Senin, 25 Juni 2007

Spiritual Capital


"Keserakahan adalah hidup," kata Gordon Gekko (Michael Douglas) dalam film Wall Street. Bahwa dalam bisnis yang namanya serakah dan saling memakan adalah keniscayaan. Maka tidak heran kalau kemudian para pengusaha berlomba-lomba untuk menangguk keuntungan sebesar-besarnya dengan menghalalkan segala cara. Dan kemudian muncullah perusahaan-perusahan besar dengan kekayaan yang luar biasa, menggurita kesana-kemari, menyantap apa saja di depannya. Dan kemudian terjadi lah fenomena yang tidak kalah mencengangkan. Di Koran Pikiran Rakyat Bandung, 18 Juni 2007, ditulis:

Sebuah survei menarik dilakukan John McFarlane terhadap 500 perusahaan pertama yang masuk dalam daftar Standard and Poors pada tahun 1957. Perusahaan-perusahaan itu merupakan perusahaan ternama, kelas wahid, sehingga layak masuk ke peringkat Standard and Poors.

Namun, dari 500 perusahaan tersebut saat ini tinggal 74 perusahaan. Berarti ada 426 perusahaan besar atau 84 persen yang bangkrut dan hilang dari peta bisnis. Dari hasil survei ternyata penyebab utama kebangkrutan mereka akibat pelanggaran atas penerapan prinsip universal seperti kedisiplinan, kejujuran, peduli kepada konsumen, dan menghargai lingkungan. Kenyataan menunjukkan bisnis di era liberalisme (persaingan bebas) saat ini tidak bisa menghalalkan segala cara untuk memenangkan persaingan.

Banyak contoh perusahaan dunia yang akhirnya hancur karena tidak mengindahkan aspek spiritualis dalam bisnis misalnya Enron, Worldcom, dan Arthur Andersen. Padahal, ketiga perusahaan itu memiliki aset ratusan triliun, namun dalam sekejap ambruk akibat mengesampingkan nilai-nilai dalam berbisnis.

Worldcom merupakan perusahaan komunikasi terbesar kedua di AS dengan aset 107 miliar dolar AS (lebih dari Rp 1.000 triliun) dengan melayani 20 juta pelanggan. Hanya karena memanipulasi laporan keuangan sebesar 3,8 miliar dolar AS (sekitar Rp 38 triliun) Worldcom tidak bisa dipercaya lagi. Aset perusahaan turun drastis hingga kurang dari 15 miliar dolar AS dan pemerintah rugi 565 juta dolar AS karena menanamkan sahamnya di Worldcom.

Demikian pula dengan Enron yang menjadi simbol penipuan dan korupsi korporasi terencana pada tahun 2004 akibat memanipulasi labanya. Enron yang awalnya dikenal perusahaan paling inovatif dan menghasilkan laba sampai 101 miliar dolar AS (sekitar Rp 950 triliun). Tapi, Enron akhirnya bangkrut karena menyepelekan asas kejujuran.

Kebangkrutan Enron menyeret akuntan publik Arthur Andersen karena memanipulasi labanya. Padahal Arthur Andersen berdiri sejak tahun 1913 dengan mencetak laba pada tahun 2008 sebesar 8,4 miliar dolar AS. Akhirnya pada pada tahun 2001 Arthur Andersen harus membayar utang 32 miliar dolar AS sehingga tidak bisa diselamatkan.

Di lain pihak banyak perusahaan yang bangkit dari keterpurukan setelah menerapkan nilai-nilai universal dalam berbisnis.

Contohnya David Maxwell yang diangkat menjadi Dirut Fannie Mae tahun 1981 saat perusahaan rugi 1 juta dolar AS per harinya. Maxwell berhasil mengubah Fannie Mae menjadi perusahaan berbudaya dan berkinerja tinggi dengan laba 1 juta dolar AS per hari. Maxwell menyerahkan hak sisa pensiunnya sebesar 5,5 juta dolar AS kepada Yayasan Fannie Mae untuk membangun perumahan warga berpenghasilan rendah.

Kebangkitan bisnis berbasis spiritualitas juga dirilis buku Megatrends 2010 dengan ciri bisnis yang menghargai nilai, kejujuran, pelanggan, dan lingkungan hidup. Konsumen juga beralih kepada produk-produk berdasarkan nilai-nilai yang mereka anut. Misalnya, bahan bangunan ramah dan mobil ramah lingkungan, makanan organik, dan sejenisnya yang merupakan ceruk pasar potensial.

Perlunya nilai pada bisnis karena pada hakikatnya manusia membutuhkan tiga modal yakni modal material berupa kecerdasan (IQ), modal sosial dan emosional (EQ), dan modal spiritual (SQ). Demikian pula dalam bisnis membutuhkan ketiga modal tersebut, namun selama ini kita hanya terpaku kepada modal material seperti anggapan kaum materialis.

Pengusaha tidak bisa berpikir hanya uang baik untuk dihabiskan, investasi, maupun membeli keunggulan dengan pengusaha lainnya. Bisnis harus dibungkus dengan nilai-nilai agar tetap bisa bertahan dan berkembang di tengah era persaingan yang amat ketat. Wallahu-a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar