Jumat, 02 November 2007

Toxic Leader

Sudah lama saya tidak bertemu dengan teman saya yang satu ini. Kalau dilihat dari umur dan pengalaman dia jauh lebih berpengalaman dibanding dengan saya. Teman saya ini, sebut saja Pakne, sudah menekuni dunia usaha lebih dari 20 tahun lalu. Selama waktu itu sudah banyak asam-garam yang dia rasakan.

Begitu pula kalau dilihat dari kemampuan intelektual. Dia adalah mahasiswa yang lulus pertama di angkatannya. Bacaannya banyak. Wawasannya luas. Gagasannya cemerlang. Pergaulannya lintas negara.

Namun ada hal yang sampai sekarang mengherankan saya. Perusahannya tidak kunjung besar. Pernah sih pada tahun 80-an dia termasuk salah satu pengusaha ternama di Tanah Air tapi sayang sekali itu tidak berlangsung lama. Usahanya bangkrut. Teman-temannya, yang selama ini menjadi partner usahanya, meninggalkan dia sendirian.

Tadinya saya mencibir rekan-rekan bisnisnya yang dengan enaknya meninggalkan Pakne sendirian. Belakangan saya tahu ternyata penyebab bubarnya kongsi ini karena perilaku Pakne sendiri yang sangat tidak transparan.

Pakne berusaha bangkit. Dengan keyakinannya dia bangun sendiri usahanya. Sempat sedikit membesar, tapi bangkrut lagi. Dia berusaha lagi dengan menggandeng pihak luar. Sempat memunculkan harapan. Ternyata tidak berlangsung lama. Joint operation ini pun akhirnya bubar.

Dengan idenya yang cemerlang dia membangun bisnis lain. Dia bikin produk unik. Teman manca negaranya ikut membantu pemasarannya. Jadi lah dia pemain ekspor. Usaha ini berjalan cukup lancar selama setahun.

Tidak disangka datang lah Cina dengan produk serupa. Tentu saja harganya jauh lebih murah. Buyer manca negara minta nego ulang karena ada produk sejenis dari Cina yang lebih murah. Pakne terlalu pede. Dia tidak mau nego. Buyer nya berpaling ke 'lain hati'. Pakne tidak dapat berbuat banyak, habis!

Pakne berusaha bangkit lagi. Dia berusaha menembus pasar lokal. Disamping itu dia juga menggandeng pihak luar untuk bisnis yang lain lagi. Pasar lokal tak kunjung bisa ditembus. Kerja sama dengan pihak luar bermasalah. Tidak ada pilihan. Joint operation ini lagi-lagi bubar. Belakangan saya tahu. Lagi-lagi penyebab masalahnya adalah Pakne yang sangat tidak transparan.

Saya sering ngobrol dengan anak buah Pakne. Ternyata selama ini karyawannya sangat tidak nyaman dengan atmosfir kantor Pakne. Ternyata juga Pakne secara hukum bermasalah dengan hampir semua mitra bisnisnya.

"Pakne sebenarnya pinter merekrut karyawan jempolan. Tapi tidak lama. Mereka semua akhirnya memilih hengkang," kata salah satu dari mereka. "Pakne tidak ragu memecat karyawan kalau dia dikritik," kata yang lain lagi.

"Dia kelihatannya mendiamkan kita kalau kita berbuat salah. Tapi kalau Pakne marah semua kesalahan kita diungkit2. Semua catatan dosa kita keluar semua," kata salah satu karyawan paling senior. "Akibatnya kita bekerja bukan karena kesadaran tapi karena takut dengan Pakne," tambahnya.

Saya tahu Pakne sebenarnya punya pengetahuan agama yang sangat bagus. Tapi yang membuat saya heran adalah dia tidak ragu berbuat apa saja asal keinginannya tercapai. "Kok kayak Machiavelis," tanya saya pada suatu hari. "Yah secara prinsip dia memang Machiavelis," jawab salah satu manajernya.

Sebenarnya saya sudah agak melupakan Pakne. Tapi tiba-tiba saya dikejutkan dengan SmartFM ketika pada Kamis pagi kemarin Anthoni Dio Martin berbicara tentang Toxic Leader.

"Ada 7 ciri toxic leader," kata Anthoni Dio Martin:
1. Manajemen katak: Sikut kiri sikut kanan.
2. Senang dengan loyalitas buta dari karyawannya.
3. Suka mencipta ketakutan di kalangan anak buahnya.
4. Suka mengungkit kesalahan anak buah.
5. Memburuknya kondisi tim: Karyawan-karyawan bagus pergi.
6. Sangat tidak transparan, suka berbicara yang mengandung makna ganda.
7. Menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya.

Saya benar-benar kaget. Semua ciri tersebut kok ada pada Pakne. Saya baru tahu ternyata inilah penyebab mengapa bisnis Pakne tidak pernah mengalami kemajuan. Semoga saja Pakne mendengarkan SmartFM. Selama ini tidak ada orang yang bisa memberi nasehat Pakne...

Kamis, 01 November 2007

Aktivis

Aktivis lingkungan


Aktivis agama


Aktivis parpol


Aktivis Jakarta

Rabu, 31 Oktober 2007

Undangan vs Macet

"Pak, besuk ada acara di rumah Pak Rosihan. Bisa datang kan, pak?" Demikian kira-kira ucapan Pak Eko June, lurah TDA dan tuan anjangsana, ketika menelepon saya pada Senin siang.

Tentu saja saya senang mendapat undangan tersebut. Terbayang di benak saya akan terjadi ajang sharing dan tukar pikiran di antara kita. Apa yang terjadi dengan bisnis kita selama Ramadhan dan Lebaran, kendala apa yang dihadapi, apakah omset sesuai yang diharapkan, masalah apa saja yang muncul, apa yang harus diperbaiki untuk menyambut Lebaran tahun depan, dan sebagainya.

Tapi antusiasme saya langsung berhadapan dengan bayangan Jakarta yang makin hari makin tidak nyaman. Kemacetan makin parah di mana-mana, banjir yang mulai mengancam seiring datangnya musim hujan. Kondisi ini otomatis menambah parahnya kemacetan jalanan di Jakarta. Ah, saya jadi pusing dengan bayangan sendiri.

Setelah menjadi TDA waktu saya jauh lebih banyak di Bekasi dan sekitarnya. Saya sendiri memang mengkondisikan untuk menghindari Jakarta pada hari-hari kerja. Jadi kalau ada acara di Jakarta ya diusahakan waktunya Sabtu atau Minggu. Sejak full TDA saya tidak lagi menjadi 'aktivis' kemacetan Jakarta.

Makin parahnya kemacetan di Jakarta adalah sebuah keniscayaan. Suatu hal yang pasti terjadi. Hitung-hitungannya jelas.

Menurut Pusat Data & Analisa Tempo jumlah kendaraan di Jakarta pada 2003 mencapai 6.506.244 unit. Tentu saja sekarang jauh lebih banyak lagi. Dari jumlah itu 98% adalah kendaraan pribadi dan 2% kendaraan umum. Dari total 17 juta orang yang melakukan perjalanan tiap hari kendaraan pribadi hanya mengangkut 49,7% orang. Sedangkan kendaraan umum yang hanya 2% mengangkut 50,3% orang. Dahsyat benar perbandingannya. Fantastik nian njomplangnya.

Kerugian sosial yang diderita masyarakat lebih dari 17,2 triliun per tahun akibat pemborosan nilai waktu dan biaya operasi kendaraan (terutama BBM). Belum lagi emisi gas buang diperkirakan sekitar 25.000 ton per tahun. Dampak pada tahap selanjutnya adalah menurunnya produktivitas ekonomi dan merosotnya kualitas hidup warga kota. Ingat, data ini adalah data pada 2003. Jadi bayangkan betapa parahnya kondisi pada 2007.

Tapi ketika mendapat undangan dari pak Rosihan, sang jawara ritel, dan bu Doris 'wonder women' Nasution, semua bayangan itu tiba-tiba hilang :)

Senin, 29 Oktober 2007

Cara Gila Menjual

Minggu lalu saya ditelepon oleh seorang staf salah satu bank penerbit kartu kredit. Setelah berbasa basi sebentar dia langsung pada pokok persoalan.

"Pak Abduh baru saja menutup kartu Visa mini, betul pak?

"Iya betul karena saya tidak pernah pakai kartu itu," jawab saya.

"Khusus untuk bapak kami beri penawaran khusus. Kalau Visa mini nya diaktifkan lagi, bapak kami beri free iuran tahunan selama 2 tahun. Setuju, pak?

"Maaf mbak. Nggak usah lah. Saya kan masih punya yang MasterCard."

Jawaban saya ternyata tidak menyurutkan niat sang karyawan untuk terus membujuk saya. Kami terlibat pembicaraan cukup lama. Dia terus membujuk, pokoknya saya hanya bilang 'oke' maka semua beres. "Kalau bapak nggak ingin pakai ya simpan saja Visa nya. Yang penting bapak aktifkan lagi," dia masih terus membujuk.

Saya masih terus bertahan kalau saya memang tidak ingin mengaktifkan lagi kartu itu. Saya merasa satu kartu sudah cukup.

"Jadi bapak benar-benar tidak ingin mengaktifkan lagi Visa nya?"

"Betul saya sudah mantap ditutup saja."

Rupanya pembicaraan belum berhenti di sini. Dia masih punya penawaran lagi. "Bapak dulu pernah punya kartu tambahan buat istri ya pak?"

"Betul mbak tapi sudah lama saya tutup. Alasannya sama, kartunya nggak pernah saya pakai," jawab saya.

"Bagaimana kalau kartu tambahan buat istri diaktifkan lagi, kami bebaskan iuran tahunan untuk kartu tambahan seumur hidup?"

Menurut saya penawaran ini sebenarnya sulit untuk ditolak tapi bagi saya tidak ada bedanya. Saya tetap tidak mau mengaktifkan lagi.

Ternyata dia masih punya satu penawaran 'gila' yang tidak mungkin ditolak.

"Bagaimana kalau kartu utama dan kartu tambahan bapak kami bebaskan iuran tahunan seumur hidup. Syaratnya kartu tambahannya diaktifkam lagi?"

Di sini lah saya merasa 'gila' kalau menolak tawaran ini... :)

Selasa, 23 Oktober 2007

Lebaran Bebas

Liburan Lebaran baru saja usai. Jakarta kembali kepada keadaan normal, macet dan polutif. Libur Lebaran kali ini mungkin bisa masuk buku rekor sebagai liburan terpanjang di dunia.

Selama 11 hari praktis kegiatan ekonomi formal berhenti berdenyut. Mesin-mesin pabrik berhenti berputar, kantor pelayanan publik tutup pintu, anak-anak sekolah diminta belajar di rumah, karyawan dan PNS diminta "silaturahmi".

Lebaran juga bisa berarti bebas. Bebas dari rasa haus di siang hari. "Bebas" ngrasani sejawat, bebas ngenet dan menikmati yang "plus" nya juga tanpa takut pahala puasanya hilang.

Hari pertama pasca libur Lebaran juga berarti pulang dini. Hampir semua sekolah hanya mengadakan salaman guru-murid, murid-murid, guru-guru, guru-pak Bon, murid-pak Bon. Setelah itu, pulang deh. Yah, semacam ajang pemanasan untuk kegiatan esok pagi. Artinya liburannya "diperpanjang" satu hari lagi.

Bagi karyawan hari pertama setelah liburan adalah salam-salaman, saling memaafkan, saling cerita. Ada yang bercerita tentang trik bebas dari jebakan pantura dengan aman, bagaimana rasanya ke Solo menghabiskan waktu 24-an jam (normal 11 jam). Ada juga yang cerita bagaimana harus menjadi "hansip" di kompleksnya karena tidak mudik. Tidak sedikit juga yang harus sowan ke orang tua pada hari Jumat padahal dia ikut lebaran Sabtu. Artinya dia masih puasa ketika saudara yang lain sudah merayakan makan siang hari.

Dan tiba-tiba jam makan siang sudah berdentang. Semua ke luar mencari kantin, resto, cafe, warung,warteg, dan sebangsanya. Di sana obrolan soal dinamika pantura, Lebaran Jum'at/Sabtu, motor yang kempes di jalur mudik kembali terulang. Hari pertama diisi dengan warming up supaya esok bisa kerja dengan lebih baik. Dan pulang dini pun terlihat di jalanan di Ibu Kota. Artinya banyak kantor hari kerja efektifnya ya dimulai pada Selasa.

Lebaran tahun ini, kata Pemerintah, melibatkan tidak kurang dari 14,8 juta pemudik di seluruh Indonesia. Ya, hampir lima belas juta penduduk serentak mengadakan perjalanan 'spiritual' mengunjungi tempat asal, tempat kelahiran, tempat bermain waktu kecil. Sebuah perjalanan yang sebenarnya kurang nyaman, dengan biaya yang lebih mahal dari biasanya, dengan waktu tempuh yang lebih panjang, resiko lebih tinggi, plus berdesak-desakan di moda angkutan kelas ekonomi. Tapi seperti kata mas Roger Hamilton, kalau melakukannya dengan enjoy maka ketidak nyamanan tersebut menjadi tidak terasa.

Pemerintah membuat asumsi bila tiap pemudik membelanjakan uangnya Rp 2 juta untuk Lebaran kali ini maka dana yang mengalir ke luar Jakarta kurang lebih Rp 29,6 triliun. Jumlah yang tidak sedikit. Untuk menghadapi derasnya aliran dana ke daerah maka BI menyiapkan dana tunai khusus Lebaran Rp 45 triliun.

Jadi libur Lebaran sebenarnya bukan berarti berhentinya kegiatan ekonomi tapi aktivitas bisnis bergeser ke sektor informal. Semua merasakan ketiban rezeki: toko pakaian, toko roti, warung makanan, toko oleh-oleh, barang kerajinan, tempat wisata, kebun binatang, anak-anak tetangga, penjual balon, pengemis, pak ogah, (mungkin) aparat lalu lintas, dan lain-lain merasakan kenaikan omset luar biasa.

Tapi yang lebih penting adalah Lebaran sebenarnya bukan merupakan akhir dari ujian. Tetapi Lebaran adalah permulaan dari implementasi pelatihan kita. Selama sebulan penuh kita dilatih mengendalikan nafsu: Tidak boleh minum kala haus, harus pandai menjaga ucapan, bisa mengendalikan emosi.

Sebagaimana seorang pilot yang baru selesai menjalani pelatihan di ruang simulasi. Kualitas pilot yang sesungguhnya akan tampak ketika dia benar-benar memegang kemudi pesawat yang sesungguhnya: Bagaimana cara dia mengatasi masalah darurat, apa yang dilakukannya kalau tiba-tiba satu mesin mati, tindakan apa yang harus diambil jika roda tidak mau keluar saat akan mendarat, dan sebagainya. Kalau masih di simulator bisa jadi dia sangat mahir karena tidak ada resiko apa pun yang akan menimpa.

Begitu juga dengan kita. Kualitas puasa kita akan tampak manakala kita sudah berada di luar Ramadhan. Jika kita makin dermawan, jika keinginan berbagi menjadi lebih besar, jika pelayanan kita kepada orang lain makin baik, berarti pelatihan sebulan kita tidak sia-sia. Amin.