Selasa, 28 Agustus 2007

Sosialisasi


Beberapa waktu lalu Dirut Pertamina berbicara di depan kamera. Intinya masyarakat harus faham bahwa kalau dihitung per bulan pemakaian gas untuk memasak jauh lebih murah dari pada minyak tanah. Pemerintah juga faham bahwa membeli gas tidak bisa ngecer tiap hari sehingga masyarakat luas masih merasakan kalau memakai minyak tanah lebih murah dari pada gas. Tapi masyarakat diminta faham bahwa program konversi minyak tanah ke gas elpiji harus jalan terus.

Wah... wah, saya sempat sewot dengan pernyataan itu. Kok rakyat terus menerus diminta faham sih. Mbok ya sekali-sekali pemerintah yang faham kalau beban rakyat tiap hari kian sulit. Tiap hari harga susu naik. Minyak goreng tidak mau kalah tiap hari ikut merangkak naik. Gula idem dito.

"Wajar saja dirut Pertamina bicara seperti itu, wong gajinya mencapai ratusan jut per bulan. Tapi bayangkan rakyat yang nyari Rp 20.000 perhari saja ngos-ngosan. Gimana sih logika pejabat kita?" kata saya sambil marah-marah.

"Sabar mas. Sampeyan jangan sewot gitu dong. Wajar saja mereka seperti itu. Logika mereka nggak nyampe kalau diajak berfikir susahnya nyari Rp 20.000 perhari. Jadi kita mesti kasihan kepada pejabat kita yang cara berfikirnya sempit banget," teman saya mencoba menenangkan.

"Tapi kalau logika mereka nggak nyampe gimana bisa ngurus dan merasakan apa yang dirasakan mayarakat?" balas saya. "Itulah, mereka itu harus kita kasihani. Udah sekolahnya tinggi tapi berfikirnya.... " teman saya tidak jadi meneruskan argumennya karena hape-nya berbunyi.

Obrolan kami pun terhenti. Sampai disitu saya jadi benci dengan iklan layanan masyarakat tentang konversi ke gas elpiji. Apalagi dalam iklan itu ada testimoni dari masyarakat bawah kalau harga elpiji terjangkau masyarakat bawah. "Wah kita diapusi lagi," gumam saya dalam hati. Karena tayangan realita yang tersaji adalah makin panjangnya antraen minyak tanah. rakyat makin susah.

Hingga pada suatu pagi secara nggak sengaja dan sambil ngatuk-ngantuk saya mendengar talkshow di radio. Talkshow yang digawangi oleh mas Arif (kalau tidak salah) dengan nara sumber mbak Aviliani ini sangat menarik. Dengan sangat gamblang Mbak Aviliani menerangkan mengapa konversi minyak tanah ke elpiji adalah suatu keharusan.

Makasih ya Mbak Aviliani ...

Pemakaian minyak makin hari makin meningkat. Oleh para ahli diperkirakan cadangan minyak Indonesia paling lama cuma cukup untuk 10 tahun lagi. Sedangkan cadangan gas yang ada di Bumi Pertiwi masih bisa dipakai sampai 30 tahun lagi. Untuk BBM kita mesti impor jadi kalau harga minyak dunia naik maka BBM dalam negeri juga mestinya naik tapi pemerintah yang mensubsidi sehingga harga dalam negeri jadi "stabil". Kalau gas, Indonesia tidak perlu impor jadi cadangan devisa bisa dipakai untuk kebutuhan yang lebih bermanfaat.

Harga minyak tanah yang wajar sebenarnya Rp 6.600/liter tapi pemerintah mampu mempertahankan hanya Rp 2.600/liter (kalau tidak salah). Jadi tiap liter pemerintah mesti subsidi Rp 4000. Bayangkan berapa triliun uang negara dihabiskan hanya untuk mensubsidi minyak tanah saja. Kalau biaya itu dipakai untuk pendidikan kan labih manfaat.

Penjelasan yang sederhana itu membuka pikiran saya, pemerintah sebenarnya benar. Tapi mengapa gerakan konversi ditolak rakyat? "Sampeyan saja baru faham sekarang, jadi wajar kalau rakyat juga tidak faham," kata Om Agung, tetangga saya yang biasa saya panggil "om" karena terbawa anak-anak saya yang memanggilnya "om".

"Masalahnya memang di sosialisasi," kata mbak Aviliani. Pemerintah kurang cakap dalam mensosialisasikan program konversi ini. Jadi wajar kalau ada penolakan di mana-mana. Bagaimana tidak protes kalau tiba-tiba disuruh ganti ke elpiji padahal sehari-hari sudah nyaman dengan minyak tanah. Alasan harus ganti ke elpiji tidak diterangkan. "Eh, jangan-jangan yang nyuruh ganti ke elpiji juga nggak faham mengapa mesti ganti ke elpiji," kata om Agung.

Menurut James Gwee, Jack Welch bilang, tidak sulit mengajak orang untuk berubah. Syaratnya kemukakan fakta dengan jujur. Beri mereka gambaran apa yang terjadi kalau tidak berubah. Dan beri proyeksi yang jelas apa yang akan diraih kalau mereka mau berubah. Kalau ini dilaksanakan maka mengajak orang lain untuk mengubah kebiasaan tidak lah sulit.

3 komentar:

  1. Sip ... gaya bertuturnya keren punya Pak. asyik ... serius dibawa santai. Saya juga baru ngerti kenapa "minyak gas" kudu ganti "elpiji". Taunya dari blog Bapak .. heheh

    BalasHapus
  2. makasih bgt mbak Eka. Saya cuma berusaha seperti yg dilakukan mbak Aviliani, Doktor Ekonomi dari UI. Kejadian ini membuktikan lemahnya pemerintah mensosialisasikan programnya. Saya juga baru tahu dari mbak Aviliani yg siaran di SmartFM.

    Kalau nggak salah di Denpasar ada SmartFM ya?

    BalasHapus
  3. saya sebetulnya ada sedikit tambahan buat semacam "solusi antara"

    benar dng penjelasan gamblang mengenai gas alam vs minyak, pasti minyak tanah harus di tinggalkan, tapi coba mengerti rakyat kecil yg budgetnya cekak,

    kenapa pemerintah tdk memberikan program antara, misal, mulai menjual berupa minyak tanah kalengan isi 3 atau 5 liter ??, di jual di toko2 atau supermarket, kalo ada yg membeli dalam jumlah besar kan bisa lsg ketahuan, apalagi industri yg dituduh memanfaatkan subsidi ini, dng demikian program konversi dan program menyelamatkan perut rakyat kecil akan sejalan, jadi rakyat kecil masih punya solusi hidup hari ini, masak dng minyak tanah eceran, sambil mencoba merangkai masa depan, ikut masyarakat modern, masak pake GAS.

    sosialisasi sebaik apapun, kalau solusi yg ditawarkan jauh panggang dng api, akan hanya berakhir dng kisah sedih lainnya.

    demikian,

    mungkin kalo ada waktu luang, silahkan mampir juga ke http://idiokrasi.blogspot.com/2007/04/subsidi-bbm.html

    thanks telah membacanya.

    BalasHapus