Sabtu, 01 September 2007

Orkestra Nan Harmoni

Ketika orang mendengar kata 'orkestra', hal yang terlintas dalam benaknya kemungkinan besar adalah sekumpulan musisi mengenakan tuxedo dan dipimpin seorang konduktor yang memainkan lagu-lagu 'serius' dan 'berat'.

Kesan ini memang tidak salah karena sebutan 'orkestra' selalu berhubungan dengan sekumpulan musisi dengan berbagai alat musik yang memainkan alatnya setelah mendapat perintah dari sang "komandan".

Padahal untuk kultur dan budaya yang berbeda sebutan 'orkestra' juga halal kalau dilekatkan pada budaya Bumi Pertiwi.

Gamelan adalah orkestra yang biasa terdapat di Pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Meski semua orkestra ini dinamakan gamelan tapi ada perbedaan yang cukup mendasar. Menurut Yunanto dari yogyes.com,
Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow, berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Perbedaan itu wajar, karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya.

Masih menurut Yunanto, pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron, kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Ada yang membuat saya kagum dengan orkestra gamelan yang saya saksikan dan fotonya saya tampilkan di atas. Pada orkestra Barat setiap keputusan nada, tempo, dan alat musik yang dimainkan sepenuhnya eksplisit diarahkan oleh konduktor, maka pada orkestra gamelan setiap keputusan slendro maupun pelog, dan juga tempo nada yang dimainkan ternyata secara implisit diarahkan oleh penabuh kendang.

Bagi yang awam dengan gamelan mungkin akan keheranan, bagaimana mungkin puluhan instrumen musik bisa tiba-tiba memainkan repertoar dengan tempo yang sangat cepat, dan tidak lama kemudian bisa secara serempak namun harmonis berubah menjadi pelan dan lembut. Padahal tidak ada dirigen yang memberi aba-aba di depan. Ternyata mereka semua patuh dengan kode-kode yang dipancarkan oleh sang pemegang kendang. Kode yang sama sekali tidak dimengerti oleh orang luar, orang yang tidak faham dengan gamelan.

Pikiran saya tiba-tiba berusaha menghubung-hubungkan antara orkestra gamelan dengan gaya bisnis masyarakatnya. Mengapa gaya bisnis orang Jawa berbeda dengan orang Padang, Bali, Bugis, Madura, dan sebagainya. Mengapa pula kultur bisnis perusahaan besar lokal juga berbeda dengan perusahaan asing.

Saya akhirnya faham mengapa perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia bersedia dan berusaha menyelaraskan corporate culture-nya dengan sentuhan lokal. Karena kalau ingin sukses di suatu tempat ternyata Di mana Bumi dipijak di situ langit dijunjung harus diterapkan. Saya pun akhirnya kagum dengan sebuah bank asing yang positioningnya The World's Local Bank.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar