Minggu, 23 September 2007

Aksi

Jumat pagi kemarin saya ditelpon seorang teman. Kami sudah lama sekali tidak bertemu muka. Tanpa banyak basa basi dia langsung bicara pada inti. "Saya penasaran dengan sampeyan. Kok berani-beraninya pindah kuadran, gimana ceritanya?" dia langsung menginterogasi.

Saya kaget juga dengan pertanyaannya yang begitu tiba-tiba dan menohok. Agak lama saya tidak menjawab pertanyaannya. Saya bingung gimana menjawabnya. Karena kaget dan masih agak ngantuk akhirnya saya jawab asal-asalan saja, "Abis terpaksa sih?"

Kami akhirnya ngobrol panjang lebar. Yang tepat sebenarnya bukan ngobrol tapi saya menjawab terus dan terus menjawab pertanyaannya yang tidak juga berhenti.

Dia bertanya bagaimana proses memulai, mengapa memilih bidang batik dan busana limited edition, berapa omset, berapa biaya iklan, pernah rugi atau tidak, pernah tertipu nggak, apakah pendapatan sekarang lebih tinggi dari saat masih jadi karyawan, gimana cara supaya tidak rugi, dan lain-lain.

Meski agak kerepotan menjawab semua pertanyaannya, dan tidak semua pertanyaan saya jawab dengan terbuka, tapi saya senang. Berarti sahabat saya ini sedang gelisah . Gelisah karena dia ingin keluar dari zona yang selama ini didiami. Dia sudah merasa tidak nyaman dengan zonanya. Artinya di dalam pikirannya sudah terjangkit "virus" cara gila jadi pengusaha :)

Apa yang dia tanyakan adalah manusiawi. Tidak ada seorang pun yang ingin rugi. Tidak ada orang yang ingin modalnya terbang entah ke mana. Semua orang ingin begitu buka usaha langsung untung.

Pak Haji Alay sering memberi analogi bahwa jadi pengusaha itu mirip dengan anak yang belajar naik sepeda. Sebelum seorang anak bisa mengendarai sepeda dia mesti harus merasakan jatuh dulu, menabrak pagar, menabrak kambing, bahkan bisa jadi masuk got. Artinya proses jatuhnya jauh lebih banyak dari pada berhasilnya. Berhasil naik sepeda itu cuma sekali tapi jatuhnya berkali-kali.

Tetapi dengan kemajuan zaman seorang anak tidak harus mengalami proses "jatuh" sebelum mampu menguasai sepeda. Sekarang banyak sekali sepeda yang dilengkapi dengan alat bantu dua roda kecil di samping kiri dan kanan bagian belakang. Jadi si anak bisa menguasai sepeda tanpa perlu jatuh.

Di dunia bisnis juga sama. Saat ini banyak lembaga yang bisa kita jadikan "dua roda kecil" supaya kita tidak perlu jatuh ketika memulai usaha.

Kembali kepada teman saya. Kepada dia saya bukan memberi analogi naik sepeda tapi analogi belajar nyopir mobil. "Meski sampeyan membaca puluhan buku teori cara nyopir mobil tapi kalau tidak mau mencoba nyopir ya tidak akan pernah bisa membawa mobil," jawab saya. "Langung belajar nyopir jauh lebih baik dari pada kemana-mana membawa buku petunjuk cara nyopir yang baik."

Sebelum kami mengakhiri obrolan saya ingat dengan sebuah kalimat di sebuah buku. Intinya, keberanian yang dimiliki balita disebabkan hanya 2 hal: Ketidak-tahuan dan Keingin-tahuan. Hanya dua sebab ini lah mengapa balita begitu berani mencoba berjalan (dan jatuh), berani mengutak atik mainan mahal, berani membanting hape, berani "memakan" tanah, dan berani menghadapi apa saja. Makin dewasa, makin banyak ilmu, ternyata makin hilang nyali, makin takut mencoba, dan makin cepat menyerah...

Kamis, 20 September 2007

Gragas

Cukup sulit mencari padanan gragas, sebuah kata berbahasa Jawa, ke dalam bahasa Indonesia. Barangkali rakus adalah kata yang cukup bisa mendekati makna gragas tersebut, meski sebenarnya mempunyai arti yang berbeda.

Tadi pagi sekitar jam 8.00 ada sms yang masuk, "Dengan hormat kami undang rekan2 alumni... (sebuah perguruan tinggi) dalam acara buka puasa bersama, Jumat 21 Sept 2007 jam 17.00 di rumah kami Jl... (komp perumahan pejabat tinggi). Besar harapan kami rekan2 dapat hadir. Terima kasih."

Membaca undangan buka bersama tersebut mengingatkan saya dengan beberapa undangan buka bersama yang pernah saya terima. Ternyata dalam acara buka bersama ada fenomena yang cukup menarik. Fenomena ini tidak sempat saya cermati. Baru tahun kemarin saya melihat ada fenomena yang cukup seragam pada setiap acara buka bersama.

Undangan buka bersama secara resmi pertama kali saya terima beberapa tahun lalu. Ceritanya sebuah bank milik Pemerinta yang cukup besar mengundang kantor saya untuk menghadiri buka bersama. Karena yang mengundang sebuah bank papan atas, di kantor pusat mereka, maka saya dan teman-teman datang dengan pakaian resmi, dan sedikit wangi. :)

Datang di tempat acara suasana masih sepi, padahal kami datang sudah pada jam yang pas, sesuai undangan. Ketika kemudian para tamu mulai berdatangan acara pun dimulai. Menjelang Maghrib ada sedikit wejangan dari Ustad tentang makna puasa.

Ternyata apa yang pernah dikatakan Emha Ainun Najib menunjukkan faktanya. "Perut yang lapar tidak cocok kalau diceramahi. Kalau sudah kenyang baru pas diberi petuah-petuah," demikian kurang lebih kata Cak Nun.

Suasana pengajian menurut saya tidak kondusif. Mungkin hanya 5% dari hadirin yang benar-benar mendengarkan ceramah. Mayoritas tamu asik sendiri dengan kegiatan mereka. Hampir semuanya ngobrol dengan sesama kawan. Ada juga yang memilih duduk di pojok belakang, lelap.

Yang menarik, begitu bedug Maghrib berkumandang, serentak tanpa komando semua tamu menyerbu makanan yang tersedia. Saya katakan menyerbu karena betul-betul menyerbu. Para tamu undangan yang terhormat berlarian berebut makanan. Saya cukup shock melihat kejadian tersebut. Sama sekali tidak menyangka kalau para dasiwan (orang berdasi) berebut makanan seperti itu. Karena saya masih katro, saya cuma dapat air putih, alhamdulillah.

Ada acara serupa yang diadakan di rumah pejabat legislatif, Dia juga pebisnis besar. Mayoritas undangannya adalah ibu-ibu yang anggun, elegan, fashionable. Sama dengan kejadian di atas. Pengajiannya nyaris tak terdengar. Yang terlihat adalah banyaknya undangan yang bergerombol di dekat meja jamuan. Dan, begitu adzan berkumandang... wusss, tiba-tiba tinggal aqua gelas dan satu-dua snack yang masih bisa saya temukan.

Mengajak tamu undangan untuk shalat Maghrib juga bukan perkara mudah. Jauh lebih mudah berkata, "di meja sebelah satenya masih ada...."

Saya sudah lupa ada berapa undangan buka bersama yang sempat saya datangi. Terakhir adalah undangan buka bersama di rumah salah seorang Pak Menteri. Sebenarnya saya agak malas datang di acara tersebut. Saya yakin fenomenanya tidak jauh berbeda. Tapi karena didesak teman kantor akhirnya saya datang juga.

Tiba di tempat acara saya merasa agak asing. Wajah-wajah yang tidak kami kenal sudah banyak yang berkumpul di tempat acara. Saya baru tahu kalau mereka ternyata aktivis parpol pendukung pak Menteri. Sama, pengajiannya tidak efektif. Dan penyerbuan ke meja jamuan juga berlangsung singkat, cepat, lenyap. Hampir sama dengan mottonya Kopaska (Komando Pasukan Katak), pasukan elitnya TNI-AL: Singkat, cepat, senyap. Bedanya, Kopaska operasinya senyap kalau buka bersama operasinya lenyap... makanannya. :)

Dari fenomena buka bersama kita bisa melihat bagaimana sebenarnya puasa kita. Apakah kita berpuasa merupakan ajang melatih hawa nafsu atau hanya menunda makan karena perintah keyakinan. Dari fenomena buka bersama terlihat sifat gragas memang tidak mengenal kelas. Kalau perut sudah lapar orang mudah lupa dengan sekitar.

Yang paling parah adalah kalau jiwanya yang lapar. Maka ketika M. Fadjroel Rachman menulis di Kompas hari ini bahwa StAR (Stolen Asset Recovery), badan di bawah PBB, mengeluarkan daftar pemimpin paling korup di dunia saya tidak kaget. Dari 10 pemimpin dunia paling korup ternyata urutan pertama dipegang oleh Pak Harto dengan jumlah harta yang dicuri antara 15 miliar-35 miliar dollar AS....

Jadi apa arti puasa kita selama ini kalau hasilnya adalah pemimpin paling korup?

Yang unik adalah ketika saya datang di acara buka bersama TDA tahun lalu. Meski pengajiannya menurut saya kurang efektif tapi saya TIDAK melihat ada "penyerbuan" jamuan, sebuah "ritual" yang menunjukkan betapa gragas nya kita.

Semoga TDA memang bersama menebar rahmat, tidak gragas...

Selasa, 18 September 2007

Koko Eksklusif DEBU

Hanya ingin kenalan saja.

Nikmati koleksinya di sini

Silahkan kontak kami:
Aisyah : 0815 1965 8165
Abduh : 0815 8940 350

--------

Menyambut Ramadhan dan Idul Fitri 1428 H DEBU mengeluarkan satu lagi produk eksklusif mereka: Baju Koko. Alhamdulillah kami ditunjuk menjadi salah satu distributor utama. Silahkan amati, nikmati, dan ... jual lagi. :)

Bagi reseller kami beri penawaran menarik. Kami akan kembalikan uang Anda jika Anda mengembalikan produk ini, asal belum dipakai... :). Terhitung 15 hari sejak barang diterima. Ya, kami memang "hanya" 15 hari karena produknya eksklusif dari DEBU.

Anda sangat sulit menemukan produk eksklusif ini di pasaran. Hanya di tempat-tempat tertentu saja. Dan kami adalah salah satu tempat khusus tersebut.

Jumat, 14 September 2007

Berbagi

"Kebakaran Pasar Turi yang terjadi dua kali adalah disengaja," kata Kapolda Jawa Timur. Saya cukup kaget dengan berita yang dimuat di detik.com hari ini.

Jelas, pernyataan itu punya makna yang dalam. Pernyataan itu bukan keluar dari mulut para aktivis atau masyarakat yang curiga dengan peristiwa itu tapi keluar dari orang nomor satu di Kepolisian Jawa Timur. Artinya kita patut percaya bahwa kebakaran itu memang disengaja. Pasar Turi dibakar. Pusat grosir terbesar untuk Indonesia bagian timur itu ludes. "Tanah Abang"-nya Indonesia Bagian Timur dipaksa "tutup buku". Milyaran rupiah yang berputar tiap hari di pasar tersebut dihentikan paksa. Ribuan orang yang langsung atau tidak langsung mendapatkan nafkah dari pasar itu "ditutup" kran pendapatannya.

Angan-angan saya langsung melayang nggak karuan. Jangan-jangan Pasar Turi mau disulap jadi Pusat perbelanjaan mewah atau dijadikan bangunan lain yang tidak lagi berhubungan dengan masyarakat. "Jangan berprasangka buruk pak," kata pak Tri, tetangga saya ketika kami nongkrong sehabis Jum'atan.

"Berprasangka buruk sih nggak, pak. Tapi buat apa coba kalau Pasar Turi yang besar itu dibakar kalau bukan buat hal yang buruk?" balas saya.

Bangsa ini memang tidak pernah belajar dari sejarah. Kalau ingin meraih impian dengan cara membuat celaka orang lain hasilnya PASTI nista. Banyak contoh ada di depan mata kita. Berapa banyak pejabat yang mendapatkan uang dengan cara mencuri duit negara akhirnya nista. Mereka harus ditangkap KPK. Potret mereka tersebar di mana-mana dengan cap sebagai bandit.

Begitu pula dengan keluarga mereka. Anak cucu mereka berantakan karena dimanjakan dengan uang haram. Keturunannya tidak mendapatkan ketenteraman hidup karena selalu makan harta "panas". Yang lebih parah lagi bahkan ada yang mengakhiri hidupnya dengan jalan terjun dari lantai 56 Hotel Aston.

Padahal sekarang ini muncul kesadaran dimana-mana, kalau ingin rezekinya terbuka, maka bukalah rezeki orang lain. Kalau ingin jalannya dimudahkan, maka mudahkan lah jalan orang lain.

Filosofi "memberi" ini bahkan sekarang sudah diterapkan oleh perusahaan besar pembuat pesawat terbang, Boeing.

Kompas edisi Kamis kemarin menulis bagaimana bahagianya Boeing tahun ini karena berhasil menglahkan musuh bebuyutannya dari Eropa, Airbus. Tahun ini pesanan yang masuk ke Boeing lebih banyak 13 buah dibanding yang masuk ke Airbus. Dengan pesawat andalannya 787 Dreamliner Boeing mampu menekuk A-380 milik Airbus.

Hal ini bisa terjadi setelah Boeing mengubah sistem perakitannya dari top-down dan bagaimana maunya gua menjadi system integrator yang lebih kooperatif dan berbagi (sharing).

Andrie Wongso, Mario Teguh, Ustad Yusuf Mansur, Aa Gym semua menganjurkan, berilah kemuliaan kepada orang lain, angkatlah orang lain, pikirkanlah orang lain. Jangan hanya memikirkan diri sendiri.

"Kalau kita selalu memikirkan orang lain, memberi kemudahan orang lain, memuliakan orang lain, lalu kapan dong giliran kita memikirkan diri sendiri?" tanya Hilbram Dunar, sang presenter, kepada Mario Teguh Kamis malam 2 minggu lalu.

"Nggak usah. Kita nggak usah memikirkan diri sendiri. Itu urusan Tuhan. Tuhan tidak akan meleset memberi kemuliaan, kemudahan, dan jalan keluar kepada orang yang telah memuliakan orang lain..."

Kamis, 13 September 2007

Beruntung


Untung, beruntung, atau keberuntungan adalah kata yang biasanya lekat dengan sebuah nasib yang tidak bisa diprediksi sebelumnya. Dan karena tidak bisa diprediksi maka orang yang mengalami keberuntungan biasanya cuma dikomentari, "Yah, dia memang lagi beruntung."


Bagi kalangan yang sedang mengalami jalan buntu maka kata keberuntungan merupakan asa terakhir yang sangat dinanti, meski biasanya tak kunjung datang jua .

Semua orang berharap menjadi orang yang beruntung. "Paling enak jadi orang yang untung." kata teman saya di kampung. Jadi orang pinter nggak jaminan bisa kaya. Jadi orang kaya nggak jaminan bisa tenteram, jadi mudah was-was memikirkan hartanya. Yang paling menyedihkan adalah sudah miskin tidak tenteram pula. Maka yang paling enak memang jadi orang beruntung. Maka tidak heran kalau ada tokoh kartun yang diberi nama Si Untung. Apa yang dilakukannya selalu mendatangkan keberuntungan. Bahkan bencana yang seharusnya menimpa dirinya bisa berubah menjadi keberuntungan. Dia lah temannya Donald bebek.

Tetapi apakah keberuntungan memang tidak bisa di-create?

Ternyata dalam seminar Luck Factor yang diadakan oleh TDA pada 2 April 2007 lalu terungkap bahwa kita bisa merekayasa keberuntungan. Keberuntungan bisa dibikin. Pak Ahmad Faiz Zainuddin, sang nara sumber, membeberkan bahwa kita sebenarnya bisa membuat faktor keberuntungan atau kerennya luck factor. Itulah sebabnya mengapa ada seseorang yang selalu menemui kebetulan yang beruntung. Begitu pula ada orang yang selalu menemui kebetulan yang menyusahkan. Semua kebetulan-kebetulan itu pasti ada sebabnya.

Di sini saya tidak akan mengulangi materi seminar tersebut karena saya yakin rekan-rekan TDA sudah mengerti betul dengan materi itu.

Saya hanya akan menceritakan sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh Ustad Abdul Aziz. Pak Abdul Aziz adalah salah seorang pengajar di pesantren Wisata Hati milik Ustad Yusuf mansur.

Pada suatu hari datang seorang ibu dengan anak laki-lakinya yang berusia 9 tahun. Dari raut mukanya sudah tampak bahwa tamu ini sedang ada masalah berat. Meski dengan penampilan trendy dan fashionable karena mantan pramugari, sang ibu tidak dapat menyembunyikan kegundahan hatinya memikirkan masa depan sang buah hati.

"Anak saya menderita leukemia (kanker darah). Tiap bulan kami harus mengeluarkan Rp 8 juta untuk terapi dan pengobatannya," kata sang ibu membuka pembicaraan.

"Menurut dokter untuk mengatasi penyakit tersebut minimal dibutuhkan waktu 2 tahun. Kami sangat berat dengan kondisi ini. Saya datang ke sini berharap mudah-mudahan masalah kami menemukan solusinya," sang ibu menambahkan.

Semua terdiam. Hening.

Tidak lama kemudian pengasuh Wisata Hati memecahkan keheningan.

"Berapa biaya total yang dibutuhkan untuk terapi selama 2 tahun itu?"

"Tentu saja Rp 8 juta x 24 bulan atau Rp 192 juta, ustad"

"Begini saja, ambil 10%-nya (Rp 19,2 juta)... dan sedekahkan kepada yang berhak"

Sang ibu terdiam sejenak. Semua ikut terdiam.

"Ibu masih punya harta kan yang bisa dijual untuk shodaqoh Rp 19,2 juta?" tanya pengasuh Wisata Hati.

"Masih ada sih tapi kalau harus shodaqoh sebesar itu berat, ustad," jawabnya.

"Semua pilihan terserah pada ibu, memilih 'hanya' Rp 19,2 juta atau Rp 8 juta/bulan selama 2 tahun... "

Cukup lama sang ibu mengambil keputusan meski akhirnya tidak ada pilihan lain, dia setuju dengan usulan sedekah Rp 19,2 juta.

"Selain sedekah perlu juga perbaiki ibadahnya. Terus lah berdoa. Juga tidak kalah penting minta lah untuk didoakan oleh anak-anak yatim yang banyak terdapat di sini," pesan sang ustad.

Beberapa bulan kemudian sang ibu datang lagi ke Wisata Hati bersama sang buah hati. Kali ini wajahnya cerah, bersinar, penuh kebahagiaan.

"Dari pemeriksaan terakhir diketahui bahwa anak saya sudah sembuh 100%, ustad. Tim dokter juga heran dengan kondisi anak saya yang bisa sembuh secepat ini," kata sang ibu menceritakan rasa bahagianya....