Sabtu, 01 Maret 2008

High IQ Low EQ


"Mengapa kalau orang yang IQ nya tinggi biasanya EQ nya jeblok?"

Sebuah pertanyaan lewat sms yang ditujukan kepada Anthoni Dio Martin dua minggu lalu masih saya ingat sampai sekarang.

Pertanyaan itu bermakna, mengapa orang yang kecerdasan intelektualnya tinggi kecerdasan emosinya 'jongkok'?

Agak susah sang nara sumber SmartFM ini menjawab. Sebab menurut teori seharusnya kalau orang mempunyai IQ tinggi EQ nya juga tinggi. Namun realitas sering berbalik dengan teori. Apakah teorinya salah atau hanya orangnya saja yang salah?

Orang yang kecerdasan emosinya rendah biasanya susah untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dia merasa bisa mengerjakan segala sesuatu sendirian. Tidak perlu bantuan orang lain. Di sinilah problem itu muncul.

Ego yang sangat tinggi selalu menganggap dia lah yang paling benar. Setiap masukan dari orang lain jarang yang didengarkan. "Dulu waktu sekolah rankingmu kan di bawah. Mengapa aku harus mendengarkan orang yang lebih bodoh dari saya?" kalimat yang sering terdengar manakala ada masukan kepada sang cerdas.

Sayangnya, biasanya orang yang EQ nya rendah di kemudian hari jauh dari komunitas. Hidup menyendiri karena suka menyakiti hati orang lain. Susah menemukan teman baik padahal pada awalnya dia termasuk ekstrovert.

Saya sendiri sangat bisa memahami pertanyaan via sms tersebut. Saya sendiri pernah merasakan selama beberapa tahun bergaul dengan teman yang IQ nya tinggi tapi ternyata EQ nya rendah. Dia sangat cerdas. Idenya sangat banyak. Namun sayang sekali hampir semua idenya tidak ada yang bisa dieksekusi. Penyebabnya tidak ada mitra bisnisnya yang tahan bergaul dengannya. Banyak manipulasi yang dia lakukan. Banyak laporan palsu yang dibuat. Sehingga sampai sekarang praktis tidak ada bisnisnya yang berjalan dengan layak.

"Seharusnya kalau IQ nya tinggi EQ nya juga tinggi. Kalau EQ nya rendah berarti ada something wrong," kata Dio Martin. "Biasanya karena ke-aku-annya yang terlalu tinggi menyebabkan EQ nya rendah," tambahnya.

Saya setuju dengan Dio Martin, IQ tinggi seharusnya EQ juga tinggi. Saya melihat banyak orang sangat cerdas di TDA tapi mereka rendah hati. Banyak lulusan perguruan tinggi top di negeri ini yang jadi member TDA, dan mereka rendah hati. Banyak juga yang S2 dan mereka tetap mau sharing dengan member lain. Sekadar contoh saja (hanya salah satu saja) adalah pak Afrizal...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar