Sabtu, 06 Oktober 2007

Kenop

"Dengan ini saya mengucapkan ikut berduka cita atas diwisuda nya Anda semua..." Demikian ucapan Helmi Yahya ketika memulai orasinya pada sebuah acara wisuda sarjana di salah satu perguruan tinggi.

Tentu saja ucapan provokatif tersebut membuat kaget semua hadirin: Wisudawan, orang tua, kakak, adik, teteh, aa, pacar, dan tentu saja para tenaga pengajar plus anggota senat guru besar di sana.

"Saya mengucapkan ini tidak ada maksud apa-apa. Kalau kemarin status anda adalah mahasiswa, maka mulai hari ini saya yakin sebagian besar anda berubah jadi pengangguran. Oleh karena itu saya ikut prihatin dan berbela sungkawa," sambung Helmi. Suasana balairung pun berubah dari khidmat menjadi sangat gaduh dan riuh.

Tentu saja semua patut bersedih dan kecewa. Seremoni wisuda yang biasanya penuh dengan suasana ceria, berbunga-bunga, penuh harap, tebar tawa, jadi ternoda dengan adanya orasi yang dibawakan oleh Helmi Yahya. Meski yang diucapkan Helmi adalah benar tapi, kata orang, tidak semua yang benar itu enak didengar.

Memang, kalau kita melihat seremoni wisuda suasananya sangat ceria. Semua orang yang datang mengenakan yang terbaik yang mereka punya. Dan wajah-wajah cerah orang tua yang mendampingi bisa menggambarkan bagaimana bersukurnya mereka karena telah berhasil mengantar putra-putrinya menuntaskan perjuangan dalam rangka merebut masa depan.

Namun suasana itu akan berubah total manakala kita menyaksikan pameran bertema Job yang sering diadakan. Ribuan orang rela berdesak-desakan demi sebuah informasi. Ratusan orang rela tidak makan pagi karena harus antri sejak dini hari.

"Semua harus diubah. 'Kenop' di kepala kita mesti diset ulang," kata Pak Ci (Ciputra), tokoh real estate. "Mulai sekarang di perguruang tinggi mesti ada mata kuliah entrepreneurship," katanya seperti ditulis Kompas hari ini.

Ya, kenop itu mesti diubah arahnya. Kalau tidak tiap tahun yang dihasilkan negeri ini adalah ribuan pengangguran baru yang punya intelejensi tinggi. Mereka enggan memulai pekerjaan "sepele" karena merasa jebolan wong pinter. Jadilah pengetahuan dan keahlian mereka tidak ada gunanya di negeri ini.

"Harus ada gerakan nasional melahirkan entrepreneur," kata Pak Ci. "Bayangkan negeri begini besar, dengan penduduk begitu banyak, jumlah entrepreneurnya cuma 0,18%," tambah Pak Ci berapi-api. Pria 76 tahun ini menambahkan, "Saat ini hanya ada 400.000 an pengusaha. Padahal jumlah penduduknya lebih dari 238 juta orang. Minimal kita harus bisa menciptakan 2% dari jumlah penduduk adalah entrepreneur. Kalau sekarang baru 0,18% adalah pengusaha, maka untuk mencapai 2% kita mesti kerja keras. Minimal kita harus bisa jadi entrepreneur untuk diri sendiri," tambah Pak Ci masih dengan berapi-api.

Ya, api Pak Ci memang tak pernah padam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar