Kamis, 30 Agustus 2007

Significant Others


Beberapa tahun lalu saya pernah mendengar ceramah dari Dr. Jalaluddin Rakhmat, seorang pakar komunikasi massa dari Unpad. Di ceramahnya dia menceritakan sebuah kisah nyata, yaitu percobaan yang dilakukan beberapa psikolog.

Dalam percobaan tersebut seorang yang sebenarnya sehat wal afiat "dikerjai" oleh beberapa orang yang mengatakan sebaliknya.

Ketika bertemu dengan seseorang di pintu masuk gerbang kampus, si manusia sehat tersebut ditanya, "Kamu sakit ya, matamu kok merah?" tanya orang pertama. Tentu saja dia menjawab "Nggak ah."

Ketika bertemu dengan orang kedua dia kembali ditanya, "Hidung kamu kenapa, kok berair. Kamu lagi flu ya?" Tentu saja orang ini menyangkal kalau dirinya sakit.

Begitu seterusnya ketika bertemu dengan beberapa orang dia selalu ditanya apakah sedang sakit. Akhirnya ketika banyak orang menanyakan apakah dirinya sakit, sugestinya mengatakan, jangan-jangan saya memang sakit. Keesokan harinya dia tidak datang ke kampus karena sedang sakit. Ya, dia benar-benar sakit. Sakit beneran.

Sahabat saya, seorang karyawan sebuah perusahaan kontraktor besar pernah ingin check up kesehatan jantungnya. Sebelum check up beberapa temannya sudah memperingatkan. Check up ini bisa baik tapi bisa juga berakibat buruk kalau sugesti kita tidak cukup pede. "Justru karena saya sehat gini saya pingin tahu kesehatan jantung saya. Siapa tahu sebenarnya ada masalah," jawabnya.

Sahabat saya ini memang pantas pede dengan jantungnya. Badannya atletis, dia sering olah raga, makanannya cukup bergizi. Namun hasil check up mengatakan sebaliknya. Ada sedikit sekali ganggung di jantungnya.

Ternyata gangguan kecil ini berakibat sangat fatal terhadap sugestinya. Dia sangat kaget dengan hasil pemeriksaan lab. Jantungnya tiba-tiba jadi berdebar-debar kencang. Dan tanpa tahu penyebab yang sebenarnya sahabat saya ini akhirnya benar-benar mengalami gangguan jantung. Dia drop. Keluar masuk rumah sakit, dan tidak ngantor selama berbulan-bulan. "Coba kalau dia tidak check up, pasti tidak begini jadinya," kata teman-temannya.

Pak Steve Sudjatmiko, Managing Partner Red Pyramid, konsultan HRD, pernah mengatakan di radio. "Ternyata 90% narapidana ketika ditanya apakah ketika kecil pernah ditakut-takuti tentang masuk penjara, jawabnya, YA."

"Kalau kamu berbuat ini dan itu kamu bisa masuk penjara lho. Kalau kamu nggak begini dan begitu kamu bisa masuk penjara," adalah penggalan kalimat yang sering didengar para narapidana. Dan yang mengucapkan kalimat tersebut adalah para Significant Others, orang-orang terdekat yang paling berpengaruh: Orang tua, kakak, adik. Kalimat yang sering diucapkan para Significant Others rupanya sangat berpengaruh dan masuk ke alam bawah sadar.

Jadi intinya kita mesti hati-hati dan memilih dengan siapa kita mesti bergaul. Supaya kalimat yang masuk telinga dan mengendap ke alam bawah sadar kita adalah kalimat positif yang mendukung sugesti kita, believe kita.

Mudah-mudahan Bu Doris bisa menemukan komunitas yang selalu mendukung langkahnya. Selamat memasuki "Hidup yang Lebih Baru"...

3 komentar:

  1. Kekuatan " Sugesti " ya Pak ! Mind set .... lagi2 ... I love the way u write. TOP Bgt !!!

    Eka
    http://pernik-unikdiary.blogspot.com

    BalasHapus
  2. If diamonds are a girl’s best friend then jewelry sabo schmuck
    is her soul sister! Jewelry is such a powerful accessory thomas sabo charm
    that many choose one fabulous piece and thomas sabo onlineshop
    build an outfit around it. thomas sabo glaube liebe hoffnung
    You can ruin a perfectly great outfit by wearing thomas sabo online shop deutschland
    the wrong jewelry.Before we get into what and how to where jewelry thomas sabo armbänder
    there are some no-nos that you should be aware of. schmuck thomas sabo
    Relax – these are too tough to follow!Don’t overdo it with thomas sabo shop
    jewelry. Keep it simple. Wear no more than one big piece schmuck thomas sabo ketten
    such as earrings or necklace.Don’t wear an ankle bracelet thomas sabo ohrschmuck
    or toe ring with a dressy outfit.

    BalasHapus
  3. Lho baru baca ini he..he...ada saya disebut pak Abduh :) terima kasih pak. Saya pembaca setia blog ini hi..hi

    BalasHapus