa gara-gara uang belanja tiap hari jadi bertengkar dengan istri," tambahnya dengan sendu. Saya hanya bisa menebak, usaha yang sedang dirintis sahabat saya ini belum menghasilkan "buah" yang layak untuk "dimakan". Sahabat saya ini kembali bercerita panjang lebar permasalah yang sedang dialami.

Sampai di sini saya belum bisa memberi saran. Saya cuma membayangkan beban berat sahabat ini. Dan saya bisa merasakan karena saya pernah mengalami. Bedanya, saya tidak bertengkar dengan istri. Jadi saya masih lebih beruntung.

"Saya jadi berfikir, kalau ada yang menawari kerja lagi mungkin apa sebaiknya saya terima saja ya," tanyanya tanpa ingin mendengar jawaban saya.

Tiba-tiba saya teringat dengan fleksibilitasnya pak Mario Teguh. "Kalau ada yang menawari kerja, terima saja," jawab saya tiba-tiba.

"Anda masih punya spirit kan jadi pengusaha?" tanya saya

"Ya, saya masih punya mimpi jadi pengusaha besar," jawabnya.

"Kalau begitu terima saja tawaran jadi karyawan. Yang penting ada cash-in buat keluarga di rumah. Yang penting suasana rumah menjadi nyaman"

Selasa, 04 September 2007

Marah

Marah dan emosi adalah tabiat manusia. Siapa pun bisa marah. Malah kalau kita mau jujur menghitung, jangan-jangan kuantitas marah kita lebih banyak dari pada senyum kita.

Banyak sekali penyebab marah. Pekerjaan tidak selesai pada waktunya kita marah, anak buah kurang cepet kerjanya kita marah, anak-anak berlarian di dalam rumah kita marah, tetangga nyetel radio kenceng kita marah, motor yang menyalip seenaknya kita marah. Bahkan hujan yang tak kunjung turun pun kita juga marah karena air tanah mulai mengering. Uniknya kita tetap marah-marah ketika hujan akhirnya turun karena jalanan jadi banjir...

Menurut psikologi marah adalah perasaan. Amarah datang dari bagian otak yang sangat tua dan biasanya berlangsung hanya selama satu hingga dua detik saja. Namun amarah ini bisa berlangsung dalam jangka waktu lama. Ciri-ciri fisik dan emosional orang yang tengah marah sudah jadi pertanda buruk bagi kesehatan:

Tekanan darah meningkat, ormon stress meninggi, nafas jadi pendek, jantung berdebar, gemetar, membentak, pupil berkontraksi tidak teratur, kekuatan fisik meningkat, impotensi (wah berabe tuh), cara bicara dan gerak lebih cepat dan sering, lebih sensitif. Jelas tanda-tanda ini akan mengakibatkan pergerakan sel dan hormon dalam tubuh jadi tak sesuai.

Memang, menahan marah bukan pekerjaan gampang, sangat sulit untuk melakukannya. Ketika ada orang bikin gara-gara yang memancing emosi kita, barangkali darah kita langsung naik ke ubun-ubun, tangan sudah gemetar mau memukul, sumpah serapah sudah berada di ujung lidah tinggal menumpahkan saja. Anthoni Dio Martin menyebutnya pembajakan amikdala. Tapi jika saat itu kita mampu menahannya, maka bersyukurlah, karena kita termasuk orang yang kuat.

Sebenarnya kita tidak dilarang marah, namun diperintahkan untuk mengendalikannya agar tidak sampai menimbulkan efek negatif.


Tapi bagi Anda yang saat ini jadi busniness owner hati-hati dengan perilaku yang suka marah ini. Karena frekwensi marah kita adalah representasi nyata dari kondisi usaha yang saat ini kita jalankan.

Pak Mario Teguh bilang, "Tanda kalau organisasi perusahaan tidak bisa menjalankan maksud pimpinan adalah kalau pimpinan suka marah. Pimpinan tidak terwakili oleh perusahaan. Apa yang diinginkan pemilik lebih sering tidak nyambung dengan jalannya organisasi perusahaannya."

Pemilik sering berkata, "Sudah berapa kali saya katakan..."

Dan karyawan dalam hati juga sering menjawab, "Sudah berapa kali kami tidak mau mendengarkan..."

Apa yang menyebabkan ini bisa terjadi?

"Pimpinan/pemilik tidak menyertakan kesuksesannya dengan kesuksesan karyawan. Owner ingin menawar keras gaji karyawannya, malah kalau bisa karyawan lupa dengan gajinya. Tapi dengan entengnya dia membeli velg yang harganya lebih gede dari gaji karyawannya tanpa ditawar. Dengan entengnya dia menunjukkan baru saja ganti mobil di depan karyawannya yang sudah lama gajinya dicicil..." tambah pak Mario Teguh di O'Channel.

Tiba-tiba saya ingat dengan sahabat saya yang sudah lama tidak bertemu. Beberapa tahun lalu dia cerita kalau bosnya suka marah tiap hari. Ternyata apa yang dialami perusahaan itu persis dengan yang dikatakan pak Mario...

Beberapa hari lalu saya sms dia, apakah sang bos saat ini masih suka marah. "Sama seperti dulu," jawab sahabat saya singkat via sms. Dari situ saya tahu berarti perusahaan itu tidak mengalami kemajuan apa-apa selama beberapa tahun ini...

Sabtu, 01 September 2007

Orkestra Nan Harmoni

Ketika orang mendengar kata 'orkestra', hal yang terlintas dalam benaknya kemungkinan besar adalah sekumpulan musisi mengenakan tuxedo dan dipimpin seorang konduktor yang memainkan lagu-lagu 'serius' dan 'berat'.

Kesan ini memang tidak salah karena sebutan 'orkestra' selalu berhubungan dengan sekumpulan musisi dengan berbagai alat musik yang memainkan alatnya setelah mendapat perintah dari sang "komandan".

Padahal untuk kultur dan budaya yang berbeda sebutan 'orkestra' juga halal kalau dilekatkan pada budaya Bumi Pertiwi.

Gamelan adalah orkestra yang biasa terdapat di Pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Meski semua orkestra ini dinamakan gamelan tapi ada perbedaan yang cukup mendasar. Menurut Yunanto dari yogyes.com,
Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow, berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Perbedaan itu wajar, karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya.

Masih menurut Yunanto, pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron, kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Ada yang membuat saya kagum dengan orkestra gamelan yang saya saksikan dan fotonya saya tampilkan di atas. Pada orkestra Barat setiap keputusan nada, tempo, dan alat musik yang dimainkan sepenuhnya eksplisit diarahkan oleh konduktor, maka pada orkestra gamelan setiap keputusan slendro maupun pelog, dan juga tempo nada yang dimainkan ternyata secara implisit diarahkan oleh penabuh kendang.

Bagi yang awam dengan gamelan mungkin akan keheranan, bagaimana mungkin puluhan instrumen musik bisa tiba-tiba memainkan repertoar dengan tempo yang sangat cepat, dan tidak lama kemudian bisa secara serempak namun harmonis berubah menjadi pelan dan lembut. Padahal tidak ada dirigen yang memberi aba-aba di depan. Ternyata mereka semua patuh dengan kode-kode yang dipancarkan oleh sang pemegang kendang. Kode yang sama sekali tidak dimengerti oleh orang luar, orang yang tidak faham dengan gamelan.

Pikiran saya tiba-tiba berusaha menghubung-hubungkan antara orkestra gamelan dengan gaya bisnis masyarakatnya. Mengapa gaya bisnis orang Jawa berbeda dengan orang Padang, Bali, Bugis, Madura, dan sebagainya. Mengapa pula kultur bisnis perusahaan besar lokal juga berbeda dengan perusahaan asing.

Saya akhirnya faham mengapa perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia bersedia dan berusaha menyelaraskan corporate culture-nya dengan sentuhan lokal. Karena kalau ingin sukses di suatu tempat ternyata Di mana Bumi dipijak di situ langit dijunjung harus diterapkan. Saya pun akhirnya kagum dengan sebuah bank asing yang positioningnya The World's Local Bank.